Satu Musala, Dua Imam: Beda itu Indah

Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.

——Hajime Yudistira

Saya tinggal di sebuah perumahan yang cukup nyaman dan asri di wilayah Depok; di sana saya bertetangga dengan sekitar 100 KK lainnya. Ada satu musala di perumahan itu, dibangun oleh sebuah pengembang untuk tempat peribadatan bagi warga di sana yang mayoritas beragama Islam.

Musala tersebut cukup nyaman karena ada seorang warga pensiunan dari sebuah perusahaan yang sukarela merawatnya. Sebut saja Imam A, berusia 58 tahun. Beliau selalu menjaga kebersihan musala dan menjadi imam salat 5 waktu; beliau juga suka berkebun dan menanami lingkungan musala kami dengan berbagai tanaman dalam pot; maka tidak heran tempat ibadat warga itu menjadi sangat hijau sehingga memanjakan setiap mata yang memandangnya.

Selain Imam A, ada seorang warga lain yang juga yang sering menjadi imam di musala tersebut; sebut saja Imam B, berusia 62 tahun. Beliau juga sering mengajarkan anak-anak perumahan kami mengaji Alquran, karena memang beliau cukup menguasai dalam ilmu membaca Alquran.

Awalnya tidak ada masalah tentang siapapun yang menjadi imam; kadang-kadang Imam A dan di lain waktu Imam B. Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa setiap ada Imam A, maka tidak ada Imam B; begitu pula sebaliknya. Saya mencoba mencari tahu tentang hal itu, dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ternyata Imam A pernah mengeluarkan statement bahwa beliau tidak mau menjadi makmum Imam B karena, menurutnya, makhraj bacaan salat-nya kurang tepat, dan itu menjadikan salatnya tidak diterima. Mungkin pernyataan ini sampai ke telinga Imam B dan ini membuat beliau tersinggung.

Sampai artikel ini ditulis, saya dengan beberapa warga lainnya sedang berusaha mendamaikan kedua belah pihak, karena seharusnya menurut kami keributan tersebut tidak seharusnya terjadi. Perbedaan pendapat itu biasa, dan sebaiknya perbedaan tidak membuat perpecahan; perbedaan itu justru seharusnya mengisi kekurangan yang ada. Kata kuncinya adalah bertoleransi.

Dalam Islam, perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Dari dahulu sampai sekarang ada ragam pendapat dalam Islam. Sehingga perlu kedewasaan berpikir dan bijak dalam melihat varian pendapat. Sebagian orang tidak siap menerima perbedaan pendapat tersebut. Mereka menganggap apa yang dipikirkan dan dipelajarinya adalah kebenaran final. Sehingga tidak ada lagi ruang dialog dan diskusi. Akibatnya, dia menganggap orang yang berbeda pendapatnya sebagai lawan dan musuh.

Ada beberapa sikap yang perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan. Islam mengajarkan cara menyikapi perbedaan agar menjadi rahmat bukan laknat.

Pertama, sikap selalu berusaha mencari titik temu dalam setiap perbedaan yang ada. Dalam bahasa Alquran, titik temu ini diistilahkan dengan kalimatun sawâ.  Kita dapat menemukan titik temu ini dalam Q.S Ali Imran [5]: 64. Ayat ini mengajarkan kepada kita ketika menghadapi perbedaan. Kita didorong untuk mencapai kesepakatan bersama dalam hal yang bisa dijadikan titik persamaan (kalimatun sawâ), sehingga yang dikedepankan adalah sisi persamaannya, bukan fokus pada perbedaannya.

Kedua, sikap yang bisa dikedepankan untuk menyikapi perbedaan adalah mengedepankan toleransi dan tenggang rasa, saling memahami satu sama lain tanpa terlebih dahulu menghakimi orang lain. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan bagi kita sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa datang seorang Badui (pedalaman) ke Masjid Nabi; dia serta merta kencing di Masjid. Melihat ini, terang saja para sahabat marah dan akan memukuli orang ini, Rasulullah SAW mencegahnya. Bahkan beliau menyuruh sahabat untuk menyiram dan membersihkan air seni laki-laki itu (HR. Bukhârî).

Ibn Hajar al-Asqalânî dalam kitabnya Fath al-Bârî Syarh Sahîh Bukhârî menjelaskan beberapa poin penting terkait dengan riwayat di atas. Pertama, berlaku lemah lembut (al-rifq) kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja (jahl). Kedua, wajib mendidik dan memberi pengertian bagi orang yang melihat orang yang melakukan kesalahan itu sesuai dengan akhlak Islam. Ketiga, tidak perlu melakukan kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal dalam mencegah munkar.

Ketiga, berdialog dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Dalam Q.S Al-Nahl: 125, Allah SWT memerintahkan kita agar berdakwah dengan cara-cara yang bijak, santun, dan dengan teladan baik. Sekiranya mereka terus membantah, maka bantah dengan cara yang lebih baik, bukan dengan cara-cara kasar, emosional, dan kebencian. Karena tugas kita hanyalah mengajak dan menyampaikan sesuatu yang baik. Di luar itu semua adalah kewenangan Allah SWT.

Dengan tiga cara yang telah dijelaskan: mencari titik persamaan, toleransi, dan dialog, niscaya perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dapat disikapi dengan lebih bijak dan lebih baik. Tidak perlu timbul konflik hanya karena berbeda, karena berbeda itu merupakan sunnatullah. Kita tidak perlu risau dengan banyaknya perbedaan baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, maupun bernegara. Perbedaan adalah tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh karenanya, tidak perlu kita saling membenci dan bertikai karena perbedaan.

Ada seorang sahabat bernama Khairul Anam dari sebuah organisasi bernama ICRP, yaitu yayasan yang bersifat non-sektarian, non-profit, non-pemerintah, dan independen. Lembaga ini mempromosikan dan memperluas dialog serta kerjasama lintas iman. Saya belajar banyak soal toleransi dari sahabat ini dan seharusnya lebih banyak orang yang bisa menerima bahwa perbedaan itu adalah rahmat, bukan justru menjadi alat pemecah-belah.

Beliau mengajarkan toleransi dengan organisasi ICRP-nya dalam lingkup yang lebih luas, yaitu toleransi antar umat beragama. Kita perlu melatih toleransi ini dari lingkup yang lebih kecil saja dulu, yaitu mungkin dalam keluarga, mungkin meningkat lagi antar tetangga, antar lingkungan dan seterusnya.

Semoga dengan membiasakan hidup bertoleransi dari lingkup terkecil dalam keluarga, kita bisa menjadi manusia unggul. Di era milenial ini kita membutuhkan generasi yang mampu memfilter faham-faham radikal, generasi yang cantik moralitas dan cerdas intelektualitas. Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.[MFR]

Lagu Aisyah dan Priska yang Katolik

Kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Habib Jafar

Sering sekali kita mendengar ungkapan, “Dalam Hukum Islam, Musik itu Haram”. Para ulama dan ustaz juga sering kita dengar membawakan topik ini dalam ceramah-ceramah mereka. Apa benar musik itu haram dalam kacamata Islam? Banyak sekali pendapat ulama mengenai hal ini; sebagian ulama mengatakan musik itu haram dan sebagian lagi mengatakan tidak apa-apa. Sampai hari ini urusan musik ini pun masih menjadi khilafiah di kalangan ulama. Masing-masing memiliki dalil untuk pendapatnya. Sebenarnya bukan topik mengenai halal atau haram yang ingin saya tuangkan dalam tulisan ini, karena sudah banyak sekali artikel yang membahas mengenai hal ini. Saya mau melihat dari perspektif yang lain.

Saya pernah menonton sebuah video di Youtube yang dirilis pada 17 April 2020 pada channel milik Habib Jafar, yaitu “Jeda Nulis”. Isinya adalah wawancara Habib Jafar dengan seorang non-muslim bernama Priska Baru Segu yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Dia adalah seorang stand up commedian atau lebih dikenal dengan istilah komika. Yang unik dari wawancara ini, ternyata Priska hapal lagu “Aisyah Istri Rasullullah”, lagu yang diciptakan oleh Razif bin Zainuddin, personil Projector Band dari negeri jiran Malaysia. Lagu ini begitu poluler, sehingga banyak sekali artis yang me-cover lagu tersebut.

Habib Jafar mengajukan pertanyaan, “Kenapa kamu tau-tau bisa hapal lagu Aisyah?” padahal Priska beragama Katolik. Dan Priska menjawab dengan mantap Insya Allah, hapal deh”. “Wow,…mantap,” demikian Habib Jafar mengomentari jawaban Priska yang menggunakan istilah ‘Insya Allah’ pada jawabannya.

Wawancara ini dilakukan Habib Jafar setelah sebelumnya beliau shooting bersama Priska ini dalam acara “Bincang Ramadan”, di mana Priska menjadi host dan Habib Jafar menjadi narasumbernya. Ini membuat Habib Jafar terkejut, karena menurut dia, belum pernah ada acara seperti itu, di mana host-nya adalah seorang non-muslim, ditambah lagi di saat break, Priska ini menyanyikan lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dengan lancar. Ini yang membuat seorang Habib Jafar penasaran dan akhirnya membuat video wawancara tersebut.

Habib Jafar menjelaskan bahwa lagu tersebut dibuat pengarangnya karena mengikuti trend saat ini, yaitu keromantisan; banyak sekali kaum muda menggemari hal-hal yang romantis, seperti halnya drama Korea yang sangat digandrungi di tanah air karena penikmatnya dibawa naik turun emosinya. Pangsa pasar yang dituju memang kaum muda atau lebih dikenal dengan istilah milenial. Di Youtube sendiri lagu ini sangat booming dan pernah satu ketika 13 trending Youtube di Indonesia adalah tentang cover lagu ini seperti yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan, Sakir Daulay, Aya Ibrahim dan lain-lain.

Fakta tersebut jelas menunjukkan efektivitas terhadap sasaran yang akan dituju, yaitu kaum muda. Jangankan kaum muda muslim, bahkan yang non-muslim seperti Priska pun terpengaruh dengan tren lagu yang sempat viral tersebut. Dan saking kepo-nya, Priska ini browsing di Google untuk mencari tau segala sesuatu tentang sosok Sayyida Aisyah sebagai istri Rasulullah. Di sana Priska mengetahui bahwa istri Nabi ada 11 orang. Yang pertama adalah Sayyida Siti Khadijah dan yang kedua Sayyida Aisyah dan seterusnya.

Hal ini membuktian bahwa dakwah melalui lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini sangat efektif membuat seorang Priska yang notabene beragama Katolik mau mencari tahu informasi mengenai Nabi Muhammad SAW dan istri-istrinya. Terlepas apakah nantinya Priska ini mendapat hidayah atau tidak, minimal dia mendapatkan informasi yang benar mengenai Nabi Muhammad dan istri-istrinya, bagaimana karakter nabi, mengapa istri nabi sampai 11 orang dan lain sebagainya.

Pengakuan Priska dalam video itu menjelaskan bahwa dia baru tahu ternyata Nabi Muhammad SAW itu juga merupakan sosok yang romantis; beliau juga main lari-lari dan mencubit hidung istri juga seperti yang dijelaskan dalam lirik lagu tersebut. Sebelumnya, yang ada dalam pikiran Priska, Nabi Muhammad adalah pemimpin agama dengan sosok yang serius, seram, galak, suka berperang dan lain-lain.

Di video tersebut Habib Jafar juga menjelaskan kenapa media dia berdakwah salah satunya menggunakan media Youtube. Menurutnya, kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Jadi, umat muslim sudah seharusnya mengembangkan atau meluaskan jangkauan dakwah-dakwah Islam; dengan salah satunya adalah melalui musik/lagu dan menggunakan bahasa yang bisa dipahami generasi milenial. Caranya pun dengan menggunakan media-media saat ini, seperti sosial media yang memang saat ini hampir digunakan oleh semua kalangan.

Sudah bukan saatnya sekarang kita masih mempertentangkan apakah musik haram atau tidak, that’s so yesterday. Bagi kalangan yang masih mengatakan musik itu haram karena musik membuat orang lupa akan Tuhan, sebaiknya bisa bersikap lebih fleksibel. Kalau memang dikuatirkan musik akan menjauhkan kita dari Tuhan, maka marilah kita membuat musik atau lagu yang membuat kita ingat akan Tuhan, bukan malah mengharamkan musiknya. Sama halnya seperti pisau yang bisa dipakai untuk membunuh atau melukai orang lain, mari kita buat pisau itu berguna untuk hal positif, bukan jadi pisaunya yang diharamkan, tapi temukan cara agar pisau itu bermanfaat.

Seperti halnya Priska tadi, karena dia mendengar lagu “Aisyah Istri Rasulullah”, maka timbul keingintahuannya dan dia mencari serta membaca sumber-sumber lain. Dan hal tersebut akhirnya menghapus persangkaan Priska bahwa Nabi Muhammad SAW beristri banyak itu karena nafsu. Justru menurutnya, Nabi banyak menikahi janda-janda tua dengan tujuan menolong dan memuliakan, bukan karena nafsu.

Setelah menjelaskan kepada Habib Jafar, Priska mengaku jadi lebih mengenal sosok Nabi Muhammad SAW yang selama ini didengar bertolak belakang dengan apa yang dibacanya. Walaupun dia mengatakan, bahwa keimanan Katolik-nya belum tergoyang dengan membaca itu semua, minimal dia sudah mengetahui informasi mengenai Islam yang benar, itu yang terpenting. Karena memang dakwah itu seharusnya bertujuan memberikan informasi yang benar, bukan mengislamkan orang lain. Memberi hidayah itu bukan tugas dari pendakwah, itu adalah hak prerogatif Tuhan, demikian Habib Jafar menjelaskan.[MFR]

Men-Syariah-Kan Gadai, Menggadaikan Syariah

Tapi pada praktiknya, hampir tidak ada bedanya antara pegadaian konvensional dengan syariah, karena pada keduanya sudah ditetapkan oleh pemberi pinjaman, padahal seharusnya disepakati berdasarkan musyawarah dalam skema syariah.

Masyarakat kita yang mayoritas Muslim merupakan pasar yang sangat luas untuk produk apapun yang mengatasnamakan syariah. Jadi, tidak bisa dipungkiri, produk dengan konsep syariah biasanya laku di pasaran. Mind set masyarakat kita masih menganggap apa pun yang berlabel syariah, pasti baik dan halal.  Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun ia perlu disertai juga dengan sikap kritis; tidak seluruh produk dijalankan sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah yang benar.

Demikian pula halnya dengan pegadaian berplat merah milik pemerintah. Secara jenis pegadaian terbagi dua macam: konvensional dan syariah. Pernah suatu ketika saya mendatangi salah satu pegadaian yang berlabel syariah di Jakarta. Saya bertanya kepada karyawan di sana mengenai apa perbedaan antara pegadaian konvensional dengan pegadaian syariah. Jawaban karyawan tersebut terus terang membuat hati saya miris, begini jawabannya “Terus terang ya Pak, sebenarnya sama saja antara pegadaian konvensional dengan Syariah, hanya beda-beda istilah saja Pak, hitungan sih kurang lebih sama,” begitu penjelasan dia.

Dia menjelaskan bahwa pada pegadaian syariah, digunakan istilah ijarah sebagai pengganti bunga pada pegadaian konvensional, tapi secara hitungan tidak berbeda jauh, hanya perbedaan istilah saja. Menurut saya, hal tersebut menunjukan pemahaman yang dangkal terhadap konsep pegadaian syariah yang sebenarnya.

Menggadaikan barang sebenarnya sudah tercantum dalam Alquran dan hadis. Firman Allah SWT pada ayat terpanjang dalam Alquran di QS al-Baqarah [2]:282-283 menjelaskan:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

(QS al-Baqarah [2]:282)


“Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

(QS al-Baqarah [2]:283)

Quraish Shihab dalam Tafsir AlMisbah menjelaskan, ayat tersebut merupakan dalil yang membolehkan praktik gadai. Adanya perjalanan dalam awal ayat dinilai bukan menjadi sebuah syarat. Perjalanan disebutkan karena pada zaman itu para musafir sering kali meminjam uang untuk biaya perjalanannya.

Dalam Kitab Shihahihain, Bukhari-Muslim pun menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi dengan pinjaman 30 wasaq jewawut. Nabi menggadaikannya untuk makan keluarganya. Quraish Shihab menjelaskan, praktik gadai yang dilakukan bukan pada saat Nabi sedang berada dalam perjalanan, melainkan saat Rasulullah berada menetap di Madinah.

Gadai berbasis syariah memang tidak memberlakukan sistem bunga seperti halnya yang diberlakukan pada skema konvensional. Pihak pegadaian tidak mengambil keuntungan dari sistem bunga pinjaman ataupun sistem bagi hasil. Pegadaian syariah mengambil keuntungan dari upah jasa pemeliharaan barang jaminan.

Bagaimana penetapan biaya jasa pemeliharaan barang yang digadaikan? Dikutip dari laman resmi Pegadaian Syariah, besarnya pinjaman dan biaya pemeliharaan ditetapkan berdasarkan taksiran barang yang digadaikan. Jika barang tersebut adalah emas, penaksir memperhitungkan karatase emas, volume, serta berat emas yang digadaikan.  Biaya yang dikenakan merupakan biaya penitipan barang, bukan biaya atas pinjaman karena pinjaman yang mengambil untung itu tidak diperbolehkan dalam konsep syariah.

Biaya penitipan barang jaminan meliputi biaya penjagaan, penggantian kehilangan, asuransi, gudang penyimpanan, dan pengelolaan. Besarannya bertambah sesuai dengan lama barang yang digadaikan. Bedanya dengan konvensional, biaya jasa simpan tersebut tetap setiap bulan. Jika jasa simpanan per bulan Rp50 ribu, jasa simpan bulan berikutnya menjadi Rp100 ribu.

Fatwa Keuangan Syariah Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penerima barang atau peminjam uang disebut murtahin, barang yang diserahkan disebut marhun, sementara rahin merupakan pihak yang menyerahkan barangnya atau penggadai. Murtahin memiliki hak untuk menahan barang sampai rahin melunasi semua hutangnya.

Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin. Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin, kecuali seijin rahin dengan tidak mengurangi nilai marhun. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya tetap menjadi kewajiban rahin. Meski demikian, dapat dilakukan murtahin dengan jalan rahin membayar biaya jasa pemeliharaan dan penyimpanan kepada murtahin. Hanya, MUI memberi catatan bahwa besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun tidak boleh diterntukan berdasarkan jumlah pinjaman

Fatwa DSN MUI juga menjelaskan, pada dasarnya akad gadai emas syariah adalah qard ‘peminjaman’. Orang yang meminjam uang agar disetujui kemudian menjaminkan barangnya berupa emas kepada murtahin. Adanya penitipan agunan tersebut oleh murtahin menimbulkan ijarah (biaya sewa) yang dibayarkan oleh nasabah sebagai pihak rahin.

Dengan demikian, catatan penting dari MUI adalah hakikat dari fungsi pegadaian dalam Islam tersebut. Gadai, khususnya yang berskema syariah, seharusnya semata-mata untuk memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan dalam bentuk barang sebagai jaminan. Pegadaian bukan untuk kepentingan komersial dengan mengambil keuntungan sebesar-besarnya tanpa menghiraukan kemampuan orang lain.

Perbedaan mendasar antara pegadaian dengan skema konvensional dan Syariah terletak pada “bunga” pada pada pegadaian konvensional dan “ijarah” pada pegadaian syariah. Biasanya jumlah bunga itu didasarkan pada besarnya jumlah pinjaman dan jangka waktu pinjaman, serta jumlahnya ditetapkan oleh pemberi pinjaman. Sedangkan ijarah pada pegadaian syariah, besarnya didasarkan pada jenis barang dan tingkat risiko yang seharusnya ditetapkan berdasarkan musyawarah.

Tapi pada praktiknya, hampir tidak ada bedanya antara pegadaian konvensional dengan syariah, karena pada keduanya sudah ditetapkan oleh pemberi pinjaman, padahal seharusnya disepakati berdasarkan musyawarah dalam skema syariah.

Sebenarnya inti dari konsep syariah adalah terjadinya kesepakatan dengan cara musyawarah antara rahin dan murtahin, selain terpenuhinya rukun dalam akad rahn ini. Dengan adanya kesepakatan dengan cara musyawarah ini diharapkan kedua belah pihak tidak merasa ada yang dirugikan dan tentunya ikhlas. Wallahu alam.[MFR]