Ketua Forkugama Dorong Pembentukan Forum Pemuda Lintas Agama Kota dan Kabupaten di Jawa Timur

Temu pemuda Lintas Agama yang ke-3 tahun 2020 dilaksanakan di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang. Hadir dalam kegiatan tersebut 60 peserta pemuda dari masing-maisng majelis Agama yang berasal dari Kabupaten/Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten/Kota Pasuruan.

Dalam kegiatan ini disampaikan materi tentang “Kerukunan Umat Beragama” oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur, Bapak Hamid Syarif, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kerukunan beragama merupakan suatu keharusan dalam kehidupan beragama di Indonesia, kerukunan beragama ini harus terus dipupuk terus menerus agar selalu menjadi pondasi dalam menjalin hubungan beragama.

“Indonesia ini terdiri dari beragam agama dan budaya, maka membangun kerukunan beragama dalam kehidupan sosial-keagamaan merupakan suatu keniscayaan yang harus dibangun bersama-sama” tutur Bapak Hamid Syarif.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bapak Kepala Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr.H.Ahmad Zayadi, M.Pd, dengan mengangkat tema “ Moderasi Beragama”, dalam kesempatan ini Bapak Zayadi menjelaskan bahwa dalam moderasi beragama harus mengedepankan sikap anti kekerasan, akomodatif terhadap budaya local, serta menunjukan sikap tengah. “Beberapa parameter seseorang dapat dianggap memiliki sikap moderat dalam beragama adalah memiliki sikap anti kekerasan, akomodatif terhadap budaya local, serta mempunyai sikap tengah”.

Lebih lanjut, berkaitan dengan moderasi beragama, Bapak Zayadi menambahkan bahwa Integritas, Humanis, Spirituality, Adaptif, dan Nasionality, adalah pilar utama dari moderasi beragama dalam konteks kita sebagai warga Negara Indonesia, disingkat dengan akronim IHSAN.

Dalam materi penutupnya Bapak Zayadi menyampaikan bahwa Negara harus hadir dan memberikan perlindungan terhadap umat beragama, hal ini merupakan bagian dari tanggungjawab Negara. “Negara hadir dan memberikan perlindungan terhadap warganya dalam beragama, semisal dalam proses pelaksanaan Ibadah Haji, disana Negara hadir memberikan perlindungan dan menfasilitasi warganya dalam beribadah”, tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Forum Kerukunan Pemuda Lintas Agama, Thoriqul Huda yang juga Dosen SAA IAIN Kediri menyampaikan, bahwa FKUB Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Jawa Timur harus mulai merintis dan membentuk komunitas Pemuda Lintas Agama sebagai regenerasi dalam membangun Kerukunan Umat Beragama di Jawa Timur. “FKUB Kabupaten/Kota harus mulai membentuk forum pemuda lintas Agama, hal ini perlu untuk membangun wawasan kerukunan sejak dini pada diri pemuda”, tuturnya

Dema Prodi SAA Gelar Academic Culture of Religious Studies (ACoRS) 2020

Pada Jumat dan Sabtu, 30 dan 31 Oktober 2020, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Prodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri menggelar Academic Cultural of Religious Studies (ACoRS). Acara ini merupakan pengenalan budaya akademik khususnya kepada mahasiswa baru Prodi Studi Agama-Agama (SAA)( IAIN kediri 2020. Kegiatan kali ini mengusung tema “Menciptakan Pribadi Mahasiswa Studi Agama-Agama Yang Toleran demi Terwujudnya Keharmonisan dalam Bingkai Kebhinekaan”. Salah satu tujuan acara ini ialah membentuk karakter pribadi mahasiswa SAA yang toleran terhadap perbedaan yang ada demi mempererat hubungan sesama warga negara Indonesia yang notabene memiliki semboyan Bhineka Tunggal Eka sehingga terwujud keharmonisan.

Academic Cultural of Religious Studies (ACoRS) merupakan kelanjutan dari pengenalan akademik Prodi Studi Agama-Agama yang sebelumnya bernama Friendship of Comparative Religion (FoCR) saat masih bernama Prodi Perbandingan Agama (PA). Perubahan nama tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan kondisi yang ada sekarang ini: peralihan nama Perbandingan Agama (PA) menjadi Studi Agama-Agama (SAA). Secara tidak langsung perubahan tersebut juga memberi dampak besar terhadap pengenalan budaya akademik prodi. Akhirnya, nama baru AcoRS dipilih untuk menyesuaikan dengan nama Studi Agama-Agama atau Religious Studies. Namun, perubahan tersebut tidak meninggalkan nilai-nilai dari FoCR itu sendiri, hanya saja metode dan bajunya saja yang baru.

Acara ini berlangsung selama dua hari secara daring dengan menggunakan aplikasi Google Meet. Hal ini dilakukan mengingat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga detik ini. Meskipun dilaksanakan secara daring, peserta, yang merupakan mahasiswa baru SAA IAIN Kediri 2020, tetap antusias mengikuti semua tahap kegiatan.

Sebelum acara digelar, para peserta diwajibkan untuk membuat video tentang kesiapan mengikuti ACoRS disertai dengan motivasi sebagai mahasiswa SAA. Syarat tersebut sebagai upaya character building yang harus ditanamkan kepada para maba dalam mengikuti ACoRS. Di samping itu juga, saat materi berlangsung mereka diwajibkan untuk membuat resuman berupa tulisan. Resuman tersebut nantinya dapat mereka simpan dan dipelajari kembali dikemudian hari agar tidak melupakan esensi dari ACoRS itu sendiri.

Materi-materi dalam ACoRS ada empat: Ke SAA-an, Multikulturalisme, Keorganisasian, dan Birokrasi. Materi-materi tersebut merupakan dasar yang harus dipelajari oleh mahasiswa baru SAA sebelum menyelami lebih dalam kehidupan kampus, yang tentu saja sangat berbeda dengan masa-masa SMA/MA/SMK dahulu. Mereka dituntut mengubah pola pikir mereka sesuai dengan kehidupan kampus agar bisa survive dan sukses sebagai mahasiswa. Inilah tujuan utama dari penyelenggaraan AcoRS ini.

Situasi pandemi Covid-19 saat ini memang tidak memungkinkan untuk kita dapat melaksanakan kegiatan berkumpul seperti biasanya. Tetapi tentunya situasi ini tidak boleh menghalangi agenda kita. Dengan perkembangan teknologi saat ini, kita dapat tetap mengadakan kegiatan tersebut dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang mendukung kita untuk tetap berinteraksi meski dari jarak jauh. Harapan kedepan, semoga pandemi ini segera berakhir dan acara ACoRS dapat dilaksanakan kembali secara luring [Dema Prodi].

#saamantab

#salamtoleransi

#saaiainkediri

Mahasiswa SAA IAIN Kediri Ikuti Temu Pemuda Lintas Agama Jawa Timur

Kediri 26 Okt 2020: Pertemuan pemuda lintas Agama Provinsi Jawa Timur 2020 yang ke- 2 bertempat di Lt. 4 gedung Perpustakaan IAIN Kediri, kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur tersebut menghadirkan 60 peserta dari kabupaten/Kota di sekitar wilayah Kediri, diantaranya kabupaten Nganjuk 6 orang, Jombang 6 orang, Kab/Kot Blitar 12 orang, Kab/Kot Kediri 12 orang, Trenggalek 6 orang serta tulungagung 6 orang.

Selain dari unsur majelis Agama-agama, kegiatan kali ini juga dihadiri oleh Mahasiswa IAIN Kediri, sebanyak 12 perwakilan. Dalam kegiatan tersebut Kepala Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Ahmad Zayadi, menjelaskan kepada peserta tentang moderasi Beragama, menurutnya bahwa tiap-tiap agama memliki nilai-nilai keadilan dan humanisme yang sama, sehingga pada titik tersebut menjadi satu pijakan bersama untuk dapat menjalin kerukunan beragama.

“Dalam setiap agama itu ada Nilai-nilai universal yg berisikan pesan-pesan positif seperti keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Akan tetapi dalam agama juga ad juga pesan-pesan khusus yg berbeda antar agama, seperti tentang doktrin keagamaan, oleh karenanya kita harus memiliki sikap sepakat dalam ketidaksepakatan (AGREE IN DISAGREEMENT) agar semua hubungan antar umat beragama dapat berjalan dengan baik”. Tutur Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua FKUB Bapak Najib Hamid, menuturkan bahwa pemuda harus menjadi motor penggerak kerukunan beragama, mereka harus kita bekali wawasan kerukunan beragama sejak dini agar tertanam wawasan kerukunan beragama yang baik.

Dalam kegiatan tersebut, Thoriqul Huda sebagai Ketua Forum Kerukunan Pemuda Lintas Agama Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan roadshow kedua, selanjutnya masih ada dua agenda kegiatan lagi. “ini merupakan roadshow kedua, selanjutnya akan kita laksanakan di Malang dan Jember, kita berharap semua semakin memiliki wawasan kerukunan beragama yang baik setelah mengikuti kegiatan ini” tutur Thoriq.

Prodi SAA IAIN Kediri Presentasikan Pengelolaan Keberagaman Agama di Drew University, USA

Pada hari Jumat, 17 Oktober 2020, Maufur, dosen sekaligus sekprodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri diundang untuk memberikan kuliah daring di salah satu kelas yang bertajuk “Global Wisdom for Conflict Resolutions” di Graduate School, Drew University, New Jersey, AS. Kelas ini diampu oleh Prof. Jonathan Golden, Direktur Center for Religion, Culture, and Conflict Resolution (CRCC), yang sebelumnya pernah memberikan kuliah tamu di Prodi SAA IAIN Kediri.

Di kelas tersebut, Maufur mempresentasikan “Religious Diversity in Indonesia: Prospects and Challenges”. Ia menjelaskan konteks keragaman agama di Indonesia kepada para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Theological School, Drew University, Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia telah mengalami kemajuan yang cukup berarti dalam mengelola keberagaman agama, bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu contohnya adalah meningkatnya pengakuan negara atas hak sipil bagi kelompok minoritas, yang selama ini belum tercakup dalam berbagai regulasi yang ada.

Namun demikian, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk menangani konflik intra- dan antaragama yang masih sering terjadi di akar rumput. Tantangan semakin besar mengingat media sosial menjadi lahan subur bagi penyebaran hoax yang bisa menimbulkan ketegangan di antara umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu, moderasi beragama yang digagas pemerintah juga harus menyasar narasi agama yang tidak sesuai dengan ideologi negara Pancasila. Maufur juga menjelaskan bagaimana kearifan lokal di Indonesia telah memberikan kontribusi besar bagi keragaman agama di Indonesia.

Selain itu, kuliah tamu ini merupakan kelanjutan dari kerjasama yang telah terjalin antara SAA IAIN Kediri dan CRCC Drew University. Beberapa tahun lalu, dua dosen dari IAIN Kediri, Maufur dan Zaenatul Hakamah berkesempatan mengikuti Summer Program selama satu bulan di universitas yang berbasis di New Jersey, Amerika Serikat ini.

Dosen SAA, Ketua Forum Kerukunan Pemuda Lintas Agama (FORKUGAMA) Jatim

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Dr. Ahmad Zayadi mengatkan, kelompok pemuda moderat harus lantang bersuara di media sosial dan ruang publik lainnya. Dalam konteks masa kini, ia mengatakan bahwa sikap moderat dalam beragama merupakan sikap penting yang harus dimiliki oleh golongan milenial, hal ini merujuk pada realitas keberagaman suku, agama dan ras di Indonesia.

“ Tentu kita mendorong agar kelompok pemuda milenial ikut bersuara lantang di media sosial dan ruang-ruang publik lainnya dalam menggaungkan moderasi beragama” tutur Ahmad Zayadi dalam acara Temu pemuda lintas agama di Surabaya.

Pada acara tersebut turut hadir narasumber lainnya, di antaranya Kepala Bakesbangpol Jawa Timur Bapak Jonathan Judyanto, yang memberikan materi tentang “Wawasan Kebangsaaan”, serta dari Sekertaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bapak Hizbul Wathon yang memberikan materi dengan tema “Wawasan Kerukunan Umat Beragama”.

Thoriqul Huda, Dosen Prodi SAA IAIN Kediri dan juga Ketua Forum Kerukunan Pemuda Lintas Agama (FORKUGAMA) Jawa Timur mengatakan bahwa acara Temu Pemuda lintas Agama di Surabaya merupakan bagian dari “Roadshow Moderasi Beragama” yang diselenggarakan di 4 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, yakni Surabaya, Kediri, Malang dan Jember, dengan melibatkan peserta dari masing-masing majelis Agama.

“Iya, kegiatan temu pemuda lintas agama ini merupakan agenda rutin, dan tahun ini akan kita selenggarakan di 4 kabupaten/Kota di Jawa Timur, dengan menerapkan protocol kesehatan yang ketat”, tutur Thoriq.

Kedepannya ia berharap kerukunan umat beragama di Indonesia semakin baik, dan sikap membangun kerukunan harus dimulai dari pemuda sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan dalam membangun bangsa. “Pemuda sebagai penerus masa depan bangsa, harus memahami realitas keberagaman bangsa Indonesia”, lanjut Thoriq.

Teruntuk Sobat Baru SAA

Assalamualaikum War. Wab.

Teruntuk Mahasiswa Baru SAA,

Perkenankan kami menyapa kalian dengan sebutan “Sobat SAA”. Mengapa? karena kita semua adalah sahabat yang akan selalu bersama dalam setiap suka dan duka. Kita semua adalah kawan dalam ikatan yang melampaui batas senioritas, etnik, warna kulit, apalagi sekadar pangkat atau jabatan. Kita semua adalah kawan yang akan selalu bergandengan tangan dan melangkah bersama menyongsong masa depan.

Dear Sobat SAA,

Sejak hari ini, Sobat sekalian menapaki sebuah fase penting kehidupan; sebuah etape hidup yang harus Sobat lalui demi sampai pada satu titik tujuan. Yakinlah Sobat bahwa jalan itu adakalanya indah dan tanpa hambatan. Tapi ingatlah juga Sobat, adakalanya jalan itu terjal, penuh liku dan kerikil tajam yang siap menjegal langkah kaki Sobat. Apapun itu, persiapkan mental Sobat karena itu semua bagian dari petualangan hidup yang harus ditempuh. Hanya yang bermental kuat yang akan bertahan dan tidak mengeluh.

Dear Sobat SAA,

Ragam alasan dan motivasi pasti ada di balik keputusan Sobat memilih SAA. Sebagian mungkin sudah yakin dengan pilihan itu, sebagian lagi mungkin masih ragu atau bahkan merasa dipaksa keadaan. Itu adalah hal yang manusiawi karena kita tidak pernah tahu pasti apa yang membentang dalam kehidupan kita ke depan. Akan tetapi, sekali Sobat sudah membulatkan niat dan tekad, maka dekap erat-erat semua itu karena hidup tak pernah berpihak pada peragu. Nasib seorang peragu hanya akan berujung pada tragedi karena ia tidak tahu apa yang harus diperbuat di tengah terpaan badai hidup yang setiap saat siap menghantam.  Maka, yakinlah dengan pilihan kalian, Sobat!

Dear Sobat SAA,

Sobat mungkin bertanya-tanya bisa jadi apa nanti Sobat setelah lulus dari SAA. Jawabannya bisa jadi apa saja, bukan sekadar penyuluh agama, aktivis perdamaian atau guru bahkan dosen agama jika Sobat melangkah ke tahap lebih lanjut. Kami tidak bisa menjamin profesi macam apa yang bakal Sobat geluti kelak sebagaimana ragam kiprah alumni kita saat ini. Tidak ada yang bisa menjamin itu. Akan tetapi, yakinlah Sobat bahwa kami akan sepenuh hati membantu Sobat menemukan jati diri sebagai insan akademis, sosial maupun religius. Kami akan ajarkan Sobat cara berpikir kritis atau beragama tanpa harus merendahkan kelompok atau golongan lain. Kami akan ajak Sobat berjumpa dan belajar tradisi lain dan bersama-sama mereka menumbuhkan benih perdamaian. Itulah bekal yang harus dimiliki setiap orang, apapun profesi Sobat nanti; dan tahukah Sobat, dunia saat ini butuh banyak orang seperti itu.  Maka, langkahkan kaki dengan tegak, Sobat!

Dear Sobat SAA,

Jangan silau dengan nama atau jumlah besar karena semua itu bukan jaminan.  Jangan pula minder dan berkecil hati karena cibiran dan pandangan sebelah mata. Ingatlah kata pepatah, layang-layang terbang tinggi dengan cara melawan angin, bukan dengan mengikuti arah angin. Jumlah yang sedikit bukan sebuah kelemahan, malah sebuah keuntungan. Ingatlah kata Tere Leye, penulis tersohor itu: “auman singa bisa membuat seiisi hutan lengang, sedangkan gonggongan berpuluh-puluh anjing hanya membuat hutan berisik”. Maka, mengaumlah, Sobat!

Selamat Datang Sobat Baru SAA IAIN Kediri. Ayo, bersama kita bentangkan layar perjuangan. Sukses buat Sobat SAA semua.  

Wassalamu’alaikum War. Wab.

#BanggaSAA #SAAMantab

AdminSAA

Bangkitkan Idealisme Generasi Emas, DEMA SAA Gelar Lomba Ilmiah

Pada Minggu 9 Juli sehari yang lalu Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Studi Agama-Agama IAIN Kediri telah mengadakan event Lomba Esai bertajuk “Bangkitnya Idealisme Pemuda Menuju Generasi Emas 2045”. Tujuan dari acara ini tak lain dan tak bukan yakni untuk mengasah kreativitas menulis para mahasiswa ketika diharuskan produktif di rumah ketika masa pandemi. Maksud dari tema yang diambil dalam lomba ini yaitu fokus pada kepemudaan mengingat peran pemuda saat ini akan sangat berpengaruh pada 35 tahun yang akan datang. Kemudian apa yang harus dilakukan para pemuda saat ini yaitu harus membangkitkan idealisme mereka. Paradigma para pemudalah yang nanti menentukan apakah generasi yang akan datang lebih baik dalam arti mampu membuat sebuah perubahan positif bagi negaranya atau bahkan sebaliknya. Jadi, mulai sekarang para pemuda setidaknya harus berpikir lebih dewasa lagi dan membuang segala hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya apalagi dengan orang-orang disekitarnya.

Lomba ini dimulai pendaftaran pada tanggal 20 Juli sampai 27 Juli 2020. Tak hanya Mahasiswa Studi Agama-Agama saja melainkan para peserta di berbagai jurusan dan antar kampus turut antusias dalam event ini. Jadi dengan begitu tingkat persaingan dalam hal kreativitas menulis sangatlah ketat bagi para peserta tersendiri. Salah satu contohmya dari Mahasiswa SAA IAIN Kediri. Dia sangat terkejut dengan peserta yang ada dalam lomba ini dan membuatnya sedikit grogi. Namun, hal itulah yang menjadi motivasi bagi dirinya untuk lebih baik dalam menulis esai nanti. Kemudian berlanjut dalam proses pengumpulan karya pada tanggal 21 Juli hingga 02 Agustus 2020. Para peserta diwajibkan mengikuti aturan kepenulisan dari pihak panitia dan mengikuti beberapa syarat-syarat lain yang ada khususnya harus sesuai dengan tema yang ada. Setelah itu karya dikumpulkan lewat email yang tersedia yaitu di Gmail saaiainkediri@gmail.com. Setelah itu tahap berikutnya adalah penjurian yang dilaksanakan pada tanggal 03 sampai 07 Agustus 2020. Dalam penjurian ini dilakukan oleh 2 Dewan Juri 1 yaitu Lukman Hakim, S.I.Kom., M.Sos. Beliau adalah dosen Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Kediri juga merupakan Koordinator Lingkar Dosen Menulis (LDM). Kemudian Dewan Juri 2 yaitu M. Thoriqul Huda, M. Fil.I. Beliau merupakan dosen Studi Agama-Agama IAIN Kediri juga seorang peneliti lepas. Dalam proses penjurian yang dinilai yaitu:

  1. Kesesuaian tema “Bangkitnya Idealisme Pemuda Menuju Generasi Emas 2045” dengan nilai 1 sampai 25
  2. Pengaturan dokumen esai pada umumnya dengan nilai 1 sampai 15
  3. Rasionalitas ide, observasi dengan nilai 1 sampai 30
  4. Kaidah penulisan, penggunaan bahasa dengan nilai 1 sampai 30

Tahap berikutnya adalah pengumuman pada tanggal 9 Agustus 2020. Dalam pengumuman ini diberitahukan lewat WhatsApp grub Lomba Esai SAA IAIN Kediri, Facebook Perbandingan Agama dan Instagram saa_iainkediri. Pengumuman tersebut menghasilkan nama-nama pemenang lomba esai. Total nilai tertinggi dari kedua dewan juri adalah juara pertama. Nama-nama tersebut ialah:

  1. Juara 1 dimenangkan oleh Ibnu Akbar Maliki dengan judul esai “Sosial Media untuk Demokrasi Indonesia: Upaya Meningkatkan Partisipasi Politik di Era Teknologi” mendapatkan total nilai 178.
  2. Juara 2 dimenangkan oleh Binti Khoirun Nisak dengan judul “Membangkitkan Sikap Idealisme untuki Indonesia Lebih Jaya dengan Generasi Emas 2045” mendapatkan total nilai 165.
  3. Juara 3 dimenangkan oleh Dzikron Rachmadi dengan judul “Harapan Besar Bangkitnya Idealisme Pemuda Menuju Generasi Emas Indonesia 2045” mendapatkan total nilai 161.

Pengumuman tersebut disambut meriah oleh para peserta meskipun hanya sebatas online melalui grup WhatsApp. Para peserta begitu lega dengan keputusan yang ada dan sangat bersikap positif juga saling mengucapkan selamat kepada para pemenang. Ucapan selamat juga diberikan oleh Mohamad Bagus Rozikun selaku Ketua DEMA SAA IAIN Kediri. Berikut adalah pesa-pesanya:

“Saya ucapkan selamat kepada juara 1, 2 dan 3 lomba esai SAA IAIN kediri. Pesan untuk para juara yakni tetap tingkatkan terus prestasi kalian! Kemudian pesan untuk para peserta yang belum beruntung yakni jangan menyerah dan cobalah kesempatan di lain waktu.” Ketua DEMA SAA IAIN Kediri.

Kemudian salah satu juri yaitu Lukman Hakim juga menyampaikan pesan-pesan kepada para juara dan peserta:

“Kepada seluruh peserta. Saya secara khusus perlu mengapresiasi atas kerja keras dan semangat dalam menghasilkan karya. Perlombaan ini tidak boleh menjadi akhir, tapi awal pemantik untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Perlu saya sampaikan, bahwa di bawah kolong langit manapun di dunia ini, penulis yang menghasilkan karya monumental selalu punya kebiasaan membaca yang mendarah daging. Mustahil menulis bagus tanpa pernah membaca. Hal lain yang tidak kalah penting, sebagus apapun karya yang dihasilkan tapi hasil mencaplok karya orang lain itu kejahatan intelektual. Setara dengan koruptor dan pencuri. Jadi menulislah dengan proses, tak ada jalan instan untuk menjadi penulis.” Lukman Hakim (Juri).

#saamantab
#salamtoleransi
#saaiainkediri