Megengan: Rajutan Tradisi, Agama, dan Kemanusiaan

Yuli Darwati*

Bagi kami warga desa di Kabupaten Blitar, tentu tidak asing dengan tradisi ini. Tradisi megengan dilakukan secara rutin setiap tahun, bertepatan dengan bulan Sya’ban. Tradisi megengan dilakukan dengan tujuan untuk mengirim doa  bagi leluhur, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan yang agung dan suci. Tradisi ini dilakukan dengan cara slametan . Begitu memasuki bulan Sya’ban, setiap rumah tangga akan melakukan slametan. Mereka membuat tumpeng dan mengundang kenduri para tetangga sekitar rumah sekitar 20-30 orang. Maka tidak mengherankan jika tiap hari kita akan banyak mendapatkan “Berkat” bahkan bisa bertumpah ruah jika  megengan dilakukan berbarengan dengan yang lain. Tradisi megengan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur di akhir bulan Sya’ban.

Tradisi semacam telah mengakar bertahun-tahun dan sulit dilakukan perubahan. Beberapa tokoh masyarakat mencoba merubah tradisi ini, karena  beberapa warga mungkin keberatan dengan tradisi ini,disamping juga alasan kemubaziran, namun mereka tidak berhasil.   Sebagian kecil masyarakat kadang harus “ngoyo” untuk melakukan ini, misalnya dengan berhutang untuk melakukan slametan. Mereka tak mampu untuk tidak melakukannya karena itu adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur, di samping juga malu terhadap tetangga. “Mereka ngundang, masak kita gak ngundang,” tutur mereka. Mereka bahagia ketika telah melaksanakannya. Bagi masyarakat santri ini merupakan sedekah menyambut kegembiraan datangnya Bulan Ramadhan. Dengan demikian megengan adalah sebuah keharusan.

Rupanya, tradisi ini  semakin menguat di tengah  Pandemi  global  covid-19 di tanah air,yang kebetulan terjadi di bulan Sya’ban dan sebentar lagi memasuki Bulan Ramadhan 1441 H. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu  sebagai efek dari pandemi covid-10 tidak menyurutkan warga untuk melakukan slametan. Hanya saja, tradisi ini mengalami metamorfosa atau mengalami perubahan bentuk tanpa mengurangi makna dan tujuan dari tradisi itu dilakukan.

Baca juga:   HRS dan Tantangan Negara Modern

Metamorfosa “Megengan “ di Tengah Pandemi Covid-19

Penyebaran virus covid-19 mengalami perkembangan yang cepat di Indonesia sejak tanggal 2 Maret 2020. Hingga kini penduduk Indonesia yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 7 ribu orang, dan menurut prediksi akan mencapai puncaknya di akhir Bulan Mei 2020. Presiden Joko Widodo  mengatakan bahwa pandemi ini akan berakhir pada akhir 2020 , jika PSBB sebagai kebijakan pemerintah ditaati oleh masyarakat. 

Dalam masa PSBB ini masyarakat diminta untuk di rumah saja, melakukan social distancing, menjauhi kerumunan, mengenakan masker ketika harus keluar rumah, sering mencuci tangan  dengn sabun dan sebagainya untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Tentu saja, hal ini akan mengancam tradisi megengan yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat setiap bulan Sya’ban, karena pemerintah melarang orang untuk kumpul-kumpul, hajatan dan lain-lain. Namun demikian, ternyata tidak mengurangi semangat mereka melakukan megengan.Hanya saja tradisi dilakukan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi saat ini.

Mereka tidak mengadakan kenduri atau tahlilan bersama, tetapi “berkat” diantar ke rumah-rumah. Sebagian warga masyarakat mengantar ”berkat” berupa nasi, lauk pauk,dan kue. Sebagian lain, mereka mengantar paket sembako ke rumah-rumah. Hal ini sangat berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Pada waktu sebelumnya, ketika peserta mencoba mengedukasi masyarakat dengan memberikan sembako untuk mengurangi kemubaziran, mereka menolak, “yang namanya megengan itu ya kenduri, tahlilan, dan berkat nasi, apem, ketan kolak harus ada,” kata mereka. Sekarang  mereka memberikan sembako, beras, minyak,gula, mie, telor dsb. Mereka mengatakan, “kalau begini manfaatnya banyak, bisa untuk besok-besok, kasihan mereka yang kurang mampu.”

Sebagian warga menyadari saat ini adalah masa yang sulit, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Bulan Sya’ban adalah momentum yang tepat untuk berbagi, menguatkan satu dengan yang lain. Mudah-mudahan semangat itu terus berlanjut sampai Ramadhan  bahkan kapan pun!  Aamiin YRA. Megengan bukanlah sekedar tradisi, tetapi juga juga aktualisasi hidup beragama bagi kemanusiaan. [MFR]

Baca juga:   Menakar Potensi Media untuk Agama di Masa Corona

*Yuli Darwati adalah Dosen di Prodi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *