Menggugat Sains Islam

Sains merupakan sesuatu yang universal dan bebas nilai. Menurut Pervez Hoodbhoy dalam Hashim (2005), sains melampaui batas-batas bangsa, agama, maupun peradaban. Salam, peraih nobel fisika memperkuat keuniversalan sains dengan menyatakan bahwa hanya terdapat satu ilmu universal yang masalah-masalah dan modalitasnya adalah internasioal sehingga tidak ada sebutan sains Islam, sebagaimana juga tidak ada sebutan ilmu Hindu, ilmu Yahudi, maupun ilmu Kristen.

—– Lucky Eno Marchelin

Ilmu adalah sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia. Ilmu menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Fazlur Rahman menceritakan bahwa ketika nabi Adam as. diciptakan, Allah SWT memberinya ilmu dan sains.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, sewaktu Allah hendak menciptakan nabi Adam as, malaikat menampakkan ketidaksetujuannya dengan bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau ciptakan makhluk di bumi yang akan menyebar kerusakan dan menumpahkan darah? Sedangkan kami di sini mengagungkan dan mensucikan kebesaran-Mu? Kemudian Allah menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui!” Setelah sempurna penciptaan Adam as, Allah mempertemukan malaikat dengan nabi Adam. Allah bertanya kepada malaikat, “Ceritakan kepada-Ku nama-nama benda ini!”

Para malaikat pun tidak kuasa menjawab pertanyaan tersebut, “Allahu akbar, kami tidak tahu, kami hanya mengetahui apa yang Engkau ajarkan, tidak lebih!” Namun nabi Adam as yang diberi Allah pengetahuan, mampu menunjukkan semua nama benda-benda tersebut. Allah menguji malaikat dengan pertanyaan sederhana, namun malaikat tidak memiliki pengetahuan, berbeda dengan manusia (Adam) yang memiliki kapasitas pengetahuan yang besar (Syahrial, 2017).

Sains merupakan sesuatu yang universal dan bebas nilai. Menurut Pervez Hoodbhoy dalam Hashim (2005), sains melampaui batas-batas bangsa, agama, maupun peradaban. Salam, peraih nobel fisika memperkuat keuniversalan sains dengan menyatakan bahwa hanya terdapat satu ilmu universal yang masalah-masalah dan modalitasnya adalah internasioal sehingga tidak ada sebutan ilmu Islam, sebagaimana juga tidak ada sebutan ilmu Hindu, ilmu Yahudi, maupun ilmu Kristen. Salam menolak pendapat bahwa pandangan hidup seseorang akan terkait dengan pemikiran dan aktivitas seorang ilmuwan.

Baca juga:   ‘Seni’ yang Menghilang dalam Integralisme Islam-Sains

Demikian juga Fazlur Rahman yang menolak islamisasi sains. Baginya, ilmu pengetahuan tidak dapat diislamkan karena tidak terdapat hal yang salah dalam ilmu pengetahuan. Umat muslim seharusnya tidak perlu bersusah payah membuat rencana dan bagan tentang bagaimana menciptakan pengetahuan Islami, lebih baik memanfaatkan waktu, energi, dan uang untuk berkreasi. Bagi Rahman, ilmu pengetahuan seperti senjata bermata dua yang harus dipegang hati-hati dan penuh tanggung jawab.

Karena sifat sains yang lintas agama, maka istilah “ilmuwan muslim” layak digugat. Mengapa harus menggolongkan ilmuwan berdasarkan agamanya? Apakah jika terdapat ilmuwan muslim, maka akan ada istilah ilmuwan kafir atau ilmuwan nonmuslim? Seberapa besar pengaruh pandangan hidup seorang ilmuwan terhadap aktivitas dan pemikiran keilmuannya? Teorema pythagoras tidak akan menjadi salah hanya karena Pythagoras bukan seorang muslim. Apakah karena beragama Islam, lantas Al-Battani dapat disebut lebih hebat dari pada Euler maupun Gauss?Bukankah Al-Khawarizmi menemukan angka nol karena mendapat ide dari konsep ketiadaan di India yang notabene menganut ajaran Hindu?

Agama dan sains berhubungan satu sama lain. Sains sebagai pengetahuan dari Tuhan, tidak akan bertentangan dengan agama. Sebagaimana dikatakan Ibnu Rusyd bahwa Tuhan tidak menciptakan akal yang bertentangan dengan hukum suci-Nya. Sains dan agama ibarat sepeda roda dua, sains sebagai roda belakang yang menggerakkan, sedangkan agama sebagai roda depan yang mengarahkan. Meskipun demikian, sains tidak selayaknya diislamkan, dan Islam tidak selayaknya disainskan.

Tugas utama seorang ilmuwan adalah mengembangkan keilmuan sesuai dengan bidang mereka. Tanpa memandang latar belakang bangsa maupun agama, para ilmuwan bahu-membahu membangun peradaban. Seorang saintis, sebagaimana manusia pada umumnya, memiliki hak untuk menentukan pandangan hidupnya. Berhak untuk memilih beragama maupun tidak beragama, berhak untuk mempercayai bahwa ada sesuatu yang Maha Cerdas, maupun tidak meyakininya, dan berhak untuk memilih menjadi pengikut Yesus, Muhammad, ataupun Gautama.

Baca juga:   Berpikir Komputasi dalam Beragama

Seorang saintis juga berhak belajar dari siapa saja dan di mana saja, karena ilmu merupakan sesuatu yang lintas bangsa. Misalnya, mempelajari Islam tidak harus di negara muslim. Belajar Islam dapat  juga di Eropa maupun Amerika yang negaranya menganut kebebasan berpikir dan berpendapat. Belajar ilmu pendidikan, juga tidak harus berkiblat pada negara Finlandia yang berpendidikan maju, tetapi dapat pula belajar pada negara India yang sedang berusaha mengejar ketertinggalannya dalam pendidikan.

Dalam Islam, ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim adalah fiqh, teologi (akidah), dan tasawuf. Sedangkan mempelajari ilmu selain ketiga ilmu tersebut, hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban tersebut gugur apabila telah ada cukup orang yang menunaikannya. Belajar sains termasuk fardhu kifayah, seorang muslim berhak memilih untuk mempelajarinya atau tidak. Pengetahuan keagamaan dan aktivitas beragama seorang muslim tidak ditentukan oleh seberapa paham ia terhadap sains. Islam memerintahkan setiap muslim untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan yang dimaksud dapat berupa apa saja sehingga ia dapat berguna bagi sesama, termasuk belajar, mengajar, dan mengamalkan sains.

Seorang yang beragama, boleh saja tidak mempelajari sains. Sebagaimana seorang saintis yang bebas untuk tidak beragama. Agama seorang ilmuwan tidak menjadikannya lebih hebat dibanding yang lainnya. Fokus pengembangan keilmuan adalah membangun peradaban dan kehidupan manusia supaya lebih baik, bukan untuk mengunggulkan satu sama lain.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *