Teruntuk Sobat Baru SAA

Assalamualaikum War. Wab.

Teruntuk Mahasiswa Baru SAA,

Perkenankan kami menyapa kalian dengan sebutan “Sobat SAA”. Mengapa? karena kita semua adalah sahabat yang akan selalu bersama dalam setiap suka dan duka. Kita semua adalah kawan dalam ikatan yang melampaui batas senioritas, etnik, warna kulit, apalagi sekadar pangkat atau jabatan. Kita semua adalah kawan yang akan selalu bergandengan tangan dan melangkah bersama menyongsong masa depan.

Dear Sobat SAA,

Sejak hari ini, Sobat sekalian menapaki sebuah fase penting kehidupan; sebuah etape hidup yang harus Sobat lalui demi sampai pada satu titik tujuan. Yakinlah Sobat bahwa jalan itu adakalanya indah dan tanpa hambatan. Tapi ingatlah juga Sobat, adakalanya jalan itu terjal, penuh liku dan kerikil tajam yang siap menjegal langkah kaki Sobat. Apapun itu, persiapkan mental Sobat karena itu semua bagian dari petualangan hidup yang harus ditempuh. Hanya yang bermental kuat yang akan bertahan dan tidak mengeluh.

Dear Sobat SAA,

Ragam alasan dan motivasi pasti ada di balik keputusan Sobat memilih SAA. Sebagian mungkin sudah yakin dengan pilihan itu, sebagian lagi mungkin masih ragu atau bahkan merasa dipaksa keadaan. Itu adalah hal yang manusiawi karena kita tidak pernah tahu pasti apa yang membentang dalam kehidupan kita ke depan. Akan tetapi, sekali Sobat sudah membulatkan niat dan tekad, maka dekap erat-erat semua itu karena hidup tak pernah berpihak pada peragu. Nasib seorang peragu hanya akan berujung pada tragedi karena ia tidak tahu apa yang harus diperbuat di tengah terpaan badai hidup yang setiap saat siap menghantam.  Maka, yakinlah dengan pilihan kalian, Sobat!

Dear Sobat SAA,

Sobat mungkin bertanya-tanya bisa jadi apa nanti Sobat setelah lulus dari SAA. Jawabannya bisa jadi apa saja, bukan sekadar penyuluh agama, aktivis perdamaian atau guru bahkan dosen agama jika Sobat melangkah ke tahap lebih lanjut. Kami tidak bisa menjamin profesi macam apa yang bakal Sobat geluti kelak sebagaimana ragam kiprah alumni kita saat ini. Tidak ada yang bisa menjamin itu. Akan tetapi, yakinlah Sobat bahwa kami akan sepenuh hati membantu Sobat menemukan jati diri sebagai insan akademis, sosial maupun religius. Kami akan ajarkan Sobat cara berpikir kritis atau beragama tanpa harus merendahkan kelompok atau golongan lain. Kami akan ajak Sobat berjumpa dan belajar tradisi lain dan bersama-sama mereka menumbuhkan benih perdamaian. Itulah bekal yang harus dimiliki setiap orang, apapun profesi Sobat nanti; dan tahukah Sobat, dunia saat ini butuh banyak orang seperti itu.  Maka, langkahkan kaki dengan tegak, Sobat!

Dear Sobat SAA,

Jangan silau dengan nama atau jumlah besar karena semua itu bukan jaminan.  Jangan pula minder dan berkecil hati karena cibiran dan pandangan sebelah mata. Ingatlah kata pepatah, layang-layang terbang tinggi dengan cara melawan angin, bukan dengan mengikuti arah angin. Jumlah yang sedikit bukan sebuah kelemahan, malah sebuah keuntungan. Ingatlah kata Tere Leye, penulis tersohor itu: “auman singa bisa membuat seiisi hutan lengang, sedangkan gonggongan berpuluh-puluh anjing hanya membuat hutan berisik”. Maka, mengaumlah, Sobat!

Selamat Datang Sobat Baru SAA IAIN Kediri. Ayo, bersama kita bentangkan layar perjuangan. Sukses buat Sobat SAA semua.  

Wassalamu’alaikum War. Wab.

#BanggaSAA #SAAMantab

AdminSAA

Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

——Maufur

Demo besar-besaran di Amerika yang kadang disertai dengan aksi penjarahan dan pengrusakan sejumlah fasilitas publik terjadi hampir merata di seluruh negara bagian Amerika. Pemicunya adalah kebrutalan polisi yang makin parah dalam beberapa tahun terakhir ini. Advokasi terhadap isu ini bukan hal yang baru, tetapi emosi publik meledak saat menonton video pembunuhan tragis seorang pemuda kulit hitam, George Flyod, di tangan seorang polisi bernama Derek Chauvin; Flyod meregang nyawa dengan kepala ditindih kaki Derek saat dia diduga melakukan tindakan kriminal (penggunaan uang palsu senilai 20 dollar).

Tak pelak, tagar #WeCan’tBreathe berseliweran di media sosial sebagai bentuk keprihatinan. Alih-alih menenangkan, Presiden Donald Trump memberi komentar yang seolah-olah menyiram bensin pada nyala api yang siap berkobar. Dalam salah satu komentar di akun medsos-nya, Presiden dari Partai Republik ini memanggil para demonstran dengan sebutan ‘thugs’ ‘perusuh’ atau ‘kriminal’; dia juga mengancam akan menurunkan lebih banyak personel keamanan dengan izin tembak di tempat bagi perusuh.

Betul saja, tak berselang lama protes pun membesar dan meluas, terutama dari komunitas kulit hitam. Amuk masa tak terhadang; bentrok polisi dan para demonstran tak terhindarkan. Slogan #BlackLiveMatters kembali berkumandang sebagai bentuk protes terhadap kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh sejumlah warga kulit hitam. Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

Saya ingin menyoal bagaimana diaspora Indonesia menyikapi situasi yang demikian. Secara umum, berdasarkan riset kecil-kecilan di sosial media dan diskusi dengan beberapa teman yang tinggal di Amerika, respons diaspora Indonesia terbelah. Hanya saja, saya berfokus pada beberapa respons nyinyir yang menggelitik akal sehat. Argumen dalam tulisan ini berangkat dari dua contoh respons yang saya jaga anonimitasnya di bawah ini. Saya paham betul bahwa kedua kasus ini tidak mewakili suara diaspora Indonesia di sana. Dengan mengulas kedua kasus ini, saya ingin menawarkan refleksi kritis tentang rasisme terselubung (covert racism) yang sering tidak kita sadari.

Tepat di bawah sebuah tautan berita dari FoxNews tentang 50 ATM yang dibakar, seorang diaspora Indonesia mengutuk kejadian itu dan menganggap sebagai kegilaan nirnalar. Dia menyayangkan—dan tentu juga saya sendiri—pembakaran itu. Tapi komentar berikutnya membikin hati ini miris: dia mengatakan bahwa huru-hara itu seharusnya tak terjadi andai setiap orang sadar bahwa hidup mati ada dalam genggaman Tuhan. Bayangan saya bahwa selama ini orang Indonesia yang tinggal di Amerika itu open-minded—jika bukan karena pendidikan, minimal karena tempaan pengalaman tinggal di negara multikultual—jadi ambyar seketika.

Pandangan fatalistik seperti itu seolah hendak mengatakan bahwa Flyod tewas semata-mata takdir Tuhan, maka terimalah dengan lapang dada! Entah apa yang merasuki si pemilik komentar itu. Dia menutup mata bahwa kematian Floyd adalah tidak wajar bahkan bisa digolongkan sebagai pembunuhan—pelakunya pun kini dalam penyelidikan. Dia juga tidak menunjukkan rasa empati terhadap nilai-nilai perjuangan melawan white supremacy yang tengah mewabah sejak era Trump. Bukankah perjuangan mereka itu juga berarti pembelaan terhadap hak-hak kaum minoritas, termasuk orang Indonesia, yang tinggal di sana?

Komentar serupa dijumpai dalam status Facebook dari seorang diaspora Indonesia. Status ini agak panjang dan diawali dengan kalimat klisé soal kebebasan berekspresi dan berpendapat di Amerika Serikat. Tapi seperti komentar pertama, status ini menunjukkan pembelaan terhadap kepolisian. Si penulis menyebut demonstrasi damai telah disusupi para kriminal sehingga berujung kerusuhan, penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Dia ingin menunjukkan situasi di sana sudah benar-benar gawat, lawless, anarkis dan penuh teror, seolah-olah akan menjadi akhir dari bangsa besar bernama Amerika.  Sembari memberi puja-puji terhadap kinerja dan kebaikan mayoritas aparat kepolisian di sana, dia menyoal soal desakan ‘defund the police’ yang disuarakan para demonstran. Status ini ditutup dengan menyitir ayat Alquran yang berbunyi: “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” sebuah kutipan yang indah sekali.

Bagi saya pribadi, status di atas adalah bentuk kegagalan melihat sebuah peristiwa dari perspektif yang lebih luas, malah terkesan menyalahkan pihak korban (blaming the victim).  Jika ditelisik, situasi kisruh yang terjadi saat ini di Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari diskriminasi rasial yang kerap dialami oleh kelompok minoritas, terutama kulit hitam. Lebih jauh lagi, Achmad Munjid (Kompas, 7/06/2020), mengatakan bahwa ketimpangan ekonomi, konstelasi politik yang kian memanas, dan juga kebijakan Trump yang prorasial tertentu adalah biang keladi di balik peristiwa kisruh ini.

Dilansir dari https://www.washingtonpost (4/06/2020) tingkat kesenjangan ekonomi antara kaum kulit putih dan kulit hitam saat ini berada pada titik terendah seperti pada tahun 1968. Selain itu, masih dari laman yang sama, pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat terutama bagi kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Jadi, banyak faktor di balik peristiwa ini, bahkan bersifat sistemik karena menyangkut kebijakan pemerintah. Melihatnya hanya dari perspektif kericuhan dan penjarahan terlalu menyederhanakan persoalan.

Semua orang juga tidak memungkiri banyak sekali petugas kepolisian di Amerika yang bekerja secara baik dan profesional. Bahkan beberapa gambar beredar di media sosial bagaimana petugas kepolisian bergandengan tangan dan berpelukan dengan para demonstran. Saya pribadi pernah merasakan keramahan dan kebaikan aparat polisi dalam beberapa kunjungan ke sana. Meski demikian, bukan berarti kita harus menutup mata atas rapor merah aparat kepolisian baik sebagai individu maupun kelembagaan. Dalam pandangan saya, kedua diaspora Indonesia di atas memerlihatkan sikap acuh tak acuh—atau, memang tidak tahu—terhadap fakta tingginya angka kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Laporan Tucker Higgins (CNBC, 4/06/2020) menyebutkan bahwa selama tahun 2019 rata-rata tiga orang per hari tewas akibat kekerasan yang dilakukan kepolisian. Di tahun yang sama, ada sekitar 1000 kasus pembunuhan yang melibatkan petugas kepolisian dan dari angka itu korban terbanyak (24%) berasal dari kaum kulit hitam. Dilaporkan juga bahwa dari total kasus kematian akibat kekerasan berlebihan oleh aparat kepolisian antara 2013-2019, 99% pelaku tidak dikenai sanksi pidana karena  alasan kekebalan yang memenuhi syarat (qualified immunity).  Maka dengan melihat data ini, kita bisa tunjuk jari siapa sebenarnya yang menjadi korban .

Narasi-narasi sumir dari segelintir orang diaspora Indonesia dalam menyikapi kasus Floyd di atas tidak mewakili kecenderungan diaspora Indonesia secara keseluruhan. Beberapa kawan Indonesia yang saat ini berada di sana memiliki sudut pandang berbeda. Sikap mereka menunjukkan empati dan tidak menghakimi, sambil tetap menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dan kekerasan. Saya yakin masih ada banyak lagi orang diaspora Indonesia yang punya sikap sama seperti mereka, baik yang disuarakan maupun hanya disimpan dalam hati karena pelbagai alasan. Wallahu’alam.