Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (2)

Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat.

—- Yudhi Widdyantoro

Phonsavan

Delapan jam naik bis, kami sampai di Phonsavan. Kota ini berada di ketinggian 1300 m di atas permukaan laut; cukup dingin, terutama pada malam hari. Alamnya berbukit dan masih hijau oleh pepohonan. Dari bukit-bukit kapur sekitar kota banyak terdapat gua. Mungkin ini tempat ideal untuk sembunyi dalam perang gerilya, pikir saya. Dalam catatan perang Indochina yang berakhir 1975, daerah Phonsavan, khususnya sekitar Plain of Jars adalah basis perjuangan Pathet Lao. Daerah ini pula yang menjadi sasaran utama serangan bom armada Amerika yang dibantu tentara rahasia suku Hmong dengan pusat kendalinya di dekat Vang Vieng, 300 km barat daya Phonsavan.

Pada sore hari, saya mengunjungi kantor MAG (Mines Advisory Group), sebuah LSM internasional dengan kantor pusatnya di Manchester, Inggris, yang peduli pada upaya pencegahan korban ranjau bom dari adanya peperangan. Pada dinding kantor, terpasang poster besar peta persebaran bom. Dari data yang dimiliki MAG, ribuan metrik ton bom dari pihak-pihak yang berperang telah dijatuhkan, tapi hampir separuhnya tidak meledak seketika, namun tetap potensial meledak setiap saat, atau disebut UXO, unexploded ordnance. Di depan kantor, terparkir jeep Land Cruiser sebagai kendaraan operasional yang mengangkut para penjinak bom. Supir mobil itu seorang perempuan yang rajin memberi senyum pada banyak orang. Pakaian dinas lapangan pahlawan kemanusiaan ini berwarna abu-abu, ditambah topi ala Indiana Jones. Tidak terlihat oleh saya vihara di sini. Perang telah meluluh lantakkan kota, termsuk vihara yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perang.

Dari guesthouse tempat saya menginap, mereka menawarkan bergabung dengan beberapa turis lain mengunjungi Plain of Jars, situs-situs batu megalitikum berbentuk kendi yang banyak terdapat di Phonsavan ini. Ada tiga lokasi persebaran kendi-kendi dari batu besar ini terkonsentrasi. Setiap menuju lokasi, dari jalan beraspal perhentian mobil kami harus berjalan di jalan setapak sebesar satu setengah meter yang di kiri-kanannya bertanda pal merah-putih bertuliskan MAG, sebagai indikasi bahwa di antara batas warna putih tanah itu telah dibersihkan dari bom sampai ke bawah permukaan tanah, sementara warna merah menandakan bahwa pembersihan ranjau hanya sebatas permukaan tanah, di sebelah luar batas merah, tidak ada yang menjamin kelangsungan hidup orang-orang yang melewatinya, tidak juga MAG. 

Dari satu lokasi ke lokasi yang lain, jaraknya cukup jauh. Dalam perjalanan itu, tampak dari kejauhan, laskar MAG, para penjinak bom sedang bekerja dalam panas terik, langkah demi langkah mendeteksi metal yang dapat membuat orang terpental, mati oleh ledakan karena tidak sengaja menginjaknya. Apabila diingat banyaknya ranjau darat yang dipasang selama perang dan mengandung ancaman kematian yang sama dengan bom yang dijatuhkan dari udara, hidup seharian orang Laos seperti selalu mengenakan sepatu yang ada kerikilnya, tapi kerikilnya adalah bom yang siap meledak setiap saat. Sungguh tidak nyaman. Betapa rentan bahaya hidup semua orang Loas, lebih khusus para penjinak bom ini.   

Baca juga:   Deradikalisasi Yoga [2]

Jam tiga sore, saya sewa kendaraan ke desa Thajuk, lebih 60 km di luar kota. Di desa ini, penduduknya banyak menggunakan sisa-sisa bom untuk kelengkapan rumah: cangkang bom setinggi 2,5 m untuk pagar rumah, ada yang memakai untuk cagak kandang burung, penyangga meja dalam rumah, atau untuk pot tanaman, granat yang dimainkan anak-anak, tentunya tidak akan meledak. Desa ini nampak miskin, tidak ada rumah dari beton, namun penduduknya seperti selalu ceria. Di balik keceriaan itu, Thajuk seperti membari peringatan pada semua, batapa mengerikannya perang itu.

Vang Vieng

Destinasi saya berikutnya adalah Vang Vieng yang menurut cerita Christopher Robbins dalam bukunya The Ravens: Pilots of the Secret War of Laos bahwa CIA, agen rahasia Amerika membangun kota rahasia Long Cheng di pinggiran kota ini. Bersama dengan gerilyawan suku Hmong, Amerika mengendalikan perang melawan bangsa Laos dan Vietnam dari Long Cheng ini. Tanpa banyak diketahui sejarawan dunia, ternyata pada 1969 lapangan terbang di Long Cheng ini adalah yang tersibuk di seluruh jagat oleh lalu lintas terbang dan mendarat bagi kapal perang Amerika yang mereka gunakan untuk membombardir seluruh negeri Loas, atau seluruh negeri Indochina dengan alasan untuk menghentikan “bahaya” efek domino komunisme.

Dengan bis malam VIP saya menuju Vang Vieng yang akan memakan waktu tujuh jam. Pukul 19 lebih sedikit bis jurusan Vientiane via Vang Vieng ini mulai berjalan setelah penuh terisi, bahkan gang di dalam bis penuh oleh barang bawaan penumpang dan kursi tambahan dari plastik. Selang setengah jam, penumpang di depan saya mabuk darat, muntah-muntah dengan sangat ekspresif tanpa sungkan. Tidak tersedia plastik untuk menampung membuat lantai bis tergenang oleh “bubur encer” dari isi perut orang itu. Bau anyir menjadi aroma pengiring sepanjang perjalanan malam itu. Dalam hati saya tersenyum, saya pikir, pemilik bis itu mempunyai sense of humor yang baik, tanda VIP besar pada bis itu mungkin kependekan dari “Very Improper, Please”.  

Waktu berhenti untuk istirahat dan makan, dua awak bis bercakap-cakap pada penumpang mabuk, ada yang membersihkan lantai. Salah satu kernet membawa senjata laras panjang AK-47. Semua rute menuju atau dari Phonsavan adalah rawan perampokan, karenanya perlu menyertakan pemuda bersenjata. Ternyata istirahat tidak menghentikan mabuk orang itu, sehingga ketika harus turun di Vang Vieng saya harus berjalan sambil melompat menghindari muntahan.

Jam menunjukkan pukul 02.20 dini hari; gelap dan sepi. Hanya ada dua bangunan rumah yang diapit sawah. Ternyata itu bukan terminal bis. Saya tidur di emperan rumah itu. Setelah terlihat cahaya saya mulai berjalan menuju pasar untuk mencari toilet dan sekadar cuci muka dan gosok gigi. Dari pasar terlihat rangkaian bukit kapur yang hijau tertutup oleh pepohonan dengan puncak-puncaknya menyembul diantara kabut pagi, seperti lukisan China klasik.  Sempat juga sarapan buah, kueh dan minum kopi sebelum naik tuk-tuk ke penginapan, Jardin de Organic, vila-vila kecil di tepi sungai Nam Song.

Baca juga:   Hitam Putih Manusia Super

Saya sewa sepeda untuk keliling kota, ke vihara-vihara dan pasar. Menyusuri satu sisi kota yang dipenuhi café dan bar bernama Inggris atau Perancis. Daftar menu pada papan menuju pintu masuk bertuliskan beragam bahasa, bahkan juga Hebrew. Memang banyak terlihat pemuda bertopi rabbi, yang hanya dipakai pemuda berdarah Yahudi. Banyak turis muda mancanegara bercengkerama di restoran dan café. Wajah mereka kusut seperti baru bangun tidur. Mungkin berpesta sampai dini hari, pikir saya. Banyak juga gerai yang menawarkan paket kegiatan luar ruang yang menantang adrenalin, seperti panjat tebing, rafting, tubing, menyusuri gua, dan kayaking sampai Vientiane. Mungkin ini sebabnya Vang Vieng menjadi sangat terkenal bagi turis muda usia. Dan dengan panorama yang cantik, tidak salah rupanya, tentara Amerika yang terjun di medan perang Indochina memilih Vang Vieng menjadi basisnya. 

Setelah makan siang, masih dengan sepeda, saya menyebrang sungai munuju bukit-bukit kapur yang mengesankan saya di pagi buta itu. Hampir di semua bukit, ada gua yang dijaga pemuda lokal yang menawarkan jasa memandu, dan sewa lampu senter. Di satu desa yang hidup berdampingan komunitas Loas dan Hmong, saya diajak makan bersama di halaman rumah satu keluarga. Menunya, ketan dengan sayur dan ikan sungai goreng kecil-kecil. Kemudian bergabung keluarga dari rumah lain. Kami duduk lesehan. Nikmat walau dengan menu sederhana.  Karena cukup lelah bersepeda, malam itu saya tidur lebih cepat, mengurungkan niat melihat kehidupan malam, berpesta-ria bersama turis muda.

Hari ke-2 di Vang Vieng saya lalui dengan hanya santai, membaca di beranda vila, atau taman tepi sungai melihat anak-anak bermain-main dengan air, mencari ikan. Sore hari melihat lomba perahu naga. Saya istirahat mengumpulkan tenaga untuk naik kayak menuju Vientiane keesokan harinya untuk kemudian pulang ke Jakarta.      

Dalam truk tertutup yang menjemput saya untuk memulai perjalanan menyusuri sungai dengan perahu dari fibreglass tanpa mesin, bermuatan dua orang itu, telah ada 10 orang, laki-laki dan perempuan berwajah Kaukasia. Perlu waktu dua jam untuk sampai ke tempat pemberangkatan. Pemandu yang mengaku bernama Johny, orang Laos asli cukup komunikatif dengan bahasa Inggris yang baik. Demikan juga ketika dia memberi arahan untuk keselamatan dalam ber-kayak-ria.

Arus sungainya tidak terlalu keras. Mungkin arung jeram sungai Citarik lebih menantang. Hanya beberapa kali kami bertemu pusaran air dan gelombang yang bergolak dalam perjalanan yang menempuh lima jam, tapi toh ada juga peserta yang terbalik beberapa kali. Dalam jam ke-4 ber-kayak, kami istirahat makan siang. Di sini kami berkesempatan naik bukit batu setinggi 10 meter untuk melompat ke sungai dan berenang dengan puas. Ini adalah perhentian terbaik untuk istirahat, karena hampir semua tour operator mengistirahatkan rombongannya di sini. Tempat ini menjadi sangat ramai. Penuh orang dari bermacam bangsa. Satu jam lagi kami akan sampai di Vientiane dan arus sungai, kata Johny, akan sangat tenang. Seiring arus sungai yang pelan, dalam hati saya bernyanyi lagu “Imagine” yang kerap dinyanyikan almarhum John Lennon dengan suara syahdu:  

Imagine there no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

No religion too

Imagine all the people living in peace

Imagine no posessions

I wonder if you can

No need for greed and hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people sharing all the world

You may say

I am a dreamer, but I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one.

[Selesai]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *