Komunalitas dan Benteng Menghadapi Pandemi

Ibadah komunal tidak dibatasi pada hitung-hitungan berapa banyak pahala yang bakal didapat, tetapi lebih pada bagaimana menjadi sarana berjejaring antara jamaah dalam segala aspek kehidupan.

——Mubaidi Sulaeman

Virus korona menjadi ujian terbesar di awal 2020 bagi umat manusia di dua ratus lebih negara di dunia ini. Bukan sekedar ‘membunuh’ raga manusia, virus ini juga telah meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan manusia modern, baik politik, ekonomi, keamanan, sosial, pendidikan, maupun agama. WHO pun menetapkan pandemi global pada Maret 2020. Pandemi ini memaksa manusia berpikir ulang tentang hubungan antara eksistensi ‘diri’, ‘lingkungan’, dan ‘pikiran’ mereka.  

Manusia modern kini  sadar betapa rapuhnya ‘wadah’ yang mereka miliki; jasad yang selama ini menjadi media kenikmatan serta pusat manifestasi eksistensi mereka di dunia ini ternyata begitu rapuh di hadapan ancaman wabah ini. Meskipun manusia modern  mendaku telah sampai pada puncak peradaban melalui sains dan teknologi, toh hasilnya jutaan jasad manusia tetap meregang nyawa menghadapi virus korona ini.

Manusia modern yang bersikap acuh terhadap ‘lingkungan’ selama masa pra-pandemik, kini seperti terhentak dan sadar diri bahwa keseimbangan ekosistem merupakan hal yang utama dalam roda kehidupan. Manusia modern yang sangat bangga terhadap sistem tata dunia kini tersungkur di hadapan sunnatullah yang berkuasa atas segala hukum yang mengatur dunia ini. Mereka tersadarkan betapa rapuhnya sistem yang mereka bangun, dan betapa ringkihnya kehidupan mereka dengan percaya bahwa dunia akan baik-baik saja sembari mempertahankan sikap ceroboh dan spekulatif ala manusia modern (rasional dan empiris).

Manusia modern dalam hal ini bukan hanya—dalam kacamata agama—yang ateis, agnostis dan sekularistik saja, tetapi juga orang-orang yang mendaku diri golongan saleh beragama, termasuk muslim. Golongan pertama tetap konsisten berserah diri pada bukti-bukti empiris dan tetap rasional menghadapi wabah ini. Meskipun harus mengorbankan sisi-sisi kemanusian, mereka tetap berpegang teguh pada ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai solusi menghadapi pandemi. Bagi golongan yang kedua, terlebih muslim, virus korona justru menjadi media pembelajaran hidup yang bagus. Ia merupakan suatu kondisi teodisi di mana keimanan manusia diuji. Wabah bukan hanya menimbulkan kerusakan dan kehancuran peradaban manusia, tetapi ia juga menjadi tantangan bagi umat beragama untuk mengenal lebih dekat Tuhan mereka. Pandemi juga memberi tamparan keras bagi manusia karena melalaikan subtansi keimanan mereka.

Baca juga:   Resolusi Baru Fikih Pandemi

Baru-baru ini, seorang tokoh agama Islam di Jawa Timur tetiba viral karena dianggap melawan petugas yang hendak menegakkan peraturan pemerintah soal PSBB. Seorang yang dianggap matang dalam beragama seketika kehilangan marwahnya karena reaksinya yang berlebihan, yang  terekam dan disebarkan di media sosial. Sang tokoh panutan pun mendatangi aparat keamanan untuk meminta maaf. Pertanyaannya adalah benarkah pandemi ini tiba-tiba dapat mengubah kita dari awalnya moralis menjadi amoralis karena tidak kuat menghadadi krisis? Atau justru pandemi ini telah menyingkap sifat amoral kita yang selama ini tertutupi oleh kilau jubah keagamaan?

Bagi sebagian muslim, penanganan pemerintah dan fatwa organisasi Islam di Indonesia dalam menghadapi pandemi telah berakibat pada penurunan kualitas keagamaan di masyarakat; tempat-tempat ibadah sebagai pusat syiar dan kegiatan ibadah komunal dilarang. Banyak pelaku keagamaan merasa terkena krisis eksistensi, ekonomi, sosial dan mengalami kebuntuan syiar keagamaan; mereka juga miris melihat banyaknya budaya-budaya baru di era pandemi yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, kaum agamawan bukan satu-satunya yang terkena dampak multidimensional pandemi ini—malah saya percaya keimanan kaum agamawan tidak akan mudah goyah gegara tertimpa wabah covid-19 ini. Justru masyarakat awam-lah yang paling rentan goyah baik dari sisi spiritualitas maupun fisik.

Prioritas utama masyarakat sekarang ini, jika boleh jujur, bukan lagi agama tetapi bagaimana bertahan hidup. Permasalahan ini tidak bisa begitu saja diselesaikan dengan cara updown. Menggerakkan ekonomi di level lapisan paling bawah bisa menjadi sarana efektif menghadapi “kenormalan baru”. Masyarakat bisa mandiri tanpa bergantung kepada bantuan pemerintah yang sering dianggap tidak adil dalam menyalurkan bantuan. Memang menomorduakan agama dalam situasi saat ini kesannya tidak pantas, tetapi kita harus ingat bahwa agama bukan soal peribadatan saja. Agama juga adalah persoalan menata manusia agar menjadi lebih baik dihadapan Tuhan baik sebagai individu maupun jamaah.

Baca juga:   “Indonesia Terserah” dan Defisit Keagamaan

Apabila kita menggunakan perspektif Fritjof Schoun, umat muslim seharusnya paling tangguh dalam menghadapi krisis multidimensi ini. Mengapa demikian? karena Islam bukan agama yang berpusat pada sistem ritualistik semata, tetapi juga mengatur kehidupan umatnya baik secara individual maupun komunal, baik di luar dan di dalam tempat ibadah.  Sisi-sisi ajaran agama Islam selalu mengandung keterkaitan antara hal-hal yang eksetoris dan yang esoteris. Umat Islam seharusnya bukan hanya kaya solusi lahiriah tapi juga batiniah.

Akan tetapi, praktik di lapangan menunjukkan bahwa dimensi eksetoris dan esetoris ini kerap disalahartikan. Umat Islam selalu menganggap bahwa ibadah lebih utama dilakukan secara komunal dibanding sendirian. Hal ini dikarenakan ibadah masih dipahami secara transaksional, seperti menghitung-hitung pahala, menerka-nerka balasan yang dijanjikan Tuhan. Apakah hal itu salah? Tentu tidak, Allah SWT tidak melarang dan bahkan membenarkannya. Tetapi alangkah bijak mengembalikan ibadah pada esensi spiritualnya. Ibadah komunal tidak dibatasi pada hitung-hitungan berapa banyak pahala yang bakal didapat, tetapi lebih pada bagaimana menjadi sarana berjejaring antara jamaah dalam segala aspek kehidupan.

Lebih parah lagi, sifat narsistik khas golongan manusia modern juga menjangkiti umat Islam. Ibadah yang seharusnya menjadi urusan privat tiap-tiap individu dibawa ke urusan publik dan akhirnya memicu konflik sosial. Ibadah puasa di bulan Ramadan adalah contohnya. Orang-orang di luar Islam—bahkan juga muslim yang tidak berpuasa karena uzur atau pelbagai alasan lain—dipaksa tunduk pada ‘peraturan agama’ yang tidak bersifat qatî  atas nama ‘menghormati bulan Ramadan’. Ormas FPI, misalnya, melakukan sweeping warung-warung makan yang masih buka di siang hari karena dianggap mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang berpuasa. Padahal, bila ditelusuri tidak ada dalil-dalil dalam Hadis dan al-Qur’an yang membenarkan tindakan tersebut. Justru, ibadah puasa seharusnya menjadi ujian bagi muslim untuk menjaga puasa mereka di tengah pelbagai godaan di sekitar. Pandemi seperti sekarang ini mengharuskan kita untuk merenungkan kembali esensi ibadah kita kepada Allah SWT. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *