Moderasi Adalah Pilihan Tepat dalam Beragama


Dewan Eksekutif Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri mengadakan Seminar Nasional yang bertemakan “Fanatisme Keagamaan dan Masa Depan Pluralisme Indonesia ” pada kamis 24 Oktober 2019.

Sejumlah aksi intoleran dan kekerasan di tengah masyarakat menjadi pertimbangan diselenggarakannya seminar nasional ini. Dema Prodi SAA merasa perlu berperan menanamkan kesadaran moderasi keagamaan di kalangan pemeluk keagamaan. Beberapa isu kerusuhan yang menyangkut ras, etnik, dan agama serta ujaran kebencian bernuansa agama mengindikasikan bahwa kemajemukan masih menjadi problem utama bangsa ini. Seminar dengan tema “Fanatisme Keagamaan dan Masa Depan Pluralisme Indonesia”dihelat di aula rektorat IAIN Kediri pada pukul 09.00 dihadiri sekitar 200 Mahasiswa se-Kediri Raya dan sebagian juga dari IAIN Tulungagung.

Hadir sebagai narasumber dalam seminar adalah Dr. KH. Reza Ahmad Zahid Lc. MA (Gus Reza) dan Akhol Firdaus M.Ag M.Pd (Cak Akhol). Kedua narasumber sama-sama menekankan pentingnya memupuk sikap menghargai dan menerima eksistensi orang lain yang berbeda agama sehingga tercipta kerukunan kerukunan antar umat beragama dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Gus Reza menegaskan bahwa sikap manusia dalam beragama memang harus fanatik, tapi dalam arti positif. Hanya saja, dalam konteks yang lebih luas fanatisme selalu menyimpan sisi baik dan buruk seperti dua sisi koin. Jika fanatisme didasarkan pada pemahaman bahwa setiap pemeluk agama atau kepercayaan mengajarkan kebajikan sekalipun dalam bingkai keimanan yang berbeda. Baginya, perbedaan tidak harus dipersoalkan selama masing-masing kita tetap berpegang teguh pada keimanan kita masing-masing. Fanatisme semacam ini bisa melahirkan sikap positif. Tetapi jika fanatisme dibarengi tabir dan keengganan menerima eksistensi perbedaan agama dan kepercayaan yang lain, maka jenis fanatisme ini termasuk buta dan bisa mengarah pada kerusakan. Makanya, moderasi agama adalah pilihan paling pas di tengah pluralitas agama di negara ini.

Di sisi lain, Cak Akhol memberikan gambaran bahwa sikap fanatik sah-sah saja dalam setiap agama dan kepercayaan, karena sikap fanatik berarti menjaga keutuhan iman. Tetapi perlu ditegaskan bahwa fanatisme yang diiringi ujaran kebencian apalagi kekerasan sudah pasti tidak punya tempat dalam agama apapun karena ia bertentangan dengan watak asli agama dan menjadi embrio radikalisme keagamaan. Kemajemukan pada hakikatnya adalah sebuah realitas yang tidak bisa ditolak sehingga yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengelolanya secara baik dan positif (Dema).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *