Ibadah Nonritual Tidak Kalah Penting

Banyak orang lupa bahwa yang diajarkan Islam itu tidak melulu ibadah ritual, tapi juga akhlak Islami yang harus kita pelihara dalam berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga harus dilakukan dengan sesama mahluk Tuhan yang lain.

——Hajime Yudhistira

Ramadan baru saja berlalu, belum sebulan rasanya. Di mimbar-mimbar ceramah, kita melihat banyak sekali ulama menjelaskan Ramadan sebagai bulan yang disediakan Tuhan untuk menjadi bulan latihan bagi kita, umat muslim, agar menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka mengatakan seharusnya kita memiliki resolusi baru selepas bulan Ramadan. Seperti yang saya lihat di Youtube, ada video dialog antara Habib Jindan dengan Habib Ja’far al Hadar.

Dalam video tersebut, Habib Jindan berperan sebagai narasumber dan Habib Ja’far sebagai host-nya. Sebagai host, Habib Ja’far bertanya kepada Habib Jindan, bagaimana ber-Islam dan berdakwah di kalangan anak muda? Di samping menjelaskan mengenai posisi anak muda dalam berdakwah pada masa Rasullullah, Habib Jindan juga menjelaskan bahwa seharusnya selepas bulan Ramadan, setiap muslim sebaiknya memiliki resolusi baru, seperti misalnya tidak mau meninggalkan salat Witir 3 rakaat, selalu salat Duha atau Tahajud setiap hari, melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau tadarus Alquran dan lain-lain.

Contoh-contoh yang diambil semuanya adalah ibadah ritual; dan seolah-olah itu adalah hal yang terpenting. Saya bukan mengatakan ibadah ritual seperti itu tidak penting, tetapi melakukan kebaikan nonibadah ritual seperti itu juga tidak kalah penting. Kenapa resolusinya tidak ditambahkan? misalnya melakukan perbuatan baik yang sederhana kepada sesama manusia, seperti tersenyum kepada siapapun yang kita jumpai, atau membantu siapapun yang kita lihat memerlukan bantuan kecil, bisa juga berjanji untuk selalu berkata jujur mengenai hal apapun dan sebagainya.

Saya khawatir jika semua ulama selalu mengatakan bahwa sebagai muslim kita harus melakukan ibadah ritual saja, maka bukan tidak mungkin generasi ke depan akan menjadi generasi buta hati yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka berpikir dan percaya bahwa sebagai muslim, kewajibannya adalah melakukan ibadah-ibadah ritual saja, karena itu yang mereka dengar dari mimbar-mimbar keagamaan yang ada.

Baca juga:   Pahlawan Berhijab

Kalau mau jujur, fenomena ini sudah mulai terlihat saat ini. Banyak orang yang salatnya tidak pernah ketinggalan, tapi berbohongnya juga jalan terus. Dr. Hj. Helmiati, M.Ag, wakil rektor I bidang akademik/dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, pernah mengatakan dalam salah satu artikelnya di website www.uin-suska.ac.id, bahwa saat ini banyak sekali umat muslim yang membedakan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Orang yang mementingkan kesalehan individual cenderung lebih mementingkan ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, zikir, dan seterusnya. Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama, mereka tidak memiliki kepekaan sosial dan kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat.  Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba formal.

Di samping itu, ada kesalehan lainnya, yaitu kesalehan sosial yang menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah umat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan oleh rukuk dan sujud, puasa, haji, melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.

Banyak orang lupa bahwa yang diajarkan Islam itu tidak melulu ibadah ritual, tapi juga akhlak Islami yang harus kita pelihara dalam berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga harus dilakukan dengan sesama mahluk Tuhan yang lain.

Mungkin QS Al Maun [107]: 4-5 yang artinya “maka celakalah orang yang salat” dan “(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya” bisa menjadi contoh yang baik untuk hal ini. Dulu saya bingung memahami maksud dari surat tersebut. Bagaimana bisa orang-orang yang melakukan salat, tapi melalaikan salatnya, dan celaka pula.

Baca juga:   Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Sampai akhirnya pemahaman saya menjadi seperti ini, salat sebagai ibadah ritual juga mengajarkan kepada kita nilai-nilai luhur seperti kejujuran, disiplin, tertib, mengikuti pemimpin dan lain-lain. Bagaimana salat mengajarkan kejujuran? dalam salat kita sudah berlaku jujur, yaitu salat Subuh 2 rakaat, salat Magrib 3 rakaat. Saya rasa kita tidak pernah berbohong dengan melakukan salat Magrib menjadi 2 rakaat atau Subuh menjadi 1 rakaat. Itu artinya kita sudah jujur dalam salat, apakah kita sudah menjadi pribadi yang jujur di luar salat?

Salat juga mengajarkan kedisiplinan, kita selalu melaksanakan salat sesuai waktunya. Salat Subuh kita lakukan di waktu Subuh, salat Magrib kita lakukan di waktu Magrib dan seterusnya. Itu artinya kita sudah berdisiplin dalam salat. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang berdisiplin di luar salat?

Contoh di atas menjelaskan bahwa ada nilai yang diajarkan dalam ibadah ritual salat (kesalehan individu), yaitu contohnya tadi adalah jujur dan disiplin yang harus diaplikasikan di luar salat (kesalehan sosial)

Jadi di samping kita melakukan ritual ibadah salat tersebut, apakah kita juga menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam salat itu? Kalau ternyata kita hanya menjalankan ibadah ritual saja, dan tidak menerapkan nilai-nilai yang diajarkan, maka itulah makna dari pemahaman ayat tersebut, yaitu “celakalah orang-orang yang salat, tapi melalaikan salatnya”.

Hal tersebut juga berlaku untuk ibadah ritual lainnya seperti yang sudah dijelaskan dalam rukun Islam yang lima. Mulai dari membaca syahadat, salat, puasa, zakat dan ibadah haji. Semua itu hanyalah ibadah ritual saja. Ada nilai yang terkandung di dalam semua ibadah ritual yang harus diimplementasikan dalam kehidupan keseharian seorang muslim.

Saya berharap semakin banyak ulama berdakwah tidak hanya menyerukan agar kita meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah ritual saja, tapi juga mengajak umat untuk menjalankan ibadah nonritual yang memiliki nilai-nilai Islami. Semoga ke depan kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bisa bersaing dengan keindahan akhlak dalam berinteraksi dengan sesama mahluk Tuhan dan menjadi pribadi tangguh yang juga menjalankan ibadah ritual dengan baik. Wallâhualam bissawâb. [MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *