The Intellectual Seducer dan Pelecehan Seksual di Kampus

Para civitas akademika tak boleh berpangku tangan dan membiarkan kasus pelecehan seksual menjadi kanker yang mengubah kampus menjadi tempat angker. Bantu dan dampingi para korban, lebih dengarkan suara mereka ketimbang para intelektual yang lebih terlatih untuk membual.

—-Khoirul Anam

Hingga saat ini, pelecehan seksual di lingkungan kampus masih menjadi tema yang kurang mendapat perhatian serius. Para pelaku pelecehan masih kerap mendapat perlindungan dari sejumlah pihak yang terus menyangkal dan lebih mementingkan nama baik ketimbang nasib korban yang tercabik. Kampus semestinya memang menjadi tempat aman yang mampu membebaskan mahasiswa dari kekhawatiran akan masa depan, tetapi sayangnya, tempat yang sakral ini justru tidak benar-benar bisa lepas dari kasus pelecehan seksual.

LBH Yogyakarta dalam “Kekerasan Seksual dalam Institusi Pendidikan” menyebut pelecehan seksual di lingkungan kampus sebagai “rahasia umum yang sengaja dilupakan oleh sebagian besar pihak di dalamnya.” Salah satu sebabnya, pelecehan seksual di lingkungan kampus melibatkan faktor yang lebih dari sekadar pelampiasan birahi, tetapi juga –dan ini yang sangat menyebalkan—relasi kuasa antara pelaku dan korban pelecehan. Para pelaku kerap menggunakan posisinya yang lebih tinggi (seperti dosen) untuk membungkam suara korban (terutama mahasiswi). Karenanya tak heran, banyak kasus pelecehan yang tak terlaporkan. Di beberapa kasus, teror kerap dialami oleh korban ataupun pendamping agar kasus tak diungkapkan. Hal ini tentu menambah panjang catatan suram penanganan kekerasan seksual di dunia pendidikan.

The Intellectual Seducer

Dzeich dan Weiner (1990) menjelaskan ada banyak jenis kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, salah satunya –dan ini yang khas pada kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan—adalah the intellectual seducer, yakni penyalahgunaan kemampuan intelektual untuk mengelabuhi calon korban sebelum akhirnya dilecehkan. Modus yang umum digunakan adalah, para pelaku pelecehan menggunakan daya tarik intelektualnya untuk menjebak para korban. Mereka membangun jebakan dalam bentuk relasi kuasa yang tak akan mudah dihindari oleh para korban, akhirnya, setelah pelecehan terjadi, korban tetap lebih sering tak bisa lepas dari jeratan ini.

Pihak kampus juga cenderung memberi perlindungan dengan lebih memihak kepada aktor intelektual mereka; suara para intelektual ini lebih didengar kampus ketimbang jeritan para korban pelecehan. Hal ini tampak misalnya dalam penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus yang dilakukan oleh IM ketika dirinya masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus keagamaan di Yogyakarta. Salah satu penyintas, sebagaimana dilaporkan Tirto dalam “Dugaan Kasus Kekerasan Seksual: Di Balik Citra Baik”, menyatakan, “Waktu kejadian, saya cuma mikir, pasti orang-orang lebih percaya dia walaupun dia cuma sekali bilang ‘tidak’ dan saya menceritakan kasus itu berkali-kali. Pikiran itu ada di kepala saya lama sekali,” ujarnya.

Laporan yang dikumpulkan oleh LBH Yogyakarta menyebut beberapa korban pelecehan adalah mantan fans pelaku karena yang bersangkutan sangat populer di kampus. Ia dikenal cukup berprestasi dan tampak saleh. Saat kasus ini diusut pun, IM masih kerap memamerkan aktivitas intelektualnya; ia diundang untuk mengisi berbagai kajian keagamaan dan sudah bergelar ustaz.

Maka pantas saja para korban merasa ragu untuk melaporkan kasus yang menimpanya; suara mereka tak akan didengar, mereka pun tak akan mendapat perlindungan. Bahkan bukan tak mungkin, para korban justru dirundung serangan balik dan stigma. “Halah, fitnah aja itu. Astgahfirullah” atau “Paling memang kamu yang menggoda, iya, kan?”

Payung Hukum

Catatan-catatan penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus menyebut banyak korban yang enggan melaporkan kasus yang menimpa mereka lantaran tak yakin kasus mereka mendapat penanganan yang semestinya. Hal ini diperparah dengan fakta banyaknya kampus yang tak memiliki aturan khusus mengenai penanganan pelecehan seksual. Kalaupun ada, aturan itu hanya sebatas panduan etik civitas akademik, bukan penanganan kasus yang pelik.

Jika kasus pelecehan seksual ini menimpa perempuan, aturan yang kerap digunakan adalah Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014 yang merupakan perubahan atas UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, tetapi –sebagaimana namanya—undang-undang ini hanya ditujukan untuk perlindungan anak, yakni mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun, karenanya jika korban pelecehan seksual adalah mahasiswi yang berusia 18 tahun ke atas, mereka tak memiliki perlindungan hukum yang jelas.

Mendikbudristek Nadiem Makarim yang sejak tahun lalu menyebut pelecehan seksual sebagai satu dari tiga dosa besar di dunia pendidikan –dua lainnya adalah intoleransi dan perundungan—, nyatanya belum juga menelurkan regulasi resmi yang mengatur soal pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hanya memberi keterangan bahwa pihaknya telah selesai melakukan harmonisasi beberapa peraturan yang nantinya akan diundangkan, salah satunya tentang pencegahan kekerasan seksual.

Sambil menunggu peraturan di atas diundang-undangkan, para civitas akademika tentu tak boleh berpangku tangan dan membiarkan kasus pelecehan seksual menjadi kanker yang mengubah kampus menjadi tempat angker. Bantu dan dampingi para korban, lebih dengarkan suara mereka ketimbang para intelektual yang lebih terlatih untuk membual. Kita semua tentu tak ingin kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi hanya berakhir di meja mediasi, tanpa ada sanksi yang berarti. Jika terus dibiarkan, pelaku pelecehan akan terus berkeliaran sementara korban harus menanggung trauma dan kehancuran, entah sampai kapan.[MFR]

Cewek Bercadar Tidak Sangar

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

—Khoirul Anam

Bagi sebagian orang, cadar yang dikenakan perempuan muslim masih dianggap sebagai ancaman. Saking mengancamnya, tak sedikit negara di Eropa yang melarang penggunaan cadar di tempat-tempat umum. Prancis, Belgia, Belanda, Swiss, Nigeria hingga Norwegia sudah beramai-ramai mengeluarkan larangan penggunaan cadar. Bahkan di Indonesia, Menteri Agama Fachrul Razi sempat mempersoalkan penggunaan cadar di kalangan pegawai negeri. Kain gelap yang menutup sebagian muka itu dianggap sebagai alarm bahaya.

Bagi Nevi (bukan nama sebenarnya), ketakutan terhadap cadar yang dikenakan perempuan merupakan sikap yang berlebihan. Sebabnya, ia mengaku satu-satunya alasan ia mengenakan cadar adalah perintah agama; tak ada niat untuk menakut-nakuti orang lain.

“Ini kan perintah syariat,” kata dia dalam sebuah obrolan ringan di kantor Pesantren Islam Amanah Putri, Tanah Runtuh, Poso belum lama ini.

Nevi hanyalah satu dari ratusan santri perempuan lain di Amanah yang mengenakan cadar. Baginya, cadar (niqab) adalah pelindung terbaiknya dari maksiat. Karenanya ia mengaku nyaman dengan niqabnya dan tak berniat untuk menanggalkannya.

“Ada beberapa pendapat sebenarnya di Islam tentang cara berpakaian muslimah, tetapi saya memilih mengenakan niqab karena merasa nyaman,” kata Nevi menjelaskan alasannya.

Pimpinan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah yang membawahi pesantren Islam Amanah, Haji Muhammad Adnan Arsal mengaku tak pernah mewajibkan penggunaan cadar bagi santri dan ustazah di pesantrennya, ia bahkan melarang pengurus dan santri pesantren memaksakan penggunaan cadar, namun jika dengan mengenakan cadar mereka merasa aman dan nyaman, pihaknya tentu tak akan melarang.

“Saya tidak pernah mewajibkan itu, bahkan saya larang kalau ada yang memaksakan santri untuk pakai cadar, tapi kalau mereka merasa nyaman, merasa lebih cantik, dan aman dari melakukan maksiat, ya silakan,” jelas dia.

Nevi mulai mengenakan cadar sejak kelas dua SMP atas kemauannya sendiri. Ia mengaku sudah lama memerhatikan muslimah-muslimah lain yang mengenakan cadar di lingkungannya, ia tertarik dan akhirnya memutuskan untuk ikut mengenakan kain penutup yang hanya menyisakan mata itu.

“Sebenarnya ya panas, tapi karena sudah terbiasa, jadi ya biasa saja,” kata dia saat ditanya bagaimana rasanya mengenakan niqab, model pakaian yang menjulur dari atas kepala hingga pangkal kaki.

Hal senada juga disampaikan Sari, perempuan yang mengajar di pesantren Amanah ini merasa niqab adalah pelindung dirinya yang paling lengkap. Pakaian ini disebutnya tak hanya mampu menutupi aurat, tetapi juga melindunginya dari melakukan maksiat.

Ia dan rekan-rekannya di pesantren mengaku tak pernah ambil pusing terkait tuduhan yang menyebut perempuan bercadar cenderung tertutup, tidak friendly atau bahkan radikal, “Cuekin saja,” katanya sambil tertawa.

Sari, Nevi, Intan, Ana, Fitri, Lia, Lala, Susan dan banyak lagi perempuan di Poso merasa cadar tak pernah membatasi mereka dalam bergaul. Mereka mengaku tetap terbuka dan mudah berteman dengan siapa saja. Sementara soal radikalisme dan terorisme, mereka sepakat menolak paham-paham yang mengajarkan kekerasan.

Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ada ratusan perempuan muslim yang mengenakan cadar sebagai pakaian keseharian mereka. Warga pun tampak sudah mulai terbiasa dengan model pakaian yang sebenarnya baru mulai marak dikenakan usai konflik komunal antara massa Kristen dan muslim sejak 1998 lalu.

Beberapa pengurus di Pesantren Islam Amanah menyebut cadar tak pernah menjadi penghalang bagi para santri untuk berprestasi. Santri-santri Amanah bahkan beberapa kali sampai di level-level tertinggi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) yang mengantar mereka hingga ke banyak daerah untuk bertanding, seperti Batam, Jepara, dll.

Bukan Simbol Poligami

Pandangan miring lainmya yang kerap dialamatkan ke perempuan bercadar adalah poligami, yakni bahwa perempuan yang mengenakan cadar gampang ditinggal nikah lagi. Tentang ini, Sari bereaksi keras. “Semua perempuan sebenarnya sama, nggak mau diduakan. Berat,” kata dia.

Meski begitu, Sari mengaku bahwa poligami adalah bagian dari syariat agama. “Jadi, kalau suami mau nikah lagi, Anda dipoligami, mau nggak?”

“Nggak mau!”

Obrolan dengan perempuan-perempuan bercadar ini berjalan lancar, mereka tak tampak kaku apalagi menghindar. Beberapa pengajar pria yang turut dalam obrolan itu menyebut cadar bukan penghalang, artinya para perempuan ini tetap bisa berinteraksi seperti biasa. Cadar lebih berfungsi sebagai pembatas, ia membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram agar tak sampai pada level yang bukan-bukan.

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

Jadi, siapa yang bilang perempuan bercadar sangar? mainmu kurang jauh!

Merayakan Idulfitri Tanpa Spasi

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi.

Khoirul Anam

Pucuk Ramadan tahun ini sudah mulai terlihat batang hidungnya. Hanya dalam hitungan hari saja, umat Islam di seluruh dunia akan segera merayakan hari yang dinanti-nanti; yang meski untuk kali ini, hari tersebut harus dirayakan secara berbeda; semua karena korona. Hari yang dimaksud adalah hari raya atau Idulfitri.

Secara bahasa, “Idulfitri” adalah satu kata. Ia tidak ditulis terpisah dengan spasi; menjadi “Idul fitri”, tidak pula ditulis dengan tambahan huruf “h”; menjadi “Idhulfitri” atau “Idhul fitri”. Dilihat dari asal katanya, “Idulfitri” adalah lema yang merupakan serapan dari bahasa Arab “id” dan “alfitri” yang berarti “kembali” dan “suci”. Abdul Gaffar Ruskhan dalam Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia (2007) menyebut “id” sebagai subjek dengan tanda harakat u (damah), itu sebabnya “id” harus ditulis menyambung dengan “fitri” sebagai penanda makrifah: al-fitri.

Karenanya, ketika kata “Idulfitri” diserap ke dalam bahasa Indonesia, “Idul” menjadi unsur terikat yang harus melekat dengan kata sesudahnya, fitri. Maka jadilah “Idulfitri”. Ketentuan yang sama berlaku pula untuk kata “Iduladha” yang harus ditulis tanpa spasi, bukan “Idul adha”.

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi. Hal ini kemungkinan besar disandarkan pada model pengucapan; yang membutuhkan jeda di antara “Idul” dan “fitri”, sehingga muncul kecenderungan untuk menunjukkan jeda tersebut melalui penggunaan spasi.

Aturan soal penulisan kata yang terdiri dari dua unsur kata sebenarnya memang cenderung menyetujui untuk menggunakan spasi, terlebih jika kedua unsur kata tersebut masing-masing memiliki arti tersendiri, contoh: “terima kasih”, “kerja sama”, “ibu kota”, dll. Kata-kata tersebut ditulis secara terpisah lantaran masing-masing unsur katanya memiliki arti tersendiri; membuat keduanya mampu berdiri sendiri dalam kalimat.

Kata “terima kasih” misalnya, “terima” dan “kasih” memiliki arti masing-masing yang membuat keduanya sanggup berdiri di kalimat utuh, contoh: “Aku terima kasihmu meski tidak tubuhmu” atau “Dia kasih aku harapan”.

Lalu, apa yang membedakan kata gabungan ini dengan “Idulfitri”? kenapa ia harus ditulis terpisah? Sebabnya jelas, “id” termasuk ke dalam unsur terikat yang harus melekat pada kata sesudahnya. Karenanya, meskipun “id” dan “fitri” memiliki maknanya masing-masing, keduanya tak ditulis secara terpisah.

Kebiasaan lain yang tak tepat secara tata bahasa terkait penggunaan kata “Idulfitri” adalah kecenderungan untuk menggunakannya secara menumpuk dengan kata “hari raya”, misalnya mengucapkan, “selamat hari raya Idulfitri, ya!”

“Idulfitri” sudah mengandung makna hari raya atau hari besar keagamaan, karenanya tak perlu lagi menggunakan kata “hari raya”, cukup ucapkan, “Selamat Idulfitri, jangan lupa lunasi utangmu, ya.”

Mengucapkan “selamat hari raya Idulfitri” sama halnya dengan bilang “hari Senin” atau “bulan Januari”. Tanpa menggunakan kata “hari” sekalipun, kita sudah paham bahwa “Senin” adalah nama hari, begitu pula dengan kata “bulan” sebelum kata “Januari”.

Baiklah, selamat merayakan Idulfitri, teman-teman. Semoga Tuhan yang Mahabaik memberkati kita semua.

Salam #PatroliTataBahasa.

Sabyan dan Jerat Fanatisme Arab

Sumber Foto: https://akurat.co/hiburan

Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Belum lama ini publik digemparkan dengan ramai pemberitaan soal grup gambus Sabyan yang disebut melakukan blunder besar lantaran membawakan lagu yang tak bertema religi ketika tampil di sebuah acara Ramadan di salah satu stasiun televisi nasional. Alih-alih mendendangkan lagu bertema Ramadan atau sejenisnya, grup yang digawangi oleh Nisa dan beberapa temannya yang tak terlalu terkenal itu memilih menyenandungkan lagu patah hati berjudul “Ya Tabtab” milik Nancy Ajram, penyanyi pop Arab asal Lebanon.

Tak ada yang salah sebenarnya dari pilihan lagu ini, sebab hingga acara selesai pun, tak tampak teguran atau protes dari orang-orang yang ada di lokasi syuting. Bahkan ustaz yang duduk tak jauh dari lokasi tampak manggut-manggut menikmati alunan lagu yang sedang dinyanyikan. Terlebih, meski bertemakan patah hati, lagu ini berbahasa Arab, sehingga tampak seolah Islami. Okelah, tak ada masalah.

Teguran –atau lebih tepat disebut sentilan— baru muncul beberapa saat kemudian di jagat Twitter. Saya melihat sentilan ini pertama kali dari akun milik Iman Brotoseno di @imanbr. “Nisa Sabyan menyanyikan lagu Ya Tabtab dalam acara Syair Ramadhan. Apakah lagu berbahasa Arab pasti berkaitan dengan Islam?” tulisnya. “Itu lagu penyanyi Lebanon, Nancy Ajram, seorang Arab Kristen. Lagu tentang perempuan yang ngambek dan kesal sama pacarnya,” lanjut dia menjelaskan.

Seketika, warga di negeri twitter berkicau ramai membahas insiden ini; ada yang menyalahkan Sabyan lantaran tak cermat memilih lagu, namun ada pula yang mendukung kelompok gambus ini sebab yakin mereka tak melakukan kesalahan. Memangnya kenapa kalau Sabyan membawakan lagu bertema patah hati di acara religi? Bukankah patah hati juga memiliki dimensi religi sebab ia justru sangat bisa mendekatkan kita pada Sang ilahi? Lagipula, lagunya menggunakan bahasa Arab, kok! Sirik amat.

Nah, ini masalahnya. Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Ganti Wadah

Perdebatan soal kaitan antara Islam dan Arab sesungguhnya adalah hal yang sudah sangat membosankan. Tema ini diulang berkali-kali seolah tak akan pernah tahu kapan semua ini akan berhenti. Yang kita tahu, perdebatan terkait tema ini melahirkan retakan besar di tubuh umat Islam Indonesia, dan barangkali di banyak negara lainnya. Sebagian kelompok percaya bahwa Islam harus dijalankan secara kaffah atau menyeluruh. Artinya, tak boleh setengah-setengah; hanya mengambil ajarannya tapi meninggalkan budaya yang membentuk ajaran tersebut; Arab.

Kelompok ini cenderung menempatkan bokongnya pada sudut tekstual. Mereka melekatkan keimanan hanya pada teks-teks agama berupa Alquran dan hadis yang diyakini telah berisi panduan lengkap dalam menjalani hidup; mulai bangun tidur hingga nanti tidur lagi. Kelompok ini cenderung anti terhadap penafsiran teks agama sebab teks-teks tersebut bersifat ta’abudi; harus ditaati begitu saja.

Kecintaan kelompok ini terhadap teks-teks agama yang kebetulan berbahasa Arab tentu berimplikasi pada kecenderungan untuk mencintai pula segala hal yang berbau Arab. Karenanya tak heran, kelompok pemuja Arab ini menolak keras segala hal yang tak berbau Arab, salah satunya adalah konsep Islam Nusantara. “Apa-apaan ini, Islam kok Nusantara segala. Tak ada dasarnya itu!” begitu kira-kira reaksi mereka tiap kali mendengar upaya pribumisasi Islam.

Di sisi lain, ada pula kelompok yang percaya bahwa Islam tak sekaku yang dibayangkan kelompok pertama. Bagi kelompok ini, Islam tak sama dengan Arab; mereka bahkan cenderung menolak segala bentuk Arabisasi Islam. Bahwa Islam berasal dari Arab, iya; tetapi ini tak serta merta berarti bahwa Islam harus Arab. Sebabnya, Islam tak hanya dihidupi oleh orang-orang Arab, tetapi juga orang-orang dari berbagai latar belakang; yang tentunya memiliki tantangannya masing-masing.

Memaksakan untuk menampilkan Islam dengan wajah Arab justru akan mematikan agama paling bontot di urutan agama Abrahamik ini. Itu sebabnya, kelompok kedua menawarkan untuk melakukan pribumisasi Islam. Yakni upaya untuk membumikan ajaran Islam agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karenanya, pribumisasi Islam tak berarti mengubah ajaran inti dari Islam, tetapi melakukan kontekstualisasi atas ajaran-ajaran tersebut agar relevan dengan perkembangan zaman. Sebab agama harus ada gunanya, jika tidak, maka ia akan dilupakan, laiknya mantan yang tak layak bahkan untuk sekadar dikenang.

Salah satu tokoh yang paling getol menyuarakan pentingnya membumikan ajaran Islam dan menolak Arabisasi Islam adalah Gus Dur. Dalam pandangan beliau, Arabisasi menyimpan potensi bahaya yang tak main-main, yakni tercerabutnya masyarakat dari budayanya sendiri. Lagi pula, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat butuh tuntunan agama yang tak menghapus akar-akar budaya dan sosial yang membentuk jari diri mereka. Yakni agama yang menghargai lokalitas tiap pemeluknya tanpa mengubah sedikit pun esensi dari agama itu sendiri.

Sampai sini kita tahu, Islam tak sama dengan Arab. Jika Islam adalah isi, maka Arab adalah wadahnya. Isi dapat berpindah wadah tanpa mengalami perubahan pada sisi substansi; ia tetaplah isi namun barangkali berbeda rupa sebab menyesuaikan dengan wadahnya.

Salah Sendiri

Kembali ke kontroversi terkait pilihan lagu yang dibawakan Sabyan, marilah kita anggap insiden ini sebagai pengingat agar kita tak terlalu gila Arab. Arab masa kini tak beda jauh dengan Indonesia, dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam; yang tentu tak semuanya beragama Islam. Orang Arab juga tak melulu menghabiskan waktu untuk beribadah demi mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, sebab ada pula yang merutuki nasib lantaran patah hati, seperti yang dilakukan oleh Nancy Ajram tadi.

Kita tak perlu ambil pusing soal Sabyan yang tak menyanyikan lagu religi di acara TV itu, bisa jadi, mereka memang benar-benar melakukan blunder dengan menyanyikan “Ya Tabtab Mak Tratab” sebab mereka juga tak tahu maksud lagu itu; yang penting berbahasa Arab, dah! Tetapi mungkin juga, Sabyan sengaja ngerjain kita yang sudah kadung gandrung pada segala hal yang bernuansa Arab. Seperti menyindir kecenderungan sebagian dari kita yang cekak dalam beragama.

Entahlah. Saya cuma heran, kenapa di Sabyan yang terkenal hanya vokalisnya saja?

Techno-Religion: Menggapai Ilahi Dengan Teknologi

Photo Source: https://www.learnreligions.com/technology-as-religion-4038599

Dalam sebuah acara bertajuk “Techno-Religions and Silicon Prophets” di Google Talks, Yuval Harari dengan berapi-rapi menjelaskan pola keberagaman masyarakat modern yang disebutnya telah mengalami banyak sekali perubahan, salah satu sebabnya adalah ketergantungan masyarakat modern, tak terkecuali yang religius, terhadap teknologi.

Ketergantungan ini bahkan telah menyebabkan banyak retakan pada pondasi keagamaan. Retakan yang pertama adalah fakta bahwa ‘kiblat’ untuk agama-agama besar telah bergeser. Tak lagi di Mekah, Israel atau wilayah-wilayah religius dan suci lainnya; kiblat untuk agama modern saat ini adalah Silicon Valley.

Barangkali, Silicon Valley dianggap lebih relevan untuk menjadi tumpuan pola keberagamaan masyarakat modern yang tak sabaran, tak sabar untuk menikmati surga, nanti setelah mati. Tak sabar untuk mereguk susu langsung dari sungai-sungai yang berserakan di surga sana, entah di mana. Ketaksabaran ini membikin banyak masyarakat modern mengusahakan berbagai cara untuk mencecap nikmat surga secara lebih cepat, termasuk dengan memindahkan image sang ilahi ke gulungan-gulungan kabel teknologi.

Harari tak sedang bilang bahwa agama yang lawas telah tewas, tidak. Yang ia tekankan adalah pergeseran pola keberagaman masyarakat yang telah berubah, khususnya dalam mengartikan agama, komplit dengan segala nilai-nilai sakralnya. Bagi sebagian masyarakat modern, tumpukan ajaran agama dianggap tak lagi relevan; ia hanya berisi panduan untuk menuju Tuhan, bukan tips and tricks menyelesaikan semua permasalahan di kehidupan yang sekarang; yang meskipun sementara, namun tetap saja menyiksa jika tak bisa menyelesaikan semua persoalannya.

Apalagi, manusia modern tak bisa dibujuk dengan janji-janji surga atau kebahagiaan tanpa akhir di kehidupan yang abadi nanti, sebab pilihannya adalah: jika bisa bahagia di dunia dan akhirat sana, untuk apa menanggung derita sebelum masuk surga?Karenanya, bahagia di dunia juga perlu menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan, tak bisa digadai dengan kesalehan. Masyarakat modern yang masih menautkan diri pada agama, di mana pun berada, disatukan oleh keinginan yang sama; tetap relijius namun dengan banyak fulus.

Jalan di Tempat

Barangkali, para pendiri agama tak pernah membayangkan bahwa masyarakat bergerak begitu cepat; melakukan berbagai eksperimen dan berakhir dengan banyak penemuan penting. Seringkali, penemuan-penemuan ini berhasil mewujudkan gambaran surga sebagaimana kerap diobral para pemuka agama. Kata mereka, di surga nanti semua makanan sudah disediakan; apa yang dibutuhkan dapat segera didapat dengan satu-dua sentuhan. Dengan teknologi, manusia modern tak perlu menunggu surga untuk dapat merasakan fasilitas –yang dulunya—mewah ini. Tinggal klik Go-food atau Grab-food misalnya, makanan yang diinginkan akan segera datang. Tak perlu repot memasak, tak perlu pula antre lama di kedai makanannya; cukup tunggu saja di rumah, boleh sambil rebahan, seseorang akan segera datang mengantarkan makanan yang dipesan.

Hal lain yang membuat manusia tetap menautkan diri pada agama adalah keyakinan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang baik bagi kita, sebab kita semua adalah ciptaan-Nya. Masalahnya, kebanyakan dari kita tak siap dengan kenyataan bahwa teknologi juga bisa melakukan peran itu; mengetahui diri kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Sebabnya, perangkat-perangkat teknologi melihat tubuh kita bukan sebagai kesatuan antara jiwa dan raga dengan dimensi ilahiahnya, melainkan sebagai kumpulan algoritma biometrik.

Algoritma ini dapat dibaca, ditelusuri, dan dipahami. Sehingga teknologi, khususnya dalam bidang medis dan kesehatan, mampu memberikan pilihan solusi untuk berbagai potensi persoalan yang mungkin dihadapi oleh tubuh kita. Semisal, seseorang dapat melakukan langkah pencegahan berdasarkan hasil test medis yang menunjukkan bahwa ia berpotensi besar terkena serangan jantung dalam lima hingga tujuh tahun mendatang.

Hal ini menunjukkan bahwa ternyata bukan Tuhan saja yang bisa mengetahui diri kita secara lebih baik, teknologi juga bisa melakukan hal serupa, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Fakta ini tidak lantas berarti agama telah bisa dikalahkan oleh teknologi, deretan kenyataan ini hanya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa di saat teknologi terus mengalami kemajuan dengan berbagai penemuan kelas kakap, agama masih saja jalan di tempat. Tak ada penemuan penting yang dihasilkan agama, masih saja berkutat soal surga dan neraka.

Kolaborasi

Namun agama bukan saja soal ajaran-ajaran Ilahi yang disekap dalam lembaran-lembaran kitab suci, tetapi juga perilaku umatnya yang mendaratkan ajaran-ajaran Ilahi ke bumi. Tentang ini, penjelasan Xuecheng penting untuk dihadirkan. Mantan presiden Buddhist Association of China itu menyebut agama memang barang kuno, namun orang-orangnya (umat beragama) adalah makhluk modern.

Karenanya, umat beragama sebaiknya mengakrabkan diri dengan teknologi, sebab dengan kemajuan teknologi, umat beragama justru makin mudah menggapai sang Ilahi. Dengan ditemukannya pesawat terbang, misalnya, orang dapat menempuh perjalanan jauh untuk berhaji dengan mudah dan menyenangkan. Tak perlu lagi menghabiskan waktu hingga berbulan-bulanmenyusuri daratan dan lautan untuk sampai ke tanah yang dimulaikan Tuhan.

Ini berarti, agama dan teknologi tak sepatutnya diletakkan di sudut-sudut yang berlawanan. Keduanya memang tak sama, namun bukan berarti tak mungkin untuk dikolaborasikan untuk kebaikan bersama.Jangan lupa, kemajuan teknologi tak hanya menghasilkan mesin-mesin canggih, tetapi juga berbagai aturan dan kesepakatan baru yang bermanfaat untuk hajat orang banyak. Itu sebabnya, menolak berkolaborasi dengan kemajuan jaman; dan malah asyik membenamkan diri pada ilusi jaman keemasan, justru membuat agama tampak tak relevan.

Semisal, jika perjalan suci dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan atau moda transportasi modern lainnya, kenapa masih lebih memilih menunggang kuda atau unta? Jika semua pendapat dan kepentingan orang banyak dapat diwadahi dalam sistem demokrasi, kenapa harus susah payah membangkitkan khilafah?

Agama dan teknologi sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni memudahkan hidup manusia. Karenanya, santai saja;tak perlu anti. Teknologi memudahkan kita menggapai ilahi. [MFR]