Covid-19 dan Pergeseran Nilai Pendidikan


“Saya ada bikin sekolah itu tempat buwat cari ngilmu, bukan tempat buwat cari ijazah!”

K.H. Dewantara

Koronavirus atau covid-19 telah menghadirkan pandemi di seluruh dunia. Ia tidak hanya membawa dampak negatif, tapi juga pergeseran dalam banyak aspek kehidupan sosial; mulai dari ranah privat hingga formal; dari level rakyat jelata hingga para raja. Efek dari virus ini terasa pada banyak lapisan tanpa pandang strata.

Koronavirus mampu mengubah tatanan maintreams seketika. Setiap orang yang terkena atau terpapar virus ini diperlakukan sama; harus mengikuti protokol kesehatan. Yang sakit harus dikarantina dan dijauhkan dari kerumunan massa, bahkan sanak saudara. Seluruh masyarakat dunia saat  ini terbelenggu kekawatiran akan dampak virus ini.

Bagi insan pendidikan, aktivitas pembelajaran menjadi sektor yang sejak awal terdampak. Tanpa argumen rasional, ilmiah, apalagi faktual, semua pihak tunduk dan patuh mengikuti prosedur protokol kesehatan, khususnya peraturan ‘tinggal di rumah’ ‘stay at home’. Lembaga pendidikan dari tingkat PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA bahkan Perguruan Tinggi, semua tak punya pilihan kecuali mengubah sistem pembelajaran ke model daring ‘online’ demi harapan terhindar dari ancaman covid-19 atau memutus mata rantai penyebarannya.

Disadari atau tidak, perubahan metode pembelajaran dari tatap muka ke jarak jauh atau daring telah menggeser  nilai-nilai yang ada dalam proses pendidikan; dari proses menjadi pengajaran. Ada nilai-nilai yang hilang dalam proses pembelajaran daring ini. Di antaranya adalah pudarnya nilai-nilai karakter yang seyogianya ditanamkan oleh pendidik kepada peserta didik.

Tidak seperti pembelajaran tatap muka, model kelas daring tidak mampu mengakomodasi transfer nilai yang hanya bisa disampaikan melalui tutur kata, perilaku, gaya berkomunikasi, bahkan karakter pendidik kepada seluruh peserta didiknya. Padahal, figuritas dan personalitas seorang pendidik sangatlah penting dalam membentuk karakter peserta didik. Secara filosofis, pendidikan adalah proses transfer nilai-nilai ini, bukan semata-mata pengetahuan atau kompetensi akademik yang diwakili dalam gelar ijazah maupun deretan angka pada transkrip nilai. Ijazah beserta dokumen pelengkapnya bukan tujuan utama dari pendidikan.

Baca juga:   Ramadan in the Plague Year: Nahdlatul Ulama (NU) and the Pesantren System

Tujuan pendidikan adalah proses penemuan jati diri anak didik melalui laku atau yang masyhur disebut ‘ngelmu’ dalam tradisi Jawa. Di zaman modern, lembaga pendidikan berperan sebagai wadah ‘ngelmu’ ini, bukan sekadar pabrik ijazah. Makanya, tidak heran bila K.H. Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pernah berkata, “Saya ada bikin sekolah itu tempat buwat cari ngilmu, bukan tempat buwat cari ijazah!” Pendidikan itu hakikatnya adalah transfer pengetahuan atau ilmu pengetahuan dan nilai dalam seluruh aspek kehidupan; sementara pengajaran / mengajar hanya mentransfer pengetahuan dan ilmu pengetahuan saja.  

Bagaimanapun juga, hidup adalah pilihan soal skala prioritas. Inilah realitas yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini. Dalam kondisi pandemi covid-19 ini, pilihan atau prioritas utamanya adalah bagaimana kita berupaya secara maksimal dan seefektif mungkin agar terhindar dari virus tersebut. Usaha yang paling bisa dilakukan oleh siapa saja adalah menghindari kerumunan massa apalagi dalam sekala besar karena penyebaran virus tersebut melalui manusia.

Pemberlakuan physical distancing dan social distancing adalah prioritas utama yang harus dilakukan. Para karyawan dan pegawai termasuk seluruh ASN harus tunduk pada aturan ini. Semua instansi dan institusi memberlakukan work from home, tak terkecuali proses perkuliahan/pembelajaran menggunakan media online sebagai upaya antisipatif terhindar dari pandemi covid-19. Semoga pandemi covid-19 segera berakhir dan untuk yang terakhir kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *