Koronavirus dari Lensa Batin Penghayat

Kita tidak dapat mengetahui kebenaran secara pasti. Manusia hanyalah wayang sedangkan Tuhan adalah Sang Dalang. Manusia tidak akan pernah sampai pada pengetahuan yang hakiki karena itu hanyalah milik Tuhan semata.

Banyak perspektif bermunculan dalam melihat virus yang tengah melanda bumi kita ini. Kita tinggal milih sudut pandang mana yang ingin kita pakai; mediskah, agamakah, ataukah konspirasi elit global ala JerinxSID. Apapun sudut pandang yang kita pilih, keselamatan individual dan masyarakat harus ada di nomor satu.            

Virus ini konon bermula dari Kota Wuhan di Cina; kota ini merupakan salah satu kota yang terkenal dengan pasar hasil dari laut. Ternyata, pasar ini bukan hanya menjual hasil laut saja, tapi juga santapan berupa hewan ekstrim, seperti katak, ular, kelelawar, dan banyak lagi, yang memang digandrungi oleh orang Cina. Ditilik dari kacamata kesehatan, mengonsumsi daging ini, apalagi mentah, memang berpotensi memicu penyakit. Analisis lain menganggap koronavirus adalah bagian dari perang dingin Amerika-Cina; sebagian lain menganggapnya sebagai permainan elit global untuk menguasai dunia, terutama melalui vaksin virus ini.

Tulisan ini hendak meramaikan diskusi soal pandemi ini dari sudut pandang lain yang mungkin jarang kita dengar. Perspektif ini berasal dari kaum penghayat -kadang disebut ahli kebatinan, atau penganut aliran kepercayaan—yang sepanjang sejarah bangsa ini kerap jadi korban diskriminasi dan persekusi atas nama hukum maupun mayoritas. Syukurlah, situasinya sedikit membaik sejak pemerintah mengubah beberapa kebijakannya.    

Beberapa pekan terakhir sebelum koronavirus mewabah di Indonesia, saya berkesempatan berbincang dengan seorang tokoh hebat bernama Bapak Sukamto. Beliau adalah seseorang penganut aliran kebatinan Kejawen; meski tidak dianggap sebagai agama oleh pemerintah, aliran ini juga menganut kepercayaan terhadap Tuhan YME melalui pendekatan adat istiadat Jawa. “Tuhan adalah Pangeran Gusti Kang Kinoyo Jagat,” kata beliau.

Baca juga:   Arti Kemerdekaan bagi Penghayat

Pembicaraan kami sampai juga akhirnya pada isu koronavirus; virus yang meluluhlantakkan banyak sendi kehidupan dunia. Analisis mengenai asal muasal virus ini banyak menghiasi pemberitaan nasional, termasuk bagaimana pemerintah seharusnya merespons virus yang kemudian memicu pandemi ini. Uniknya, Bapak Sukamto punya cara pandang sendiri soal ini. Beliau mengaku pernah mendapat isyarat dari Tuhan mengenai koronavirus ini. Saat itu ada sinar jatuh dari langit, lalu sebelum sampai jatuh ke bumi, sinar tersebut memisahkan diri menjadi empat belas sinar; salah satu sinar tersebut inilah yang menjadi penyakit yang menghebohkan dunia saat ini.

Bapak Feri adalah juga seorang penghayat; dia bahkan menjabat sebagai salah seorang komisioner di “Sanggar Penghayat Tuhan yang Maha Esa se-Indonesia”. Sanggar ini adalah salah satu aliran kepercayaan yang berusaha menangkap kuasa dari gelaja alam sekitar. Setiap hari pada jam dua pagi buta, beliau selalu berdoa di luar rumah; orang Jawa mengenalnya dengan istilah ngembun. “Berdoa di bawah langit langsung berbeda dengan berdoa di dalam rumah karena membuat kita merasakan kuasa Tuhan yang luar biasa; menyerap energi langit yang membentang dari ujung wetan kang kawitan sampai ujung kulon,” ujar beliau.  

Berbeda dengan rekannya, Bapak Feri menganggap virus misterius ini sengaja dibuat manusia. Beliau masih bertanya-tanya siapakah yang membuat virus ini, dan untuk tujuan apa. Bapak Feri menganggap beda pandangan soal koronavirus sah-sah saja asal tidak menimbulkan perpecahan. Yang paling bijak saat ini adalah menaati anjuran pemerintah.

Begitulah, sesama penghayat, yang katanya minoritas, tidak selalu satu suara dalam segala hal; apalagi di kalangan mayoritas.  Keberagaman adalah sunnatullah; dengannya dunia ini menjadi lebih berwarna-warni dan indah. Kita boleh beda pendapat dalam banyak hal, tapi jangan sampai perbedaan itu menghalangi kita untuk menyeduh kopi sambil tertawa bersama. Batin setiap manusia memang tidak sama; semuanya bergantung pada diri manusianya sendiri. Jika manusia mengasah batin dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, maka dia akan mampu melihat dengan mata batinnya.

Baca juga:   Membaca India dan Euforia Keagamaan

Kita sebagai umat Islam boleh saja tidak sependapat dengan Bapak Sukamto dan Bapak Feri. Tetapi perlu diingat bahwa agama kita juga mengenal yang namanya firasat. Bahkan, banyak dari kita mengambil keputusan dari tafsir kita terhadap mimpi. Keabsahan mimpi sebagai sumber pengetahuan juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Gus Faris dalam kajiannya terhadap Kitâb Al-Mukhtârul al-Hadîs anNabawiyyah: “Sebagian  wahyu itu didapat dari mimpi, begitu pula pada Nabi juga mendapatkan wahyu dari mimpi, seorang mukmin mendapat petunjuk juga berasal dari mimpi tetapi komposisi nilainya berbeda dari Nabi.”

Kita tidak dapat mengetahui kebenaran secara pasti. Manusia hanyalah wayang sedangkan Tuhan adalah Sang Dalang. Manusia tidak akan pernah sampai pada pengetahuan yang hakiki karena itu hanyalah milik Tuhan semata. Wallahu’alam.[MFR]  

2 thoughts on “Koronavirus dari Lensa Batin Penghayat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *