Gereja Katolik dan Insan Homoseksual

Menyikapi kelompok homoseksual, gereja Katolik berpegang pada Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang utama; menjunjung tinggi martabat manusia. Dalam memperlakukan setiap insan, gereja memandangnya sebagai pribadi. Tradisi, norma, dan hukum gereja Katolik tidak mengaitkan dengan jenis kelamin, terutama dalam kaitan dengan martabat, hak, dan kewajiban dasar sebagai manusia.

—– Rosita Sukadana

Akhir Oktober 2020, beredar tayangan alih bahasa di media daring tentang pernyataan Paus seputar civil union laws for same-sex. Menurut Romo Augustino Torres dalam tulisan Mathias Hariyadi (Sesawi, 22 Oktober 2020), video—berbahasa Spanyol—itu diterjemahkan dengan pengaruh tuntutan komersial berita, kurang pas maknanya.

Tores menjelaskan, penekanan Paus dalam video aslinya adalah pada hak-hak sipil kaum LGBT. Kata-kata Paus tidak menyinggung hal-hal yang terkait dengan dogma agama Katolik. Jadi, tidak ada perubahan ajaran. Paus adalah pemimpin gereja Katolik tertinggi, tetapi otoritas tertinggi ada pada konsili oikumenis; musyawarah seluruh uskup di dunia.  Setiap perubahan harus melibatkan ribuan Uskup dari seluruh gereja dengan tahapan proses yang panjang dan lama; bertahun-tahun.

Penegasan Paus atas hak sipil kelompok homoseksual adalah bahwa mereka mempunyai hak untuk menjadi bagian dari keluarga, tidak dikeluarkan atau dibuang. Pada kehidupan bermasyarakat, mereka pun perlu diperlakuan secara layak dan bermartabat sebagai manusia. Juga, negara wajib memperhatikan, menjamin, melindungi  hak asasi dan hak sipilnya.

Menyikapi kelompok homoseksual, gereja Katolik berpegang pada Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang utama; menjunjung tinggi martabat manusia. Dalam memperlakukan setiap insan, gereja memandangnya sebagai pribadi. Tradisi, norma, dan hukum gereja Katolik tidak mengaitkan dengan jenis kelamin, terutama dalam kaitan dengan martabat, hak, dan kewajiban dasar sebagai manusia.

Gereja menyambut dan menerima kelompok LGBT dengan hormat, tidak mendiskriminasi. Namun, perilaku mereka yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis tidak dibenarkan. Perbuatan itu termasuk kategori dosa besar, menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) #2357. Sama halnya dengan persetubuhan beda jenis kelamin yang tidak diberkati; di luar pernikahan.

Baca juga:   Pesan Kemanusiaan Dalam Jerat Kamuflase Berbalut Agama

Prinsip ini juga berlaku bagi pribadi  yang mempunyai gangguan kontrol impuls untuk mencuri (kleptomania). Gereja tetap terbuka untuk menerima personanya, tetapi tidak membenarkan perbuatan mencuri. Demikian juga dengan individu-individu yang melakukan tindakan terlarang lainnya.

“Tendensi penyimpangan orientasi seksual ada yang bisa diolah, ada yang bisa dimurnikan, dan ada yang memang tidak dapat disembuhkan. Kondisi tersebut adalah sebuah kesempatan untuk hidup dalam kemurnian. Jangan dijadikan alasan untuk melakukan apa saja”, penjelasan Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP. dalam webinar Homosexual Attraction bukan Dosa? pada awal Agustus 2020.

Pemurnian kehidupan kaum LGBT adalah bentuk “panggilan” untuk memenuhi kehendak Allah, meskipun ada kemungkinan akan mengalami kondisi yang lebih berat. Fokusnya pada perjuangan mengendalikan diri mengalihkan kegiatan seksualitasnya.

Dalam webinar Kupas Tuntas Homoseksualitas minggu lalu, Dr. CB Kusmaryanto, SCJ menyatakan, “Sebagian kaum homosexual tidak menghendaki kondisi tubuhnya, bagi mereka sendiri merupakan situasi yang amat sulit, tetapi bukan secara otomatis diterima, menyerah dan membenarkannya. Penyimpangan (kelainan) sejak lahir harus diperjuangkan. Seperti anak yang lahir dengan jantung bocor, perlu tindakan atau terapi untuk dapat hidup dengan baik”.

Keterbukaan gereja Katolik menerima orang-orang yang menyimpang orientasi seksualnya, penting ditindaklanjuti dengan aktivitas konkret. Melakukan diseminasi dan edukasi berkelanjutan agar umat mengetahui, memahami, dan menerima sikap gereja ini. Memasukkan kelompok homoseksual dalam bidang pembinaan (formatio) tersendiri atau pelayanan pastoral secara khusus supaya mendapat penanganan serius dari pakar yang berkompeten dalam hal ini.

Perwujudan sikap gereja Katolik inilah yang menjadi salah satu dukungan pada perjuangan teman-teman LGBT. Hal yang sangat diperlukan dalam menjalani hidup dan mengisi kehidupannya menjadi bermanfaat bagi lingkungan. Suport dari keluarga, penerimaan masyarakat, pengakuan keberadaannya oleh negara akan saling melengkapi.  Menjadi penyemangat dalam pergulatan mereka.

Baca juga:   Defisit Keagamaan dan Miskinnya Paradigma Aksi Keagamaan

Keluarga sebagai kelompok terkecil, selayaknya mencintai semua anak mereka, termasuk yang homoseksual. Tidak ada yang sia-sia dengan ikut terlibat dalam perjuangannya. Bahkan menjadi kesempatan berharga dalam memahami kehendak Allah.

Dukungan masyarakat dengan tidak menjadikan kelompok LGBT sebagai objek bahan canda—termasuk perundungan dan pelecehan—akan meringankan tekanan dalam hidup kesehariannya. Kehadiran kelompok ini, kudu membuat perempuan dan pria lebih bersyukur akan privilese yang diperoleh. Menyadarkan bahwa ketidaksempurnaan manusia adalah untuk saling melengkapi.

Sama dengan kelompok difabel, kelompok dengan penyimpangan orientasi seksual juga perlu mendapat perhatian pemerintah. Suport nyatanya adalah pengakuan negara akan keberadaan warga yang berbeda ini. Realisasinya dengan penerapan perlindungan hukum di lapangan, menyediakan fasilitas umum, seperti pengadaan toilet khusus untuk mereka, penambahan pilihan gender pada data administrasi, dan lainnya.

Tidak hanya dukungan gereja, keluarga, masyarakat dan pemerintah yang membuat kehidupan grup homoseksual menjadi lebih baik. Kaum LGBT juga perlu melakukan pembenahan diri. Pada umumnya mereka mempunyai kreativitas yang sangat menonjol. Kemampuan daya cipta yang biasanya lahir dari keadaan minim atau tekanan dalam kehidupan, dapat dijadikan modal untuk berkembang dan berjuang dalam dunia pendidikan, pekerjaan dan pelayanan di masyarakat.

Semangat meningkatkan kompetensi, mengendalikan diri, dan memperluas wawasan, perlu dijaga kontinuitasnya. Ketekunan, kesabaran, dan niat, menjadi kunci kehidupan melindungi kemurnian tubuh. Tetap semangat, sobat LGBT!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *