Dialog dan Seni Memahami Liyan

Dengan pemahaman empatik, kita dapat membayangkan diri kita sendiri dalam kondisi dan perasaan yang sama. Dengan kata lain, kita harus melihat dari mana orang berasal.

—— Annisa Zuhra

Dalam tradisi Yunani Kuno dipercayai bahwa, andaikan orang mau berdialog maka perdamaian akan tercapai. Di era Yunani Kuno pula, orang-orang Athena belajar retorika (seni berkomunikasi) untuk mengalahkan lawan. Komunikasi tidak dimaksudkan untuk mengubah pikiran tentang suatu hal, tidak untuk memahami pemikiran lawan juga tidak untuk masuk ke dalam sudut pandang lawan. Di sini, wacana yang berkembang dalam dialog sebagian besar kita cenderung agresif.

Pada era itu, Socrates menemukan sebuah teknik dialog yang berbeda dengan teknik yang dikenal oleh mayoritas warga Athena. Socrates menawarkan sebuah teknik bahwa dialog yang benar adalah ketika para penutur harus menjawab dengan lemah lembut, atau lebih tepatnya berdiskusi.

Lebih lanjut, dialog ala Socrates adalah sebuah latihan ruhani yang dirancang untuk menghasilkan perubahan psikologis yang mendalam pada pesertanya. Menurut Socrates, setiap orang dalam ruang dialog harus menyelami kebodohannya sendiri; jadi tidak mungkin ada kalah-menang dalam sebuah dialog.

Sedangkan Plato menggambarkan dialog sebagai meditasi komunal, yang membutuhkan kerja keras, banyak waktu dan kerepotan. Meskipun begitu, dialog tetap bisa dilakukan dengan baik dan penuh kasih. Menurut Plato, dialog akan menjadi sarana bertukar wawasan bila di dalamnya terjadi proses pertukaran pertanyaan dan jawaban dengan iktikad baik dan tanpa kedengkian.

Dalam berdialog, Plato menekankan bahwa setiap orang harus benar-benar meluangkan diri dan membuka pikirannya untuk mendengar perspektif lawan bicara ketika berdialog; mendengar dengan seksama dan simpatik pada ide-ide lawan dialog.

Buddha dan Konfusius juga menerapkan metode diskusi yang sama. Konfusius selalu mengembangkan wawasannya dalam percakapan. Karena menurutnya, kita memerlukan interaksi ramah untuk mencapai kematangan. Konfusius juga setuju dengan pandangan Socrates bahwa dalam berdialog kita dituntut untuk menyerah kepada satu sama lain, bukan memegang secara kaku pendapat kita sendiri.

Baca juga:   Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Dalam the Analects, kita menjumpai metode lain: memarahi murid dengan lemah lembut, mendorong mereka ke batas kemampuan mereka, tetapi tidak pernah mengejek mereka. Di sisi lain, Sang Buddha juga mengajarkan para bikkhunya untuk berkomunikasi dengan baik dan sopan satu sama lain.

Beberapa tokoh di atas telah menunjukkan betapa dialog yang menghargai pihak liyan telah eksis sejak dulu. Namun dewasa ini, kita tumbuh dalam ruang dialog yang kompetitif. Contohnya seperti perdebatan dalam lembaga parlemen, media, akademisi dan pengadilan hukum kita yang pada dasarnya bersifat kompetitif.

Ruang yang kompetitif tidak hanya untuk mencari kebenaran, juga menginginkan kekalahan dan bahkan memperlakukan lawan bicara. Socrates sangat mengecam kebencian dan taktik penggencetan lawan semacam ini.

Mengutip penjelasan Karen Amstrong dalam bukunya Compassion, di dunia kita yang sangat kontroversial, kita perlu mengembangkan bentuk wacana berbelas kasih. Alih-alih mencoba menghantam orang lain untuk menerima sudut pandang kita sendiri, kita mungkin perlu menemukan pertanyaan yang menggiring ke pencerahan pribadi; bukan hanya mengulangi fakta-fakta sebagaimana tampaknya oleh kita.

Kita harus berusaha bertanya pada diri sendiri apakah kita ingin menang berargumen atau mencari kebenaran?

Dan di atas segalanya, kita perlu mendengarkan. Mendengarkan yang sejati berarti lebih dari sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan. Kita harus berusaha untuk mendengarkan rasa sakit atau ketakutan yang muncul dalam bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kiasan.

Sejarah menunjukkan bahwa menyerang setiap gerakan fundamentalis, baik secara militer, politik atau melalui media adalah kontraproduktif. Serangan itu hanya akan menyakinkan pengikutnya bahwa musuh mereka benar-benar bertekad untuk menghancurkan mereka.

Jika kita mau menganalisis wacana fundamentalis secermat kita menafsirkan sebuah puisi atau pidato politik yang penting, setiap emosi dan niat yang mendasari sang penyair atau pembicara, rasa takut dan penghinaan ini segera menjadi jelas.

Bahasa didasarkan pada kepercayaan. Kita harus berasumsi, setidaknya pada awalnya, bahwa lawan bicara kita mengucapkan kebenaran dan memberi tahu kita sesuatu yang bernilai. Para ahli bahasa menunjukkan bahwa dalam komunikasi sehari-hari kita kerap mendengar sebuah pernyataan, yang pada awalnya tampaknya aneh atau salah. Dalam situasi seperti ini, menurut mereka, kita akan secara otomatis mencoba menemukan konteks yang masuk akal karena kita ingin mengerti apa yang dikatakan kepada kita.

Baca juga:   Ibu Bukanlah Ratu

Kita tentu berupaya untuk memahami sesuatu yang aneh dan asing bagi kita.  Untuk itu, penting bagi kita untuk menganggap bahwa pembicara mempunyai sifat-sifat manusia yang sama seperti kita; walaupun sistem kepercayaan kita mungkin berbeda, kita mempunyai ide yang sama tentang apa yang dianggap sebagai kebenaran.

Donald Davidson, Profesor Filsafat di Universitas California di Berkeley menjelaskan bahwa, upaya untuk mengerti ucapan dan perilaku orang lain -bahkan perilaku mereka yang paling menyimpang—mengharuskan kita untuk menemukan banyak kebenaran dan alasan di dalamnya. Jika kita tidak bisa melakukan seperti itu, kita akan mengabaikan si pembicara dan menganggapnya irasional, tidak masuk akal, dan pada dasarnya tidak manusiawi. Entah suka atau tidak, jika kita ingin memahami orang lain, kita harus menganggap mereka benar dalam kebanyakan hal.

Dengan pemahaman empatik, kita dapat membayangkan diri kita sendiri dalam kondisi dan perasaan yang sama. Dengan kata lain, kita harus melihat dari mana orang berasal. Dengan cara ini, kita dapat memperluas perspektif dan meluangkan tempat untuk yang lain. Namun di sisi lain, prinsip amal juga tak semestinya membuat kita pasif dan pasrah di hadapan ketidakadilan, kekejaman, dan diskriminasi.

Ketika kita berbicara membela nilai-nilai yang kita anggap layak, harus dipastikan bahwa kita memahami konteksnya secara keseluruhan; tidak mengabaikan nilai-nilai lawan sebagai barbar, hanya karena tampak asing bagi kita. Kita mungkin menemukan bahwa kita memiliki nilai-nilai yang sama tetapi mengekspresikannya dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam pembahasan ini, kita mencoba membuat diri kita memperhatikan cara berbicara kepada orang lain. Ketika kita berdebat, apakah kita terhanyut oleh kepintaran diri sendiri dan sengaja menimbulkan rasa sakit kepada lawan? Apakah argumen kita bertujuan mengembangkan pemahaman lebih lanjut atau memperburuk situasi yang sudah memanas? Apakah kita benar-benar mendengarkan lawan bicara dengan hati terbuka?

Dan sebelum kita memulai sebuah argumen, mari tanyakan dan jujur pada diri sendiri, apakah kita siap untuk mengubah pikiran kita?[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *