Kepemimpinan di Era Disrupsi

Era disrupsi cuma menyediakan dua pilihan: win or lose. Kita akan menjadi pemenang bila mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita akan kalah dan menjadi pecundang bila tidak membiasakan diri dengan perkembangan teknologi terkini

—- Achmad Faisol Haq

Berbicara tentang kepemimpinan tentu bukan hal baru. Tetapi bagaimana tipologi kepemimpinan dan perilaku pemimpin mengejewantah sejalan dengan zaman yang dihadapi, terutama di era digital saat ini, akan terus menarik diulas. Apabila seorang pemimpin masih menggunakan cara-cara lama yang tidak sesuai dengan zamanya, maka kepemimpinannya tidak bisa lagi dipandang relavan.

Pada era digital saat ini, penggunaan internet pada masyarakat sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Seorang anak yang baru berusia 2 tahun saja ketika sedang menangis kemudian disodori handphone secara mengejutkan tangisnya itu akan segera berhenti. Hal ini menandakan bahwa perangkat digital sudah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Penggunaan internet di Indonesia sendiri melalui laman datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia, per Januari 2020, sebanyak 175 juta pengguna dari jumlah penduduk Indonesia 272.1 juta. Artinya, hampir 65% penduduk Indonesia sudah memiliki akses internet dalam kehidupan keseharian mereka.

Akan tetapi, kalau dilihat dari laman hdr.undp.org dalam Human Devolepment Reports, posisi Indonesia berada di peringkat 111 dari 189 negara di dunia. Hal ini menandakan sumber daya manusia Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari negara-negara maju lainnya. Di satu sisi penggunaan internet tinggi, akan tetapi dari sisi sumber daya manusia, terutama dalam hal tekonologi,  Indonesia masih sangat jauh tertinggal, bahkan tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan juga dituntut bisa berperan aktif dalam meningkatkan sumber daya manusia masyarakat Indonesia dalam bidang teknologi.

Dampak Perkembangan Digital

Pada era digital, inovasi dalam bidang teknologi berubah dengan begitu cepat dan membawa perubahan yang sangat banyak pada kehidupan masyarakat. Banyak ahli menyebut fenomena ini dengan Distruption Era. Dampak dari perkembangan teknologi pada saat ini setidaknya memiliki empat dampak. yakni volatile, uncertain, complex, ambigue (VUCA). Dampak pertama, volatile (bergejolak), dicontohkan oleh sepak terjang Nadiem Makarim dengan Gojek-nya kala itu. Kemunculan Gojek di tenggah-tengah masyarakat membuat gejolak tersendiri antara ojek konvensional dan ojek online, bahkan sempat terjadi ketegangan antara keduanya.

Baca juga:   Techno-Religion: Menggapai Ilahi Dengan Teknologi

Dampak yang kedua, uncertain (tidak pasti), mengasumsikan bahwa perkembangan teknologi yang begitu cepat dalam kehidupan masyarakat telah melahirkan ketidakpastian. Misalnya, kehadiran satu tipe smartphone baru diikuti dengan tipe baru lagi hanya dalam beberapa bulan saja. Teknologi  yang kita angap bagus pada hari ini belum tentu bagus pada tiga hingga empat bulan ke depan. Inilah imbas dari perkembangan teknologi yang berinovasi dengan begitu sangat cepat.

Dampak yang ketiga, complex, mendalil bahwa teknologi digital telah menciptakan ketakterbatasan. Kalau dulu komunikasi dilakukan dengan cara face to face, pada era digital saat ini tiap-tiap individu bisa saling langsung tersambung dengan cara video call tanpa terbatasi oleh jarak dan tempat; rapat online menggunakan aplikasi zoom, misalnya, membuat seseorang mampu berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung atau berada di tempat yang sama. Dampak keempat dari perkembangan digital adalah ambigue (tidak jelas); dengan perkembangan informasi digital yang begitu cepat dan melimpah turut juga memunculkan pelintiran informasi (hoaxs) di tengah masyarakat.

Kepemimpinan Era Digital

James Brett, dalam bukunya Evolving Digital Leadership: How to Be a Digital Leader in Tomorrow’s Distruptive World, menjelaskan tiga komponen yang harus dimiliki seorang pemimpin pada era digital. Yang pertama adalah deeply understanding people; seorang pemimpin pada era digital itu harus dapat memahami dirinya dan orang lain secara mendalam. Individu dalam suatu lingkup organisasi harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap dirinya dan kepedulian yang tinggi terhadap organisasinya. Pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka membutuhkan kolaborasi antara individu sehingga tidak ada yang merasa tidak penting dalam suatu tatanan organisasi; semua memiliki peran sesuai dengan tupoksi dan tugas masing-masing.

Baca juga:   Melawan Infodemi dengan Vaksinasi Digital

Komponen kedua yang harus dimiliki seorang pemimpin di era digital adalah kemampuan digital organization. Yaitu, bagaimana seorang pemimpin suatu organisasi mampu mengelola sumber daya, baik berupa manusia maupun nonmanusia seperti perangkat digital. Seorang pemimpin harus mampu meng-uprgade kompetensi anak buah supaya bisa melek terhadap teknologi. Pemimpin juga harus mampu mengembangkan sarana dan prasarana sesuai dengan teknologi mutakhir dan kebutuhan organisasi tersebut.

Komponen ketiga, ungkap James Brett, adalah dive and integrate tech-trends. Seorang pemimpin di era digital harus mampu mengendalikan dan mengintegrasikan tren teknologi yang berkembang. Seorang pemimpin di era digital harus adaptif dengan perubahan teknologi yang terjadi; dia dituntut harus segera memahami, mengeksplorasi dan mengembangkan perkembangan teknologi yang terjadi. Komponen-komponen kepemimpinan seperti ini akan melahirkan pemimpin yang mampu membawa organisasinya terus berkreasi dan berinovasi pada era digital ini.

Membangun Kepemimpin di Era Digital

Era digital yang berkembang begitu cepat serta langsung berdampak pada kehidupan masyarakat menuntut kita sebagai pendidik mempersiapkan anak didik kita menjadi pemimpin digital sehingga tidak gagap kelak dalam menghadapi perubahan zaman. Hal ini bisa kita lakukan dengan empat cara. Pertama adalah quick responses (repons cepat).  Kita, baik secara individu maupun kelompok, harus dapat merespons dengan cepat perkembangan teknologi terkini. Dengan berkembangnya teknologi, kebiasaan manusia juga akan berubah dengan begitu cepat. Maka dari itu, sejak kini kita harus mampu memberi respons cepat juga terhadap perkembangan teknologi kekinian.

Kedua adalah quick adaptation (beradaptasi cepat). Merespons dengan cepat perkembangan teknologi belum cukup karena harus juga ditopang dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi yang mutakhir. Kita harus juga mampu menguasai teknologi terkini sehingga kita tidak dianggap gagap teknologi.

Ketiga  adalah quick thinking (berfikir cepat). Seorang pemimpin digital harus mampu berpikir, berinovasi, dan berkreasi dengan cepat. Kebaruan dalam teknologi dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam rangka untuk membangun sumber daya manusia yang dia pimpin.

Keempat adalahquick action (beraksi cepat). Di era disrupsikita tidak bisa lagi menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinasi hanya akan membuat kesempatan dengan mudah hilang. Era disrupsi cuma menyediakan dua pilihan: win or lose. Kita akan menjadi pemenang bila mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita akan kalah dan menjadi pecundang bila tidak membiasakan diri dengan perkembangan teknologi terkini.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *