Egosentrisme dalam Nalar Beragama

Di hadapan pandemi seperti saat ini, kita tampak sebagai makhluk paling naif di antara sekian makhluk Allah yang lain. Manusia sejak baheula telah diberi akal pikiran dan intuisi sebagai senjata untuk bertahan hidup. Pandemi ini seolah mencabik-cabik kepongahan manusia selama ini yang menganggap makhluk lain sebagai figuran dalam kehidupan ini; manusia selalu merasa diri sebagai pusat alam semesta dan penentu bagi putaran roda kehidupan di muka bumi. Virus tak kasat bernama COVID-19 ini membuktikan bahwa anggapan itu adalah semu belaka.      

Kepongahan semacam ini menjadi kekhasan manusia modern; mereka menganggap eksistensi manusia berada di atas segala bentuk keberadaan makhluk yang lain. Pandangan antroposentris semacam ini kerap juga dijustifikasi dengan dalil-dalil keagamaan; misalnya bertebaran teks-teks al-Qur’an dan Hadis yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk paling spesial bagi Allah SWT; makhluk dengan mandat sebagai khalîfah di muka bumi. Ini pula yang membuat malaikat ‘menggugat’ Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 30, “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:

“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Gegara ayat di atas, manusia dengan pedenya mengklaim posisi spesial mereka di hadapan Allah SWT. Tetapi banyak manusia lupa bahwa ayat ini sebenarnya mengingatkan mereka akan beban berat yang mereka pikul di muka bumi; alih-alih sadar akan posisi kekhalifahan mereka, manusia dikuasi oleh egoisme bahkan terhadap Tuhan mereka sekalipun. Mandat kepemimpinan dari Allah SWT dikorupsi demi kepentingan hawa nafsu dan ketamakan duniawi. Inilah mengapa Nabi SAW pernah mewanti-wanti bahwa jihad terbesar manusia sejatinya adalah perang melawan ego mereka sendiri.

Baca juga:   Techno-Religion: Menggapai Ilahi Dengan Teknologi

Sepanjang sejarah manusia, egosentrisme terbukti memang menjadi musuh terbesar manusia; Qabil membunuh Habil karena terbakar bara cemburu; Fir’aun mentahbiskan diri sebagai Tuhan, sebuah sikap jemawa yang bahkan iblis sekalipun -yang konon makhluk paling hina dan dikutuk kekal di neraka—tak pernah perbuat. Atas nama kemajuan dan pembangunan, manusia secara membabi-buta ‘memerkosa’ lingkungan mereka tanpa belas kasih.  

Parahnya lagi, sekalipun bukti-bukti telah terang benderang di hadapan mereka, manusia dengan congkak merasa tak bersalah dan tetap menganggap diri paling saleh. Egoisme keagamaan ini bahkan menyeret mereka pada sikap pengingkaran ‘denial’ terhadap hukum alam ‘sunnatullah’. Atas nama Tuhan dan agama, mereka mendaku sebagai penafsir paling autoritatif terhadap kehendak Allah SWT. Sikap seperti ini tampak di masa pandemi ini di mana manusia mengabaikan hukum sebab akibat dengan berlindung pada kepasrahan fatalitistik terhadap-Nya. Deret klaster penularan COVID-19 yang melibatkan aktivitas keagamaan adalah contoh nyatanya; klaster-klaster “ ijtima ulama”, “pelatihan haji”, “tahlilan”, “jamaah masjid” menunjukkan egoisme keagamaan yang lahir dari kecongkakan manusia.

Pun demikian, ini lagi-lagi tidak membuat manusia sadar, malah melahirkan pengingkaran demi pengingkaran terhadap fakta bahwa takdir Allah SWT bekerja melalui hukum sebab akibat. Kesalehan ritualistik yang dibangga-banggakan membuat manusia dihinggapi waham bahwa ibadah mereka adalah satu-satunya jaminan keselamatan di hadapan Allah SWT. Sungguh naif bila kita menganggap bahwa pandemi, misalnya, bisa dihindari hanya dengan ibadah tanpa dibarengi ikhtiar ilmiah-medis. Lebih-lebih bila ada anggapan bahwa mereka yang tertular adalah mereka yang ‘dihukum’ karena kurang pasrah atau bertakwa kepada Allah SWT.

Padahal wabah apapun yang dikirim oleh Allah SWT tetap mengikuti koridor sunnatullah, yakni hukum sebab akibat. Tidak peduli apakah orang itu saleh atau zalim, kaya atau miskin, tokoh atau awam, pasti akan terpapar virus jika hukum alam ini diabaikan. Ritual normatif memang wajib, tetapi ia tidak boleh menomorduakan atau mengabaikan ikhtiar saintifik. 

Baca juga:   Gereja dan Semangkok Es Campur

Seharusnya manusia sadar bahwa tujuan agama diturunkan ke dunia ini bukan untuk kepentingan Allah SWT; hukum-hukum syariah adalah demi kebaikan manusia sendiri. Mengabaikan kemanusiaan demi apa yang diyakini sebagai ‘kepentingan ilahi’ merupakan bentuk sesat pikir. Tidak seperti dewa-dewi mitos Yunani, keagungan dan kemuliaan Allah SWT tidak akan pernah berkurang ataupun bertambah karena ibadah manusia. Agama itu untuk manusia, bukan untuk Allah, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi:

“Wahai hamba-Ku andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling takwa, hal itu tak sedikitpun menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu tak sedikitpun mengurangi kekuasaan-Ku (HR. Muslim, No. 2577).

Dengan demikian, paradigma teosentris dan antroposentris harus berimbang agar tercipta keselarasan di muka bumi; pengabaian terhadap salah satu aspek bisa mencederai nilai-nilai adiluhung agama. Perlu ada keselarasan antara hubungan dengan Tuhan ‘hablum minallâh’ dan hubungan antara sesama manusia ‘hablum minallâh’ . Inilah jalan terbaik bagi kita untuk menyongsong kehidupan ‘the new normal’ yang sudah di depan mata. [MFR]  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *