Diskusi eLSAA#3: Melawan Radikalisme Agama

*Disarikan oleh Mohamad Bagus Rozikun (mahasiswa SAA, sem 1/2019)

Pada hari Senin tanggal 09 Desember 2019 pukul 13.00 WIB, Laboratorium Studi Agama-Agama atau kerap disebut eLSAA melanjutkan diskusi rutinnya. Kali ini diskusi eLSAA mengangkat tema melawan radikalisme agama yang lagi ramai diperbincangkan. Radikalisme agama tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa setiap agama punya klaim kebenaran (truth claim) mereka sendiri-sendiri, dan klaim ini berpotensi memicu perselisihan bahkan konflik apabila setiap pemeluk agama tidak bisa menempatkannya dengan baik atau menganggap paling benar dengan menafikan kebenaran pihak lain. Bertindak sebagai pemantik diskusi adalah Bapak Maufur, alumni Center  for Religion and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM dan juga dosen di Prodi SAA IAIN Kediri. Diharapkan dengan diskusi ini, mahasiswa SAA IAIN Kediri sadar dan peka terhadap isu-isu radikalisme agama dan berperan aktif menangkalnya.

Istilah ‘radikal’ seringkali dikaitkan dengan tindakan yang menggebu-gebu dan kerap disertai dengan aksi kekerasan. Tidak hanya itu, ‘radikal’ dewasa ini bukan hanya sebatas tindakan atau aksi saja, melainkan ia telah menjadi suatu paham (“isme”) bagi individu atau kelompok tertentu. Sebagai sebuah faham, istilah “radikalisme” menyeruak sebagai wacana publik yang mengalami kontestasi makna di kalangan banyak pahak. Bagaimanapun sebuah istilah didefinisikan, ia selalu mengandung nilai yang kadang memihak kepentingan tertentu. Dengan demikian, sebuah istilah tidak akan pernah netral atau bebas nilai (value-free). 

Apa sih sebenarnya radikalisme itu sendiri? Sampai sekarang belum ada definisi mutlak atau final mengenai makna radikalisme. Sejatinya, radikalisme dulu memiliki pengertian yang positif. Misalnya di Barat, radikalisme dinisbatkan kepada kelompok kiri yang melawan status quo (rezim yang berkuasa). Kelompok kiri artinya mereka yang kritis atas kebijakan penguasa yang dianggap tidak memihak pada rakyat kecil. Di Indonesia, radikalisme dulunya dipakai oleh penjajah untuk menyebut mereka yang tidak mau tunduk dan selalu menentang mereka. Karena mengumandangkan resolusi jihad melawan penjajah Belanda, misalnya, KH Hasyim Asy’ari dan pengikutnya kerap dipanggil kelompok radikal oleh Belanda.

Saat ini, maraknya aksi teror dan kekerasan atas nama agama menggeser makna radikalisme pada konotasi negatif. Radikalisme agama, misalnya, diartikan sebagai pemahaman keagamaan yang ‘keras’ dan ‘fanatik’ serta menghalalkan kekerasan.  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengaitkan radikalisme sebagai embrio terorisme. Ia adalah suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal adalah: intoleran (tidak mau menghargai pendapat & keyakinan orang lain); fanatik (selalu merasa benar sendiri); menganggap orang lain salah; eksklusif (membedakan diri dari umat pada umumnya); dan revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Menurut narasumber, kita tidak boleh menggunakan radikalisme secara gegabah, apalagi dalam konteks beragama. Alih-alih menyelesaikan persoalan, pemakaian istilah ini secara membabi-buta bisa kontraproduktif dan malah memicu kebencian pada negara dari umat yang merasa dipojokkan dengan istilah ini. Radikalisme bukan eksklusif milik agama tertentu, tapi ada di semua agama maupun ideologi lain. Upaya melawan radikalisme harus diawali dari pencegahan dan deteksi dini. Pemahaman terhadap karakteristik radikalisme agama di kalangan anak muda, misalnya, bisa menjadi benteng bagi infiltrasi ideologi-ideologi radikal yang menyusup dalam doktrin-doktrin keagamaan. Terakhir, Pak Maufur mengingatkan kepada mahasiswa SAA untuk selalu mengedepankan moderatisme dalam keberagamaan. Moderatisme artinya jalan tengah (middle-path), pilihan antara dua kutub ekstrem.  Dalam literatur Islam, istilah ini dipadankan dengan tawassut (tengah-tengah), al-qist (adil), at-tawazun (seimbang), dan  i’tidal (lurus).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *