Menggagas #SedekahTulisan di Kampus

Maufur*

Photo Source: https://techno.okezone.com/read/2016

Setiap Muslim, atau penganut agama manapun, sudah pasti akrab dengan terma sedekah, terutama di bulan suci Ramadan seperti sekarang ini. Sedekah diartikan sebagai pemberian suatu kebaikan kepada orang lain tanpa menuntut imbalan apa-apa. Jika kita merelakan milik kita kepada orang lain dan itu baik, tanpa berharap apapun sebagai imbalan, maka kita sudah bersedekah.

Entah mengapa di kalangan Muslim Indonesia, istilah sedekah identik dengan pemberian barang atau materiil terhadap orang yang tidak mampu atau sedang dalam kesulitan ekonomi (fakir miskin). Anjuran bersedekah biasanya berkaitan dengan sumbangan materi tertentu, bisa berupa uang atau barang, untuk kepentingan tertentu (pembangunan masjid, pendidikan, kegiatan sosial-keagamaan, dan sebagainya). Derma berupa “jasa", “gagasan", atau “bantuan non-materiil" jarang sekali disebut sedekah.

Tak heran jika definisi sedekah dalam KBBI sebagai berikut: “pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma; 2 selamatan; kenduri: — arwah; — kubur; 3 makanan (bunga-bunga dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus (roh penunggu dan sebagainya).

Kita bisa melihat benang merah dari semua pengertian itu: derma atau pemberian materi tertentu. Barangkali karena itu kita merasa belum bersedekah jika belum memberi sumbangan barang tertentu kepada seseorang atau lembaga. Apakah yang demikian ini salah, tentu saja tidak. Semakin orang merasa belum bersedekah dan ingin terus bersedekah, itu hal yang sangat baik. Bukankah ada pepatah: “Sedekah, lalu lupakan…!" Hanya saja, menurut hemat penulis, saking semangatnya kita “sedekah harta" kita lupa bahwa sedekah non-harta juga sangat penting bahkan perlu dalam situasi tertentu. Jika sedekah bisa berupa harta dan non-harta, maka sebenarnya tidak ada alasan atau kondisi apapun yang menghalangi orang untuk bisa bersedekah.

Baca juga:   KH. Imam Basyari, Guru Besar Pertama IAIN Kediri: Kesaksian Seorang Murid

Kampus adalah lembaga pendidikan dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus berisi orang-orang yang secara intelektual rata-rata di atas orang awam. Ada mahasiswa, master, doktor, bahkan profesor. Dunia membaca dan menulis adalah hidangan sehari-hari, malah jadi kewajiban profesional. Kampus adalah tempat slogan perubahan dikumandangkan dan disuarakan ke luar tembok-tembok kampus.

Sejarah membuktikan bahwa tulisan bisa mengubah arah peradaban: Peradaban Yunani terkenal karena karya para filsuf Yunani; Peradaban Islam memasuki “Zaman Keemasan" karena aktivitas riset, menulis, dan translasi di Baitul al-Hikmah; Peradaban Eropa juga memasuki pintu gerbang sains melalui mahakarya ilmuwan seperti Galileo atau Einstein. Tulisan juga bisa memenangi peperangan. Napoleon Bonaparte pernah bilang, “Aku lebih takut pada sebuah pena ketimbang seratus meriam."

Tulis-menulis adalah kerja utama para intelektual kampus. Orang bisa sepintar atau seulung apapun dalam berorasi, tanpa menulis orang itu akan sirna ditelan sejarah; “Menulis adalah bekerja untuk keabadian," begitu ungkapan begawan Pramoedya A. Toer yang kerap kita dengar dari para mulut aktivis. Maka, hilangnya tradisi tulis-menulis di kampus berarti juga redupnya semangat perubahan. Kampus adalah tempat gagasan bertemu dan berkontestasi melalui tulisan; Kampus bukan tempat surga-neraka didengungkan setiap hari tanpa tiada henti. Kampus adalah tempat orang berpikir dan tenggelam dalam kerja intelektual.

#SedekahTulisan adalah salah satu ikhtiar untuk membangun tradisi tulis-menulis di kampus tercinta. Terma “sedekah" dipilih karena tulisan adalah kerja religius seperti halnya sedekah. Bersedekah tulisan berarti kita menyumbangkan pikiran, waktu, dan energi demi pengetahuan dan perubahan. Kerja seperti ini sama bernilainya dengan mendermakan sebagian harta kita. Jika agama mengajari kita untuk bersedekah setiap waktu, maka demikian pula dengan menulis. Layaknya sedekah, tidak perlu ditanya apa sebuah tulisan akan dibaca orang ataukah akan mengubah keadaan. Kerja menulis adalah amanah yang disematkan oleh Tuhan kepada insan kampus sebagai komunitas intelektual. Jadi, “Sudahkah Anda Bersedekah (Menulis), Hari ini?" Wallahu’alam.

Baca juga:   Realitas Mitos dan Literasi dalam Bingkai PKM

*Maufur adalah Dosen sekaligus Sekprodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *