Cerita Tiga Kota: Kerikil Bom dalam Sepatu Laos (1)

Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

—– Yudi Widdyantoro

Hujan mengiringi perjalanan malam saya dari Vientiane ke Luang Prabang. Dari bis VIP ber-AC yang tidak terlalu penuh penumpang, tidak terlihat pemandangan Laos—negara termiskin di wilayah Asia Tenggara yang bersama Vietnam dan Kamboja pernah berubah menjadi ladang pembantaian dalam perang Indochina. Karena gelap, di luar jendela bus, perjalanan yang menempuh 11 jam tidak memberikan kesan sisa-sisa kerusakan akibat perang yang menewaskan jutaan manusia mati sia-sia.

Luang Prabang

Hari masih gelap sesampai saya di Luang Prabang. Hujan yang belum berhenti seperti memberi ucapan selamat datang di kota tua yang tertata dengan baik, dan merawat “ketuaanya” dengan sepenuh hati. Saya pinjam payung dari ibu pemilik Choumkong Guesthouse yang diklaim buku Lonely Planet sebagai yang mempunyai kloset terbersih di seluruh kota. Pagi itu, saya mulai dengan minum mix juice di café tepi sungai Mekong.

Seiring hujan yang mereda, sinar matahari mulai menombaki meja-meja deretan café sepanjang sungai yang menerobos dari celah-celah dedaunan. Lambat-lambat mulai tampak fisik kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan zaman monarki. Di hadapan saya, terbentang pemandangan menawan: bangunan beraroma kolonial Perancis yang menjadi restoran dan guesthouse, bergantian menyembul dengan biara-biara tua buddhis dengan arsitektur khas Indochina. Mulai banyak orang lalu-lalang memikul keranjang. Sambil tersenyum, terkadang disertai anggukan kepala atau badan merunduk serta telapak tangan terkatup di depan dada sebagai tanda hormat, mereka menyapa: “Sabaii-dii, sabaii-dii…”. Saya tersadar bahwa Luang Prabang yang menjadi tujuan utama datang ke Laos seperti menyilakan saya untuk segera dieksplorasi.

Menyusuri sedikit jalan di pinggir sungai, saya berbelok melalui jalan kecil yang tersusun dari batu bata merah untuk masuk ke Royal Palace Museum, sebuah museum yang memiliki kebun bunga asri dan luas, tempat dulu pusat kekuasaan monorki berjalan. Sejak memasuki halaman, sudah terasa bahwa bangunan itu menyimpan sisa kemegahan masa lalu. Arsitekurnya adalah paduan antara motif tradisional Laos dan bergaya seni Perancis. Setelah membayar tiket sebesar 30.000 kip (1 US$ = 8.500 kip), saya mulai menyambangi setiap ruang tempat dimana raja-raja Loas dulu tinggal sebelum mengungsi atas desakan Pathet Lao, sayap militer perjuangan rakyat Loas berhaluan Marxist yang semakin kuat pada dekade 70-an.

Tepat di tengah bangunan utama adalah singgasana raja yang terbuat dari emas. Dengan tetap memberikan kedudukan terhormat pada pendeta buddhis sebagai penasihat spiritual, ada meja tempat duduk pendeta yang sedikit lebih rendah dan diletakkan hanya beberapa langkah dari kursi raja. Selain kamar tidur keluarga raja, sebagian besar ruangan adalah tempat menyimpan benda-benda peninggalan dinasti kerajaan selama berkuasa, seperti pada umumnya alih fungsi istana yang telah dibuka untuk publik pariwisata di masa demokrasi modern menggantikan raja-raja. Bagi masyarakat lokal museum ini adalah bangunan yang menyeramkan. Mereka mempercayai sering terjadi penampakkan arwah keluarga raja.

Masih dalam kompleks istana, di bangunan yang terpisah bagian belakang adalah tempat menyimpan koleksi mobil-mobil raja dengan tahun pembuatan yang paling baru adalah Crysler tahun 1965. Ada empat mobil semuanya dengan peruntukan yang berbeda. Hampir sejajar dengan museum mobil, di bangunan yang lain adalah function hall yang ketika saya kunjungi sedang berlangsung pameran foto hitam putih karya fotografer dari Perancis tentang kehidupan rahib buddhis dalam biara.

Sambil mencari makan siang hari, saya menyusuri jalan utama yang pararel dengan sungai Mekong. Pengaruh Perancis yang pernah berkuasan di Indochina ini masih terasa dengan kuat. Setiap memasuki jalan baru, akan tertulis kata rue di penunjuk nama jalan yang artinya ‘jalan’ dalam bahasa Perancis. Dari bangunan, utamanya untuk restoran dan menjual kerajinan, aroma Perancis masih kental tercium. Demikian juga makanan, baguette, roti panjang khas Perancis, akan dengan mudah sekali mendapatkan.

Di restoran kecil depan vihara Wat Xieng Thong yang dipenuhi penduduk lokal, saya makan noodle soup dengan porsi yang jumbo. Selesai makan, saya segera memasuki kompleks vihara yang dibangun pada 1560. Walaupun berusia hampir 500 tahun, vihara ini masih berdiri dengan kokoh, termasuk juga fresco atau mural yang merepresentasikan ajaran Buddha di dinding dan langit-langit, masih nyata terlihat. Bukan hanya dhammasala, bangunan utama untuk meditasi dan persembahyangan yang terawat dengan baik, namun bangunan lain di dalam kompleks, seperti kuti atau tempat tinggal bhikhu, pendeta dan rahib juga masih asri dan bersih. Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

Menjelang sore saya menapaki anak-anak tangga menuju vihara Phousy yang ada di puncak bukit. Dari seberang Royal Palace, anak tangga pertama bisa dimulai di pintu masuk ini, gratis. Pada anak tangga ke-105 baru ada petugas yang meminta membayar tiket sebesar 20.000 kip untuk sampai ke puncak bukit. Viharanya ada di atas tanah datar yang tidak terlalu luas, setelah kita menyelesaikan anak tangga yang berjumlah 300. Rasa lelah dan kesal menaiki bukit, segera terbayar oleh pemandangan indah seluruh kota. Susunan atap biara-biara yang selalu berjumlah ganjil, umumnya tiga atau lima, memberi impresi yang sangat menarik bila dilihat dari atas dan di kejauhan. Di halaman vihara ini kita akan mendengar beragam bahasa yang dituturkan pengunjung yang datang dari bermacam bangsa. Mereka sama-sama menanti matahari tenggelam. Udara sedikit mulai dingin oleh hembusan angin. Tidak ada peristiwa dramatis, tapi sekadar terpesona pada hal ihwal di sekitar kita, bahkan pada yang remeh-temeh. 

Sebelum gelap menghalangi jalan turun, saya menapaki anak tangga menuju pasar malam di sepanjang jalan di bawah bukit Phousy ini. Sesampai di bawah, seluruh badan jalan sudah dipenuhi lapak-lapak barang dagangan, hanya menyisakan selebar badan orang untuk berjalan. Pasar malam sifatnya seperti festival, mempertemukan beragam latar belakang juga kepentingan, antara penjual dan pembeli, turis berduit pemborong cendera mata, pengelana miskin seperti saya, backpacker yang sekadar ingin tahu, tentu ada fotografer pemburu momen, ada juga penjudi yang beradu permainan ketangkasan, tapi yang jelas semua ingin kegembiraan.

Tidak hanya di badan jalan, lapak juga merambah masuk ke halaman kompleks biara di sekitar istana. Para rahib buddhis tidak ketinggalan membuka stan untuk sekadar mendapatkan donasi. Di gang sedikit becek dan dipenuhi oleh pedagang makanan, saya menyantap dengan nikmat ikan bakar bersama lao vegetable salad dan sedikit ketan, serta menutup makan malam dengan sebotol kecil beer lao, salah satu bir paling enak yang pernah saya minum. Makanan asli Laos pada umumnya hampir mirip rasanya dengan makanan Vietnam atau Thailand. Demikian juga cara penyajiannya.

Pagi berikutnya, jam lima dini hari saya sudah menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi pindapata, ketika 325 pendeta dan rahib buddhis yang masih muda-muda, dengan jubah warna kuning kunyit separuh bahu terbuka berjalan mengumpulkan derma makanan dari penduduk. Di pinggir jalan, kaum perempuan sudah menunggu dengan keranjang berisi ketan untuk diisi ke mangkuk-mangkuk metal yang dibawa orang-orang suci tersebut. Dalam diam dan langkah yang pelan, mereka para rahib buddhis mendapat makan untuk konsumsi sampai siang hari, begitu setiap harinya. Prosesi itu dimulai dari Wat Xie Thong menyusuri jalan utama ke arah Royal Palace dan kembali ke biara melewati jalan lain yang paralel dengan sungai Mekong. Saya pikir tidak salah kalau UNESCO memasukkan Luang Prabang masuk dalam daftar warisan dunia.

Sambil jalan kembali menuju guesthouse, saya berhenti pada satu rumah yang pemiliknya, seorang ibu tua yang masih menyisakan garis kecantikannya sedang membeli panganan dari pedagang keliling. Banyak sekali makanan yang dijual itu sama persis dengan kue jajan pasar daerah Jawa: ketan hitam yang ditaburi kelapa parut dan gula pasir, ongol-ongol, gemblong, dan kue lapis pandan. Beruntung ibu itu masih berbahasa Perancis dengan baik, sementara bahasa Perancis saya sudah banyak lupa, tapi lumayan dapat membantu dalam berbelanja untuk sarapan pagi saya. Kue jajan pasar itu saya bawa ke warung angkringan di pasar pinggir sungai dekat kapal-kapal ditambatkan. Warung itu  menjual kopi dan teh serta makanan ringan. Seperti di Thailand dan Vietnam, cara menyajikan kopinya dengan menuangkan kopi kental yang telah diseduh dengan air panas terlebih dahulu ke dalam gelas yang berisi susu kental manis. Mantab sekali rasanya sarapan pagi saya itu sebagai bekal energi mulai melakukan tour kreasi sendiri dengan sepeda yang saya sewa dari pemilik guesthouse mengunjungi kampung-kampung dan keluar-masuk pasar mencoba keh-kueh khas lokal yang belum pernah saya rasakan, melihat-lihat anak sekolah bermain, juga vihara-vihara yang ada di luar pusat kota.

Saya tujukan kayuhan sepeda untuk mencapai vihara dengan stupa emas yang tampak cukup jauh dari bukit Phousy itu. Melewati kampung dan pasar, sering saya lihat, perempuan Laos melakukan menicure dan pedicure di banyak tempat oleh terapis yang memberikan jasanya dengan berkeliling. Di vihara stupa emas saya bertemu dua orang Italia, Valentina dan Daniela yang kemudian mengajak bersama-sama ke gua Pak Ou selepas makan siang.

Bersama juga satu kawan dari Indonesia, kami berempat menyewa perahu menuju gua. Dua jam melawan arus menyusuri sungai Mekong. Teringat film-film perang  Vietnam buatan Amerika: tentara Amerika yang sedang potroli sungai, ditembaki gerilya Vietcong dari semak-semak tepian sungai, tapi toh tentara di perahu yang hanya beberapa orang dapat membunuh ratusan gerilyawan. Di tengah perjalanan kami mengunjungi desa yang terkenal kepandaianya dalam membuat arak, Ban Xang Hai. Tidak disangka-sangka di gua yang tidak terlalu besar ini tersimpan patung Buddha dalam berbagai posisi yang berjumlah ribuan. Menjelang petang kami kembali ke Luang Prabang. Malam itu saya tutup dengan mengulangi “ritual” malam sebelumnya di pasar malam: sekadar jalan bersama orang yang berjejalan membeli souvenir, dan makan ikan bakar di gang becek dengan makanan penutup: kue lapis pandan hijau dan gemblong, tepung beras ketan berlumur gula jawa, hmmm…yummy! (MFR)

(Bersambung)

“Burning”: Cerita Cinta Murakami di Sinema Korea

Jangan dikira sinema Korea hanya sinetron seri melodrama. Minimal dalam empat tahun terakhir, selalu ada film Korea memperebutkan Palm d’Or, penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes. Puncaknya, film “Parasite” karya Bong Joon-ho menjadi film terbaik festival film bergengsi ini (Kompas, 28 Mei 2019). Tahun sebelumnya, sutradara Korea lainnya Lee Chang-dong, lewat film “Burning” mendapat penghargaan FIPRESCI sebagai kritik film terbaik, bahkan terbaik sepanjang sejarah Festival Film Cannes, selain masuk nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Award. Film yang dibahas kali ini adalah film “Burning”.

Setelah Jepang, perfilman Korea telah sangat maju dan cepat berkembang. Seperti juga di bidang ekonomi. Perlahan tapi pasti, Korea telah menjadi macan Asia di kancah dunia. Namun, setiap kemajuan ekonomi tanpa disertai usaha pemerataan dan keadilan akan menciptakan gap dan berpotensi merenggangkan kohesi masyarakat serta perasaan alienasi manusia-manusia yang berdiam di dalamnya.

Film “Burning” adalah upaya sutradara Chang-dong  mengeksplorasi cerita pendek sastrawan Jepang nominee Nobel, Haruki Murakami, “Barn Burning” ke dalam film layar lebar. Sebuah cerita tentang individu-individu, hubungan antarmanusia, persahabatan, cinta, dan hubungan keluarga dalam bingkai dekonstruksi sosial dari fenomena ekonomi Japan.Inc yang mengeksplorasi sistem ekonomi dengan kebebasan penuh kepada setiap orang untuk berproduksi dan mendapatkan keuntungan.

Korea adalah Jepang saat ini di bidang ekonomi pembangunan. Jika tahun 70-an mobil merek Toyota, Honda merajai jalan-jalan di seluruh dunia, khususnya di negara-negara dunia ketiga, sekarang ini produk asal Korea, antara lain handphone Samsung telah akrab di genggaman tangan orang seluruh dunia. Selain karena kedekatan budaya Korea dan Jepang, sepertinya tidak ada kesulitan bagi sutradara memindahkan setting cerita Jepang Murakami ke dalam suasana masyarakat Korea.

Tokoh utama dalam film ini adalah Jong-su, pemuda baru selesai kuliah. Dia mewakili pekerja serabutan yang mengalami keresahan seperti dalam suara menyayat Iwan Fals dalam lagu  “Sarjana Muda”. Dia bertemu dengan gadis Hae-mi, pekerja rendahan, teman sekampung di Paju, sebuah desa di perbatasan dengan Korea Utara.

Dalam fotografi, dikenal rumus jitu mengambil obyek foto, yaitu 1/3 emas, di mana obyek ditempatkan pada 1/3 frame. Film ini dibuka dengan gambar 3/4 layar diblok warna kuning. Sepertiganya warna remang, cenderung gelap dan (hanya) jari-jari dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap. Sebuah pembukaan yang menjanjikan, seolah mengingatkan penonton akan kandungan misteri di cerita selanjutnya sampai selesai.

Itulah tangan tokoh protagonis, Jong-su yang sesaat kemudian muncul dengan wajah utuh, mematikan rokok, mengangkat kardus. Kamera kemudian mengikuti terus dari belakang dia mengantar ke tujuan. Pengambilan gambar dari belakang seolah pesan dari sutradara pada semua penonton akan kandungan misteri film ini dan perlu diikuti, dicermati. Kamera berganti kepada dua gadis berpakaian minim menari-nari di depan took, mengajak orang lewat untuk membeli. Salah satu dari dua gadis itu adalah Hae-mi. Suatu teknik pengenalan tokoh-tokoh karakter di film yang dilalui dengan smooth dan manis.

Jong-su tidak mengenali Hae-mi yang telah melakukan operasi plastik. Korea memang terkenal sebagai negeri yang bisa mengubah wajah dan penampilan fisik seseorang. Operasi plastik menjadi begitu banyak dan lumrah, mudah dijumpai di banyak orang, di banyak tempat, seperti nantinya kita akan melihat banyaknya greenhouse yang terbuat dari plastik di sekitar rumah Jong-su di kampung Paju.

Hae-mi meminta tolong kepada Jong-su untuk merawat kucing peliharaan di apartemennya, sementara dia akan traveling ke Kenya. Di unit apartemen yang sempit, Hae-mi membangkitkan ingatan Jong-su akan perkawanan mereka waktu kecil, antara lain dengan mengatakan bahwa Jong-su pernah bilang bahwa dirinya buruk rupa (ugly), dan pernah menolong dia ketika terperosok ke sumur. Sepertinya Hae-mi ingin membuat ada rasa bersalah Jong-su dengan dengan maksud tersembunyi ingin “menguasai” Jong-su. Sampailah kemudian mereka bermain seks—yang sepertinya pengalaman pertama bagi Jong-su. Dialog dan scene ini penting untuk memahami hubungan antarindividu yang timpang dan makna exploitation de l’homme par l’homme, ekploitasi manusia atas manusia dalam kapitalisme seperti dalam banyak karya Murakami.

Pulang dari traveling, Hae-mi datang bersama Ben, sesama orang Korea yang bertemu saat ada kerusuhan di Kenya. Cerita bergulir semakin intens dengan kehadiran Ben, lelaki tampan, kaya raya dan mapan, tapi misterius. Drama dibangun di antara mereka bertiga.

Dalam banyak karya Murakami, tokoh-tokohnya dibangun dengan obsesi untuk mengeksplorasi dan memahami inti dari identitas manusia. Tokoh yang dihadirkan sepertinya kerap melalui sebuah perjalanan ke tanah kematian, dunia mimpi, ke dunia metafisika yang digunakan untuk menelusuri lebih jauh ingatan akan sesuatu yang pernah dimiliki.  Karena itu, sutradara sangat cekatan menghadirkan benda-benda atau peristiwa dan tempat ke dalam scene yang semuanya memiliki makna dan terkait satu sama lainnya dengan keseluruhan cerita, dan kemudian mencoba masuk ke dalam pikiran dan kemauan Murakami yang terefleksi dalam layar, seperti jam tangan pink pemberian Jong-su kepada Hae-mi; mobil sport Porsche milik Ben yang kontras dengan mobil butut Jong-su sebagai simbol pertentangan kelas, sumur, kucing yang bernama “Boil”, propaganda politik Korea Utara yang terdengar di kampung Paju dan lebih terasa sebagai teror, koleksi pisau ayah Jong-su, greenhouse, jari-jari tangan membentuk burung terbang, semua memiliki makna semiotik dan saling-terkait.

Pengalaman pertama bercinta sepertinya sangat berkesan bagi Jong-su. Rasa itu menimbulkan cemburu Jong-su pada Ben yang dengan kepemilikan mobil mewah dan ketampanan “telah merebut” hati Hae-mi. Ben bagi Jong-su, bukan hanya penuh misteri: hidup sendiri, rumah mewah dan tertata rapi, bermobil mahal, tapi juga seperti sumur tanpa dasar yang menarik Hae-mi terserap masuk dan membikin Jong-su hanya bisa masturbasi setiap keinginan bercinta lagi dengan Hae-mi namun secara fisik tidak ada. Suatu reaksi dari sebuah fantasi guna menghadirkan pengalaman semu ke dalam pikiran namun gagal. Jong-su tidak berdaya. “Aku terjatuh ke dalam sumur”, kata Hae-mi.

Telah terbangun cinta segitiga yang ganjil dan tidak seimbang. Dari pembukaan film yang lambat dan monoton, ritme menjadi meningkat seiring konflik hubungan yang memanas seperti mendidihnya rasa cemburu Jong-su. Ingat nama kucing Hae-mi, “Si Boil” “Si Mendidih”, yang diberi nama karena ditemukan dekat pusat tungku pemanas di kompleks apartemennya.

Rasa sial Jong-su semakin menjadi ketika Ben dan Hae-mi pulang kampung ke Paju mengunjungi Jong-su. Bertiga mengisap ganja dan teror kata-kata Ben pada Jong-su tentang kerjaannya membakar greenhouse setiap dua bulan sekali tanpa pernah ketahuan sekali pun, “You can make it disappear as if it never existed,” seperti dikatakan Murakami sendiri.

Suatu kali Jong-su menerima telpon dari Hae-mi tapi segera terputus, untuk selanjutnya dia tak pernah bisa lagi menghubungi.

Jong-su menguntit Ben dengan bermain di sekitar rumah Ben. Dalam suatu dialog, Jong-su yang pernah mengaku ingin menjadi penulis dan mengidolakan William Foulkner, penulis Amerika, diperlihatkan oleh Ben novel Faulkner “Great Gatsby”. Secara halus Ben telah memberi peringatan pada Jong-su. Lewat Foulkner, Ben berkata, “The past is not dead. In fact, it is not even past. Fact and truth really don’t have much to do with each other”.

Dalam usaha pencarian, Jong-su bertemu keluarga Hae-mi yang berjualan mie. Ada dialog di antara mereka yang menyinggung cara mendapatkan uang dengan menjual organ tubuh. Apakah Ben yang kaya raya itu terlibat human trafficking dengan berbisnis organ tubuh? Wallahualam. Masih misteri. Inilah yang membuat film semakin asyik karena kepiawaian sutradara menjalin puzzle dan beberapa gambar yang cantik. Jong-su seperti masuk ke dalam lorong misteri karena terngiang ucapan Ben, “If you play with fire, you will get burned”.

Dalam jalinan cinta yang berbumbu misteri sutradara bersama kameramen masih bisa menghasilkan gambar-gambar efektif, berarti dan tetap cantik. Puncak gambar sinema indah adalah saat bertiga sambil menghisap ganja, selama empat menit lebih, dengan latar belakang senja lembayung, Hae-mi menari topless dengan iringan terompet Miles Davis membawakan “Generique”, membuat gestur tangan seperti elang terbang, sebagai signal perpisahan menuju ke kematian.

Dendam Jong-su pada Ben terus terbawa. Penggambaran pertentangan kelas dan polarisasi dalam masyarakat yang timpang dan menyedihkan. Setelah Jong-su menikam Ben dengan pisau yang dibawa dari desa Paju, dimasukkannya mayat Ben ke Porsche, Jong-su melucuti bajunya sendiri hingga telanjang bulat dan membakar mobil ikon kemewahan itu. Berlari ke mobil busuknya, dan menyetir, menjauh. Dari depan kamera menyorot wajah Jong-su dengan masih terlihat kobaran api mobil Ben namun udara masih berselimut dengan kabut. Seolah membayar tuntas dendamnya. Seolah tidak ada beban. Seolah mematikan “diri” dan egonya sendiri untuk memasuki dunia metafisik, persis juga apa yang pernah dikatakan Murakami, “Death is not the opposite of life, but a part of it”. Gambar yang puitis, seperti puisi masterpiece Chairil Anwar: “Aku”

Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri/

Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku ingin hidup seribu tahun lagi/

Peringatan sutradara pada penonton di awal lewat pengambilan gambar yang mengikuti Jong-su, seperti juga mau mengatakan pada dunia bahwa sinema Korea bukan hanya sinetron yang membikin nangis penonton.[MFR]

Yoga, Agama dan Coca-Cola

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak.

— Yudhi Widdyantoro

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan Jakarta jauh meninggali sesama kota-kota metropolitan di Asia Tenggara. Animo dan kegandrungan orang Jakarta—yang  berpenduduk delapan juta lebih—untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik, seperti terus mengalir tiada henti.

Kalau sedikit ditarik lebih kebelakang, perhatian orang pada yoga atau “seni hidup dari timur” ini sudah menampakkan gejalanya di tengah dampak negatif krisis ekonomi nasional yang masif pada paruh dasawarsa 90-an. Dampak nyata dari kemerosotan ekonomi adalah penurunan pendapatan riil yang dialami sebagian besar penduduk seiring dengan angka pengangguran yang semakin menggelembung. Dari sini, krisis ekonomi tidak hanya menggoyahkan sendi perekonomian, namun juga kehidupan sosial, politik, bahkan kerukunan hidup bermasyarakat. Harga bahan pokok hidup yang meroket semakin mempersulit akses pada pelayanan kesehatan yang menjadi sangat mahal. Masyarakat semakin tidak berdaya (vulnerable) yang secara tidak langsung berpotensi memicu gejolak dan penyakit sosial. Selain berusaha mencari pengobatan yang relatif murah, masyarakat dilanda stres  menghadapi kenyataan bahwa pengobatan medis konvensioal dengan terapi obat-obatan kimia tidak cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari masalah psikis atau mental. Mereka mulai berpaling pada upaya mendapatkan kesehatan secara alami, salah satunya yoga. 

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari semarak gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang beranggapan ini dipicu oleh peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan pada kebenaran mutlak. Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—menyebutnya sebagai al-hanifiyyat al-samhah, yakni mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada fundamentalisme agama, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini menjadi awal berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan adalah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Di Barat, New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an seperti kehadiran kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga). Tapi entah bagaimana di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” berdengung kembali. 

Vitamin lain bagi perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak ini berasal dari keluarga A+, atau  kelompok paling atas dari menengah-atas, yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang, walaupun tidak ke Amerika, cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial dan turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding di Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah bukan lagi sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state). Dan, least but not last adalah kehadiran International Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum, dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui bahwa orang Amerika sangat piawai dalam membuat sistematika,  mengemas dan kemudian “memasarkan” yogya, walaupun kita tahu yoga sejatinya berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. 

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor atau celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga secara global. Sebut saja misalnya Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah  “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneth Paltrow dan Sting. Mereka ini adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Di Indonesia, perkembangan yogya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia menjadikan para celebrity Hollywood kelas dunia itu sebagai referensi. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity dan golongan menengah atas, khususnya yang paling atas atau A+, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Demam yoga ini juga menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior maupun eksterior. Pertarungan interior maksudnya arena pergulatannya ada di dalam diri si empunya tubuh, sementara eksterior berarti adanya pihak lain yang melihat tubuh sebagai objek yang empuk bagi ekstensifikasi atau pemasaran produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, yakni menyakiti diri sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini dalam waktu yang bersamaan menjadi narsistis atau mencintai diri sendiri. Setiap saat mereka mematut diri untuk tetap berada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara secara awam diketahui bahwa tubuh mempunyai logika perkembangan sendiri yang mengikuti hukum alam. Bagi orang yang jeli tubuh akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, para pelaku industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center  sebagai upaya diversifikasi dari aktivitas bisnis-bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar diri mereka, dan juga teman-teman terdekat, dapat terus melanjutkan latihan yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sekaligus mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryoga-ria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living, dan bukan atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, yoga didefinisikan sebagai union dalam bahasa Sanskrit, artinya penyatuan keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God); atman (jiwa manusia biasa) dan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawula gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama samawi Abrahamik-monoteis: Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama” atau insan kamil dalam konteks ini—juga dalam agama Hindu—adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Ideologi berupa agama atau budaya dan seni diproduksi untuk menjembatani jurang antara Tuhan sang Pencipta dan manusia yang diciptakan sehingga insan kamil, manusia utama, bisa mewujud. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci, sementara bahasa manusia mempunyai logikanya sendiri. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para juru tafsir kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hierarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama.

Dari tuturan para pemimpin spiritual dan agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin dalam menjalankan tertib hukum agama sambil bersujud serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika di mana arus kecil akan tersedot arus besar, untuk dapat “diterima dalam tangan Tuhan” manusia harus merendah serendah-rendahnya. Walhasil, cara beragamanya bersifat imperatif: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti orang selesai minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang malah menjadi-jadi.

Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala yang besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.[MFR]  

Yang Fana Reisa, Yang Misterius Rasa

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

—-Yudhi Widdyantoro

“Per hari ini 47.896 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan 2.535 orang meninggal”. Coba Anda bayangkan kalimat itu juga keluar dari mulut dokter Reisa, selain anjuran menaati protokol kesehatan: menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan pakai sabun. Reisa menyampaikan data kuantitatif yang terus berubah. Sehari turun, keesokan hari memecahkan rekor pertambahan pasien dalam pengawasan (PDP). Jumlah pesien yang meninggal terus bertambah. Penampilan Reisa membuat terpesona, itu sudah biasa. Namun berbagai pikiran dan perasaan bisa muncul setiap melihat dan mendengar informasi dari Reisa. Setiap kata-kata Reisa bisa menimbulkan perasaan kagum, ngeri, bisa juga jadi panik. Apa jadinya jika pandemik disikapi dengan panik? Kata-kata memang sering menunggangi makna. Karenanya, kata bisa menimbulkan aneka pikiran dan rasa.

Seperti itu juga ketika kita berlatih yoga. Setiap tahap latihan menimbulkan pikiran dan rasa. Perasaan yang mengikuti pikiran bisa muncul ketika berlatih asana, atau olah fisik yoga, karena pada umumnya pikiran dan perasaan mengikuti ke mana sensasi muncul di tubuh. Terkadang kita merasa sakit di suatu bagian tubuh akibat otot, syaraf, dan tulang aktif bekerja untuk membuat postur yoga. Kali lain ada rasa nikmat dan adiksi. Perasaan itu bisa tidak sama persis pada setiap orang ketika mempraktekkan suatu postur bersama sejumlah orang dalam waktu dan tempat yang sama, karena soal rasa ialah subjektif.

Asana atau postur yoga yang kasat mata, pada tahap tertentu, mungkin perlu dilakukan secara terukur dengan fokus pada ketepatan anatomis-fisiologis untuk menghindari cedera. Praktisi yoga dalam melakukan postur mengacu pada Yogasutra Patanjali, Bab Sadhana, atau soal latihan, “yoga sthiram  sukkham asanam”, “lakukanlah postur yoga dengan kokoh, mantap, tapi disertai dengan perasaan sukacita, sukkham” (YS II:47).

Dalam melakukan postur yang terkait dengan kerja aktif anatomi-fisiologi manusia, diperlukan ukuran yang objektif seperti dalam kajian dunia kedokteran medis. Di sini, akal sehat dan rasionalitas dibutuhkan untuk mengurai kerumitan hubungan organ dalam tubuh manusia; kerja syaraf, otot, tulang; dan juga gerak tubuh. Hal serupa berlaku juga pada bagaimana hubungan kerja bareng antara semua unsur fisik itu dengan efek terapis yang dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka yang mempraktekkan asana.

Namun demikian, yoga bukan melulu soal olah fisik asana yang tampak nyata. Selain soal tubuh yang telah disebut di atas, diri kita juga memiliki dunia batin, dunia spiritual, seperti soal rasa yang muncul ketika sedang melakukan suatu postur yoga. Tentu saja saat itu nafas, rasa, dan pikiran semuanya muncul silih berganti tanpa bisa dicerap namun bisa dikenali oleh indra penglihatan. Pikiran manusia tidak hanya punya kemampuan analitis, misalnya untuk menyelesaikan kerumitan, tetapi juga reflektif dan intuitif. Reflektif berati mampu mengamati dan menilai dirinya sendiri. Sedangkan intuitif diandaikan telah berkembangnya kepekaan perasaan sehingga mampu memahami sesuatu secara langsung tanpa selalu mengandalkan rasio dan pikirannya. Tubuh dan batin menjadi sesuatu yang paradoksal. Keduanya ada beriring bukan untuk saling meniadakan, tapi malah saling melengkapi.

Pikiran memang senantiasa memecah diri menjadi kepingan-kepingan dan menciptakan pemisah-misahan. Pikiran juga memutilasi apa yang dilihatnya untuk kemudian memasukkannya ke dalam ruang-ruang berbeda sebagai “aku” dan “Anda”; “milikku” dan “milik Anda”. Pikiran menciptakan dualitas. Dualitas juga bisa terjadi karena adanya konsep yang memisahkan body mind dan soul, tubuh dan batin.

Makna kata “yoga” dalam bahasa Sanskrit ialah penyatuan atau telah terjadinya keselarasan. Dalam sutra pembuka di dalam Yoga Sutra Patanjali, “yoga cittavriti nirodhah” (YS I.2), “yoga is cessasion of mind”, “yoga adalah ketika gejolak batin berhenti”. Gambaran tentang kondisi batin yang berhenti disebutkan dalam sutra III.3: Tadeva arthamantranirbhasam svarupasunyam iva samadhi. Artha, purpose, tujuan; nir, tidak, tanpa; svarupe, sva, sendiri, apa adanya, rupe, objek, bentuk, benda; sunyam, kosong, hening; iva, inilah; samadhi, liberation, pembebasan. “When the object of meditation engulf the meditator, appearing as the subject, self awereness is lost. This is samdhi.” Keheningan terjadi ketika subjek atau diri si pengamat terserap oleh objek yang diamati, atau sebaliknya. Dengan demikian, sang diri kehilangan identitas dirinya sendiri. Inilah yang disebut samadhi, kebebasan batin. Dua sutra ini bisa menggambarkan keseluruhan isi Yoga Sutra Patanjali. Tujuan dari perjalanan yoga sudah terkandung sejak dari awal melangkah, kebebasan batin dengan meredanya pikiran dan perasaan.

Seperti juga dalam sejarah peradaban manusia, pada dasarnya kita manusia selalu berusaha untuk memperoleh kebebasan. Bebas dari rasa takut, bebas dari cengkeram penguasa, bebas dari segala ikatan yang membelenggu. Penciptaan manusia sepertinya sudah satu paket dengan kebebasan.

Namun demikian, keinginan untuk bebas dari segala problem telah melahirkan problem lain bersama aliran waktu. Lalu, apakah yang menyebabkan problem itu? Jawabannya adalah ketakutan. Ketakutan bukan selalu berkonotasi buruk. Ketakutan, bersama keinginan, keraguan, dan kecemasan adalah kondisi batin yang selalu ada sepanjang kita hidup. Ketakutan itu ada selama ada dorongan untuk menjadi sesuatu di masa kini atau di masa depan.

Mungkin karena tidak tampak nyata, sisi spiritualitas yoga atau dunia batin praktisi menjadi tidak popular dan terabaikan, tertelan gelombang besar ritus perayaan tubuh. Walaupun, seperti makna atau nilai yang terkandung dalam Pratyahara, menarik objek di luar diri dan dibawa ke dalam batin adalah langkah awal untuk menyelami pengalaman mistis –yang sering dikatakan inti dari agama dan kepercayaan.

Pengalaman mistik memiliki dua sisi, yakni sisi misterius yang mengandung kekaguman sekaligus ketakutan, misterium tremendum fasinatum. Pengalaman mistik adalah pengalaman yang bisa mengubah dari dalam diri. Adanya rasa keterhubungan dengan lingkungan dan galaksi yang lebih luas. Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Pengalaman mistik adalah pengalaman kemenyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri: Yang Ilahi, Tuhan, Allah, semata, atau sesuatu yang kita tidak ketahui, The Unknown. Sisi spiritualitas yoga ini yang akan membawa praktisinya pada kerendahan hati, sekaligus membebaskan dari penderitaan.

Saat ini, ketika pageblug wabah Covid-19 belum mereda, dan karena statistik fluktuatif, terus bergerak, biarlah angka-angka yang disampaikan Reisa dengan segala pesonanya berubah dan menjadi fana. Sementara itu, ketidaktahuan kita pada akhir kisah pandemi Covid-19 ialah sebagaimana kita menempatkan Yang Ilahi, Yang Transenden pada suatu ruang kosong tiada tepermanai dalam keheningan. The Unknown, ‘Yang Tak Dikenali’ biarlah tetap menjadi misteri dan abadi. Mungkin rasanya seperti puisi Rumi ini: Aku memilih mengindamkanmu dari kejauhan//
Aku memilih mendekapmu dalam mimpi//Karena di dalam mimpi engkau tak burujung. (MFR)

Ambang

Ambang. Foto ketika saudara hanya bisa sampai pagar untuk silaturahmi saat lebaran

Dalam kesunyian kita bisa lebih memaknai kedirian dan kesendirian kita dengan keunikan masing-masing –yang untuk merasakan tercukupi tidak perlu membuat komparasi. Dalam kesendirian pula kita bisa mendekati yang transenden itu dengan rasa yang penuh misteri, kegentaran, sekaligus kekaguman, misterium tremendum fasinatum.

——-Yudhy Widdyantoro

Ambang adalah kunci; gerendel yang dapat membuka atau merapatkan pintu, pagar, portal kompleks perumahan, atau batas kota. Ambang adalah batas tipis antara keinginan melangkah keluar atau kembali ke ruang dalam. Walaupun batasnya tipis, di masa pandemi, jika langkah berlanjut maka akan datang efek kejut: bisa kena virus, dituduh pembawa, bahkan kepala bisa benjut. Ketika di luar masih lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, saatnya kembali ke dalam: kedirian.

Ambang adalah transisi. Di antara dua keinginan ada jeda sejenak sebelum keputusan ditentukan –memilih berlanjut, berdiam, atau berjalan mundur. Hanya dalam hitungan detik, sangat sering kita tidak ingin mengingatnya, namun sesungguhnya ia nyata ada antara terjaga dan tertidur. Di dalam posisi tidur, relaksasi total, di akhir sesi latihan yoga, kita sering diingatkan untuk mendapatkan momen ini; masa ketika energi yang telah terpakai selama latihan dikumpulkan kembali. Kehadiran kembali energi dan kesadaran diyakini akan memulihkan tenaga dan penyembuhan. Ambang ada di savasana, tidurnya orang yoga.

Ambang juga seperti pratyahara dalam filsafat yoga. Batas antara ruang dalam diri dan dunia luar. Momen ketika obyek di luar diri ditarik dan dibawa ke dalam ruang batin. Momen awal berhubungan dengan ‘yang mistik’. Saat organ persepsi –mata, telinga, kulit, hidung, dan organ pencecap—ialah pintu masuk obyek di luar untuk pertama kali berhubungan dengan diri sebelum dikelola oleh pikiran dan menimbulkan rasa. Titik permulaan mengarungi samudra esoteris adalah spiritualitas yoga. Ambang juga menjadi salah satu cara mengasah kepekaan spiritual dan menghaluskan rasa menuju pada sesuatu yang transenden, yang lebih besar dari kita, pada Yang Maha. Ia adalah ajakan untuk mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi.

Mungkin ini jalan sunyi. Dalam kesunyian kita bisa lebih memaknai kedirian dan kesendirian kita dengan keunikan masing-masing –yang untuk merasakan tercukupi tidak perlu membuat komparasi. Dalam kesendirian pula kita bisa mendekati yang transenden itu dengan rasa yang penuh misteri, kegentaran, sekaligus kekaguman, misterium tremendum fasinatum. Suatu rasa yang di situ diri tunduk mengakui ada yang tidak dikenali, the unknown, melenyapkan keinginan untuk merasa bisa dan tahu segalanya. Suatu jalan menuju Sanata Dharma, scientia sacra, pengetahuan yang sakral, kebenaran abadi, yang makrifat atau Isvara Pranidhana dalam istilah yoga.

Tiga bulan karantina diri menimbulkan aneka perasaan di batin: sedih, kecewa, senang, bosan silih berganti. Waktu membuat sesuatu yang baru. Setiap usaha untuk menghentikannya akan sia-sia, karena realitasnya setiap yang berkondisi selalu bergerak, berubah, panta rei kata Herakleitos. Di samping menuntun memasuki ruang batin di dalam diri, pratyahara menjadi teman dalam memaknai arti, atau hakikat hidup beryoga.

Jalan menuju ke dalam diri adalah jalan hati yang berarti jalan cinta. Jalan pratyahara adalah jalan cinta, jalan welas asih yang menautkan setiap sila dalam Pancasila Yoga: Ahimsa (kasih sayang), Satya (kejujuran), Asteya (integritas), Brahmacharya (konservasi energi diri), dan Aparigraha (kesederhanaan). Pratyahara sebagai jalan cinta juga menautkan unsur-unsur dalam Ashtanga System, delapan tangga yoga.

Saat pandemi, sebelum vaksin ditemukan, marilah kita mengeksporasi dengan mengamati sisi intangible, yang tak tampak selain tubuh, namun bisa kita rasakan: nafas, pikiran dan perasaan karena setiap keputusan yang kita buat, tentunya melibatkan semua unsur itu. Amati semua saat demi saat secara pasif, baik rasa bosan dan kemarahan, atau rasa menyenangkan. Karena semua rasa itu ada di diri kita, dari pikiran kita sendiri. Rasa tidak pernah bohong. Amati obyek sebagaimana apa adanya, seperti dikatakan Patanjali dalam Yogasutra I.2: “tada drastuh svarupe avastanam”, “si pengamat melihat obyek sebagaimana apa adanya”. Sva=sendiri, apa adanya; rupa=bentuk, obyek. New Normal, ‘Kenormalan Baru’, bagi praktisi yoga adalah menjalani hidup, setiap saat, detik demi detik dengan penuh kesadaran.

Maka yoga juga mengenal ‘Pancasila Yoga’ yang berisi butir-butir: (1). Ahimsa: tidak membunuh; tidak menyakiti; tidak dengki; tidak menyebar fitnah atau hoax; tidak ghibah. Jangan sampai diperiksa Komnas HAM;  jangan sampai masuk penjara kena pasal kriminal-pembunuhan dengan pemberatan. Sebaliknya mengembangkan compassion, kasih dan sayang; (2). Satya: tidak berbohong; tidak lebay; tidak mark-up CV; jangan sampai hidungnya memanjang seperti Pinokio dan diperiksa pakai lie detektor. Berkata jujur apa adanya. (3). Asteya: tidak mencuri, tidak menginginkan yang bukan haknya. Jangan sampai jadi buron KPK. Berintegritas; (4). Brahmacharya: tidak madon; tidak berzina – (kecuali suka-sama-suka ?);  tidak mengumbar nafsu syahwat; tidak over training; berlebihan olah fisik. Konservasi energi; dan (5). Aparigraha: tidak menumpuk di luar hak atau jatahnya; tidak meginginkan yang dimiliki orang lain; kesederhanaan.[MFR]

Jarak Pencipta Rindu

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

—–Yudhi Widdyantoro

Kebahagiaan sering kali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Untuk sampai ke puncak gunung, orang sering kali harus melewati bukit terjal dan jalan berliku. Aufklarung, renaisans, dan zaman pencerahan Eropa datang setelah melewati zaman kegelapan abad ke-17; saat itu filsafat masih menjadi “budak” agama-penguasa, jauh dari kredo “Sapere Aude” “Beranilah Berpikir”.  Lebaran Idulfitri, kembali kepada kesucian; kebersihan diri didapat setelah tempaan puasa yang sering kali tidak selalu mudah ketika dijalani.

Pandemi menghadirkan PSBB, lockdown, portal jalan, ibadah di rumah; silaturahmi ke keluarga dan  teman ditunda, tidak mudik; pakai masker, rajin mencuci tangan, dan jaga-jarak. Semuanya adalah cara untuk meredam ego kita, seperti yang terkandung di dalam makna puasa, atau juga yoga.

Latihan yoga adalah soal pengendalian diri. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Yama Niyama: tidak melakukan kekerasan, baik tindakan, ucapan, maupun pikiran; tidak mencuri, tidak berbohong. Yoga juga melatih kedisiplinan diri, seperti menjaga kebersihan dan kesucian diri, selain mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. 

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

Seluruh dunia saat ini sangat mengharap keberhasilan kerja-kerja saintis di laboratorium untuk menciptakan vaksin penyembuh Covid-19. Sebelum vaksin ditemukan, dunia tertolong oleh solidaritas global yang membuat krisis dan penderitaan tidak semakin nelangsa. Selain bantuan formal dan terorganisir, baik dari pemerintah atau lembaga, tidak sedikit pribadi dan komunitas saling membantu mereka yang terdampak pandemi Covid-19: menyumbang APD untuk tenaga medis yang kekurangan, memberi sembako, makanan, dan sebagainya. Solidaritas hanya mungkin terjadi pada mereka yang ‘berjiwa penuh’ ‘content’. Zakat, berderma, beramal, memberi adalah setelah kebutuhan utama diri terpenuhi. Pada akhirnya, Covid-19 menyentuh sisi kemanusiaan. Karena memang, beragama atau beryoga adalah juga soal manusia dan kemanusiaan.

Manusia unggul dalam yoga adalah dia yang menyadari kesalingterhubungan dirinya dengan masyarakat di mana dia berada, dan dengan alam raya yang melingkupinya. Cinta segitiga: diri-lingungan sosial-alam semesta perlu terus dihidupkan agar kehidupan berjalan secara lestari. Getaran cinta yang terbangun dari rindu harus terus ada. Cinta untuk memahami eksistensi diri ‘svadaya’; cinta pada kekasih-yang Mahakuasa, pada sesuatu yang transenden ‘Isvara Pranidhana’ tanpa ada intensi mengetahui dan menguasai segala. Spiritualitas adalah lautan. Sekecil apa pun perahu kita tetap terhubung dengan lautan. Tetap arungi agar sampai. Hanya sekadar menyadari.  Karena sesungguhnya matriks di semesta -jagat raya—terhubung juga dengan organ dan sistem fisiologis di dalam tubuh kita. “Everything in the universe is within you. Ask all from yourself,” kata Rumi.

Manusia yang tercerahkan dalam kacamata yoga adalah mereka yang telah terpenuhi tujuan hidupnya sehingga kesadaran diri terbangun dalam kesucian yang natural, seperti sabda Patanjali dalam sutra penutup, “purusatha sunyanam gunanam pratiprasavah kaivalyam svarupapratistha va citisakhtih iti” (YS: IV.34).

Setelah mendaki gunung, tentu saja kita harus turun. Segala pencapaian sampai di puncak gunung barulah separuh jalan. Pemandangan indah di puncak beserta segala ekstase kenikmatan tidaklah kekal sifatnya. Jalan menurun menuju pulang ke rumah bukan berarti selalu mudah. Begitu juga penuturan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta sebenarnya. Jalan pencapaian tertinggi dalam latihan yoga: samadhi, penerangan batin, pembebasan dari derita dunia –yang terbangun dari laku spiritual esoterik akan lebih lengkap hanya jika mewujud dalam laku sosial.

Seperti dalam melaksanakan ritual agama, hasil dari rutinitas ibadah berupa kesalehan spiritual, memunyai daya dorong untuk mewujud dalam relasi sosial di masyarakat: menjadi toleran, plural, dan menghargai kebinekaan. Menjadi tantangan besar pagi praktisi yoga agar selesai dari latihan yoga; bergeser dari matras yoga ukuran 80×180 cm; di luar studio, gym apakah nilai-nilai ideal yang terkandung dalam filosofi yoga dapat mengemanasi, meluber kasih dan sayangnya kepada orang di sekitarnya tanpa kecuali. Selain bahwa dia tidak menjadi buronan KPK, terlibat jaringan teroris, atau masuk bui karena mencuri.

Namun perlu diingat bahwa yang dikatakan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta. Anda, pembaca perlu menemukan sendiri kebenarannya. Kebenaran yang membebaskan tidak ditemukan lewat interpretasi, melainkan hubungan langsung dengan fakta. Pemandangan indah di puncak gunung, deritaan perjalanan menuju puncak, nafsu, keserakahan, kebencian, kekerasan, kecemasan, iri hati, rasa rakut, sakit hati atau semua rasa perasaan emosi adalah fakta. Apa yang kita pikirkan tentang fakta adalah interpretasi.

Setiap konflik batin bisa diselesaikan justru apabila batin dibersihkan dari interpretasi. Lupakan sementara Yogasutra Patanjali; singkirkan ayat-ayat kitab suci. Singkirkan pesan-pesan para pemuka agama; jangan terpaku ajaran master-guru yoga. Kesampingkan tradisi dan budaya. Lenyapkan semua otoritas di benak Anda. Amati secara pasif. Sinari setiap fakta dan lihatlah apa yang terjadi! Alami sendiri.[MFR]