Catatan Ramadan Djeng Fatma – Part 1

Ramadan bukan sekadar bulan yang melulu berhias ibadah. Tetapi ia juga menjadi momen bagi muslim untuk melakukan refleksi diri (muhâsabah), terutama di masa sulit selama pandemi ini. Kebijaksanaan bisa datang dari hal-hal kecil di sekeliling kita, tentu bagi mereka yang mau merenung dan belajar. “The Greatness in the Small Things,” kata pepatah.
 
“Catatan Ramadan Jeng Fatma” hadir sebagai bentuk refleksi dari penulisnya akan segala hal di sekitar kita; mulai dari masalah perempuan, keluarga, pekerjaan, kisah asmara dan sebagainya. Dikemas dalam bahasa yang renyah dan enak dibaca, semoga catatan ini menggugah kesadaran kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengantar Admin

1# Perempuan dan Anak

Sekian tahun lalu, ada kakak angkatan yang telah menikah kemudian beberapa tahun kemudian belum dikaruniai keturunan. Orangnya sangat baik, berdedikasi dalam pekerjaan, kreatif, dan jiwa sosialnya tinggi.

Dulu, sekitar waktu kuliah, saya orang yang suka ikut-ikutan untuk guyon kepada orang yang baru menikah: “Udah hamil belum?”

Tapi semenjak saya mengenal kakak angkatan itu beserta sebagian cerita perjalanan reproduksinya, saya jadi berjanji pada diri sendiri, sampai sekarang, untuk tidak akan pernah menanyakan kehamilan pada orang yang telah menikah.

Saya melihat perempuan-perempuan di sekitar saya tetaplah memiliki kualitas diri yang baik, dengan atau tanpa anak. Sudah cukup rasanya saya mendengar cerita teman yang keguguran, 10 tahun menikah belum berputra, apalagi hanya 2-3 tahun menanti buah hati. Atau kisah nyata yang dibukukan, misalnya jungkir balik berkali-kali inseminasi atau program bayi tabung tapi gagal. Kasus lain, bayi lahir beberapa hari, kemudian meninggal

Bahkan ke kakak kandung sendiri, saya tidak pernah resek untuk segera menyuruhnya punya anak kedua setelah anak pertamanya sekian tahun. Saya pelan-pelan bicara pada ibu juga, bahwa apapun yang kita pikir baik untuk disarankan ke seorang wanita dan pria tentang memiliki anak, tentu orang yang paling “mikir” adalah pasutri itu sendiri.

Mereka punya pilihan-pilihan hidup sendiri, pertimbangan, persiapan biaya, kemampuan mengasuh, serta memberi pendidikan

Kalau saya pernah terucap dengan sengaja untuk sekadar basa-basi, “gimana, sudah isi?” dan ada yang tersakiti, saya mohon maaf. Mestinya itu tidak sengaja, karena saya berjanji untuk itu tadi. Termasuk juga ke para mahasiswa saya yang sudah menikah.

Kata teman saya yang belajar hadis, “Sebaik-baik muslim adalah yang saudaranya selamat dari lisannya.”Artinya, tidak banyak menyakiti orang lain dengan perkataannya

Baca juga:   Catatan Ramadan Djeng Fatma - Part 2

Sangat mudah tuhan menitipkan anak atau tidak pada suami-istri, seperti kisah Nabi Zakaria

Saya menghargai orang lain bukan dari berapa jumlah anaknya, tapi bagaimana cara berpikir, merasa, bersikap, dan berperilakunya.

2#Perempuan dan Tawa Lelaki

Ah, senang sekali perempuan mendukung perempuan. Perempuan yang merasa berdaya, merdeka, dan memutuskan untuk menjadi aktivis di lingkungannya.

Kadang miris juga melihat dua kutub posisi perempuan yang berbeda. Di lain pihak, ada perempuan-perempuan inspiratif macam pemilik yayasan, pembawa acara, pendiri sekolah, menteri, presiden, pengusaha, selebgram yang menghibahkan donasi milyaran.

Sementara di belahan bumi lain, perempuan dimaknai tak lebih dari meme dan stiker menggemaskan, yang disebar oleh banyak orang di grup tanpa tahu itu anak atau istri siapa.

Perempuan yang dijadikan objek lucu-lucuan, dengan gambaran kulit putih mulus, rambut hitam lebat, kadang kala juga baju ketat dan belahan dada rendah. Sesuatu yang menimbulkan tawa lelaki (dan mungkin perempuan lain?) ketika dilontarkan di grup.

Please be mindful!

3#Gusti Mboten Sare

Kemarin seorang asisten rumah tangga (ART) mengeluh kepada saya.

“Saya ini sudah mengamalkan apa kata ustaz di Youtube. Wiridan, baca salawat seribu kali, alfatihah seratus kali, pokoknya semua. Kata Youtube, itu akan membuat kita dapat rejeki melimpah, duit yang banyak. Tapi saya sudah berbulan-bulan salawatan, nggak kaya-kaya juga!”

Ah, saya jadi ingat kata-kata Yusuf Mansur atau siapalah. Mungkin kita banyak wirid dan nggak kaya. Tapi Allah beri kita hidup tenang. Mungkin kita banyak sedekah dan tetap miskin. Tapi Allah jauhkan dari musibah dan penyakit

Mungkin kita berbuat baik dan tetap dijahatin orang. Tapi Allah membuat anak-anak kita jadi anak berbakti.

Gusti mboten sare!

4#Rezeki, Tuhan yang Mengatur

Tadi pagi, saya ngobrol dengan salah satu perempuan. Dia cerita tentang entah kenapa keadaan ekonominya begitu-begitu saja.

“Si A, kalau dipikir-pikir, dia tidak kerja. Suaminya juga kerja serabutan. Tapi si istri selalu bisa dandan tebal dan pakai baju bagus. Gaya hidupnya seperti orang berpunya.

Baca juga:   Catatan Ramadan Djeng Fatma - Part 2

Sementara aku, sudah harus bangun jam 1 malam untuk nyiapkan dagangan. Pagi siang, keliling untuk menitipkan jajan. Sore dan malam harus putar otak lagi, harus terus gerak, untuk bisa memenuhi makan sehari-hari. Jujur, aku beberapa kali iri dengan si A. Kenapa dia bisa begitu dan aku tidak? Apa salahku? Kurang kerja keras apa aku?”

Sungguh, kondisi pagi yang sejuk, cocok untuk meng-ghibah-kan orang lain. Tapi saya ingat, ini Ramadan.

Tentu bukan hanya ini kasus yang saya temui. Bahkan mungkin, setiap diri kita pernah merasa tidak terima dengan kondisi yang ditetapkan Tuhan, lalu bertanya-tanya, salah saya apa

Seperti video @dewisandra yang baru saya lihat. Saya baru tahu juga bahwa dalam episode hidupnya, pernah sangat putus asa hingga berpikir untuk bunuh diri. Dua tahun stres dan pikiran selalu kosong, ketika di luar panggung.

Menghadapi rumah tangga yang hancur, dicap perempuan bermasalah oleh banyak orang, dll. Dia bertanya pada diri sendiri, “Tuhan, sebegitu dosanya ya, diriku? Salahku apa? Aku tidak pernah menipu orang. Menyakiti orang dengan sengaja. Mencuri. Mengapa Kau buat jalan hidupku begini?

Saya sekarang dalam fase malas menghakimi orang lain. Siapa yang lebih bekerja keras dan siapa yang lebih malas. Yang lebih rajin salat dan tidak. Yang lebih banyak bersedekah dan tidak. Yang mengakibatkan satunya kaya dan satunya tetap “miskin.”

Ghibah tadi pagi pun berakhir ditiup angin. Saya diam mendengarkan saja, karena dia tidak meminta pandangan ataupun nasihat saya. Dan saya tidak hobi memberi nasihat.

Tetapi satu yang saya yakin sekali: Tuhan Maha Melihat, Maha Teliti. Tidak mungkin salah catat amal dan rezeki orang

5#Selebriti dan Derma

Memasuki era dimana “selebriti” yang tidak tampak berderma di waktu sulit akan dihina, dan yang berderma terang-terangan dicap riya’.

Memaksa mereka melakukan klarifikasi terbuka di media bahwa blablabla…

Ironi. Bahkan seprivat keikhlasan pun harus dijelaskan.

Bagaimanapun, tetaplah berderma, teman-teman

Biarkan niatmu hanya Tuhan yang Tahu.

(To be continued)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *