Ibu Bukanlah Ratu

Mengenal manusia sebagai dirinya sendiri, tanpa sekat-sekat yang menjerat, sangat penting untuk dilakukan. Bukan karena tak mau menghormati, tetapi untuk menyadari bahwa semua orang mengalami fase transisi. Hormati dan hargai tiap fase itu hingga kita akhirnya tahu, ibu tak selalu menjadi ratu.

—–Fitri Handayani

Hari ini, untuk ke sekian kalinya, Fitri terlibat konflik dengan ibunya. Ini adalah konflik panjang yang pasti akan menguras banyak tenaga jika harus diceritakan detailnya. Ibu dan anak ini sudah terlalu sering bertengkar; ada saja yang menjadi bahan bakarnya. Tiap kali pertengkaran terjadi, sang ibu selalu menimpakan kesalahan pada Fitri. Ibu juga tampak mudah saja menimpakan kesalahan pada adik-adik Fitri; dalam segala kondisi, ibu tak pernah salah; selalu anak-anaknya.

Meski begitu, kisah nyata ini tak hendak membahas cerita tentang konfliknya, tetapi justru ingin mendalami dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika hubungan orangtua—anak adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Suka atau tak suka. Cepat ataupun lambat. Setidaknya, tulisan ini adalah analisis dari sudut pandang atas keadaan yang dialami oleh Fitri.

Pola asuh kebanyakan orangtua seringkali hanya meneruskan warisan nilai-nilai dari orangtua mereka sebelumnya. Padahal belum tentu pola asuh itu adalah pola terbaik untuk tumbuh kembang anaknya, yang masing-masingnya unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sayangnya, pola asuh ala “warisan” itu berlangsung dari generasi ke generasi. Termasuk pada kita saat kebagian giliran menjadi orangtua.

Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Belitan trauma akibat pola asuh masa kecil bisa mencengkeram seseorang meski usianya sudah lanjut. Tak pernah benar-benar selesai. Mungkin itu pula yang terjadi pada ibu Fitri. Sejak kecil, Fitri adalah tipe anak yang frontal, lebih suka speak up daripada memendam rasa; sangat vokal menyuarakan kehendak. Hal ini tentu bertentangan dengan pola asuh orangtuanya yang diktator, yang memaksa anak untuk menurut meski tak rela.

Tak jarang, deraan siksa fisik dialamatkan ke tubuh Fitri dan adik-adiknya jika mereka dianggap bersalah. Apa saja yang sedang nampak di pandangan, bisa rotan kemoceng, gayung, selang, semua sudah pernah kami rasakan sakit dan perihnya. Fitri menginginkan dialog, orangtuanya inginnya menekan. Maka begitu Fitri merasa menemukan seseorang yang dia rasa bisa memerdekakannya, dia tak ragu untuk memutuskan menikah di usia muda, 22 tahun. “Lari” dari kungkungan orang tua.

Hidup rumah tangga Fitri tak pernah mudah, tapi dia merdeka. Fitri merasa benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri, berkompromi dalam banyak hal, meski kadang tak memungkiri banyak pertengkaran.  Fitri dan suami adalah pribadi yang sama-sama kuat. Tapi Fitri bebas, tak lagi merasa tertekan.  Di rumah tangganya itu, Fitri bisa berdiskusi apa saja, bertengkar tentang apa saja tanpa merasa terintimidasi karena apapun yang terjadi, Fitri merasa tetap dimanusiakan.

Baca juga:   Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

Aspek lainnya lagi adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam relasi orangtua dan anak. Seringkali, karena takut sekali dicap sebagai anak durhaka, tekanan normatif dari lingkungan, dsb, kita, para anak, memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua. Akibatnya, sebagai anak kita tetap tidak bisa menunjukkan otentisitas sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, bahkan ketika uban sudah mulai menghiasi kepalanya, tetaplah Gendhuk dan Thole yang harus terus menerus dikendalikan, dipaksa menuruti kehendak dan terus menerus diawasi.

Padahal ketika anaknya punya masalah berat, orang tua cenderung abai; tak mengulurkan tangan, tak memberi solusi untuk membantu kesulitan, malah memberi masalah baru. Padahal jika tak bisa membantu, orang tua cukup diam dan mendoakan saja, itu lebih dari cukup. Fitri, sebagaimana juga banyak anak lainnya, pasti tak ingin orangtuanya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Terlebih tentang keputusan-keputusan yang sifatnya besar dan pribadi.

Pagi tadi, usai pertengkaran hebat itu, Fitri menyadari; relasi hubungannya dengan ibu mengalami pergeseran; perubahan peran “anak” dan peran “orang tua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya.

Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia per se. Tentang sosok ibu sebagai manusia biasa, yang terikat embel-embel sebagai sosok yang mengandung kita, menyusui kita, melindungi kita, dsb. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang, bahkan mungkin tak pernah, mengenal anak-anaknya sebagai manusia saja, bukan properti yang menyejukkan mata, sosok yang saleh/saleha, yang berguna bagi nusa dan bangsa, dst. Semua predikat tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius, melenakan dan membebani jika kita terus terjebak di dalamnya.

“Saya ini anak yang besar di luar rumah,” begitu kata Fitri tiap kali dia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Nyatanya memang begitu. Sebagai anak yang dikenal paling cuek di antara tiga bersaudara, Fitri memang menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Segala macam kegiatan di luar rumah dia ikuti. Mulai dari menjadi bagian dari remaja masjid, kelompok ilmiah remaja, pencak silat, menari, OSIS, bermusik dan nyanyi, dkk. Fitri serius menekuni hampir semua kegiatan yang dia ikuti, utamanya menyanyi, hingga seringkali dia punya uang sendiri atas hasil menyanyi di berbagai kesempatan.

Semua itu dia lakukan untuk mengambil jarak dengan orangtua. Fitri merasa nyaman berada di luar rumah, jauh dari orang tuanya. Di luar rumah, Fitri mendapatkan apresiasi atas prestasi dan pencapaian yang ia peroleh. Sementara di rumah, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali orang tuanya memuji. Fitri justru akrab dengan berbagai cercaan dan kata-kata kasar karena dianggap tak cukup membuat bangga orangtua. Di rumah, Fitri dianggap pemalas sebab tak menyapu rumah, tak cuci piring, dst.

Baca juga:   Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Selama bertahun-tahun, banyak jawaban dan alasan yang sudah ia renungi. Namun hari ini, renungan itu kian menggenap. Fitri sepertinya sadar, konflik yang seringkali pecah dengan sang ibu semata-mata terjadi karena ia belum mengenal ibunya (bapaknya sudah lama wafat) sebagai manusia —titik. Dan yang paling menyakitkan adalah, setiap kali Fitri ingin mengenal sang ibu, dia selalu terbentur dengan tembok tebal yang diciptakan oleh aneka peran yang dimainkan ibu dalam hidupnya. Ditambah lagi dengan tameng dari posisi Fitri sebagai anaknya.

Selama Fitri hidup, dia hanya mengenal perempuan yang telah melahirkannya itu sebagai ibu. Fitri tidak kenal perempuan itu sebagai sosok dengan nama lain. Dan sebaliknya, Fitri pun merindu dan meradang untuk ia kenali sebagai manusia—saja. Bukan semata sebagai anak sulungnya yang hobi menulis dan menyanyi. Fitri ingin dilihat ibu dengan apresiasi atas segala tingkah-polahnya yang juga sudah bertransisi menjadi perempuan dewasa, lengkap dengan segala konflik, jatuh bangun dengan trial and error dan pertentangan batin yang turut menyertai proses tersebut. Dalam empat puluh enam tahun mereka berinteraksi, keduanya belum sempat menanggalkan topeng-topeng sebagai ibu dan anak, saling bergandeng tangan, berpelukan atau sekadar mengerti satu sama lain sebagai dua individu yang otentik, yang sejajar, yang real. Mereka belum bertransisi dari ibu dan anak menjadi manusia dan manusia, dengan segala kurang dan lebihnya.

Usai perenungan ini, Fitri meneguhkan tekad dalam diri, persembahan terbaik yang kelak bisa dia berikan bagi anaknya dan manusia di sekelilingnya adalah dikenali sebagai manusia. Mungkin tak selamanya berujung indah, tapi mengakui otentisitas antarjiwa sebagai manusia adalah satu-satunya jembatan antarhati yang tulus dan jujur. Hanya dengan demikian kita benar-benar tahu rasanya “dihargai”. Dan sungguh, itu adalah pengalaman yang nyaris punah, yang dia sendiri hingga kini masih berjuang mendapatkannya dari sang ibu.

Selama ibu dan anak masih bersembunyi dan terperangkap dalam topeng-topeng peran, selama itu pulalah interaksi yang terjadi hanya sebatas kewajiban dan tampak indah di permukaan. Hanya terjadi karena kondisi mengharuskan demikian. Seiring berjalannya waktu, bisa saja merasakan cinta, kedamaian, keindahan, dan perasaan positif lainnya. Namun ada sesuatu yang lebih dari itu semua.

Fitri, dan barangkali kita semua, tak tahu apakah hingga maut menjemput nanti, dia dan ibu masih memiliki kesempatan untuk dapat menanggalkan tembok-tembok peran dan bertransisi menjadi manusia saja, tanpa tembok-tembok itu lagi. Sungguh dia tak tahu sebab untuk ini, diperlukan kemauan dan usaha dari kedua belah pihak. Sementara ibu selalu menganggapnya dan adik-adiknya adalah anak-anak yang tak tahu diri. Ibu sanggup dan punya segudang koleksi cercaan untuk merendahkan mereka hingga ke titik nadir kemanusiaan jika mereka berselisih pendapat.

Mengenal manusia sebagai dirinya sendiri, tanpa sekat-sekat yang menjerat, sangat penting untuk dilakukan. Bukan karena tak mau menghormati, tetapi untuk menyadari bahwa semua orang mengalami fase transisi. Hormati dan hargai tiap fase itu hingga kita akhirnya tahu, ibu tak selalu menjadi ratu.[MFR]

2 thoughts on “Ibu Bukanlah Ratu”

Leave a Reply to Mury Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *