Deradikalisasi Yoga [1]

Pesan yang dibawa yoga sangat universal; tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga.

—– Yudhi Widdyantoro

Kasus kekerasan dan sikap intoleransi di masyarakat semakin sering terjadi. Kasus-kasus tersebut, dan juga kemudian tindak kriminal yang dilakukan oleh suatu kelompok pengikut agama, serta keinginan mengubah dasar negara pada agama tertentu nampaknya menjadi salah satu lembaran nyata dari kisah perjalanan bangsa Indonesia. Gambaran itu menjadi kontradiktif dengan keinginan para elite politik yang sering menekankan perlunya jati diri bangsa. Pemandangan di dalam negeri yang seperti ini terjadi juga di luar negeri secara global, yaitu gejala radikalisasi dan fundamentalisme agama.  

Di hampir semua agama dan sistem kepercayaan selalu ada gerakan purbanisasi. Suatu arah pergerakan dari para pengikutnya yang selalu mengacu pada masa awal dan daerah dari agama dan sistem kepercayaan itu bermula. Figur sentral rasul, sebagai pembawa wahyu bersama tatanan masyarakat yang dibangun akan menjadi rujukan utama, baik itu ajaran ideologis atau juga etika dan budayanya, termasuk cara berpakaian, etiket dan tatakrama kehidupan dalam keseharian, dan juga cara-cara dakwah untuk memperluas pengaruhnya, harus diikuti secara persis.

Seiring dengan perjalanan waktu, di dalam masyarakat yang berkembang dan menjadi multikultur, agama dan sistem kepercayaan akan selalu diterima dengan cara beragam. Ada semacam perebutan makna pada keyakinan yang mereka anut, walau berasal dari satu sumber yang sama. 

Situasi ini bisa diumpamakan seperti saat kita memasuki hutan di gunung. Di dalam hutan tumbuh beragam pepohonan. Kita akan menjumpai pohon-pohon besar menjulang bagai raksasa dengan batang yang kokoh; pohon-pohon tanaman lunak yang menghasilkan buah-buahan yang dapat dimakan; ada pula tanaman merambat, tumbuhan beledu, sampai jamur dan lumut; tidak ketinggalan pula hewan, burung dan unggas. Semua mahluk yang hidup ini bertahan dan tetap eksis karena adanya salingketergantungan antara satu dengan yang lain. Masing-masing mereka ada karena keberadaan yang lainnya. Mereka saling menghormati sesuai dengan bagian dan porsinya masing-masing. Lumut, benalu atau humus, rayap dan semut sekalipun, tetap saja ada manfaatnya bagi kelangsungan hidup keseluruhan ekosistem di hutan itu.

Sekarang perhatikan juga sebuah pohon. Suatu pohon yang tumbuh menjulang tentunya bermula dari akar di dalam tanah dan batang yang tegak dan kokoh. Pohon yang sehat akan menghasilkan bunga dan buah yang bermanfaat bagi mahluk lain. Semua itu bermunculan dari cabang dan ranting yang menyebar secara merata dari sebuah pohon. Di dalam khasanah yoga, akar dan batang pohon adalah fondasi filosofis Ashtanga Yoga dari Patanjali, yaitu yama dan niyama, suatu latihan disiplin diri dan pemahaman moral dalam hidup bermasyarakat, seperti: ahimsa = tidak melakukan tindak kekerasan; satya = kejujuran; asteya = tidak korupsi, menumpuk harta, atau mencuri apapun dari yang bukan haknya; brahmacharya = kontrol diri dari tindakan asusila; aparigraha = hidup sederhana sesuai kebutuhan.

Baca juga:   Megengan: Rajutan Tradisi, Agama, dan Kemanusiaan

Sedangkan batang pohon yang bentuknya beragam, ada yang lurus, lengkung, zig-zag, memanjang, bengkok, semua dinamakan cabang dari batang pohon. Itulah analogi asanas; postur yoga. Asana yang diajarkan guru-guru dari berbagai aliran itu tentunya sama, demikian juga nama-nama dari asana itu sama persis. Sekadar menyebut contoh dari asana dalam bahasa sanskrit: tadasana atau postur gunung, bhujangasana sebagai postur ular, salabasana berarti postur belalang dalam bahasa Indonesia, atau postur pohon adalah vrkasana jika disebut oleh guru yang menggunakan bahasa sanskrit.

Di dalam praktisi yoga, melakukan rangkaian postur-postur yoga bisa terlihat juga keragamannya pada style atau aliran, atau tradisi dalam Hatha Yoga. Sekadar menyebut aliran yang dikenal di Indonesia adalah: Classic Hatha Yoga, Yin Yoga, Yin-Yang Yoga, Sivananda Yoga, Iyengar Yoga, Hatha Iyengar, Ashtanga, Vinyasa Flow, Bikram atau Hot Yoga, Jivamukti, Anusara Yoga, Kundalini, Sri-Sri Yoga, Ananda Marga, Yogalates, Funky Yoga, dan lain sebagainya yang masih banyak sekali. Semua dalam kerangka Hatha Yoga, untuk sekadar membedakan dengan Raja Yoga, yang dalam masa awal perkembangan yoga, filsafat atau seni hidup ini, menekankan pengajarannya pada kontrol mental (mentally controle) dan nilai-nilai moral dengan prakteknya lewat meditasi dan sistem perkuliahan (talk).

Jika yoga center memberi pengajaran filosofi yoga, selain hanya asana, latihan gerak postur yoga, dan pranayama atau latihan pernafasan tentunya akan sama bahan yang diajarkan. Aliran dalam yoga ini seperti kulit buah pisang, sementara yoga itu sendiri adalah daging dari buah pisang yang kita makan. Ada orang yang lebih suka pisang ambon, atau pisang mas, sementara ada yang karena mengidap sakit tertentu dokter malah melarangnya, atau ada juga orang yang sangat suka makan pisang goreng ketika sedang panas kinyis-kinyis seperti selesai diangkat dari penggorengan, ada yang ketika makan lebih senang diiringi dengan musik, ada yang merasa tidak masalah kalau makan pasang sambil jalan atau lompat-lompat. Semua dikembalikan kepada masing-masing peserta yang seleranya beragam.

Baca juga:   Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Yoga itu juga dapat dianalogikan sebagai spiritualitas dan aliran-aliran dalam yoga sebagai agama yang terorganisir (organized religion). Aliran yoga dan agama itu dicocok-cocokan. Adalah sesat pikir yang besar kalau seorang guru yoga, atau suatu aliran yoga yang mengklaim yoganya akan cocok untuk semua orang, dan karenanya sebagai yang paling baik, the best style. Hubungan antara praktisi yoga dengan style yang mereka ikuti persis seperti pengikut suatu agama. Ada yang mengikuti tradisi atau ritual agama dengan sangat ketat, tapi ada juga berpikir sangat progresif dan liberal, atau ada juga yang beragama dengan mengambil bentuk fundmental di satu sisi, dan sekular di sisi lainnya.

Terhadap perbedaan itu, alangkah baiknya kalau para praktisi bisa menerima dan terbuka terhadap keberagaman. Tidak perlu yoga center atau para instrukturnya menuntut sikap fanatik dan kataatan tanpa reserve pada anggotanya untuk hanya berlatih pada satu style, kemudian membuat perjanjian dengan studio lainnya secara ekslusif, untuk hanya berhubungan berdua, tidak diperkenankan lagi berhubungan dengan studio selain dengannya. Jika ini dipahami, sesungguhnya yoga dapat mengajarkan kita untuk lebih bersikap pluralis, bukan malah membangun benteng puritansi.

Pesan yang dibawa yoga sifatnya sangat universal, tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga. Sudah saatnya para praktisi yoga menderadikalisasi cara berhubungan dengan guru dan tradisinya dengan mengikuti salah satu pilar atau koridor dalam berlatih, yaitu vairagya, detachment, ketidakmelekatan.

Memang tidak dapat dipungkiri, dan hampir pasti bahwa dalam melakukan asana, setiap aliran yoga bisa sangat berbeda. Ada yang setiap postur dilakukan dengan harus menahan sekitar dua atau tiga menit atau bahkan lebih disertai dengan penjelasan untuk melakukannya dengan informasi yang banyak, ada yang perpindahan geraknya dari satu postur ke postur lainnya dalam satu rangkaian yang dilakukan dengan cepat dan melompat, ada yang mensyaratkan harus berlatih dalam suhu panas tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semua sah-sah saja, tidak ada yang salah atau lebih benar. Masing-masing tentunya mempunyai alasan filosofis dibalik melakukan itu semua. Sekali lagi, semua masih melakukan postur yoga yang sama. Semua pilihan dikembalikan ke masing-masing peserta, praktisi yoga yang melakukannya. Namun perlu diingat, untuk orang yang baru akan memulai berlatih yoga, sebaiknya sebelum bergabung ke suatu yoga center carilah sebanyak mungkin informasi untuk menentukan kelas yang paling sesuai dengan minat, harapannya dan karakter atau kepribadian diri sendiri.

[Bersambung]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *