“Menulislah, Kau Akan Abadi!”

Program “Academic Writing Angkatan I” yang diinisiasi oleh eLSAA, Prodi Studi Agama-Agama (SAA), IAIN Kediri, resmi digelar pada hari Senin, 4 Oktober 2019. Materi pertama disampaikan oleh Pak Maufur, MA yang juga sekaligus Sekprodi SAA. Di pertemuan ini, materi lebih difokuskan untuk memotivasi dan menumbuhkan passion mahasiswa dalam dunia tulis menulis. Pertemuan pertama ini diikuti oleh sekitar 20 mahasiswa Prodi SAA dari semua angkatan yang sebelumnya sudah mendaftar dan terpilih sebagai peserta Academic Writing Angkatan I.


‘Santai tapi serius’, begitulah kesan dari penyelenggaraan kelas perdana ini. Semangat dan keceriaan terpancar dari para peserta yang kebanyakan sedang menyiapkan proposal skripsi. Di awal paparannya, Pak Maufur menekankan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah. Hal ini penting ditekankan oleh semua peserta mengingat mereka punya kewajiban untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam segala aktivitas mereka, termasuk menulis. Dalam Islam, dunia tulis menulis menjadi motor lahirnya banyak karya yang mampu mengubah arah peradaban Islam. Sejumlah pemikir Muslim menekankan pentingnya menulis bagi generasi Islam. Ibn Muqaffa, misalnya, pernah berujar: “Ungkapan lidah itu terasa hanya pada sesuatu yang dekat dan hadir, sedangkan ungkapan tulisan itu berguna bagi yang menyaksikan dan yang tidak menyaksikan, bagi orang yang dulu dan yang akan datang. Ia seperti orang yang berdiri sepanjang waktu.”


Tiga syarat yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa untuk menggeluti dunia tulis menulis adalah kemauan, motivasi, dan tentu saja keterampilan. Pak Maufur menekankan bahwa menulis itu adalah ‘ilmu laku’. ‘Jika kita ingin bisa menulis, kuncinya adalah membaca dan ‘menulis, menulis, dan terus menulis.’ Menulis pada prinsipnya adalah soal mengemukakan gagasan ke dalam bentuk tulisan, dan gagasan diperoleh dengan banyak membaca. Jadi langkah awal yang harus dilakukan mahasiswa adalah senantiasa berlatih menulis. Ia juga menambahkan bahwa, menulis juga soal berbagi gagasan kita kepada dunia luar. Dengan tulisan, gagasan kita akan terus hidup sekalipun raga kita sudah mati. ‘Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di tengah masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” kata narasumber mengutip ungkapan terkenal Pramoedya Ananta Toer.

Selanjutnya, program ini akan diadakan secara rutin seminggu sekali dengan materi penguatan kemampuan menulis bagi mahasiswa, mulai dari mencari topik tulisan, gaya penulisan dan rujukan, dan juga tips mempersiapkan presentasi dalam kegiatan-kegiatan akademik. Pemateri berasal dari para dosen muda Prodi SAA yang punya komitmen kuat untuk meningkatkan kemampuan tulis menulis mahasiswa (MFR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *