Budaya Wabah dan Dunia Yang Terus Berputar

Adham Hakam Amrulloh*

Photo Source: https://eeas.europa.eu

Dalam karyanya, Philosopiae Naturalis Principia Mathematica, yang terbit pada 5 Juli 1687, Isaac Newton mengemukakan tiga hukum dasar. Salah satu hukum Newton itu berbunyi “Gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama dengan arah terbalik dan segaris”. Artinya, sesuatu terjadi bukan karena kebetulan, tapi karena kausalitas.  Cara kita melihat sesuatu bergantung pada bagaimana pikiran kita bekerja. Ketika sebuah ide diamini oleh sejumlah orang lalu menjadi perilaku bersama dan terus diajarkan sebagai sebuah nilai yang dianggap baik maka ide tersebut akan menjadi sebuah budaya.

Pendeknya, ide yang terlaksana dan berjalan secara kontinyu akan menjadi sebuah budaya,  bahkan terkadang begitu kuat dan mengakar sehingga sulit diubah. Bahkan, sekalipun pencetus ide dasar itu memberi gagasan baru untuk mengubah budaya tersebut, perubahan juga sulit terjadi kecuali ada kondisi yang benar-benar memaksa. Alasannya, karena setiap individu telah mengambil perannya dalam budaya tersebut. Seperti kata Max Weber soal fungsi sosial, hancurnya kontrol sosial yang berujung pada perubahan sosial atau chaos mungkin terjadi bila salah satu dari anggota masyarakat menanggalkan atau mengubah perannya.

Budaya adalah salah satu buah dari dimensi ide yang bersifat imaterial yang mengambil bentuk yang jelas. Dengan ruh ini budaya akan terus memberi semangat, motivasi, dan memunculkan perasaan benar jika diterapkan. Di sisi lain, budaya hadir bukan hanya dari ide luhur saja namun juga dari berbagai macam kondisi, termasuk yang tidak dikehendaki. Pada pertengahan abad ke-14, dunia digemparkan oleh wabah pes (juga dikenal dengan Black Death) yang merenggut ratusan juta jiwa. Sisa-sisa wabah ini bahkan masih terasa hingga saat ini. Pada tahun 2010 lalu ada kabar bahwa ribuan jiwa mati karena wabah ini. Sumber wabah ini dikaitkan dengan budaya hidup tidak sehat atau bersih di lingkungan sekitar, memicu mutasi kutu pada tikus got yang menjadi pembawa pes tersebut.  Beberapa sumber melansir bahwa, karena diremehkan, wabah ini meluas hingga awal abad ke-20 dan menewaskan ratusan juta jiwa, termasuk di Indonesia. Yah, cara orang memikirkan dan melihat wabah ini turut andil bagi penyebarannya.

Ada sebuah kisah menarik bagaimana pemikiran manusia sangat mudah tersebar tanpa interaksi. Alkisah, ada seorang pemimpin sebuah kota mengumpulkan seluruh warga lalu memerintahkan mereka untuk mengumpulkan satu sendok madu di hari berikutnya. Menjelang malam pengumpulan, ada seorang di antara mereka berfikir untuk membawa satu sendok air karena pikirnya pasti bakal tidak ada yang tahu karena yang lain bawa madu. Saat waktu pengumpulan berlangsung, setelah satu persatu warga menuangkan isi satu sendok mereka ke dalam sebuah gentong besar, pemimpin tersebut terkejut karena gentong madunya ternyata berisi air dan bukannya madu.

Wabah apapun yang terjadi di masyarakat adalah hasil dari kelakuan kecil kita yang dilakukan bersama-sama hingga kemudian menular dan semakin berdampak. Beberapa bulan terakhir ini, dunia dihebohkan dengan Covid 19, berbagai media dan pihak mencoba menjelaskan bagaimana asal-usul wabah ini. Inti dari semua itu adalah budaya hidup manusia yang kurang bijak. Pembangunan fisik dikejar dengan membabi-buta dan mengorbankan kearifan lokal. Konflik memicu dendam, sikap merendahkan, dan keserakahan yang berujung pada cepat rusaknya sumber daya kita.

Ronggowarsito dan Jayabaya pernah memberi peringatan yang luar biasa tentang kondisi edan atau gila yang akan dialami oleh manusia. Dalam syair-syair mereka, digambarkan bahwa moralitas manusia akan mengalami kemunduran hingga pada kondisi yang hanya menyisakan dua pilihan: ikut dan dapat bagian, atau tidak tapi tidak dapat apa-apa. Wabah Covid-19 seharusnya memberi pelajaran bagi manusia untuk keluar dari kemerosotan moralitas.

Dunia terus berputar dengan siklus yang sama sebagaimana manusia mulai berkembang, moralitas turun, lingkungan rusak, lalu bencana melanda, lalu peradaban baru. Siklus ini baru berhenti jika ada rantai yang terputus. Bukan hal mengejutkan lagi jika nanti setelah wabah ini selesai, seluruh manusia masih diharuskan menggunakan masker, termogun dipakai di mana-mana, dan manusia diawasi secara ketat. Semua ini berawal dari budaya kita, budaya yang akan mengubah wajah dunia kita: perang-kah, wabah-kah, atau kemajuan yang beradab-kah? Kita tak tahu pasti apa yang bakal terjadi, tapi kita tahu pasti bahwa kita bisa mulai dari diri sendiri. [MFR]

Adham Hakam Amrulloh adalah Mahasiswa SAA-2018 dan Pengurus Dema SAA-2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *