Jarak Pencipta Rindu

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

—–Yudhi Widdyantoro

Kebahagiaan sering kali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Untuk sampai ke puncak gunung, orang sering kali harus melewati bukit terjal dan jalan berliku. Aufklarung, renaisans, dan zaman pencerahan Eropa datang setelah melewati zaman kegelapan abad ke-17; saat itu filsafat masih menjadi “budak” agama-penguasa, jauh dari kredo “Sapere Aude” “Beranilah Berpikir”.  Lebaran Idulfitri, kembali kepada kesucian; kebersihan diri didapat setelah tempaan puasa yang sering kali tidak selalu mudah ketika dijalani.

Pandemi menghadirkan PSBB, lockdown, portal jalan, ibadah di rumah; silaturahmi ke keluarga dan  teman ditunda, tidak mudik; pakai masker, rajin mencuci tangan, dan jaga-jarak. Semuanya adalah cara untuk meredam ego kita, seperti yang terkandung di dalam makna puasa, atau juga yoga.

Latihan yoga adalah soal pengendalian diri. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Yama Niyama: tidak melakukan kekerasan, baik tindakan, ucapan, maupun pikiran; tidak mencuri, tidak berbohong. Yoga juga melatih kedisiplinan diri, seperti menjaga kebersihan dan kesucian diri, selain mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. 

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

Seluruh dunia saat ini sangat mengharap keberhasilan kerja-kerja saintis di laboratorium untuk menciptakan vaksin penyembuh Covid-19. Sebelum vaksin ditemukan, dunia tertolong oleh solidaritas global yang membuat krisis dan penderitaan tidak semakin nelangsa. Selain bantuan formal dan terorganisir, baik dari pemerintah atau lembaga, tidak sedikit pribadi dan komunitas saling membantu mereka yang terdampak pandemi Covid-19: menyumbang APD untuk tenaga medis yang kekurangan, memberi sembako, makanan, dan sebagainya. Solidaritas hanya mungkin terjadi pada mereka yang ‘berjiwa penuh’ ‘content’. Zakat, berderma, beramal, memberi adalah setelah kebutuhan utama diri terpenuhi. Pada akhirnya, Covid-19 menyentuh sisi kemanusiaan. Karena memang, beragama atau beryoga adalah juga soal manusia dan kemanusiaan.

Baca juga:   Jejak Monoteisme Jawa

Manusia unggul dalam yoga adalah dia yang menyadari kesalingterhubungan dirinya dengan masyarakat di mana dia berada, dan dengan alam raya yang melingkupinya. Cinta segitiga: diri-lingungan sosial-alam semesta perlu terus dihidupkan agar kehidupan berjalan secara lestari. Getaran cinta yang terbangun dari rindu harus terus ada. Cinta untuk memahami eksistensi diri ‘svadaya’; cinta pada kekasih-yang Mahakuasa, pada sesuatu yang transenden ‘Isvara Pranidhana’ tanpa ada intensi mengetahui dan menguasai segala. Spiritualitas adalah lautan. Sekecil apa pun perahu kita tetap terhubung dengan lautan. Tetap arungi agar sampai. Hanya sekadar menyadari.  Karena sesungguhnya matriks di semesta -jagat raya—terhubung juga dengan organ dan sistem fisiologis di dalam tubuh kita. “Everything in the universe is within you. Ask all from yourself,” kata Rumi.

Manusia yang tercerahkan dalam kacamata yoga adalah mereka yang telah terpenuhi tujuan hidupnya sehingga kesadaran diri terbangun dalam kesucian yang natural, seperti sabda Patanjali dalam sutra penutup, “purusatha sunyanam gunanam pratiprasavah kaivalyam svarupapratistha va citisakhtih iti” (YS: IV.34).

Setelah mendaki gunung, tentu saja kita harus turun. Segala pencapaian sampai di puncak gunung barulah separuh jalan. Pemandangan indah di puncak beserta segala ekstase kenikmatan tidaklah kekal sifatnya. Jalan menurun menuju pulang ke rumah bukan berarti selalu mudah. Begitu juga penuturan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta sebenarnya. Jalan pencapaian tertinggi dalam latihan yoga: samadhi, penerangan batin, pembebasan dari derita dunia –yang terbangun dari laku spiritual esoterik akan lebih lengkap hanya jika mewujud dalam laku sosial.

Seperti dalam melaksanakan ritual agama, hasil dari rutinitas ibadah berupa kesalehan spiritual, memunyai daya dorong untuk mewujud dalam relasi sosial di masyarakat: menjadi toleran, plural, dan menghargai kebinekaan. Menjadi tantangan besar pagi praktisi yoga agar selesai dari latihan yoga; bergeser dari matras yoga ukuran 80×180 cm; di luar studio, gym apakah nilai-nilai ideal yang terkandung dalam filosofi yoga dapat mengemanasi, meluber kasih dan sayangnya kepada orang di sekitarnya tanpa kecuali. Selain bahwa dia tidak menjadi buronan KPK, terlibat jaringan teroris, atau masuk bui karena mencuri.

Baca juga:   Makelar Surga

Namun perlu diingat bahwa yang dikatakan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta. Anda, pembaca perlu menemukan sendiri kebenarannya. Kebenaran yang membebaskan tidak ditemukan lewat interpretasi, melainkan hubungan langsung dengan fakta. Pemandangan indah di puncak gunung, deritaan perjalanan menuju puncak, nafsu, keserakahan, kebencian, kekerasan, kecemasan, iri hati, rasa rakut, sakit hati atau semua rasa perasaan emosi adalah fakta. Apa yang kita pikirkan tentang fakta adalah interpretasi.

Setiap konflik batin bisa diselesaikan justru apabila batin dibersihkan dari interpretasi. Lupakan sementara Yogasutra Patanjali; singkirkan ayat-ayat kitab suci. Singkirkan pesan-pesan para pemuka agama; jangan terpaku ajaran master-guru yoga. Kesampingkan tradisi dan budaya. Lenyapkan semua otoritas di benak Anda. Amati secara pasif. Sinari setiap fakta dan lihatlah apa yang terjadi! Alami sendiri.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *