Ekspose PPSK SAA 2019: Penguatan Peran KUA di Era Disrupsi

Setelah berlangsung selama beberapa pekan, Praktikum Pengkajian Sosial Keagamaan (PPSK) Prodi SAA Tahun 2019 akhirnya memasuki tahap akhir dari semua rangkaian pelaksanaannya. Bertempat di Aula Lt. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, panitia menggelar kegiatan “Ekspose Hasil PPSK SAA 2019” pada hari Selasa, 3 Desember 2019. Dalam kegiatan ini, setiap kelompok memaparkan hasil kajian mereka selama satu bulan di empat KUA di Kab. Kediri: Banyakan, Kandat, Grogol, dan Ngadiluwih. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Dr. Asror Yusuf dan dihadiri oleh mahasiswa praktikum, dosen pembimbing lapangan, dan sejumlah dosen lain. Selain itu, ajang ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan praktikum prodi SAA di tahun-tahun mendatang.

Dalam sambutannya, Dr. Asror Yusuf mengungkapkan harapannya bahwa mahasiswa bisa belajar banyak hal dari praktikum ini sehingga menguatkan kompetensi mereka nanti ketika berkiprah di masyarakat. Kaprodi SAA, Dr. Mohammad Arif, dalam sambutannya mengatakan bahwa KUA dipilih sebagai tempat praktikum karena secara historis KUA dan Prodi SAA memiliki hubungan yang erat dan mutualis. Dia juga menegaskan bahwa KUA  punya peran yang sangat krusial dalam pembangunan kehidupan sosial keagamaan masyarakat karena institusi ini berada di garda depan dalam berurusan dengan semua persoalan sosial keagamaan di akar rumput.

Berdasar pemetaan masalah yang berhasil dilakukan oleh setiap kelompok, ada beberapa isu penting yang mengemuka. Konversi agama, aliran kepercayaan, keberagamaan PSK, intoleransi, nikah di bawah umur dan perceraian adala beberapa persoalan yang sampai saat ini masih menjadi tantangan dan pekerjaan rumah di masing-masing KUA di Kab. Kediri. Namun demikian, mahasiswa peserta praktikum juga berhasil mengidentifikasi bentuk-bentuk ketahanan sosial (social resilience) di tengah masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul di era disrupsi ini. Contohnya, di beberapa KUA kaum perempuan sekarang mulai aktif terlibat dalam upaya membangun kerukunan antar umat beragama di lingkungan mereka. Beberapa penyuluh KUA juga aktif melakukan upaya pendampingan keberagamaan bagi pekerja seks komersil yang diorganisasi dalam satu wadah bernama pondok pesantren.

Penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia, debirokratisasi layanan, dan tersedianya data-base terkait kehidupan sosial-keagamaan adalah beberapa rekomendasi kebijakan bagi KUA dalam menjalankan peran dan fungsinya di tengah masyarakat. Dalam sesi diskusi, muncul usulan agar transfer pengetahuan dari hasil praktikum ini dilakukan dalam bentuk publikasi hasil kajian yang telah dilakukan mahasiswa. Seyogianya hasil praktikum ini tidak hanya mengendap di rak-rak kampus tapi harus disosialisasikan kepada masyarakat sebagai sumbangsih nyata prodi SAA. Prodi SAA mulai harus memikirkan bagaimana hasil praktikum ini dipublikasikan di website, jurnal, ataupun buku sehingga bisa dibaca oleh semua stakeholders yang ada.

Bagi peserta praktikum, berakhirnya pelaksanaan PPSK SAA 2019 ini juga berarti mereka telah menyelesaikan satu fase penting dalam penyelesaian studi mereka. Penulisan skripsi adalah tahap berikutnya yang harus mereka tempuh sebelum merengkuh gelar sarjana. Diharapkan pengalaman mereka selama praktikum bisa menjadi inspirasi dalam menentukan fokus riset skripsi mereka. Satu tahapan telah terlampaui, tantangan berikutnya menanti. Selamat dan Semangat, Adik-Adik Mahasiswa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *