Makna Rumah Joglo bagi Milenial

Meski banyak orang menganggapnya sebagai mitos—terutama milenial—nilai-nilai kearifan ini bisa memberi pelajaran hidup bagi kita semua bagaimana berhubungan dengan sesama manusia dan juga kekuatan adikodrati di luar manusia (Tuhan).

—– Qoni Nella Syahida

Budaya Jawa kaya sekali dengan nilai-nilai etika dan estetika. Bangunan tradisional atau rumah adat adalah salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Setiap bagian atau ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Rumah adat Jawa biasa dikenal dengan rumah joglo, yang mewakili pengetahuan lokal budaya Jawa. Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam rumah tradisional Jawa ini memiliki perpaduan indah antara budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya.

Umumnya rumah joglo berbahan dasar kayu jati. Namun seiring perkembangan zaman, banyak rumah joglo yang dindingnya sekarang disusun dari batu bata dan semen. Saya tertarik membahas ini karena kebetulan di daerah saya, tepatnya Desa Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, terdapat rumah joglo yang masih sangat baru, sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu. Bagi orang Jawa yang sudah sepuh pasti mengetahui makna rumah joglo ini dari, tapi apakah demikian juga bagi generasi milenial? Ini pertanyaan yang menarik buat saya. Segala nilai tradisional itu mungkin sudah mengalami pergeseran makna bagi generasi milenial yang hanya melihat dari sisi estetikanya saja.

Di era milenial ini, dengan teknologi yang semakin canggih, kaum remaja—atau istilah kerennya generasi milenial—hampir semua pandai mengutak-atik teknologi. Pasti ada perasaan gengsi dong ya jika mereka sampai gaptek atau gagap teknologi. Karena sekarang apa-apa menggunakan teknologi, seperti sekarang jika kita ingin beli sesuatu, kita tinggal pakai teknologi tanpa harus bersusah payah keluar rumah. Namun dengan segala kecanggihan teknologi ini kita tidak boleh melupakan adat istidat dan budaya kita. Teknologi ini bisa berdampak pada kehidupan sosial: jarang berbaur dengan tetangga atau teman sebaya. Bisa jadi mereka juga telah melupakan segala macam budaya dan tradisi yang ada.

Ketika saya mencari informasi mengenai pemilik rumah joglo tersebut, saya bertanya kepada seorang milenial yang tinggal dekat dengan rumah tersebut. Saya bertanya kira-kira siapa pemilik rumah itu dan pemuda ini malah menjawab dan menebak kalau saya hanya ingin numpang foto saja—duh, gusti! Itulah salah satu bukti bahwa milenial sekarang ini banyak yang melihat berbagai tradisi dan budaya yang ada bukan karena makna atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, tapi estetikanya saja. Ketika ada ritual ataupun tradisi yang sedang berlangsung di masyarakat, banyak milenial yang turut hadir memeriahkan. Tapi banyak dari mereka ini hanya sekadar hunting atau berburu foto untuk dijadikan story ataupun di-upload di sosmed mereka; mungkin agar terlihat mencintai dan melestarikan budaya meski tidak paham maknanya. Namun tentu saja tidak semua milenial seperti itu, apalagi mereka yang kuliah di SAA, he-he-he.  

Baca juga:   Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

Beberapa pertanyaan yang saya lontarkan kepada beberapa milenial yang tinggal di sekitar di antaranya mengapa pemilik rumah itu memilih desain joglo daripada rumah modern? Kira-kira pemilik rumah itu orang yang masih kental dengan budaya jawanya atau hanya melihat dari estetikanya saja? Beberapa dari mereka menjawab Yo kan apik to mbak, wi kan yo wis jarang enek seng mbangun omah ngunuwi, kan berarti wonge melestarikan budaya. Koyoke bakal seng nduwe omah dokter mbak, wong berpendidikan paling yo ngerti maknane joglo, tapi lek aku gak patek ngerti, hehe” (Ya, kan itu bagus mbak. Kan sudah jarang ada yang membangun rumah seperti itu, berarti orang tersebut telah melestarikan budaya. Sepertinya yang punya rumah ini seorang dokter, orang yang berpendidikan jadi mungkin tahu makna dari rumah joglo, tapi kalau saya tidak terlalu paham, hehe”).

Padahal rumah joglo itu sarat dengan makna dan kita bisa mengambil pelajaran darinya. Rumah tradisional Jawa mempunyai filosofi dan tujuan yang diwujudkan melalui simbol-simbol atau lambang. Simbol-simbol tersebut antara lain terwakili dalam konstruksi bangunan rumah. Simbol-simbol tersebut merupakan petunjuk para leluhur bagi generasi selanjutnya. Bangunan atau rumah tradisional joglo tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga wujud pengharapan akan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya. Joglo sebenarnya hanya merupakan salah satu bentuk rumah tradisional Jawa, tetapi ia mewakili tipe rumah Jawa yang paling lengkap susunannya sehingga nilai kearifan yang terkandung dalam rumah ini pun bisa mewakili kearifan Jawa.

Rumah joglo umumnya dibuat dari kayu jati; konon inilah jenis kayu terbaik di dunia. Bagi orang Jawa, kayu jati tidak hanya punya nilai sosial-ekonomis karena harganya yang mahal dan status sosial yang bisa didapat. Konon penggunaan kayu jati dilatari oleh mitos ‘nyai jati sari kaki jati sari’ yang berkembang di zaman Walisongo. Kayu jati mewakili keinginan orang Jawa akan sesuatu yang terbaik atau sejati (Zamroni, 2014).

Baca juga:   Transformasi Berkat

Beralih pada sisi atap, rumah joglo berbentuk tajug, atap piramidal mirip gunung. Istilah joglo juga berasal dari sini. Joglo berasal dari dua kata: ‘tajug’ dan ‘loro’ artinya ‘gabungan dua tajug’. Bentuk atap yang menyerupai gunung menegaskan kepercayaan bagi orang Jawa bahwa gunung ialah simbol segala hal yang suci atau sakral karena dianggap tempat bersemayam para dewa. Kerangka rumah joglo ditopang oleh empat tiang utama yang disebut Soko Guru. Jumlah ini melambangkan kekuatan dari empat penjuru mata angin. Secara spiritual ini, manusia diyakini berada di tengah pertemuan keempat arah mata angin tersebut. Tempat ini konon mengandung getaran magis tingkat tinggi. Titik potong ini  disebut juga sebagai Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat, atau bersatunya empat kiblat yang menyusun kehidupan di muka bumi: tanah, air, api, dan angin.  

Rumah joglo biasanya terdiri dari beberapa ruang utama: ruang pertemuan (pendapa); ruang tengah (pringgitan); ruang belakang atau ruang keluarga (dalem). Pendapa terletak di depan dan dibuat tanpa dinding, mewakili karakter orang Jawa yang ramah dan terbuka. Ruangan untuk menerima tamu ini biasanya tidak diberi meja ataupun kursi, hanya tikar yang digelar agar tetamu dan tuan rumah bisa berbicara lebih akrab dan dalam semangat kesetaraan.   

Pringgitan menyimbolkan kedirian orang Jawa sebagai bayang-bayang Dewi Sri atau Dewi padi ini yang dianggap sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Terletak antara pendapa dan dalem, pringgitan biasanya dipakai sebagai tempat untuk menggelar pertunjukan wayang yang berkaitan dengan upacara ruwatan adat. Dalem adalah bagian yang digunakan sebagai tempat keluarga, terdiri dari beberapa kamar yang disebut senthong. Senthong ini biasanya berjumlah tiga bilik saja. Bilik pertama untuk para lelaki, bilik kedua sengaja dikosongkan, dan bilik ketiga untuk para perempuan. Bilik kosong ini diisi dengan ranjang lengkap dengan segala perlengkapannya. Bilik kosong ini disebut juga krobongan dan dikhususkan untuk menyimpan pusaka. Inilah bagian rumah yang dianggap paling suci.

Tentu saja banyak nilai lain yang terkandung dalam rumah joglo. Meski banyak orang menganggapnya sebagai mitos—terutama milenial—nilai-nilai kearifan ini bisa memberi pelajaran hidup bagi kita semua bagaimana berhubungan dengan sesama manusia dan juga kekuatan adikodrati di luar manusia (Tuhan). [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *