Mas Menteri, Main ke Kampung, Yuk!

Pak Mendikbud, bukan pamer, ya, tapi organisasi seperti NU/Muhammadiyah berada di akar rumput, di tengah-tengah masyarakat. Mereka mendengarkan langsung tangisan anak-anak yang ingin mondok atau sekolah, dan mereka langsung memberikan solusinya.

—-Hijroatul Maghfiroh

Kira-kira, Pak Mendikbud pernah mengimajinasikan enggak ya situasi yang terjadi di tempatku sore ini? Sebuah kampung kecil yang berdesakan dengan aroma bawang goreng dan telur asin di kawasan pesisir Jawa Tengah.

Seorang anak laki-laki menangis kencang, teriak bak kesurupan. Iya, memang semua orang menganggap dia kesurupan, “bukan ‘hawanya’ sendiri..,” begitu seloroh banyak orang.

Sambil membawa batu di genggaman tangannya, dia teriak mencari bapak-ibunya. Ibunya yang seorang difabel segera berlindung mencari tempat persembunyian ke dalam rumah salah satu saudaraku. Bapak tirinya, yang juga tetanggaku, lari tunggang langgang ke masjid, berlindung dari keberingasan si anak.

Semua laki-laki dewasa di sekitar rumah berusaha membantu menenangkan anak laki-laki ini. Tetangga jauh yang konon bisa mengeluarkan makhluk gaib dari tubuh seseorang pun didatangkan. Tapi semua sia-sia, si anak semakin menjadi-jadi; dia tambah meronta, memaksa masuk ke dalam rumah yang diyakininya digunakan sang ibu untuk bersembunyi.

Setelah melalui perundingan dan pengendalian yang sengit, akhirnya si anak bisa lebih tenang dan mau menunggu orang tuanya di rumah nenek tirinya yang tidak jauh dari rumahku.

Kami, emak-emak—geng belakang; bulik dan sepupu—meneruskan ‘gosipan’. Membahas lebih lanjut kira-kira apa jalan keluar untuk ‘penyakit’ si anak yang dulu terkenal penurut dan pendiam itu. Kami mencari alternatif solusi, termasuk mencari alternatif pengobatan, karena konon orang tuanya yang tinggal di desa tetangga sudah berulang kali ke kiai yang dipercaya bisa mengusir para jin. Mereka meyakini bahwa anaknya kerasukan jin, bahkan lebih spesifik, jin kiriman bapak kandungnya yang sudah puluhan tahun meninggalkannya.

Baca juga:   Sekolah dan Telur Ceplok

Hal pertama yang kami lakukan setelah situasi mulai aman adalah mengirim bulikku untuk mengupdate situasi si anak di rumah neneknya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami.

Update dari bulik yang adalah bendahara Muslimat NU desa sangat menyesakkan dada; dia sampai tak kuasa menahan haru ketika bercerita. “Setelah aku tanya baik-baik, ternyata anak itu pingin mondok, teman-teman seangkatannya sudah berangkat mondok. Dia bahkan sangat bersedia kalau diberangkatkan mondok lusa, dan bisa menyiapkan segala keperluannya sendiri, termasuk ijazah kelulusan SD-nya…”.

Tebakan kami, anak ini sudah tertekan dan stress ketika sekolah diliburkan. Dia tak bisa ikut belajar online. Orang tuanya yang bekerja serabutan tidak memiliki HP memadai.

Kondisi ekonomi orang tuanya yang sangat memprihatinkan tentu juga sangat memengaruhi kondisi mental mereka dalam berkomunikasi dengan anak. Pada situasi seperti itu, emosi anak menjadi sangat tak terkendali, ‘kesurupan’, kondisi di luar kendalinya.

Akhirnya, insya Allah kami memutuskan untuk mengirim anak tersebut ke pondok pesantren yang dia inginkan. Kami akan bareng-bareng iuran untuk membantunya mengirim ke pondok. Kami juga akan menggunakan bantuan dari uang kas jamiyah Muslimat NU. Kata bulikku, “tadi aku langsung makteg, sedih banget, ingat dulu waktu masih kecil ditinggal teman sepermainan mondok, sementara aku tidak bisa mondok. Perasaan sedihnya masih terasa sampai sekarang…”

Pak Mendikbud, bukan pamer, ya, tapi organisasi seperti NU/Muhammadiyah berada di akar rumput, di tengah-tengah masyarakat. Mereka mendengarkan langsung tangisan anak-anak yang ingin mondok atau sekolah, dan mereka langsung memberikan solusinya.

Muslimat NU di desaku sudah mampu mendirikan TK Muslimat NU, termasuk memberikan beasiswa kepada yatim/piatu/kurang mampu di sekolah-sekolah dasar dari sejak belum ada program BOS. Tidak hanya itu, bahkan emak menambahkan uang saku yang saat itu dititipkan kepadaku untuk diberikan ke anak-anak yang membutuhkan (sudah sering aku ceritakan kisah ini di FB).

Baca juga:   Covid-19 dan Pergeseran Nilai Pendidikan

Begitu saja, sih, Mas Menteri. [MFR]

One thought on “Mas Menteri, Main ke Kampung, Yuk!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *