Catatan Praktik Dialog Bersama Komunitas Buddhis di STAB Batu Malang

Tulisan ini adalah bagian dari tugas mata kuliah “Praktikum Dialog Agama” (SAA/Sem 5) di bawah bimbingan dosen pengampu Asyari, M. Ag.

Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) yang terletak di Jl. Raya Mojorejo, kota Batu Jawa Timur ini merupakan sekolah tinggi yang menerapkan sistem perpaduan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Kurikulum yang dipakai juga tidak kalah dengan sekolah tinggi pada umumnya. Yang membuatnya berbeda adalah sekolah ini mencetak lulusan sarjana sekaligus agamawan siap untuk mendedikasikan dirinya untuk umat dan bangsa.

Dilansir oleh beberapa sumber terkait bagaimana para mahasiswanya menempat dan belajar di STAB tersebut adalah berkeinginan untuk mengamalkan dan mengajarkan dharma ajaran Buddha. Mahasiwa yang menenmpuh pendidikan di STAB keseluruhannya adalah beragama Buddha.

STAB tersebut letaknya berdampingan dengan Padepokan Dhammadipa Arama, yakni sebuah padepokan yang menjadi tempat tinggal sekaligus pengembangan ajaran Buddhism. Bangunan dengan arsitek menyerupai beberapa negara besar, seperti bangunan pagoda bernuansa Thailand dengan tumbuhan Bunga yang ditanam rapih mengelilingi altar bangunan menjadi khas tersendiri bagi padepokan ini.

Kami melakukan kunjungan ke Vihara Padepokan Dhammadipa Arama yang terletak di Jl. Raya Mojorejo No.46, Mojorejo, Kota Batu. Ketika sampai tempat tujuan kami diajak berkeliling Vihara dengan didampingi 4 Atthasilani, yaitu Atthasilani Saccadasini, Atthasilani Sumedhacarini, Atthasilani Suhitacarini, dan Atthasilani Ditthidirani. Pertama, kami diajak ke Bhavana Sala, tempat tersebut berfungsi sebagai kamar ataupun tempat bertapa bagi para Samanera. Biasanya 1 kamar diisi oleh satu Samanera.

Didekat Bhavana Sala terdapat perkebunan yang lumayan luas. Diperkebunan tersebut ditanamani beberapa macam sayuran seperti bayam, terong, kacang panjang, cabe dan lain-lain. Menurut penuturan Atthasilani Sumedhacarini, sayuran tersebut digunakan sebagai bahan makanan para Samanera dan para Atthasilani. Ketika kekurangan sayur baru mereka membeli ke pasar. Disana juga dikembangkan tanaman dengan sistem hidroponik, pada saat kami berkunjung kesana, mereka sedang mengembangkan buah strawberry. Semua sayur dan tanaman hidroponik dirawat oleh para Samanera yang pembagian tugasnya disesuaikan dengan jadwal yang telah dibuat.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Patirupaka Shwedagon Pagoda. Pada Pagoda ini terdapat 3 lantai. Lantai 1, digunakan sebagai tempat samadhi para Samanera dan Atthasilani ketika ujian kenaikan semester, setiap 1 semester mereka diharuskan bersamadhi selama 10 hari. Samadhi yang dilakukan ini bukan berarti meraka tidak makan, minum dan beraktivitas lainnya, tapi samadhi disini diartikan sebagai keadaan sadar dan penuh perhatian, segala tindakan dan aktivitas yang dilakukan didasari oleh kesadaran dan penuh perhatian. Contohnya ketika makan, mereka sadar dengan apa yang mereka makan, memperhatikan tata cara makan yang baik, makan secukupnya tidak boleh sampai kekenyangan.

Lantai 1 ini juga terhubung langsung dengan Museum, dalam museum ini terdapat nama-nama para penyumbang dana dalam proses pembangunan Pagoda. Selain itu, terdapat beberapa lukisan yang menjelaskan tentang sejarah munculnya agama Buddha, lukisan dibuat seperti cerita bersambung, dalam setiap lukisan diberi kertas kecil yang berisi penjelasan. Juga terdapat pokok-pokok ajaran agama, dan hal yang paling unik adalah cara berpakaian para penganut Buddha yang berbeda-beda berdasarkan kultur negara mereka masing-masing.

Lantai 3 digunakan rapat atau pertemuan para Guru Besar Agama Budha (Samana) dan para pimpinan Vihara sehingga kami tidak diperbolehkan untuk mengunjungi lantai 3. Pada lantai 2 terdapat 7 patung Buddha. Hal yang membedakan 7 patung Buddha tersebut adalah posisi tangan Sang Buddha yang berbeda-beda pada waktu satu minggu. Berikut penjelasan singkatnya :

1. Minggu – Pikiran Perenungan Mendalam

Buddha dalam posisi berdiri dengan tangan menghadap ke bawah. Tangan kiri berada di belakang tangan kanan. Posisi ini mengingatkan pada masa setelah Buddha mencapai pencerahan. Dikisahkan setelah Buddha mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, Beliau kemudian melakukan meditasi perenungan mendalam dalam posisi berdiri.

2. Senin – posisi pada hari Senin ini memiliki 3 makna yang berbeda

“Memelihara keharmonisan keluarga” – posisi berdiri dengan tangan kanan diangkat ke atas. Ini adalah postur Buddha ketika Beliau berusaha mendamaikan anggota keluarga yang sedang bersengketa.

“Melarang kayu cendana” – posisi berdiri dengan tangan kiri diangkat ke atas. Hal ini merujuk pada waktu ketika Buddha melarang imej diriNya yang terbuat dari kayu cendana diletakkan di altar.

“Penguasaan atas Cinta Kasih” – posisi berdiri dengan kedua tangan diangkat ke atas. Ini berasal dari kisah dimana Buddha melakukan sebuah keajaiban dengan menenangkan lautan yang ganas.

3. Selasa – Mencapai Nirvana

Buddha dalam posisi berbaring menghadap sisi kanan, jari kaki menghadap ke bawah yang mengindikasikan kematian Beliau.

4. Rabu (Pagi-Siang) – Berpindapatta

Posisi dimana Buddha sedang memegang mangkuk. Setelah 4 tahun mengembara, Buddha pergi mengunjungi ayah, adik dan putraNya. AyahNya terkejut ketika melihat Buddha berjalan dengan membawa mangkuk sedekah. Buddha kemudian menenangkan ayahNya dan menjelaskan bahwa ini sudah merupakan tradisi dari semua Buddha untuk melakukan pindapatta, sehingga para umat akan dapat melakukan jasa kebajikan dengan berdana makanan. Tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang.

Rabu (Sore-Malam) – Menerima Sedekah

Posisi ini menceritakan masa ketika Buddha sedang bermeditasi menyendiri di tengah hutan, para hewan membawakan makanan sebagai dana. Oleh karena itu, sering kali di taman wihara terdapat imej Buddha sedang duduk bersama dengan seekor gajah yang mempersembahkan semangkuk buah-buahan dan seekor monyet yang mempersembahkan sarang madu.

5. Kamis – Buddha sedang bermeditasi

Posisi ini menggambarkan postur klasik meditasi. Bentuk teratai penuh dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas dan terlihat, tangan terletak diatas pangkuan, tangan kanan diatas tangan kiri dan telapak tangan menghadap ke atas.

6. Jumat – Buddha sedang merenung

Posisi berdiri dengan kedua tangan saling bersilang di depan dada, tangan kanan diatas tangan kiri. Postur ini menggambarkan sebuah transformasi spiritual utuh.

7. Sabtu – Buddha dilindungi Raja Naga

Imej Buddha duduk dan dilindungi oleh ular naga raksasa yang melindungi Beliau dari terpaan badai yang sedang mengganas. Buddha duduk dalam posisi meditasi ketika raja naga datang dan melindungi tubuh Beliau.

Tempat yang terakhir adalah tempat meditasi di ruangan terbuka yang hampir mirip dengan gazebo, dikelilingi kolam yang berisi ikan, kura-kura dan beberapa jenis bunga teratai. Tempat tersebut kami gunakan untuk berdiskusi mengenai ajaran Buddha dan saling berbagi sedikit cerita tentang aktivitas sehari-hari para Atthasilani dan Samanera. Para Atthasilani juga sempat bertanya tentang kegiatan di pondok pesantren itu seperti apa. Kemudian di akhir kunjungan kami berfoto bersama di depan Pagoda.

Sabtu ,15 Desember 2019 , kami dari rombongan IAIN KEDIRI dari prodi Studi Agama-agama tiba ditempat  sebelah kiri jalan dari arah Malang menuju Kota Batu tepatnya di jalan Ir. Soekarno No.44 Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu terdapat komplek bangunan Vihara Dhammadipa Arama pada pukul 09.00 wib.

Dari luar, Vihara ini nampak tidak begitu luas, namun setelah masuk kedalam dan menyusuri beberapa tempat yang ada di dalamnya, ternyata komplek bangunan Vihara yang sering juga disebut Padepokan DhammadipaArama cukup luas.

Sesampai kami di Vihara ,kami disabut oleh atthasilani Sacadassini , atthasilani Sumedhacarini , atthasilani Suhitacarini , atthasilani Ditthidirani yang juga mengantarkan kami keliling untuk mengetahui tempat apa aja yang ada didalam lingkungan Vihara.

Di Belakang padepokan yang cukup luas terdapat sebuah bangunan megah yaitu Patirupaka Shwedagon Pagoda yang merupakan replika Pagoda yang ada di Myanmar. “Patirupaka Shwedagon selain digunakan untuk tempat meditasi dan tempat pemujaan umat Budha, tempat ini juga digunakan untuk menyimpan replika Sang Budha,” ujar atthasila ni Sumedha Carini

Tidak jauh dari bangunan Patirupaka Shwedagon, terdapat juga bangunan museum dan beberapa patung. Di Belakang museum terdapat Sebuah patung Budha raksasa berwarna emas sedang berbaring dengan menyanggah kepala dan dikelilingi dua ekor Naga. Di Bawah patung emas Budha terdapat tulisan yang memiliki arti “Sadarilah bahwa segala sesuatu tidak ada yang kekal, Karena itu berjuanglah sungguh-sungguh untuk mencapai kebebasanmu”.

Disekitar patung emas Budha terdapat beberapa padepokan berupa bilik-bilik yang biasa digunakan untuk umat Budha yang ingin menginap dan juga tempat meditasi. Di Padepokan Dhammadipa Arama sering digunakan untuk tempat ritual umat Budha dan biasanya juga digunakan sebagai pusat untuk merayakan Hari Raya Waisak umat Budha yang ada di Batu, Malang dan sekitarnya.

Selain difungsikan untuk kegiatan keagamaan umat Budha, Padepokan Dhammadipa Arama juga dibuka untuk masyarakat umum sehingga bisa dijadikan salah satu pilihan tepat wisata karena keindahan dan kemegahan bangunan yang ada didalamnya. Hal ini terbukti dari cukup banyaknya pengunjung yang datang ke Vihara ini.

Di dalam lingkungan Vihara terdapat museum untuk menyimpan barang barang umat Budha, kami berkeliling museum yang berisi wilayah penyebaran budha, disamping Patirupaka Shawedwagon ,terdapat sebuah lorong kecil yang menuju sebuah museum ,dalam museum terdapat beberapa lukisan khas buda , juga terdapat ruang-ruang yang mengkhususkan wilayah penyebaran buddha di seluruh dunia ,lorong museum yang diawali dari barat pagoda ini memiliki akses hingga kebagian patung budha tidur.

Disamping sisi paling utara terdapat patung budha tidur atau sleeping budha, ukuranya mencapai delapan meter dengan warna kuning keemasan, terdapat 5 patung murid pertama dari sang buddha pemandangan tersebut ada diantara kolam yang ditumbuhi teratai yang sangat indah dan taman yang sangat luas .

Di Vihara tersebut banyak tempat meditasi yang sangat sejuk dan hening yang setiap ruang berisikan satu orang untuk bermeditasi , biasanya selama 10 hari mereka bermeditasi .

Setelah kami selesai mengunjungi semua tempat yang ada di sekitar Vihara kami beristirahat dan saling berdialog di tempat istirahat atau bias juga digunakan untuk sembahyang umat budha yang ada di sekitar kolam dan taman ,dari jam 10.00 wib sampai jam 11.00 wib, saat jam 11.00 wib tersebut para atthasilani sudah saatnya mereka makan siang dan akhirnya kami pun mengakhiri dialog pada sing hari itu, tidak lupa kami pun berfoto dengan mereka dan akhirnya kami pulang dan keluar dari wilayah vihara sekitar jam 11.15 wib.

Setibanya kami di STAB kami langsung disambut oleh seorang Atthasilani untuk diajak berkeliling di sekitar vihara dekat kampus Agama Budha tersebut. Atthasilani tersebut langsung berbincang dengan kami menjelaskan seolah sudah akrab, karena telah berjumpa di lain waktu tepatnya di hotel jaya saccako dalam acara waisak.

Kami diajak jalan-jalan, yaitu ke salah satu tempat seperti asrama yang ber-renggangan jarak antara satu dengan yang lain. Dan segi bangunannya itu sama rata. Di Tengah-tengah tempat terdapat sebuah bangunan yang ruang bawahnya khusus untuk ber-samadhi atau bermeditasi. Nama tempat tersebut ialah Bavana Salu, yang bercirikan untuk Samanera/putra (khusus), terdapat tanaman sayur-sayuran untuk konsumsi pribadi (diolah/masak oleh atthasilani/putri).

Kemudian terdapat tempat yang bernama Pagoda, tempat yang digunakan saat hari-hari besar. Di dalamnya ada tujuh patung yang melambangkan tujuh hari yang bermakna beda. Dan setiap patung terdapat simbol, dibakar wewangian yang menyerupai obat nyamuk bakar, dibawah/lantai bawah didapati 21 ruangan untuk bermeditasi. Penjelasan bahwa meditasi itu tidak hanya duduk semata, namun meditasi juga saat melakukan aktivitas, berjalan, yang intinya meditasi melatih kepekaan batin dan jasad yang lalai akan fungsi otak tidak stabil.

Kami diberi penjelasan sedikit mengenai sejarah oleh atthasilani tersebut sambil berjalan-jalan melihat foto-foto kejadian/ilustrasi sang buddha. Konon ada seorang pertapa sumedha namanya yang ada di pangkara pada suatu tempat. Beliau ini adalah sebagai calon sang buddha. Kemudian melakukan meditasi dan samadhi hingga melalui tahap penyempurnaan paramitha. Yaitu dengan dirinya sebagai seorang yang kaya raya dan menyumbangkan hartanya.

Mereka pada Buddhis meyakini reinkarnasi, maka dari itu sang pertapa sumedha memilih rahim yang kebetulan baik budi pekertinya atas apa yang dilakukan sebelumnya. Hingga menemukan seorang perempuan bernama Mahamaya istri raja Suddhodana, maka singkat cerita lahirlah Siddhartha Gautamama yang konon terkenal pintar, hingga Suddhodana mengatakan “Anak ini dengan kecerdasanya harus dilatih segalanya apapun itu.”

Siddharta mulai bisa mengayunkan pedang, berkuda, memanah, berenang dan lain sebagainya hingga suatu ketika merasa bosan. Maka Suddhodana ketika itu mengawinkan Siddharta pada usia yang sangat muda supaya tetap berada di kerajaan dan meneruskan tahta kerajaan. Pada usia 17 tahun Siddharta mulai keluar kerajaan, karena dirasa muak selama bertahun-tahun berada di kerajaan.

Setelah keluar dengan dikawal beberapa prajurit dan panglima kerajaan, berjalanlah pangeran Siddharta Ghautama ini di sebuah desa dan menemukan beberapa peristiwa yakni: orang yang sudah tua, orang mati, orang sakit. Maka di perjalanan itu beliau mulai merenung, berfikir untuk meninggalkan urusan duniawi yang sementara.

Beliau bertapa selama enam tahun dibawah pohon bodhi hingga badanya kurus kering, dan melakukan penyempurnaan roda dhamma menyampaikan khotbah pertamanya. Setelah itu beliau berkelana ke desa-desa dan menyebarkan agama budha.

Setelah berjalan-jalan sambil bercerita, kami pun diajak ke perpustakaan STAB untuk melihat-lihat isi dan materi apa saja yang mereka pelajari, dari situ kami menemukan bahwa orang budha juga sangat kompeten dan Ahli dalam mempelajari tentang kemanusiaan, sosial, psikologi ,dan sebagainya. Maka di dalam perpustakaan kami juga diberi pengetahuan tentang ajaran mereka.

TIPITAKA sebuah kitab suci yang didengungkan di telinga kami, seraya kami bertanya-tanya apa itu? Jelaskanlah oleh Atthasilani tersebut sehingga kami terpaku dan mendengarkan. Ada tiga bagian dalam kitab TIPITAKA tersebut, yakni: a.)Vinaya Pitaka, kitab yang menjelaskan tentang peraturan para bhikkhu. B.)Sutta Pitaka, didalamnya dibahas tentang uraian Dhamma. Dan Abhidhamma Pitaka, yang menjelaskan tentang filsafat-filsafat atau doktrin-doktrin.

Dijelaskan juga pada kami bahwa STAB memiliki dua perpustakaan. Kemudian dijelaskan pula bahwa kehidupan itu terdapat 31 alam kehidupan. Yang di agama lain hanya ada dunia, ghaib, surga, dan neraka. Ini yang membedakan Agama Budha dengan Agama yang lain. Unsur yang utama dalam sistem kehidupan itu ada tiga simbol yaitu: ular yang melambangkan kebencian, ayam yang melambangkan keserakahan, dan babi yang melambangkan kebodohan.

Akan tetapi mereka para penganut buddha juga meyakini bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Perlu diketahui bahwa  nibbana itu bukanlah suatu tempat, melainkan keadaan/kondisi seseorang yang telah menjadi buddha, terlepas dari kebencian, kebodohan, dan keserakahan. Juga dijelaskan jalan untuk menuju kemuliaan itu ada delapan. Itu semua dijelaskan berdasarkan gambar yang kami lihat.

Kemudian ada pati patti yaitu proses dimana pelaksanaan agama buddha yaitu dengan berdana (sedekah), melakukan sila, meditasi, dan samadhi. Dan atthasilani bilang bahwa kita harus bersyukur karena telah dihidupkan di Alam manusia. Karena kita ketahui bahwa Alam manusia itu bisa mengerti memahami untuk menjalankan ketaatan-ketaatan yang telah disampaikan oleh Buddha.

Sepatah kata “Janganlah berbuat Jahat, Tambahlah Kebajikan, Sucikan Hati Pikiran, Inilah Ajaran Sang Budha”. Itu adalah kata-kata yang kami temukan di perpustakaan.

Kemudian kami diajak berjalan-jalan sampai ada ruangan tempat perintis Dhamma Adhipa(pondok/asrama). Di Dalamnya ada barang-barang peninggalan Bante (pangkat. Pendiri Vihara). Pewawancara: apa makna dari patung tidur itu? Attashilani: itu adalah posisi Parinibbana istilahnya, yaitu posisi akhir dari sang Sidharta Gautama (wafat).

“Hari ini atau zaman ini kita sekarang berada pada zaman ghotama, Attashilani: Ajaran Buddha suatu saat akan hilang, jika moral manusia sangat merosot akan datang zaman Buddha Mechea,” ujarnya.

Para buddhis hingga sekarang tetap mengikuti perkembangan zaman dengan pembuktian yaitu menggunakan Handphone/laptop/komputer untuk mengakses internet. Juga fleksibel mengikuti zaman mengambil sisi yang bermanfaat. Inti dari ajaran Buddha yaitu meminimalisir unsur keinginan, karena keinginan sama dengan penderitaan. Untuk pernikahan agama budha juga didapati ikrar atau mengikat janji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *