Kartini dan Cahaya Toleransi Agama di Masa Pandemi

Fathimatuz Zahra*

Sumber Gambar: https://www.cnbcindonesia.

Pada peringatan hari istimewanya, Kartini menjadi sosok yang menginspirasi banyak peran yang sangat penting dalam penanganan wabah covid 19 ini. Kartini-Kartini medis, Kartini-Kartini pendidikan, serta Kartini-Kartini lain dalam berbagai peran baik domestik maupun karier, semuanya adalah cerminan perjuangan Kartini bagi emansipasi perempuan.

Dalam pandemi ini, menurut data Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi tercatat 32 dokter dan 12 perawat wafat positif covid 19 per 12 April 2020. Perawat, kedua belas korban perawat serta sejumlah dokter adalah perempuan, kartini-kartini medis masa kini. Di sisi lain, kartini-kartini pendidikan baik para guru, orang tua pun melaksanakan tugas utamanya dengan Belajar Dari Rumah. Kedua peran ini, sama-sama pentingnya dalam keadaan masa kini.

Dalam surat-suratnya dengan Nyonya Abendanon dan enam sahabat pena lainnya dari Belanda, Kartini menunjukkan cara toleransi keagamaan yang sangat luar biasa. Beliau berteman dengan para putri-putri Belanda, tanpa mempermasalahkan latar belakang keyakinan dan agamanya.  Kartini menggunakan kesempatan dengan sahabat-sahabatnya ini agar membantu menghilangkan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan.

Beliau salah seorang perempuan Indonesia yang berfikiran maju dan memperjuangkan seluruh perempuan pribumi. Beliau bukan hanya seorang nasionalis namun juga seseorang yang mendasarkan langkah hidupnya pada semangat keagaamaan. Beliau belajar keagamaan dengan Kyai Sholeh Darat. Kartini bertemu dengan Kyai Sholeh Darat hingga dihadiahi sebuah kitab pegon, atas permintaan dan kegelisahan Kartini terhadap pelarangan menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa (Amirul Ulum, 2016). Jadi Kartini seorang nasionalis-religius.

Berdasarkan dua hal tersebut, Kartini tetap memegang teguh keyakinan agamanya bahkan memperjuangkan dengan cara yang sangat santun. Kartini menjaga toleransi keagamaan dengan sahabat-sahabat penanya. Beliau menceritakan peristiwa spiritual yang dialaminya setelah belajar QS. Al-Fatihah pada Kyai Sholeh Darat melalui bahasa sastra yang sangat istimewa.

Baca juga:   Susahnya Beragama di Indonesia

Dalam memperingati hari lahir Kartini tahun ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemi: wabah Covid-19. Semangat Kartini jelas juga terpancar dalam penanganan wabah ini. Apabila di masa itu, Kartini tidak memperjuangkan hak-hak pendidikan perempuan, bisakah terlahir ribuan paramedis perempuan? Kehadiran mereka sangat dibutuhkan dalam penanganan wabah ini. Bahkan sepersekian diantaranya telah menjadi martir ketika berada di garda depan perang lawan Covid-19.

Pandemi ini berada dalam situasi sama ketika Kartini memperjuangkan emansipasi Perempuan. Menurut Steven Taylor (2019), pandemi memunculkan situasi ketidakpastian. Begitu pula dengan Kartini masa itu, beliau mengalami situasi ketidakpastian dikarenakan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan. Namun, Kartini mencontohkan beliau bisa mengubah kondisi ini bermanfaat bagi agama, sesama perempuan, bangsa dan negaranya.

Salah satu buah perjuangan Kartini di masa kini bisa dilihat dari tampilnya para pendidik perempuan dalam berbagai rupa profesi baik dalam ranah domestik maupun publik, seperti guru, mubaligah, ataupun pendeta perempuan. Di masa pandemi ini, semua  pihak merasakan peran yang dilakukan oleh seluruh pendidik. Salah satu di antaranya dengan proses Belajar di Rumah, yang saat ini ditayangkan oleh TVRI.

Selama Belajar Dari Rumah, kita juga dihadapkan pada problem toleransi keagamaan. Masih segar dalam ingatan salah satu tayangan keagamaan di TVRI sempat memicu kontroversi. Pada tayangan Belajar dari Rumah terdapat jeda mimbar agama Katolik yang dianggap mengusik isu toleransi beragama. Berbagai pihak mengkhawatirkan penjagaan keimanan putra putrinya apabila melihat tayangan yang berbeda dengan keyakinannya. TVRI mengambil keputusan mengubah jam tayang acara mimbar agama.

Berbagai interpretasi dan pendapat pun muncul, layak atau tidakkah? Bagaimana dengan keimanan masing-masing anak didik, demikian kekhawatiran sebagian orang tua. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu mengingat Kartini, karena dalam emansipasi beliau bersemayam juga semangat toleransi di tengah situasi yang sama-sama tak menentu.

Baca juga:   Lonceng Bahaya Agama

Lalu, selesaikah problema toleransi keagamaan ini apabila setiap muncul perbedaan dengan keyakinan yang kita pegang, meminta untuk menghormati satu ajaran saja? Bagaimanakah mengajarkan materi toleransi keberagamaan pada putra putri dan lingkungan kita? Merujuk pada Paul Knitter (2002) toleransi yakni proses saling memahami antar agama satu dengan yang lain. Proses ini perlu diajarkan sejak dini, bahwa kehidupan beragama di Indonesia ini beragam.

Mengkhidmati perjuangan Kartini dalam masa pandemi sangat diperlukan. Apabila Kartini tak memegang teguh nilai-nilai toleransi, tak dapat terbayangkan bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai tenaga medis, guru, dan berbagai profesi lain. Haruskah kita mempertanyakan keyakinan? Kartini memberikan tauladan pada kita beliau mengajarkan toleransi, bahkan dalam situasi yang lebih sulit dari pandemi yang terjadi kini. Beliau mewarnai, namun juga tidak terwarnai. Kartini tidak hanya mengajarkan emansipasi, beliau mencontohkan resiliensi dalam segala situasi. [MFR]

Fathimatuz Zahra adalah Penulis Buku dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *