KH. Imam Basyari, Guru Besar Pertama IAIN Kediri: Kesaksian Seorang Murid

Mohamad Zaenal Arifin*

Foto penulis saat ujian skripsi bersama Prof. KH. Imam Basyari (koleksi pribadi)

“Tulisan ini hanyalah sekelumit ikhtiar untuk merangkai kepingan sejarah IAIN Kediri yang sampai saat ini masih berserakan di mana-mana. Tujuannya jelas bukan untuk men-glorifikasi tokoh-tokoh tertentu, tapi sebagai pembelajaran bagi generasi muda di kampus ini.”

Keberadaan IAIN Kediri menyimpan sejarah panjang yang sayang kalau hanya disimpan dalam bentuk tradisi lisan. Dokumentasi kesejarahan IAIN Kediri dalam bentuk tulisan bisa menjadi rekaman berharga yang bisa terus diputar dan dibisikkan ke telinga para generasi muda IAIN Kediri. Sejarah bisa menjadi sarana membangun ikatan batin dengan para pendiri dan tokoh pelatak dasar keilmuan IAIN Kediri. “Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta,” begitu kata Kuntowijoyo. Tulisan ini hanyalah sekelumit ikhtiar untuk merangkai kepingan sejarah IAIN Kediri yang sampai saat ini masih berserakan di mana-mana. Tujuannya jelas bukan untuk men-glorifikasi tokoh-tokoh tertentu, tapi sebagai pembelajaran bagi generasi muda di kampus ini.


KH. Imam Basyari adalah sosok yang kritis, terlihat dari kesenangan beliau yang selalu mengajak diskusi apabila bertemu sesama kolega/dosen terkait beberapa hal. Selain itu beliau juga sering memberikan kritik berupa catatan pinggir-semacam syarah-apabila ada pendapat yang menurut beliau kurang pas.

Di antara banyak kepingan sejarah IAIN Kediri, sosok Prof. KH. Imam Basyari sangat pantas untuk diulas. Selain sebagai Guru Besar Bahasa Arab STAIN Kediri, beliau punya kontribusi besar dalam melahirkan alumni-alumni yang nantinya mengabdikan diri di kampus yang sama. Selain kiprahnya di STAIN Kediri dulu, beliau juga termasuk tokoh pengusul bagi berdirinya Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo yang selanjutrnya bertransformasi menjadi Institut Agama Islam (IAI) Tribakti Lirboyo (Ali Anwar, 2002: 74). Beliau juga sosok penting bagi lahirnya Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal di Wonodadi Blitar.

Baca juga:   Menggagas #SedekahTulisan di Kampus

Secara akademik, KH. Imam Basyari sangat lekat dengan dua karyanya yang hingga kini terus menjadi rujukan dalam pembelajaran Bahasa Arab. Pertama adalah Kamus Lengkap Ulil Albab: Indonesia-Arab (CV Karya Utama, 1987). Kamus ini sangat berguna bagi mereka yang menulis dalam bahasa Arab. Karya kedua adalah Al-Qur’an al-Kariim: Wa Tarjamatu Ma’anihi ila al-Lughah al-Indonesiyyah al-Nafiisah. Karya ini adalah disertasi beliau untuk memeroleh gelar Guru Besar Sastra Arab di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Uniknya, disertasi berupa tafsir al-Qur’an ini beliau tulis tangan dalam khat Arab yang begitu indah, cermin dari kesabaran dan keuletan beliau sebagai seorang akademisi.

Dua Karya Utama KH. Imam Basyari

Saya sendiri menututi masa-masa beliau mengajar di STAIN Kediri. Komunikasi intensif saya dengan beliau terjadi antara tahun 1995-1998, sewaktu saya menjadi mahasiswa dan sekaligus sebagai mahasiswa bimbingan skripsi beliau di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri. KH. Imam Basyari yang saya kenal adalah sosok dosen sekaligus pembimbing skripsi yang sederhana, disiplin, semangat, dan kritis. Kesederhanaan beliau dapat dilihat dalam penampilan sehari-hari pada saat datang ke kampus menaiki hijet hijau yang kondisinya tidak cukup bagus, namun ada yang istimewa yaitu di dalam kendaraan beliau dipenuhi banyak buku dan kitab layaknya perpustakaan berjalan.

Kedisiplinan beliau tampak pada saat mengajar di kampus, beliau berupaya datang tepat waktu sesuai jadwal kuliah, bahkan ketika mahasiswa belum ada, beliau tidak segan untuk mencari dan bertanya tentang keberadaan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Meskipun usia beliau sudah lanjut, tetap semangat dalam hal belajar, membaca, sekaligus kritis. Kesan ini juga saya tangkap langsung saat mengunjungi kediaman beliau di sebelah barat perempatan Mrican, sebelah utara jalan utama Kediri-Nganjuk. Saya begitu tersanjung diberi kesempatan untuk masuk ke kamar beliau yang penuh dengan buku dan kitab. Inilah cermin tingginya kecintaan beliau kepada ilmu, disamping beberapa karya yang telah dihasilkan dengan tulisan tangan beliau sendiri.

Baca juga:   Menggagas #SedekahTulisan di Kampus

KH. Imam Basyari adalah sosok yang kritis, terlihat dari kesenangan beliau yang selalu mengajak diskusi apabila bertemu sesama kolega/dosen terkait beberapa hal. Selain itu beliau juga sering memberikan kritik berupa catatan pinggir-semacam syarah-apabila ada pendapat yang menurut beliau kurang pas. Beliau juga sosok dosen yang dapat dijadikan sebagai tauladan dalam memberikan motivasi bagi mahasiswa dan dosen-dosen yang lain. Semoga ilmu, hasil karya beliau dapat memberikan manfaat untuk khalayak. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Swt. dan ditempatkan di surga-Nya. Aamin.

Dr. Mohamad Zaenal Arifin adalah Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *