Mengintip Jalan Sunyi di Balik Vihara

Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha.

——– Latifah

Kehidupan di pesantren pada awalnya adalah misteri bagi orang-orang di luarnya. Misteri itu justru menjadi magnet bagi keingintahuan orang ‘human interests’. Kehidupan pesantren kemudian menyeruak menembus dinding-dinding pesantren yang kukuh dengan segenap batasan-batasannya melalui karya sastra. Saya pun –yang tidak pernah menjadi warga pesantren, jadi tahu kehidupan di sana.

Tetapi bagaimana pengalaman hidup kaum agamawan lain? Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha. Jika di Thailand, yang mayoritas penduduknya adalah pengikut Buddha, kehidupan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di Indonesia tidak banyak yang mengenal kehidupan para ruhaniawan Buddhis ini. Bisa dimaklumi karena dalam bermasyarakat mereka memang tidak ingin menonjolkan diri. Meskipun demikian, dalam hidup bersama seyogianya kita saling mengenal, karena “tidak kenal maka tak sayang”. Prasangka, kecurigaan, bahkan kekerasaan umumnya muncul dari kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan.

Wajar saja bila kita belum begitu mengenal Buddhis karena populasi memang tidak banyak dan tidak begitu menyebar. Saya sendiri baru mengenal orang Buddha saat berkuliah di Program Studi Agama dan Budaya. Hanya ada dua orang Buddhis di kelas saya saat itu. Satu orang berasal dari Banyuwangi dan seorang lagi dari Tibet. Sebelumnya, saya juga hanya mengenal satu orang Hindu, teman di bangku SD. Memang tidak baik mengidentifikasi teman berdasarkan agama. Namun, ingin saya sampaikan di sini, mempunyai teman dari latar beragam itu penting untuk mengembangkan empati dan simpati kita terhadap keberagaman, bukan cuma toleransi yang berbatas itu. Begitulah seharusnya kehidupan antar-beragama terbangun, “Berteman dan bekerja sama, bukan merasa lebih superior,” kata Paul Knitter. 

Baca juga:   Pesantren Tanpa Nama

Berteman artinya membuka diri pada orang lain. Kita mendengar cerita teman untuk mengenal dan memahami mereka. Tidak hanya mengenal siapa mereka, tapi juga dapat mendalami perasaan mereka dengan memahami cara pandang dunianya. Seperti halnya sastra pesantren, sastra Buddhis menjadi jalan masuk untuk memahami kehidupan seorang Buddhis berdasarkan penghayatan mereka atas ajaran sang Buddha. 

Dalam antologi cerpennya, Sihir, Bhante Don Atthapiyo secara lugas menceritakan kehidupannya sejak menjadi samanera di sebuah vihara di Mendut. Bahkan, Bhante Atthapiyo menceritakan pergulatan spiritualnya jauh sebelum memasuki gerbang vihara. Tentu saja, keterbukaan jiwa dan pikiran menjadi prasyarat untuk “mendengarkan cerita” pergulatan batin orang lain yang mungkin saja menantang keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Dalam Kegelisahan Sang Domba, bhante pertama dari tanah Flores ini menuangkan berbagai pertanyaan eksistensialis terhadap tradisi dan keyakinan yang dipraktikkan dengan teguh di tanah kelahirannya itu. Di sinilah kita bisa melihat dialog antar-keyakinan terjalin melalui refleksi “seorang domba” yang berani melintas batas kenyamanannya.

Karya sastra sebagai refleksi dunia pengarangnya juga dapat kita telisik dalam buku puisi “Satu Buddha” karya Jo Priastana. Aktivis sosial yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta, ini menuangkan penghayatannya atas ajaran sang Buddha dalam laku spiritual, baik ke dalam maupun ke luar. Baginya, perwujudan “Menyalakan api dharma dalam kesucian diri” bertujuan “pencerahan dan pembebasan umat manusia”. Jalan pembebasan yang diinginkannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan kebahagiaan semua makhluk, seperti tertuang dalam kutipan puisinya ini:

INGIN KUBAGIKAN
 
Ingin ku berparitta
Kepada pasien-pasien di rumah sakit
Agar nada getararannya
Meringankan penderitaan penyakitnya
 
Ingin ku berparitta
Untuk mereka yang gugur di medan perang
Agar nada getarannya
Membawanya ke alam bahagia
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada tunawisma di malam waisak
Agar berkah suci bulan purnama
Memberinya sedikit kebahagiaan
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada narapidana di malam asadha
Agar berkah roda suci kesunyataan
Membukanya akan makna jalan luhur sempurna
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada anggota sangha du hari kathina
Agar berkah suci persembahan jubah
Melapangkan jalannya menuju pembebasa

“Satu Buddha” —- Jo Priastana

Sebagaimana Buddhadhamma yang terwujud dalam kasih sayang kepada semua makhluk dalam puisi Jo Priastana, “Bahagia Bersama” juga menjadi cita-cita Atthasilani Gunanandini yang terangkum dalam buku puisinya Kesatria Mulia dan Putri Sakya. Di sini bisa kita lihat bahwa agar “Bahagia Bersama” terwujud, secara pribadi kita perlu mengondisikan pikiran dan batin dengan baik secara terus-menerus dalam latihan kemoralan.

Karena tujuan kita bukan beda
Juga tidak perlu khawatir
Karena kita berjuang untuk kebahagiaan tanpa akhir
Bahagia bersama
Tanpa melekati, tanpa menyakiti, tanpa membenci, dan tanpa mendengki
Bahagia bersama
Dengan hati lapang, dengan batin tenang, dan dengan pikiran penuh
Kasih sayang, dan dengan pandangan terang
Inilah rasa bahagia bersama pada jalan Dhamma

“Bahagia Bersama” —– Sila Gunandi

Kesatria Mulia dan Putri Sakya ini menarik dikaji lebih mendalam dalam kaitannya dengan teks lain yang juga lahir dari inspirasi dialog antara Yasodhara dengan sang Buddha, yaitu buku puisi Meditasi Cinta: Yasodhara dan Siddharta Muda karya Jo Priastana. Namun, keduanya mempunyai karakteristik masing-masing. Sila Guna, begitu nama panggilannya, lebih menekankan perjuangan Dhamma dengan mengelaborasi berbagai landasan Buddhadhamma seperti melepas kelekatan dan penderitaan, kebijaksanaan, kebajikan, kesadaran, perhatian, dan kesetiaan.

Baca juga:   Egosentrisme dalam Nalar Beragama

Berbagai kosakata bahasa Pali pun bertebaran sebagai sarana ucapnya: dukkha, dosa, lobha, dan moha. Ajaran-ajaran tersebut tidak terasa asing karena universal dan nyata di kehidupan kita, sehingga justru dapat menjadi jembatan belajar dhamma, baik bagi umat Buddha maupun non-Buddhis.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *