Berpikir Komputasi dalam Beragama

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama.

—- Lucky Eno Marchelin

Permasalahan yang dihadapi manusia di era globalisasi dan digitalisasi saat ini semakin kompleks sehingga mengharuskan setiap orang meningkatkan kemampuan dirinya. Menurut Dede (2010), kemampuan tersebut meliputi pemecahan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, dan lain sebagainya. TOKI (2017) menambahkan bahwa seseorang harus menguasai keterampilan berpikir, content knowledge, dan kompetensi sosial dan emosional dalam menghadapi Abad ke-21.

Masalahnya adalah apakah manusia Indonesia mampu mengarungi Abad ke-21? PISA (Program for International Student Assessment) pada 2018 melaporkan bahwa siswa usia 15 tahun (setara SMP) di Indonesia menduduki peringkat ke 72 dari 77 negara dalam kemampuan membaca dan peringkat 72 dari 78 negara dalam kemampuan sains dan matematik. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih tergolong rendah padahal tuntutan atas memecahkan masalah semakin tinggi. Salah satu teknik pemecahan masalah yang luas penerapannya adalah berpikir komputasi atau computational thinking (CT).

Berpikir komputasi (CT) menurut Malik, dkk (20218) bukan berarti berpikir seperti komputer, tetapi berpikir untuk merumuskan masalah dalam bentuk masalah komputasi, menyusun langkah penyelesauan yang baik (algoritma) atau menjelaskan alasan apabila tidak ditemukan solusi yang sesuai. TOKI (2018) merangkum indikator kemampuan berpikir komputasi meliputi dekomposisi, abstraksi, algoritma, dan pola.

Dekomposisi diartikan sebagai kemampuan memecah masalah yang kompleks menjadi masalah yang lebih kecil dan rinci. Misalnya, “kopi susu” yang dipecah berdasarkan komponennya yaitu kopi, gula, susu, dan air panas. Abstraksi adalah kemampuan untuk menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah yang serupa. Algoritma adalah kemampuan menyusun langkah-langkah yang terstruktur dalan efisien dalam penyelesaian masalah. Pola adalah kemampuan untuk mengenali permasalahan yang sama pada kasus yang berbeda.

Permasalahan komputasi yang cukup terkenal diilustrasikan dalam kisah petani, sayuran, kambing, dan srigala: Pada suatu hari, terdapat seorang petani yang memiliki seekor kambing dan srigala. Pada saat itu, ia baru saja memanen sayurannya. Petani tersebut hendak menjual sayuran, kambing, dan srigala ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus menyeberangi sungai menggunakan perahu. Permasalahannya adalah, perahu yang tersedia hanya satu yang dapat memuat paling banyak dua penumpang (petani dan salah satu dari sayuran, kambing, dan srigala). Apabila sayuran, kambing, dan srigala ditinggal oleh petani, maka kambing akan memakan sayuran, dan serigala akan memakan kambing. Bagaimana cara supaya petani, sayuran, kambing, dan srigala dapat menyebrangi sungai dengan selamat?

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama. Melimpahnya informasi di media sosial, khususnya informasi yang berkaitan dengan agama dan beragama mengharuskan seseorang untuk menerapkan CT. Kemampuan berpikir inilah yang akan menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam beragama.

CT sendiri bukan merupakan hal baru, diperkenalkan pertama kali pada 1996 oleh Seymour Papert dan dipopulerkan oleh Jeanette Wing pada 2006 (Dagiene dan Setance, 2016). Di Indonesia, berpikir komputasi dipopulerkan oleh Prof. Inggriana Liem. Penerapan CT sangat luas lingkupnya, termasuk dalam beragama. Contoh sederhana penerapan CT dalam beragama, misalnya, bagaimana  membuat bak mandi sesuai kaidah supaya air tetap suci di lahan yang terbatas. Atau bagaimana cara membagi zakat supaya tepat sasaran di lingkungan yang hampir semua warganya menengah ke atas, atau bagaimana bank syariah menjalankan usahanya supaya mendapat keuntungan maksimal.[MFR]

Kesaksian Sahabat

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

—- Dr. Sardjuningsih, M.Ag.

Kepergian Pak Shobir untuk selama-lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam tidak hanya buat keluarga, tapi juga rekan maupun mahasiswa beliau. Berikut adalah kesaksian Dr. Sardjuningsih, sahabat sewaktu mahasiswa sekaligus kolega beliau di IAIN Kediri.  

Sejak awal menjadi mahasiswa Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya  pada 1979, Pak Shobir sudah  menunjukkan  kualitas yang luar biasa, melebihi  kompetensi seangkatannya.  Awal menjadi mahasiswa, beliau sudah  diangkat menjadi dosen honorer di Laboratorium Bahasa  IAIN untuk mengajar bahasa Arab. Kemampuan bahasa asing beliau  (Arab dan Inggris ) memang mengagumkan. Semua tahu beliau adalah santri dari Pondok Modern Gontor.  Sebagai mahasiswa baru, beliau sudah dibebaskan atau tidak dibebani untuk mengikuti mata kuliah wajib bahasa Arab dan Inggris.  Sebagai informasi, semua mahasiswa wajib lulus kuliah bahasa asing di IAIN, mulai dari tingkat elementary hingga  intermediate. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Muda.

Keterampilan Pak Shobir sewaktu menjadi mahasiswa dituangkan dalam Buletin Mingguan Mahasiswa Ushuluddin bernama Empirisma (kebetulan saja sama dengan nama Jurnal Prodi SAA ) yang kehadirannya selalu ditunggu -tunggu mahasiswa setiap minggu ke-2 dan ke-4. Beliau aktif mencari penulis yang mau mem-publish tulisannya. Beliau membeli mesin ketik dari uang sendiri untuk kepentingan organisasi intrakampus dan menyalin tulisan tangan dari si penulis.  Saat itu, fakultas tidak menyediakan mesin ketik khusus bagi organisasi intrakampus karena dampak larangan politik masuk kampus yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Saat itu, kegiatan kemahasiswaan banyak yang diamputasi.  Zaman itu juga belum banyak mahasiswa yang mampu membeli mesin ketik sehingga karya ilmiah seperti Risalah maupun skripsi selalu diketikkan kepada seorang juru ketik.  

Kualitas akademik Pak Shobir  juga luar biasa. Beliau lulus Sarjana Muda (BA)  dan Sarjana Lengkap (Drs.) paling  cepat. Beliau mendapat beasiswa karena nilai akademiknya di atas rata-rata. Semua dosen di Fakultas Ushuluddin  mengakui  kelebihan yang beliau miliki, sehingga dosen pun segan pada beliau.  Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para dosen saya yang lain di Ushuluddin, bisa dibilang kecerdasan beliau melebihi rata-rata dosen beliau . Secara pemikiran, beliau berprinsip bahwa kebenaran agama berada di atas kebenaran ilmu pengetahuan karena bagi beliau manusia tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran hakiki. 

Di samping dalam bidang bahasa dan akademik, Pak Shobir juga  memimiliki leadership yang sangat bagus.  Kemampuan orasi beliau memukau dan selalu mampu membuat terpana audiens. Sebagai aktifis organisasi intra dan ekstrakampus, beliau sangat disegani.  Tak heran, berkat kemampuan kepemimpinannya, beliau didaulat untuk mengetuai sejumlah organisasi di Kabupaten dan  Kota Madya Kediri, dan membuat beliau sangat dikenal oleh masyarakat hingga akhir hayat. 

Sebagai seorang pemimpin, beliau adalah sosok yang sangat mengayomi, sabar, ikhlas, rendah hati, dan amanah.  Beliau juga pandai merangkul  kelompok yang berbeda, sehingga beliau berterima di semua kalangan. Beliau juga sangat baik dalam menjaga lisannya. Selama  menjadi temannya, saya belum pernah mendengar ada orang yang  tersakiti  dengan kata–kata maupun tindakan beliau. Beliau sangat menghargai orang lain tanpa memandang usia.  Kami menghormati beliau  bukan hanya sebagai senior, tetapi juga sebagai  seorang intelektual, ulama, kiai, ustaz, dan dosen yang patut diteladani.

Selama berkuliah di Surabaya, beliau tinggal di PP. Darul Arqam, sebuah pondok kecil di belakang kampus, yang sering kebanjiran. Beliau  menjadi pengurus sekaligus ustaz di  pondok tersebut.  Bisa dibilang  adalah sosok berkharisma di lingkungannya.   Beliau menjadi panutan teman-teman beliau baik di pondok maupun di kampus. Dalam setiap riset kelompok, beliau biasanya diminta untuk menentukan lokasi, merumuskan topik,  dan selalu menjadi tumpuan dalam merumuskan hasil riset. Teman-teman beliau banyak sekali   karena beliau pribadi yang sangat ramah, terbuka, dan senang bersilaturahim.

Sejak mahasiswa, beliau sudah hobi membaca dan  mengoleksi buku–buku agama, terutama tentang Perbandingan Agama  dan Filsafat. Beliau mengidolakan seorang dosen filsafat, Drs. Lantip, insya Allah sampai sekarang masih sugeng. Beliau tidak hanya mengagumi pemikiran dosen beliau tersebut, tetapi juga keserhanaan hidup dan kerendahan hatinya. Mungkin inilah salah satu yang turut membentuk pribadi Pak Shobir.  Koleksi buku beliau sering menjadi jujukan teman-teman mahasiswa tatkala membutuhkan buku  untuk referensi  untuk menulis.

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

Allaahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Syurga Allah buatmu guru!

Pak Shobir dalam Ingatan Saya

Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat.

—– Mubaidi Sulaiman

Pada 15 Februari 2021, tepat pukul 06.04 ada sebuah pesan masuk di WAG Alumni Perbandingan Agama (sekarang SAA–red.) STAIN Kediri angkatan saya. Pagi itu lebih cerah dibanding beberapa pagi sebelumnya. Tiba-tiba hari berubah kelabu gegara pesan tersebut. Seorang teman alumni memberikan kabar duka bahwa sekitar pukul 04.30 WIB, Bapak Drs. KH. Muhammad Shobiri Muslim, M.Ag telah meninggal dunia.

Pertemuan awal saya dengan beliau terjadi sewaktu saya menempuh S-1 di Prodi Perbandingan Agama pada 2009-2013. Beliau selalu tampil rapi, lengkap dengan setelan jas berangkat ke kampus untuk mengampu sejumlah mata kuliah, seperti Kristologi, Orientalisme, Oksidentalisme, dan Perkembangan Teologi Kristen Modern.

Ada kejadian lucu saat itu.  Di STAIN Kediri, khususnya di Prodi Perbandingan Agama, terdapat mata kuliah tentang agama lain dan biasanya diberikan oleh kalangan penganut agama tersebut. Ada Pak Totok, seorang Penyuluh Agama Buddha, yang mengajar mata kuliah Buddhisme, dan juga Pak Yuliana, seorang Pananditha, mengajar Hinduisme. Kami sempat mengira Pak Shobir seorang pastor yang hendak mengajar kami. Alasannya, beliau berpakaian rapi layaknya seorang pastur dan gaya bicara beliau bak seorang pastur yang berkhotbah. Apalagi, beliau sangat fasih dan hafal melantunkan ayat-ayat yang terdapat dalam injil beserta hapal nomor surat dan urutan ayat-ayatnya. Kami pun kaget dan tertawa saat beliau bernama Muhammad Shobiri Muslim dan mengaku berdakwah di beberapa masjid milik Pemerintah Kota Kediri.

Saya memang cukup dekat dengan beliau meski tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi beliau. Sampai saat ini saja, saya tidak tahu nama istri dan anak-anak beliau, meskipun hampir setiap bulan saya sempatkan untuk menemui beliau untuk “mencuri” ilmu yang tak sempat beliau sampaikan di kelas. Kebetulan juga rumah beliau yang berada di Dusun Grogol Kelurahan Singonegaran berada satu arah dengan perjalanan saya dari kampus menuju ke Pondok Salafiyah Bandar Kidul tempat saya bermukim bersama dengan teman-teman mahasiswa PA penerima beasiswa Kemenag waktu itu.

Mungkin beliau bukan satu-satunya dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Tetapi pintu rumah beliau selalu terbuka bagi mahasiswa yang ingin berkunjung dan berdiskusi. Hal ini mungkin sangat jarang kita temui pada dosen-dosen muda saat ini, termasuk saya. Di sela-sela kesibukan beliau berdakwah dan mengajar di beberapa kampus, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membuka ruang diskusi di rumah beliau dengan kami para mahasiswanya.

Saya memang bukan satu-satunya mahasiswa yang dekat dengan beliau, bahkan bisa dikatakan ada yang lebih dekat secara personal dengan beliau. Akan tetapi, saya bangga pernah menjadi mahasiswa beliau dan memiliki keterikatan secara emosional dengan beliau. Beliau juga yang mendorong saya dan beberapa orang teman untuk melajutkan studi S-2.

Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang selalu rapi dengan setelan jas saat mengajar, penyabar dan bersahaja, dan pergi meninggalkan kenangan yang mungkin sulit untuk dilupakan sebagai gambaran ideal seorang dosen sekaligus ulama. Beliau begitu dekat dengan para mahasiswanya; tak jarang beliau mengundang mahasiswa untuk berdiskusi di rumahnya. Koleksi buku di rumah beliau membuat saya iri, dan suasananya pun bahkan jauh lebih nyaman dibandingkan di perpustakaan kampus pada waktu itu.

Di dinding rumah beliau tersusun rapi berbagai macam buku yang saya tak tahu pasti berapa jumlahnya karena saking banyaknya. Satu ruangan tak cukup menampung koleksi buku yang beliau punya. Saya ingat ada dua ruang seukuran ruang tamu (bentuknya seperti rumah joglo kuno), berdinding penuh rak dan lemari buku. Satu ruang paling belakang biasanya dibuat untuk ruang pribadi beliau dan keluarga untuk bersantai dan membaca buku. Satu ruang lagi diperuntukkan untuk tempat diskusi dengan kami para mahasiswanya. Ruang diskusi itu pun dikelilingi buku-buku yang jumlahnya mengagumkan. Beliau yang saya kenal memang “gila buku”. Jika ada buku terbaru terkait ilmu perbandingan agama ataupun Kristologi, beliau selalu memberi tahu kami. Bahkan, beliau di kelas maupun di rumah sering menyarankan kami untuk membaca-baca buku ini dan itu.

Istri beliau pun juga gila buku. Sering kali saat datang ke rumah beliau, saya selalu disambut oleh istri beliau dengan menenteng sebuah buku di tangan. Tak jarang ketika saya bertamu ke rumah beliau, saya harus menunggu beliau beberapa saat di ruang diskusi yang penuh dengan buku karena jadwal beliau yang sangat padat dalam satu minggu. Beliau tidak hanya mengajar di STAIN Kediri saja waktu itu, tapi juga di beberapa kampus di luar kota. Belum lagi, beliau menjadi ketua FKUB Kabupaten Kediri dan Ketua MUI pada waktu itu. Pun demikian, beliau selalu menyediakan waktu untuk bertemu pada hari Sabtu sore sekitar pukul 15.00 sampai pukul 17.00.

Beliau dikenal sebagai sosok dosen senior yang teguh dengan prinsip. Pemikiran beliau khas kebanyakan alumni Pondok Modern Gontor yang dikenal getol membela pemikiran Islam vis-a-vis Barat yang begitu melekat dalam orientalisme periode awal. Ketika berdiskusi dengan beliau terkait orientalisme maupun tentang Kristologi, kita seolah juga sedang bertukar pikiran dengan KH. Zamarkasy Dhofier, Ahmad Deedat, Zakir Naik dan Adian Husaini. Beliau menawarkan lawan tanding bagi wacana liberalisme Islam yang tengah menggeliat di lingkungan kampus kala itu.

Pada waktu itu, saya memang lebih suka membaca buku-buku “kiri” dan karya-karya orientalis yang dengan mudah bisa saya dapatkan di perpustakaan kampus maupun saya beli sendiri. Saat itu bisa dikatakan saya dan beberapa teman tergila-gila atau gandrung dengan buku-buku karya pemikir Barat terkemuka, seperti Karl Marx, Theodor Adorno, Nietzche, Ludwigh Feuerbach, Jurgen Habermas, Montgomerry Watt, H.A.R Gibbs, Snouck Horgronje, Marshal Hudson, Mark Jurgen Mayer,  Charles Kuzman dan lain sebagainya. Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat yang saya tekuni.

Menjelang lulus S-1 di STAIN Kediri, intensitas saya untuk bertemu beliau menjadi sangat berkurang. Saya seperti hilang kontak dengan beliau karena sempat beberapa kali nomor HP beliau berganti. Kesibukan menulis skripsi dan menyiapkan studi S-2 pada waktu itu membuat saya jarang bertemu dengan beliau. Kalaupun bertemu, itu hanya terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri dan untuk tujuan silaturahim. Tentu saja, situasi dan perbincangan sangat berbeda.  

Karena kesibukan kerja dan penyelesaian S-2 di Surabaya, saya sudah hampir tidak pernah lagi mengunjungi beliau di rumah. Saat ingin sowan ke rumah beliau tahun lalu, pandemi datang dan saya pun mengurungkan niat saya.  Beberapa waktu lalu, saya masih sempat menanyakan kabar beliau meskipun lewat teman-teman yang masih sempat bertemu dengan beliau. Terakhir menjenguk beliau adalah saat beliau pulang dari opname di rumah sakit.

Saya sempat juga saya mencuri-curi dengar tentang kondisi beliau dari para jamahnya yang aktif mengikuti kajian rutin beliau di beberapa masjid. Sebuah penyesalan bagi saya belum sempat bertemu beliau untuk sekadar berterima kasih dan menyambung silaturahim sebelum akhirnya beliau kembali ke Sang Khalik. Saya dan teman-teman kini hanya bisa mendoakan beliau serta mengamalkan ilmu yang beliau ajarkan.

Terima kasih Bapak Shobir. Bapak adalah teladan bagi kami; “orang tua” yang akan selalu kami rindukan. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali. Aamiin.[MFR]

Pesantren Tanpa Nama

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

—–Mukhammad Zamzami

Desa Gedangsewu Pare barangkali kurang begitu popoler di mata para santri yang ingin menimba ilmu di pesantren. Di kalangan awam, wilayah ini memang cukup familiar sebagai desa yang di salah satu sudutnya pernah ada lokalisasi. Padahal tak jauh dari eks-lokalisasi tersebut ada pondok pesantren yang eksis hingga hari ini dan diasuh oleh sosok kiai karismatis bernama Kiai Baidlowi.

Pondok Pesantren tersebut berada di jalan Teuku Umar, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Tidak cukup jelas kapan berdiri secara formal dan bahkan dilegalnotariskan, karena sesungguhnya Kiai Dlowi—sapaan akrab Kiai Baidlowi—sudah menerima santri sudah puluhan tahun yang lalu. Bagi beliau, tidak perlu nama untuk sebuah lembaga. Jika ada yang berminat belajar, ya tinggal datang ke pesantren ini.

Setidaknya dalam catatan saya—yang pernah nyantri dan ngaji kilatan di sana sekira tahun 2010—ada tiga nama untuk menyebut pesantren ini, antara lain: pertama, al-Asasyah. Nama ini dulunya hanya digunakan untuk pengurusan wesel dan barangkali untuk memudahkan santri mendapatkan kiriman uang dari orang tua pada alamat tertentu; kedua, al-Ishlah. Nama ini sesungguhnya diberikan oleh Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid saat beliau menjabat presiden pada tahun 2000-an dan mengunjungi pesantren tersebut dua kali; dan ketiga, Alabama. Nama ini adalah akronim dari Alfiyah, Balaghah, dan Mantiq. Karena memang pesantren ini concern pada kajian tiga “ilmu alat” ini untuk memahami kesusastraan Arab. Untuk nama terakhir—sepanjang amatan penulis—dipopulerkan salah satu putra Kiai Dlowi, Agus Yazid. Akan tetapi dari ketiga nama itu tidak ada nama yang secara resmi dipakai dan diformalkan oleh Kiai Dlowi.

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

Tempat ngaji di pesantren ini berbentuk rumah panggung yang bertembokkan udara segar—alias langsung berbaur dengan alam yang hijau di sekitar pondok. Suara deras sungai yang berada tepat di utara pondok kerapkali terdengar di sela-sela Kiai Dlowi memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Pesantren ini terbilang unik. Santrinya berkisar puluhan, yang kadang datang dan pergi setelah beberapa selesai putaran ngaji kilatan, walaupun tidak jarang ada beberapa santri yang sampai bertahun-tahun nyantri di sana. Tawaran ngajinya sangat cepat. Untuk belajar ketiga komponen penting memahami bahasa dan sastra Arab, baik Alfiyah Ibnu Mālik, Balaghah (Jawhar al-Maknūn), dan Mantiq hanya dibutuhkan waktu sekira 40 hari/satu putaran. Padahal di pesantren lain, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menekuni ketiga bidang tersebut. Ngaji di pesantren tersebut hanya difokuskan pada ketiga bidang tersebut, tidak ada materi lain. Para santri yang masih belum cukup mengikuti ngaji satu putaran akan mengulang hingga dua, tiga, atau banyak putaran untuk sekadar memaksimalkan pendalaman ketiga disiplin ilmu tersebut.

Pesantren ini memang masuk kategori pondok kilatan, sebab dalam sehari sang kiai bisa memberi materi (ngaji) hingga empat kali. Di pondok lain penyampaian materi untuk satu disiplin ilmu kadang hanya satu kali dalam sehari. Karena itu, dalam 40 hari materi ketiga disiplin ilmu bisa tuntas dipelajari. “Kalau sudah khatam, kita ulang lagi materi ketiganya itu. Dan terus berulang lagi”, ujar beliau. Tidak ada patokan waktu bagi para santri bisa lulus. Yang merasa belum maksimal penguasaan terhadap ilmu yang ditawarkan, santri biasanya akan terus mengulang lagi. Jika sudah merasa mantap dan bisa memahami, mereka akan pamit boyong.

Santri di sana rata-rata memang sudah cukup senior walaupun beberapa di antaranya juga ada yang tamatan Sekolah Dasar. Tidak ada ketentuan di pesantren tersebut bahwa santri yang mengaji harus mukim di sana, karena beberapa santri yang ikut mengaji, ada yang nyantri di pesantren lain atau mereka yang nyambi kursus bahasa Inggris di Tulungrejo Pare. Jarak Tulungrejo Pare dengan Gedangsewu Pare memang tidak jauh sekira 6 sampai 7 kilometer.

Kesederhanaan memang tampak pada figur Kiai Dlowi dan model pesantrennya. Kalau diamati sekilas, tidak ada fasilitas kamar mandi berdinding tembok yang dimanfaatkan oleh santri. Kiai Dlowi dan santri justru lebih sering menggunakan sungai dan kolam untuk aktivitas pemenuhan hajat di belakang. Walaupun di pesantren ada kamar mandi bertembok yang dibangun oleh salah satu wali santri tanpa sepengetahuan Kiai Dlowi saat beliau menunaikan ibadah haji, tetapi beliau–bersama santrinya–lebih memilih menyatu dengan alam bebas di sungai untuk memenuhi kebutuhan hajat, baik mandi ataupun yang lainnya. Sungguh, sebuah pemandangan unik yang “memutus” sekat relasi formal kiai-santri.

Di mata para santri, beliau dikenal sangat dekat dengan seluruh santrinya. Makan bersama dengan santri dalam satu nampan pun sering dilakukan. Beliau yang gemar memancing ini kalau mendapatkan ikan, hasil pancingannya pasti akan dimakan rame-rame. Makan di nampan besar bersama sangat sering terlihat oleh kami yang nyantri pada saat itu. Relasi hierarkis kiai-santri seolah-olah tidak ada sama sekali.

Tak jarang Kiai Dlowi dicurhati terkait segala ihwal problematika yang dihadapi santrinya. Apa yang dipikirkan santri bisa langsung dicurahkan kepada kiai, kapanpun. Kiai pun selalu antusias dan sering memberi pandangan-pandangan bijak pada santrinya. Seringkali ijazah doa diberikannya jika ada problem pelik yang dihadapi mereka. Pun dalam proses pembelajaran, jika ada isykāl pada satu pembahasan tertentu, pasti akan dibahas tuntas oleh beliau, baik pada saat momen pembelajaran atau di luar jam ngaji.

Jangan membayangkan bahwa ada aturan ketat yang mengikat santri yang mukim di pesantren tersebut, karena pesantren ini dibangun atas kesadaran dan kedewasaan santrinya. Saat mengaji, ya mengaji. Saat santai, ya santai. Santri akan malu jika tidak kelihatan mengaji atau memilih tidur, karena jumlah santri yang hanya puluhan saja. Kiai cukup mudah memantau apapun yang dilakukan para santrinya.

Salah satu yang khas di pesantren ini adalah kentongan. Setiap ada hal, mulai dari pengumuman hingga waktunya makan bersama maupun mengaji, kentongan selalu ditabuh. Tujuannya untuk memanggil para santri yang berada di rumah-rumah panggung/angkringan untuk turun atau berkumpul di aula panggung. Pun kalau ada santri atau tamu yang membawa makanan—atau haytsu dalam istilah santri Kedirian–kentongan pun langsung ditabuh. Maknanya, saatnya menikmati makanan bersama-sama.

Al-Fātihah untuk Kiai Baidlowi, semoga beliau selalu dianugerahi kesehatan agar dapat selalu membimbing para santrinya.

Catatan: esai ini terbit pertama kali di https://arrahim.id/mz/ulama-nusantara-kh-baidlowi-dari-gedangsewu-mendirikan-pesantren-tanpa-nama-dan-menghapus-sekat-relasi-kiai-santri/.

Pahlawan Berhijab

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

—- Hajime Yudistira

Beberapa waktu yang lalu dunia maya sempat diributkan tentang berhijab atau tidak Cut Nyak Dien dan Cut Meutia? Satu pihak benar-benar ‘ngotot’ dan berusaha membuktikan bahwa kedua tokoh nasional tersebut berhijab, apalagi dikatakan bahwa kedua tokoh tersebut berasal dari tanah Aceh, yang diklaim sebagai serambi Makkah. Di pihak lain, penganut paham dejilbabisasi berusaha mematahkan pendapat bahwa kedua tokoh tersebut berhijab, dengan mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan hijab.

Pada saat uang baru nominal Rp1.000 emisi 2016 dengan gambar Cut Meutia tidak berhijab juga sempat menjadi topik perbincangan cukup serius saat itu. Apa masalahnya gambar Cut Meutia digambarkan tidak berhijab? Lagi pula, pihak Bank Indonesia (BI) pastinya sudah mendiskusikan dengan seksama sebelum memunculkan seorang tokoh nasional dalam desain uang yang akan diterbitkan. Mereka pasti juga sudah berdiskusi dengan pihak keluarga atau ahli waris tokoh yang akan dipergunakan dalam desain uang tersebut.

Sedemikian pentingkah untuk membuktikan apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak? Dalam konteks kedua tokoh tadi sebagai pemimpin perang yang sangat prominen, saya tidak melihat adanya korelasi antara berhijab dengan perjuangan yang dilakukan tokoh tersebut di masanya.

Saya rasa jauh lebih bermanfaat jika pembahasan tentang Cut Nyak Dien dan Cut Meutia lebih kepada bagaimana tokoh tersebut berjuang di masa kolonial mengalahkan banyak pertempuran sehingga sosok Dien ini ditakuti banyak perwira Belanda. Strategi apa yang digunakan, bagaimana caranya memimpin pasukan di tengah keterbatasan yang ada, bagaimana cara bernegosiasi dengan pihak lawan dan masih banyak aspek yang bisa dipelajari dari sekedar membuktikan apakah mereka memakai hijab atau tidak.

Sebenarnya tidak terlalu sulit juga untuk mengetahui apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak, walaupun sebenarnya tidak ada manfaatnya juga mengetahui mereka menggunakan atau tidak menggunakan hijab. Dalam konteks sejarah dan kerangka keilmuan, tentu semuanya harus didasarkan bukti otentik dan bukti yang sahih.

Harus diakui bahwa saat Belanda bercokol di Indonesia, mereka memiliki pencatatan sejarah lebih baik dibandingkan pencatatan sejarah Indonesia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang saat itu negara mereka jauh lebih maju. Banyak sekali fakta sejarah Indonesia didasarkan kepada pencatatan yang mereka buat saat mereka berada Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Kita bisa mengetahui bahwa banyak sekali perwira Belanda menaruh hormat kepada Cut Nyak Dien itu dari catatan yang mereka buat. Mereka mencatat banyak pertempuran yang dipimpin oleh Dien ini memperoleh kemenangan atas Belanda. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh Dien ini membuat seorang jurnalis Belanda, C. vander Pol menjuluki Dien sebagai “[…] merkwaardigstevrouwen in Nederland-Indie” yang artinya “perempuan yang mengajaibkan Hindia-Belanda”.

Jurnalis tersebut juga menuliskan tentang Dien yang ‘bertakhta’ di hutan sebagai “[…] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana –[sesuatu] yang tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini […]” setelah kematian suaminya, Teuku Umar (1899).

Catatan-catatan sejarah seperti itu kita dapatkan dari catatan sejarah yang dibuat Belanda dan saat ini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Foto-foto Cut Nyak Dien juga ada tersimpan di sana dan tidak mengenakan hijab
(https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/…/7835…). Bagi saya tidak penting juga mengetahui apakah Cut Nyak Dien berhijab atau tidak? Jauh lebih penting mengetahui atau mempelajari esensi dari nilai perjuangan beliau.

Demikian juga dengan Cut Meutia, tidak perlu dipermasalahkan beliau berhijab atau tidak, tetapi kalaupun benar-benar ingin mengetahui, silakan ditelusuri dari jejak sejarahnya dengan bukti-bukti otentik tentunya. Jangan hanya tebak-tebak buah manggis. Jangan pula memastikan bahwa karena beliau dari Aceh, lantas sudah pasti mengenakan hijab, apa lagi dikaitkan dengan Aceh yang dikenal sebagai serambi Makkah dengan perda syariahnya (ingat zaman kolonial belum ada perda syariah).

Salah satu artikel yang saya baca, ahli waris atau keturunan Cut Meutia sudah mengkonfirmasikan bahwa tokoh nasional Cut Meutia tidak mengenakan hijab. Seorang anak keturunan dari keluarga Cut Meutia, bernama Teuku Ramli menjelaskan bahwa perempuan Aceh dulu tidak ada yang menggunakan hijab. Mereka hanya menggunakan semacam selendang yang diletakkan di kepala (Tirto.id, Desember 2016).

Saya tidak pro atau kontra terhadap kelompok, baik yang ingin membuktikan tokoh tersebut berhijab atau tidak, maupun kelompok yang ingin membuktikan apakah mereka tidak berhijab. Bagi saya, hal itu tidak seharusnya diperdebatkan. Saya menghargai orang yang memilih menggunakan hijab, seperti saya juga menghargai orang yang memutuskan tidak menggunakan hijab.

Nilai diri seseorang orang memang tidak seharusnya dinilai dari pakaiannya, dari agamanya, dari rasnya, atau dari apa pun identitas yang ada pada orang tersebut. Nilai diri seseorang seharusnya dilihat dari isi kepalanya, dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar dan dari kemaslahatan yang diciptakan dengan adanya orang tersebut. Dalam Islam dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. [MFR]

Hijab bukan Milik Islam Saja

Umat Islam tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”

—Mubaidi Sulaeman

Pada 2018, saya menulis sebuah artikel di jurnal ilmiah Spiritualis berjudul “Menjernihkan Posisi Hijab Sebagai Kritik Terhadap Ekspresi Keagamaan Fundamentalisme Islam”. Pada waktu itu, artikel ini sempat saya ikut sertakan dalam lomba karya tulis ilmiah di Pascasarjana IAIN Kediri dan mendapat penghargaan harapan ketiga.

Ada yang menarik komentar para juri ketika saya mempresentasikan karya ilmiah saya ini. Rata-rata para juri kurang setuju dengan beberapa pendapat yang saya ajukan dalam artikel ini. Entah, para juri telah membacanya dengan cara seksama atau mungkin memiliki padangan tersendiri terkait kewajiban berhijab bagi setiap muslim, yang pasti argumen para juri telah mengarah kepada kesimpulan bahwa saya tidak setuju dengan “kewajiban berhijab pada setiap Muslimah”—meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya demikian.

Memang  saya kurang setuju pemaksaan budaya berjilbab di kelompok masyarakat tertentu di luar institusi Lembaga Pendidikan Islam atau organisasi Islam yang tujuan mewajibkan hijab sebagai sarana pembelajaran bukan persekusi hak seorang muslimah. Sebab, hijab merupakan hak bagi seorang muslimah, bukan kewajiban yang dipaksakan atau dilembagakan untuk menilai keislaman seseorang, dengan alasan jilbab sebagai upaya menutup aurat muslimah. Artinya, ketika seorang muslimah menginginkan untuk berhijab, orang lain atau lembaga tertentu juga tidak boleh melarangnya.

Peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di sebuah kota yang mewajibkan para siswinya, baik muslimah ataupun nonmuslimah, untuk mengenakan hijab merupakan sebuah persekusi hak seorang siswi. Hal tersebut tidak dapat lagi dikatakan sebagai sarana pembelajaran budi pekerti di sekolah. Pemerintah daerah yang mewajibkan hijab sebagai pakaian resmi di sekolah telah bertindak represif terhadap kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Hijab yang akhir-akhir ini merepresentasikan golongan umat Islam pada hakikatnya tidak dapat secara semena-mena dipaksakan untuk diterima seluruh siswa yang bersekolah di kota tersebut, apalagi kepada para siswi yang nonmuslimah, karena sejak awal kita telah sepakat bahwa agama dan budaya yang ada di Indonesia bukan hanya agama Islam dan budaya agama Islam semata.

Kalaupun hijab dianggap sebagai ajaran agama Islam, pemerintah daerah tersebut seharusnya sadar dan melakukan kajian secara menyeluruh benarkah ada korelasi berhijab dengan ajaran agama Islam secara historis maupun teologis, untuk klaim kepemilikan hijab sebagai ajaran agama Islam dan muslimah wajib berhijab? Padahal masih terdapat “pertentangan” di kalangan ulama terkait kewajiban berhijab. Agar Perda yang dibuat tidak terkesan emosional dan terlihat rasional, bukankah sudah selayaknya sebuah perda dibuat berlandasakan riset yang kuat, bukan semata-mata dibuat berdasarkan “suka dan tidak suka” dari Pemerintah daerah tersebut. Realita menunjukkan bahwa banyak sekali perda dibuat oleh pemerintah tanpa riset sehingga terkesan demikian.    

Dalam riset yang saya jadikan artikel di jurnal ilmiah di atas, secara historis saya menemukan bahwa hijab bukanlah monopoli milik umat Islam semata. Tetapi, ia merupakan produk budaya dan bagian dari ekspresi kebudayaan masyarakat pra-Islam.  Hijab merupakan bentuk peradaban yang sudah dikenal beratus-ratus tahun sebelum datangnya Islam; ia memiliki bentuk yang sangat beragam. Hijab bagi masyarakat Yunani memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Romawi. Demikian pula halnya dengan hijab pada masyarakat Arab pra-Islam (Muhammad Farid Wajdi, 1991: 335). Ketiga masyarakat tersebut pernah mengalami masa keemasan dalam peradaban jauh sebelum datangnya Islam. Hal ini sekaligus mamatahkan anggapan yang menyatakan bahwa hijab hanya dikenal dalam tradisi Islam dan hanya dikenakan oleh wanita-wanita muslimah saja.

Jauh sebelum ketiga peradaban tersebut hijab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3000 SM) kemudian berlanjut dalam Code Hamurabi (2000 SM) dan Code Asyiria (1500 SM) (Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, 2003: 12). Saat terjadi perdebatan tentang hijab di Prancis tahun 1989, Maxime Radison, seorang ahli Islamologi terkemuka dari Prancis mengingatkan bahwa di Asyiria ada larangan berjilbab bagi wanita tuna susila. Dua abad sebelum masehi, Tertullen, seorang penulis Kristen apologetik, menyerukan agar semua wanita berjilbab atas nama kebenaran (Husein Muhammad, 2002: XIX). Dengan kata lain, kewajiban berhijab pada masa-masa tersebut merupakan upaya untuk membedakan strata sosial dari sebuah masyarakat dan bahkan menjadi budaya pada agama sebelum Islam hadir.

Pembedaan strata atau identitas sosial dengan menggunakan hijab pun terjadi di kalangan umat Islam pada masa awal Islam hadir. M. Quraisy Shihab menyatakan, bahwa wanita-wanita muslim pada awal Islam di Madinah memakai pakaian yang sama sebagaimana umumnya semua wanita, termasuk wanita tuna susila dan hamba sahaya. Mereka semua juga memakai kerudung, bahkan hijab, tapi leher dan dadanya mudah terlihat dan tak jarang juga mereka memakai kerudung tapi ujungnya dikebelakangkan hingga leher telinga dan dada mereka terus terbuka.

Keadaan inilah yang digunakan oleh orang-orang munafik untuk mengoda wanita muslimah. Ketika mereka diingatkan atas perlakuan yang mereka perbuat mereka mengatakan “kami kira mereka hamba sahaya”. Hal ini disebabkan oleh karena pada saat itu identitas wanita muslimah tidak terlihat dengan jelas, dan dalam keadaan inilah Allah SWT memerintahkan kepada wanita muslimah untuk mengenakan hijabnya sesuai dengan petunjuk Allah kepada Nabi SAW dalam QS. Al-Ahzab: 59 (Quraisy Syihab, 1998: 171-172.).

Hal ini mirip dengan hadis Nabi yang menganjurkan kaum muslimin untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot; sebuah hadis yang hampir disepakati kebanyakan ahli fikih sebagai anjuran yang bermaksud temporal (liqasdil waqtiy). Inilah ketika itu salah satu simbol pembeda antara orang muslim dengan orang nonmuslim, yang notabene mempunyai ciri sebaliknya; biasa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot.

Jadi, dari konteks ayat dan hadis tersebut, jelas terlihat maksud-maksud pembedaan dan identifikasi yang lebih jelas antara orang mukmin dengan yang nonmukmin, perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslimah. Ini mengindikasikan bahwa hukum yang ditetapkan tersebut adalah  hukum yang bersifat temporal, selama masa dibutuhkannya pembedaan itu, bukan hukum yang kekal (hukm mu’abbad).

Dapat diambil kesimpulan bahwa memang benar menutup aurat adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah lewat firman-Nya atau lewat hadis Nabi Muhammad, akan tetapi cara menutup aurat tersebut sangatlah beragam. Adapun hijab bagi wanita muslim digunakan sebagai identitas keagamaannya memang mengalami pasang surut dalam penerapannya. Akan tetapi umat Islam, tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”, apalagi di Lembaga Pendidikan Pemerintah Daerah yang dengan jelas negara ini dibangun atas berbagai suku dan kemajemukan budaya keagamaan.[MFR]

Aroma Toleransi di Seporsi Nasi Lawar

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa.

—- Bethriq Kindy Arrazy

Pada awal 2019, saat berkunjung ke Pulau Bali, saya mengamati setiap sudut di Bali bertebaran warung nasi lawar yang cukup populer sebagai salah satu kuliner khas Bali. Seperti halnya warung nasi tempong di kampung halaman saya di Banyuwangi yang beragam penjual serta cita rasanya.

Rasa penasaran tersebut kujawab sendiri dengan mendatangi warung nasi lawar di kawasan Jalan Pulau Belitung. Setiap sore hari nyaris di waktu penghujung petang, warung tersebut sering ramai dikunjungi pembeli, mulai dari tukang ojek, kuli bangunan, karyawan kantor, sampai ibu-ibu yang kehabisan lauk pauk di rumahnya.

Seusai mengantri cukup lama, tiba giliranku untuk memesan menu. Pak Nengah dan Bu Kadek, pasangan suami istri sekaligus pemilik warung sudah bersiap dengan posisinya masing-masing. “Maaf Pak apakah nasi lawar ini mengandung olahan.” “Tidak menggunakan daging babi Mas. Halal!” kata Nengah dengan suara tegas memotong kalimatku yang tak sempat kutuntaskan.

Tanpa memperkenalkan diri, Nengah seketika mengenaliku sebagai seorang muslim. Mungkin karena diamelihat jenggotku tumbuh di dagu, juga plat nomor kendaraanku yang tertera huruf P di depannya. Huruf tersebut mengasosiasikanku berasal dari Jawa Timur, kawasan tapal kuda paling timur yang melingkupi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso yang dominan dengan warga muslim.

Mendengar pertanyaan itu, Nengah tak lantas tersinggung atau menunjukan ketidaksukaannya. Dia mengapresiasi keberanianku untuk bertanya sekaligus mengonfirmasikan keraguanku akan nasi lawar yang dijualnya. Baginya, hal tersebut wajar bila berhubungan langsung dengan keyakinan yang di dalamnya memuat doktrin perintah dan larangan.

“Selama ini dari sebagian saudara muslim, mohon maaf, kurang bergaul dan berinteraksi untuk memahami bahwa nasi lawar adalah makanan enak yang kaya bahan rempah,” katanya.

Nengah tidak menampik tudingan  tentang  nasi lawar dianggap makanan haram. Walau juga tidak menganggap sepenuhnya benar. Secara umum, penyajian lawar terbuat dari bahan baku utama daging cincang, sayur, parutan kelapa yang dicampur dengan sejumlah rempah-rempah. Tidak lupa sate lilit dan kuah ayam betutu sebagai pelengkap rasa nasi lawar.

Lawar juga memiliki dua jenis sajian berdasarkan warna. Pertama, lawar putih yang berisi bahan-bahan original yang sudah disebutkan sebelumnya. Kedua, yang menjadi kontroversial adalah lawar merah yang salah satu bahan bakunya menggunakan darah yang berasal dari daging hewan yang menjadi pelengkapnya—dengan cara mencampurnya bersama bahan original sehingga nampak berwarna merah.

Bagi keyakinan sebagian umat Hindu, lawar merah sebagai makanan dipercaya dapat memberikan tambahan tenaga hingga memberikan dampak positif untuk kesehatan. Darah yang digunakan juga bukan sembarang darah. Tidak bisa menggunakan darah ayam, bila daging cincang yang digunakan adalah daging babi, maka darah babilah yang digunakan sebagai campuran pelengkap.

Adapun penamaannya beragam, sesuai dengan jenis daging yang digunakan. Misalnya, sebutan lawar ayam berarti daging yang digunakan adalah daging ayam. Lawar kambing, maka daging yang digunakan adalah daging kambing, begitu seterusnya. Penamaan berdasarkan jenis daging seperti ini lebih populer digunakan di warung-warung nasi lawar pada umumnya, daripada berdasarkan jenis warna.

Selain diperjualbelikan, nasi lawar juga biasa dimanfaatkan sebagai hidangan keluarga. Tidak kalah penting nasi lawar juga dipergunakan untuk kegiatan adat, agama, dan hari raya. Bahkan, lawar juga dipercaya sebagai sarana atau medium untuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena bahannya yang sebagian besar berasal dari alam. “Sebagai wujud syukur karena sudah dicukupkan,” kata Kadek.

Selama ini sebagian dari muslim beranggapan nasi lawar adalah makanan haram. Walau sesungguhnya ungkapan tersebut sebaiknya tidak untuk digeneralisasi sebagai sebuah ketakutan pikiran. Kalangan muslim perlu melakukan pembuktian empiris untuk mengklarifikasinya. Mengingat hasil olahan nasi lawar terdapat banyak varian jenis, termasuk bahan daging yang digunakan.

Nasi lawar saat ini tidak tepat lagi bila diasosiasikan secara brutal. Perihal nasi lawar adalah buatan warga umat Hindu Bali semata yang secara langsung disematkan atau distempel terdapat campuran darah binatang tertentu, dalam  hal ini adalah babi. Beragam kalangan non-Hindu dan non-Bali kini sudah dapat membuat sendiri. Walau barangkali dari aspek rasa mungkin saja berbeda.

Namun rasanya tidak hanya nasi lawar yang mendapatkan kecurigaan serupa. Beragam respons label makanan berbahan baku daging babi dapat ditemui sebuah warung menggunakan jargon, “100% haram” sebagai penanda menu yang dijual tidak layak disajikan kepada kalangan muslim. Pun sebaliknya, jamak ditemui kalangan muslim berdagang makanan dengan menggelar lapak bernuansa etnosentris seperti penyematan nama daerah dan agama, misalnya: Warung Muslim Banyuwangi.

Hal demikian sah-sah saja untuk dilakukan sebagai penentu segmentasi pembeli makanan. Selain juga sebagai bentuk keterbukaan atau transparansi penjual kepada pembeli. Sekalipun soal rasa, otoritas pembelilah yang paling berkuasa. Walaupun beberapa momentum tertentu, kita (pembeli) pernah merasakan kekecewaan yang luar biasa karena ulah pedagang nakal yang juga seiman turut menjual makanan dengan bahan daging babi sampai tikus.

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa. Hanya bahan makanan apa yang dibuat dan dalam kondisi (waktu) seperti apa makanan ‘tertentu’ layak dimakan bisa terbuka dalam perdebatan. Maka, lawar dapat dibuat sesuai selera penganut agama mana pun, termasuk muslim. Maka pilihan selera kuliner yang berbeda perlu dihormati tanpa perlu mencaci.

Bila waktu Anda sedikit longgar dan sedang berlibur di Bali, cobalah sesekali jalan-jalan di beberapa sudut di Bali. Barangkali dengan cara demikian, Anda dapat menemukan warung nasi lawar langganan yang cocok dengan selera Anda untuk menjawab segala keraguan yang mengendap di kepala. Seperti saya yang sudah terlanjur cocok dan sesekali masih menikmati nasi lawar sembari mendengarkan Nengah dan Kadek berkisah seperti kepada kerabatnya sendiri.[MFR]

Pindah Agama

Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.

—- Hajime Yudistira

Fenomena pindah agama terkadang disikapi masyarakat dengan berlebihan, terutama jika dilakukan oleh orang terkenal atau selebritas. Pindah agama seharusnya tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, apa lagi sampai menjadi kehebohan. Seperti halnya seseorang yang hari ini memilih mengenakan pakaian warna apa, atau ingin makan apa, tentunya itu adalah hak dari orang itu. Dia bebas memilih warna pakaian yang ingin dia kenakan atau bebas memilih jenis makanan seperti apa yang ingin dimakannya. Hal ini juga termasuk soal agama apa yang ingin dia anut.

Dalam konteks Islam, sudah jelas termaktub bahwa dalam hal beragama itu tidak boleh ada pemaksaan. Jadi soal keimanan itu adalah ranah pribadi dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampurinya. Pemaksaan di sini juga bukan hanya pemaksaan secara harfiah, tapi juga secara halus. Sering kali kita melihat jika ada yang pindah agama, pelakunya akan dirundung, diledek, bahkan dihujat tidak karuan. Keimanan seseorang itu adanya di dalam hati masing-masing persona, dan itu benar-benar urusannya dengan Tuhannya.

Perpindahan seseorang ke agama tertentu sama sekali tidak membuat perbedaan terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipilih. Misalnya, ada yang meninggalkan Islam dan masuk Hindu, apa Islam menjadi hancur karenanya? Atau Hindu jadi luar biasa? demikian juga sebaliknya, tentu tidak berpengaruh apa pun.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya prihatin melihat fenomena ini. Jika ada orang Islam yang berpindah agama, maka orang tersebut akan dihujat habis-habisan, dan sebaliknya, jika ada orang dari agama lain masuk Islam maka ia akan dielu-elukan sedemikian rupa. Bahkan pernah saya lihat perpindahan agama yang disiarkan oleh media.

Kalau mau jujur, perpindahan agama seseorang tidak berpengaruh apa pun terhadap agama itu sendiri. Pengaruhnya akan terasa oleh diri yang bersangkutan dan bukan juga terhadap orang lain. Apakah perpindahan agama menjadikannya persona yang lebih baik dari sebelumnya? Jika Iya, bisa dikatakan perpindahan agama tersebut membawa dampak baik bagi dirinya.

Demikian pula dengan fenomena ‘berhijrah’ yang belakangan ini juga marak terjadi, banyak sekali fenomena itu dipertontonkan dan yang banyak terjadi adalah dalam hal berpakaian. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah, tapi esensi dari berhijrah itu tentu bukan dalam cara berpakaian. Berhijrah dalam konteks ini tentu lebih dalam hal akhlak, yaitu mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Percuma saja mengubah gaya berpakaian jika tidak diiringi dengan perubahan akhlak yang lebih baik.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa berhijrah pakaiannya dulu, kalau hati/akhlak nanti bisa menyusul, yang penting berhijab saja dulu, begitu katanya. Hal ini membuat siapa pun yang memutuskan berhijrah mengenakan jilbab, lalu dielu-elukan bak pahlawan. Menurut saya hal ini justru salah kaprah, justru yang perlu berhijrah justru hatinya dulu, setelah hatinya berhijrah, maka secara otomatis fisik akan mengikuti. Tidak bisa dibenarkan logika yang mengatakan fisik dulu, lalu nanti hati akan mengikuti. Itu adalah logika yang terbalik.

Berhijrahlah mulai dari hati dengan memperbaiki akhlak, memperindah tingkah laku, membenarkan pola berpikir dan sebagainya, setelah itu biarkan dirinya sendiri yang akan mengubah tampilan fisiknya sesuai dengan apa yang dipahaminya. Tidak ada satu orang pun yang berhak memvonis seseorang itu benar atau salah, masuk surga atau masuk neraka dan seterusnya, karena itu bukan urusan manusia. Saya sering sekali melihat seseorang berperan sebagai Tuhan yang bisa mengatakan si A akan masuk surga atau neraka.

Tugas manusia hanya berbuat baik sesuai dengan apa yang dia pahami tentang kebaikan itu sendiri, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang tahu seseorang akan masuk surga atau neraka, itu benar-benar hak prerogatif Tuhan. Seseorang yang di mata manusia selalu melakukan kesalahan atau ahli maksiat, belum tentu akan masuk neraka, begitu pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat kebaikan atau ahli ibadah juga belum tentu masuk surga.

Saya ingat hadis Nabi yang menceritakan tentang seorang pelacur yang selama hidupnya melacur, tetapi pada akhirnya ternyata diangkat ke surga.Dalam cerita tersebut dikisahkan sang pelacur di akhir hidupnya pernah berbuat kebaikan, yaitu memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan terompahnya. Ada pula hadis Nabi yang menceritakan seorang ahli ibadah yang di akhir hidupnya berkata bahwa dia layak masuk surga karena selama hidupnya selalu beribadah (ada kesombongan di hatinya), Nabi mengatakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang bangkrut. Itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan selama hidupnya tidak berguna karena di akhir hidupnya dia berbuat kesalahan, yaitu berlaku sombong.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam agama Islam itu yang dilihat adalah kualitatifnya, bukan kuantitatif. Kembali kepada urusan perpindahan agama, jika ada seorang umat Islam yang berpindah agama, maka tidak lantas itu adalah kehancuran umat. Demikian juga sebaliknya, jika ada seorang yang masuk agama Islam, bukan berarti juga itu adalah kejayaan Islam. Sekali lagi, biasa saja dalam menyikapi fenomena perpindahan agama, baik dari Islam ke luar Islam atau dari luar Islam ke dalam Islam.

Banyaknya jumlah pemeluk suatu agama itu tidak serta merta menjadikan agama itu menjadi agama yang terbaik. Sekali lagi, lihat bagaimana kualitas pemeluk agama itu sendiri, karena itulah yang terpenting. Terkadang dengan banyaknya pemeluk suatu agama, itu justru membuat pemeluknya kehilangan kontrol terhadap dirinya karena merasa superior tadi. Seperti waktu kita kecil dulu, saat kita beramai-ramai, biasanya akan menjadi lebih berani menghadapi sesuatu hal. Hati-hati, semakin besar populasi suatu agama, maka semakin mudah tergelincir.

Permasalahan dalam keberagamaan kita di Indonesia yang mendasar adalah agama acap kali yang ditarik sedemikian rupa menjadi identitas, padahal agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas yang tidak adil, misalnya identitas kulit hitam pada zaman Nabi Muhammad yang biasa dijadikan budak di masa itu. Dengan kehadiran agama Islam, identitas warna kulit itu justru dihapus dengan menjadikan Bilal bin Rabbah –sahabat nabi yang berkulit hitam–menjadi muazin. Juga identitas perempuan yang tidak berharga –bayi perempuan dibunuh–di zaman jahiliah.

Jadi Agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas tidak adil seperti itu. Salah kaprah keberagamaan kita saat ini justru agama dijadikan identitas yang justru memerangi identitas yang lain. Bahkan oleh sebagian kalangan, Islam yang dijadikan identitas ini memiliki fesyen tersendiri, seperti misalnya bergamis atau bercelana cingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki atau bercadar bagi yang perempuan. Padahal Islam tidak mengenal fesyen yang seperti itu. Pakaian Islam itu adalah pakaian terhormat yang menutup aurat, hanya itu.Ingat, Islam itu bukan Arab. Menjadi Islam itu bukan berarti Anda harus menjadi Arab yang bergamis, lalu berjanggut atau identitas Arab lainnya.

Kalau pun Anda ingin menjadikan agama sebagai identitas, maka itu adalah identitas transenden, bukan identitas imanen. Artinya bukan identitas kita dengan manusia lain, melainkan identitas kita terhadap Tuhan. Contohnya, dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa untuk menyebut Nabi Muhammad, maka harus disertai dengan gelar keagungannya, yaitu nabi atau rasul. Allah sendiri dalam Alquran selalu menyertakan gelar keagungan tersebut untuk menyebut Nabi Muhammad. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, sering kali beliau disebut hanya namanya saja.

Tadi dikatakan bahwa Islam itu adalah identitas transenden dan bukan imanen, terlihat saat Nabi Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan para musyrikin di wilayah Hudaibiyah, Makkah. Dalam perjanjian itu ditulis nama Nabi Muhammad Rasulullah sebagai orang yang menandatangani perjanjian tersebut. Orang musyrikin mengatakan kenapa harus menggunakan kata “Rasulullah”, padahal mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan meminta kata “Rasulullah” itu dihapus. Para sahabat sempat bingung atas permintaan kaum musyrikin itu, karena mereka berpendapat bahwa identitas Islam sedang diserang dengan permintaan tersebut.

Tanpa diduga, ternyata Nabi Muhammad sendiri yang mengatakan  kepada para sahabatnya bahwa kalau memang kaum musyrikin itu meminta kata “Rasulullah” itu dihapus, maka hapus saja. Tulis saja Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam ranah privat kita dengan Tuhan, maka kita begitu mengagungkan Nabi Muhammad sampai titik yang bersifat identitas, yaitu jangan menyebut tanpa gelar keagungannya, tapi di ranah publik dalam hubungan antar manusia, identitas itu tidak ada.

Jadi yang perlu digarisbawahi, bersikaplah biasa saja terhadap fenomena perpindahan agama. Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.[MFR]