Merengkuh-Mu walau Dunia Terbalik

Dulu, syaitan dibelenggu saat bulan Ramadan, tapi kini manusia yang terkurung di dunia yang semakin menua ini.

Dunia sedang tidak baik-baik saja; Bulan Suci tak lagi putih bersih berseri. Dulu, syaitan dibelenggu saat bulan Ramadan, tapi kini manusia yang terkurung di dunia yang semakin menua ini. Dulu, banyak alasan keluar dari mulut ketika disuruh salat, kini dilarang malah berontak ingin ke masjid. Tak salat Jumat dibilang murtad, kini salat Jumat dibubarkan; dunia ini mulai terbalik dari kenyataan.

Bukan lagi iman yang harus diperkuat, tapi imun yang diperketat. silaturahmi penting untuk sambung rasa persaudaraan, karena tamu membawa berkat, tapi kini dianggap membawa mudarat; akses masuk ke kampung halaman diblokade; kini bukan lagi kebahagiaan tapi penderitaan yang tersampaikan. Jabat tangan sudah menjadi tradisi, kini harus angkat tangan sebagai tanda penolakan. Bukan lagi sedekah senyum, kini sedang sedekah masker.

Meski surat keputusan telah ditetapkan, ia bukan penghalang bagi kaum beriman untuk terus menjalankan amalan, seperti iktikaf dan membaca Alquran. Saya masih ingat diskusi saya bersama Kakak Tafsili, Founder of Millennial Motivator; membaca Alquran itu bisa dengan empat tahap: pertama, sebagai awal kita belajar ‘merangkak’ ‘how to read; membaca Alquran tanpa memahami, tapi insya Allah kita bakal dapat pahala. Kedua, kita belajar ‘berjalan’ ‘how to learn’; naik pada level mendalami makna, arti, tafsir, dan takwilnya. Ketiga, saatnya kita ‘berlari’ menuju ‘how to understand; menghayati Alquran dan memetik pelajaran dalam kehidupan. Terakhir, kita tiba di puncak memu-kasyafah-kan; memahami tabir-tabir rahasia dalam Alquran.

Sejauh perjalanan singgah di dunia, kita patu bertanya, ‘sudah sampai level manakah kita?’ Sungguh hati tersayat tatkala suara bising menggantikan suara merdu muratal. Syair pujangga bersemarak menyuarakan patah hati akibat beban pengkhianatan diri, bukan meratapi dosa-dosa dan merindu kepada Baginda Nabi. Jadi, jangan salahkan Allah Swt. jika Murka-Nya telah datang menghampiri. Kita seharusnya sadar diri kesalahan apa hingga kita menanggung beban seperti ini.

Baca juga:   Memaknai Halalbihalal kala Pandemi

Jangan surutkan nyala api yang membara semangat dalam mempelajari Firman-Nya; inilah bukti bahwa Allah Swt. masih memerhatikan kita dengan wabah yang diberi. Kita patut bersyukur masih bisa menemui malam Nuzûlul al-Qur’ân, sebagaimana dalam QS. al- Baqarah: 2 (185): “Bulan Ramadan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan bathil.”  

Jika Dia memang kejam, tak mungkin kita diberi kesempatan dan kenikmatan dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan membuat kita bergejolak ini. Hak beraktivitas dibatasi melalui edaran-edaran pemerintah; rasa terkekang dan was-was sedang mengancam; mau bagaimana lagi, apakah kita mau berontak sementara korban terus berjatuhan.

Kanal pemberitaan banyak berisi sambatan ‘keluhan’, terutama krisis keuangan yang siap mendera. Negara yang dari dulu banyak tersiar kabar kelaparan, kini tambah meronta di tengah situasi yang mencekik. ‘Semua berantakan!,’; lambat laun, sadar tak sadar, kita akan menjadi korban ataupun pelaku yang hendak memanfaatkan situasi untuk kepentingan diri, naudzubillah. Sadarlah wahai insan, janji Allah Swt. tak pernah didustai karena bukan mereka yang kau puja setiap hari tanpa pasti tuk menghampiri.

Rezeki ibarat air laut yang pasang setiap hari; ia menyapu seluruh daratan yang ada di sekitarnya. Kita sering merasa kurang terima dan menuduh Allah Swt. tak adil dalam membagi, ‘hamba macam apa kita ini?. Memang benar, kita sedang berada pada fase terendah yang menipiskan dan melunturkan harapan dan cita-cita. Memang benar, gaji kita sedang di-lockdown, tapi yakinlah wahai orang yang bertakwa bahwa rezeki tak akan ada hentinya datang dari Sang Maha Pemberi. Q.S. Ar-Ra’d: 13 (26) berbunyi: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat.”

Baca juga:   Orientasi Beragama di Tengah Pandemi dan Tantangan Bagi Studi Agama

Apakah kita terlalu lelah dan sibuk mengejar rezeki dunia, seperti harta, jodoh, tahta, jabatan, hingga kita lupa siapa pemilik dan pemberi rezeki itu semua? Jika memang sudah tersadar, kini saatnya kau bersujud sebagai ganti kursi kebesaran yang setiap hari kau sandari; kini saatnya kau merendah untuk bersimpuh dan memohon ampun atas semua dosa maksiat yang kau agungkan. Jangan segan, adukan, dan luapkan semua keluh kesahmu pada-Nya.

Perihal rezeki yang tidak adil, kita bisa melihat kembali dosa mana yang belum kita tebus, dosa mana yang masih kita jalankan hingga pintu rezeki kita menjadi sempit dan tertunda. Sadarlah wahai insan, jangan ada tuduh-menuduh kesalahan. Kita belajar intropeksi diri dengan dosa yang acap kali kita perbuat setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Yakinlah bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui dan Maha Penerima Taubat. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *