Gereja dan Semangkok Es Campur

Teladan dari Hirarki Gereja dan perangkat pastoral menjadi faktor mutlak dalam memperkuat iman Katolik tanpa harus menjelekkan agama lain.

—Rosita Sukadana

Memasuki musim kemarau, panas siang hari menambah nikmat Es Campur di belakang sekolah di tengah kota Surabaya. Semangkok Es Campur tersaji lengkap dengan agar-agar yang berwarna-warni, nangka, kelapa muda, kolang-kaling dan durian, ditambah gunungan es serut yang bermandikan sirup merah dan susu kental manis. Semua mempunyai rasa berbeda, tapi menyatu dan menciptakan sensasi luar biasa sekaligus menggiring ingatan pada semboyan negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Ingatan ini rutin muncul setiap tahun menjelang Agustus, bersamaan dengan persiapan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika adalah bahasa Sanskerta, yang jika diterjemahkan menjadi ‘Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua’. Bhinneka Tunggal Ika merupakan hasil pemikiran Mpu Tantular, seorang pujangga pada abad ke-14. Konsep ini membuat Kerajaan Majapahit dapat menyatukan Nusantara. Menurut sejarahnya, Muh. Yamin mengusulkan kepada Presiden Ir. Soekarno untuk menjadikannya sebagai semboyan negara. Sejarah lengkap slogan ini dapat dilihat di https://www.cekaja.com/info/menelisik-sejarah-bhinneka-tunggal-ika-fungsi-hingga-implementasinya.

Entah berapa banyak warga negara Indonesia yang memahami Bhinneka Tunggal Ika atau hanya sekedar tahu sebagai bagian dari pelajaran sejarah, tanpa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Bhinneka Tunggal Ika terukir jelas pada Burung Garuda Pancasila, lambang negara Republik Indonesia, negara tempat kita hidup dan mencari nafkah. Sebagai warga negara Indonesia, umat Katolik pun masih banyak yang tidak memahaminya.

Dalam beberapa tahun terakhir, di wilayah Keuskupan Surabaya, sudah banyak paroki yang membuka diri terhadap agama lain. Banyak program kerja yang melibatkan komunitas dan organisasi lintas agama, di samping  juga terlibat dalam kegiatan lintas agama. Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Surabaya juga mencoba merangkul teman-teman dari berbagai agama melalui acara “Cangkrukan Lintas Iman” yang bertema “Menjadi Sahabat bagi Semua Orang” pada pertengahan Januari dan berakhir dengan terbentuknya Pelita (Pemuda Lintas Agama) pada 2020. Acara ini didokumentasikan di Youtube oleh Yakobis TV melalui tautan https://youtu.be/70ZQPMr3sZA . Tapi situasi tersebut tidak menjamin bahwa semua umatnya mau ikut membuka diri.

Baca juga:   Senandung Keberagaman dalam Puisi

Tulisan saya tahun lalu, “Menanti Ledakan Berikutnya?” dalam buku Narasi Ingatan Peristiwa Bom Surabaya 13-05-18” (hlm. 170), masih berlaku. Eksklusivitas dan arogansi ‘Gereja’ yang membudaya menjadi pembatas dengan dunia luar karena dianggap ‘aneh’ dan ‘asing’, bahkan ‘kesesatan’ yang harus dimusnahkan. Citra eksklusif dan arogan sudah menjadi trademark institusi gereja.

Pada Mei lalu, di salah satu paroki yang aktif mengadakan kegiatan lintas agama, masih ada umatnya yang mengeluarkan pernyataan bahwa donasinya untuk Covid-19 jangan diberikan ke masjid, tanpa mau memberi alasan yang jelas.  Memang hanya beberapa orang dari ratusan donatur yang bersikap demikian tetapi mirisnya hal ini terjadi dalam situasi pandemi. Mau aku traktir semangkok Es Campur atau semangkok sirup? Lebih nikmat yang mana?

RP. Emanuel Tetra Vici Anantha, CM. dalam homili Misa Online, Minggu 19 Juli 2020, melalui Youtube Komsos Kristus Raja, mengajak umat untuk sungguh-sungguh menjadi orang beragama, yaitu menaburkan benih yang baik bagi semua orang dengan jalan menghadirkan Kebaikan, Keadilan, Kejujuran dan Cinta Kasih bagi orang lain sehingga ada semangat untuk mengampuni. Orang lain yang dimaksud tentu tidak hanya terbatas pada umat Katolik saja, seperti terlihat dalam prinsip Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang mengutamakan Martabat Manusia. Prinsip Utama ini memandang setiap orang adalah pribadi yang berharga karena diciptakan sesuai ‘rupa Allah’, tanpa melihat agamanya.

Webinar “Perempuan Merawat Persahabatan (Tinjauan Agama-agama)” yang diselenggarakan oleh STFT Widya Sasana Malang pada Sabtu 18 Juli 2020 menghasilkan tigal hal penting: kewajiban merawat persahabatan bagi siapa saja tanpa memandang agama, perlunya mengupayakan relasi yang simetris dan yang terakhir, peran sangat penting keluarga. Webinar ini menghadirkan enam narasumber perempuan yang menjadi tokoh setiap agama di Indonesia. Mereka semua memberi gambaran jelas bahwa pada dasarnya, makhluk Tuhan yang berakal budi menghendaki hidup dalam jalinan persahabatan yang harmonis.

Baca juga:   Mengintip Jalan Sunyi di Balik Vihara

Keluarga sebagai pemegang peranan penting dalam menciptakan keharmonisan persahabatan sejalan dengan Arah Dasar 2020-2029 Keuskupan Surabaya dalam menghadirkan gereja di tengah masyarakat. Pola didik di dalam keluarga menjadi penentu besarnya cinta pada negara; Negara Berketuhanan Yang Maha Esa. Mencintai Indonesia berarti mencintai Tuhan, sesuai imannya.

Sebelum pandemi, mengunjungi warkop (warung kopi) adalah kegiatan rutin bulanan untuk sekadar menyapa teman-teman. Suatu ketika aku datang lebih awal, warkop masih sepi; seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang dan bertanya, “Kamu agamanya apa?” Mencoba tetap tersenyum, aku meraih anak itu untuk duduk di sampingku. “Kita berteman, ya”, kataku menunggu reaksinya. Tak berapa lama tawanya lepas. Dengan lugu dia  memelukku sekaligus menghapus kekuatiran. Siapa yang mengukir pertanyaan itu pada ingatannya?

Peranan penting keluarga sebaiknya dilakukan melalui pembinaan mulai dari anak-anak—seperti BIAK (Bina Iman Anak), Rekat (Remaja Katolik), OMK (Orang Muda Katolik)—hingga jenjang dewasa. Teladan dari Hirarki Gereja dan perangkat pastoral menjadi faktor mutlak dalam memperkuat iman Katolik tanpa harus menjelekkan agama lain. Inilah yang menjadi dasar pada penerapan di setiap keluarga menuju tatanan hidup dalam kebhinekaan yang harmonis; mewujudkan Indonesia Maju! [MFR[

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *