Pahlawan Berhijab

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

—- Hajime Yudistira

Beberapa waktu yang lalu dunia maya sempat diributkan tentang berhijab atau tidak Cut Nyak Dien dan Cut Meutia? Satu pihak benar-benar ‘ngotot’ dan berusaha membuktikan bahwa kedua tokoh nasional tersebut berhijab, apalagi dikatakan bahwa kedua tokoh tersebut berasal dari tanah Aceh, yang diklaim sebagai serambi Makkah. Di pihak lain, penganut paham dejilbabisasi berusaha mematahkan pendapat bahwa kedua tokoh tersebut berhijab, dengan mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan hijab.

Pada saat uang baru nominal Rp1.000 emisi 2016 dengan gambar Cut Meutia tidak berhijab juga sempat menjadi topik perbincangan cukup serius saat itu. Apa masalahnya gambar Cut Meutia digambarkan tidak berhijab? Lagi pula, pihak Bank Indonesia (BI) pastinya sudah mendiskusikan dengan seksama sebelum memunculkan seorang tokoh nasional dalam desain uang yang akan diterbitkan. Mereka pasti juga sudah berdiskusi dengan pihak keluarga atau ahli waris tokoh yang akan dipergunakan dalam desain uang tersebut.

Sedemikian pentingkah untuk membuktikan apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak? Dalam konteks kedua tokoh tadi sebagai pemimpin perang yang sangat prominen, saya tidak melihat adanya korelasi antara berhijab dengan perjuangan yang dilakukan tokoh tersebut di masanya.

Saya rasa jauh lebih bermanfaat jika pembahasan tentang Cut Nyak Dien dan Cut Meutia lebih kepada bagaimana tokoh tersebut berjuang di masa kolonial mengalahkan banyak pertempuran sehingga sosok Dien ini ditakuti banyak perwira Belanda. Strategi apa yang digunakan, bagaimana caranya memimpin pasukan di tengah keterbatasan yang ada, bagaimana cara bernegosiasi dengan pihak lawan dan masih banyak aspek yang bisa dipelajari dari sekedar membuktikan apakah mereka memakai hijab atau tidak.

Sebenarnya tidak terlalu sulit juga untuk mengetahui apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak, walaupun sebenarnya tidak ada manfaatnya juga mengetahui mereka menggunakan atau tidak menggunakan hijab. Dalam konteks sejarah dan kerangka keilmuan, tentu semuanya harus didasarkan bukti otentik dan bukti yang sahih.

Harus diakui bahwa saat Belanda bercokol di Indonesia, mereka memiliki pencatatan sejarah lebih baik dibandingkan pencatatan sejarah Indonesia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang saat itu negara mereka jauh lebih maju. Banyak sekali fakta sejarah Indonesia didasarkan kepada pencatatan yang mereka buat saat mereka berada Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Kita bisa mengetahui bahwa banyak sekali perwira Belanda menaruh hormat kepada Cut Nyak Dien itu dari catatan yang mereka buat. Mereka mencatat banyak pertempuran yang dipimpin oleh Dien ini memperoleh kemenangan atas Belanda. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh Dien ini membuat seorang jurnalis Belanda, C. vander Pol menjuluki Dien sebagai “[…] merkwaardigstevrouwen in Nederland-Indie” yang artinya “perempuan yang mengajaibkan Hindia-Belanda”.

Jurnalis tersebut juga menuliskan tentang Dien yang ‘bertakhta’ di hutan sebagai “[…] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana –[sesuatu] yang tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini […]” setelah kematian suaminya, Teuku Umar (1899).

Catatan-catatan sejarah seperti itu kita dapatkan dari catatan sejarah yang dibuat Belanda dan saat ini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Foto-foto Cut Nyak Dien juga ada tersimpan di sana dan tidak mengenakan hijab
(https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/…/7835…). Bagi saya tidak penting juga mengetahui apakah Cut Nyak Dien berhijab atau tidak? Jauh lebih penting mengetahui atau mempelajari esensi dari nilai perjuangan beliau.

Demikian juga dengan Cut Meutia, tidak perlu dipermasalahkan beliau berhijab atau tidak, tetapi kalaupun benar-benar ingin mengetahui, silakan ditelusuri dari jejak sejarahnya dengan bukti-bukti otentik tentunya. Jangan hanya tebak-tebak buah manggis. Jangan pula memastikan bahwa karena beliau dari Aceh, lantas sudah pasti mengenakan hijab, apa lagi dikaitkan dengan Aceh yang dikenal sebagai serambi Makkah dengan perda syariahnya (ingat zaman kolonial belum ada perda syariah).

Salah satu artikel yang saya baca, ahli waris atau keturunan Cut Meutia sudah mengkonfirmasikan bahwa tokoh nasional Cut Meutia tidak mengenakan hijab. Seorang anak keturunan dari keluarga Cut Meutia, bernama Teuku Ramli menjelaskan bahwa perempuan Aceh dulu tidak ada yang menggunakan hijab. Mereka hanya menggunakan semacam selendang yang diletakkan di kepala (Tirto.id, Desember 2016).

Saya tidak pro atau kontra terhadap kelompok, baik yang ingin membuktikan tokoh tersebut berhijab atau tidak, maupun kelompok yang ingin membuktikan apakah mereka tidak berhijab. Bagi saya, hal itu tidak seharusnya diperdebatkan. Saya menghargai orang yang memilih menggunakan hijab, seperti saya juga menghargai orang yang memutuskan tidak menggunakan hijab.

Nilai diri seseorang orang memang tidak seharusnya dinilai dari pakaiannya, dari agamanya, dari rasnya, atau dari apa pun identitas yang ada pada orang tersebut. Nilai diri seseorang seharusnya dilihat dari isi kepalanya, dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar dan dari kemaslahatan yang diciptakan dengan adanya orang tersebut. Dalam Islam dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. [MFR]

Pindah Agama

Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.

—- Hajime Yudistira

Fenomena pindah agama terkadang disikapi masyarakat dengan berlebihan, terutama jika dilakukan oleh orang terkenal atau selebritas. Pindah agama seharusnya tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, apa lagi sampai menjadi kehebohan. Seperti halnya seseorang yang hari ini memilih mengenakan pakaian warna apa, atau ingin makan apa, tentunya itu adalah hak dari orang itu. Dia bebas memilih warna pakaian yang ingin dia kenakan atau bebas memilih jenis makanan seperti apa yang ingin dimakannya. Hal ini juga termasuk soal agama apa yang ingin dia anut.

Dalam konteks Islam, sudah jelas termaktub bahwa dalam hal beragama itu tidak boleh ada pemaksaan. Jadi soal keimanan itu adalah ranah pribadi dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampurinya. Pemaksaan di sini juga bukan hanya pemaksaan secara harfiah, tapi juga secara halus. Sering kali kita melihat jika ada yang pindah agama, pelakunya akan dirundung, diledek, bahkan dihujat tidak karuan. Keimanan seseorang itu adanya di dalam hati masing-masing persona, dan itu benar-benar urusannya dengan Tuhannya.

Perpindahan seseorang ke agama tertentu sama sekali tidak membuat perbedaan terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipilih. Misalnya, ada yang meninggalkan Islam dan masuk Hindu, apa Islam menjadi hancur karenanya? Atau Hindu jadi luar biasa? demikian juga sebaliknya, tentu tidak berpengaruh apa pun.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya prihatin melihat fenomena ini. Jika ada orang Islam yang berpindah agama, maka orang tersebut akan dihujat habis-habisan, dan sebaliknya, jika ada orang dari agama lain masuk Islam maka ia akan dielu-elukan sedemikian rupa. Bahkan pernah saya lihat perpindahan agama yang disiarkan oleh media.

Kalau mau jujur, perpindahan agama seseorang tidak berpengaruh apa pun terhadap agama itu sendiri. Pengaruhnya akan terasa oleh diri yang bersangkutan dan bukan juga terhadap orang lain. Apakah perpindahan agama menjadikannya persona yang lebih baik dari sebelumnya? Jika Iya, bisa dikatakan perpindahan agama tersebut membawa dampak baik bagi dirinya.

Demikian pula dengan fenomena ‘berhijrah’ yang belakangan ini juga marak terjadi, banyak sekali fenomena itu dipertontonkan dan yang banyak terjadi adalah dalam hal berpakaian. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah, tapi esensi dari berhijrah itu tentu bukan dalam cara berpakaian. Berhijrah dalam konteks ini tentu lebih dalam hal akhlak, yaitu mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Percuma saja mengubah gaya berpakaian jika tidak diiringi dengan perubahan akhlak yang lebih baik.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa berhijrah pakaiannya dulu, kalau hati/akhlak nanti bisa menyusul, yang penting berhijab saja dulu, begitu katanya. Hal ini membuat siapa pun yang memutuskan berhijrah mengenakan jilbab, lalu dielu-elukan bak pahlawan. Menurut saya hal ini justru salah kaprah, justru yang perlu berhijrah justru hatinya dulu, setelah hatinya berhijrah, maka secara otomatis fisik akan mengikuti. Tidak bisa dibenarkan logika yang mengatakan fisik dulu, lalu nanti hati akan mengikuti. Itu adalah logika yang terbalik.

Berhijrahlah mulai dari hati dengan memperbaiki akhlak, memperindah tingkah laku, membenarkan pola berpikir dan sebagainya, setelah itu biarkan dirinya sendiri yang akan mengubah tampilan fisiknya sesuai dengan apa yang dipahaminya. Tidak ada satu orang pun yang berhak memvonis seseorang itu benar atau salah, masuk surga atau masuk neraka dan seterusnya, karena itu bukan urusan manusia. Saya sering sekali melihat seseorang berperan sebagai Tuhan yang bisa mengatakan si A akan masuk surga atau neraka.

Tugas manusia hanya berbuat baik sesuai dengan apa yang dia pahami tentang kebaikan itu sendiri, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang tahu seseorang akan masuk surga atau neraka, itu benar-benar hak prerogatif Tuhan. Seseorang yang di mata manusia selalu melakukan kesalahan atau ahli maksiat, belum tentu akan masuk neraka, begitu pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat kebaikan atau ahli ibadah juga belum tentu masuk surga.

Saya ingat hadis Nabi yang menceritakan tentang seorang pelacur yang selama hidupnya melacur, tetapi pada akhirnya ternyata diangkat ke surga.Dalam cerita tersebut dikisahkan sang pelacur di akhir hidupnya pernah berbuat kebaikan, yaitu memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan terompahnya. Ada pula hadis Nabi yang menceritakan seorang ahli ibadah yang di akhir hidupnya berkata bahwa dia layak masuk surga karena selama hidupnya selalu beribadah (ada kesombongan di hatinya), Nabi mengatakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang bangkrut. Itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan selama hidupnya tidak berguna karena di akhir hidupnya dia berbuat kesalahan, yaitu berlaku sombong.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam agama Islam itu yang dilihat adalah kualitatifnya, bukan kuantitatif. Kembali kepada urusan perpindahan agama, jika ada seorang umat Islam yang berpindah agama, maka tidak lantas itu adalah kehancuran umat. Demikian juga sebaliknya, jika ada seorang yang masuk agama Islam, bukan berarti juga itu adalah kejayaan Islam. Sekali lagi, biasa saja dalam menyikapi fenomena perpindahan agama, baik dari Islam ke luar Islam atau dari luar Islam ke dalam Islam.

Banyaknya jumlah pemeluk suatu agama itu tidak serta merta menjadikan agama itu menjadi agama yang terbaik. Sekali lagi, lihat bagaimana kualitas pemeluk agama itu sendiri, karena itulah yang terpenting. Terkadang dengan banyaknya pemeluk suatu agama, itu justru membuat pemeluknya kehilangan kontrol terhadap dirinya karena merasa superior tadi. Seperti waktu kita kecil dulu, saat kita beramai-ramai, biasanya akan menjadi lebih berani menghadapi sesuatu hal. Hati-hati, semakin besar populasi suatu agama, maka semakin mudah tergelincir.

Permasalahan dalam keberagamaan kita di Indonesia yang mendasar adalah agama acap kali yang ditarik sedemikian rupa menjadi identitas, padahal agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas yang tidak adil, misalnya identitas kulit hitam pada zaman Nabi Muhammad yang biasa dijadikan budak di masa itu. Dengan kehadiran agama Islam, identitas warna kulit itu justru dihapus dengan menjadikan Bilal bin Rabbah –sahabat nabi yang berkulit hitam–menjadi muazin. Juga identitas perempuan yang tidak berharga –bayi perempuan dibunuh–di zaman jahiliah.

Jadi Agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas tidak adil seperti itu. Salah kaprah keberagamaan kita saat ini justru agama dijadikan identitas yang justru memerangi identitas yang lain. Bahkan oleh sebagian kalangan, Islam yang dijadikan identitas ini memiliki fesyen tersendiri, seperti misalnya bergamis atau bercelana cingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki atau bercadar bagi yang perempuan. Padahal Islam tidak mengenal fesyen yang seperti itu. Pakaian Islam itu adalah pakaian terhormat yang menutup aurat, hanya itu.Ingat, Islam itu bukan Arab. Menjadi Islam itu bukan berarti Anda harus menjadi Arab yang bergamis, lalu berjanggut atau identitas Arab lainnya.

Kalau pun Anda ingin menjadikan agama sebagai identitas, maka itu adalah identitas transenden, bukan identitas imanen. Artinya bukan identitas kita dengan manusia lain, melainkan identitas kita terhadap Tuhan. Contohnya, dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa untuk menyebut Nabi Muhammad, maka harus disertai dengan gelar keagungannya, yaitu nabi atau rasul. Allah sendiri dalam Alquran selalu menyertakan gelar keagungan tersebut untuk menyebut Nabi Muhammad. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, sering kali beliau disebut hanya namanya saja.

Tadi dikatakan bahwa Islam itu adalah identitas transenden dan bukan imanen, terlihat saat Nabi Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan para musyrikin di wilayah Hudaibiyah, Makkah. Dalam perjanjian itu ditulis nama Nabi Muhammad Rasulullah sebagai orang yang menandatangani perjanjian tersebut. Orang musyrikin mengatakan kenapa harus menggunakan kata “Rasulullah”, padahal mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan meminta kata “Rasulullah” itu dihapus. Para sahabat sempat bingung atas permintaan kaum musyrikin itu, karena mereka berpendapat bahwa identitas Islam sedang diserang dengan permintaan tersebut.

Tanpa diduga, ternyata Nabi Muhammad sendiri yang mengatakan  kepada para sahabatnya bahwa kalau memang kaum musyrikin itu meminta kata “Rasulullah” itu dihapus, maka hapus saja. Tulis saja Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam ranah privat kita dengan Tuhan, maka kita begitu mengagungkan Nabi Muhammad sampai titik yang bersifat identitas, yaitu jangan menyebut tanpa gelar keagungannya, tapi di ranah publik dalam hubungan antar manusia, identitas itu tidak ada.

Jadi yang perlu digarisbawahi, bersikaplah biasa saja terhadap fenomena perpindahan agama. Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.[MFR]

Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,”

—– Syekh Ali Jaber

Berita wafatnya Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber cukup mengagetkan saya pagi ini. Ulama muda berusia 44 tahun yang juga seorang hafiz Alquran dan sering diminta menjadi juri pada acara-acara lomba pembacaan Alquran berpulang begitu cepat. Beliau adalah orang dari Madinah, Saudi Arabia yang sudah berkewarganegaraan Indonesia dan mendedikasikan dirinya untuk umat muslim di Indonesia. Beliau adalah seorang dari sedikit ulama yang cukup menyejukkan umat. Indonesia kehilangan seorang ulama yang saya rasa bisa merekatkan kebinekaan yang sudah terkoyak selama ini.

Pluralitas, kemajemukan atau kebinekaan adalah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Perbedaan di  Indonesia ini cukup lengkap, mulai dari suku, agama, ras hingga antargolongan (SARA). Suku yang ada di Indonesia juga sangat beragam, mulai dari Batak, Jawa, Madura, Sumatera, Dayak, Bugis, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dll. Agama juga seperti itu; ada enam agama yang saat ini diakui oleh pemerintah. Agama mayoritas memang Islam, tapi pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu juga tidak sedikit.

Kemajemukan lain juga terlihat dalam keragaman lain, yaitu mulai dari masyarakat yang berpendidikan tinggi, hingga masyarakat yang tidak pernah merasakan pendidikan, mulai dari masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri, hingga masyarakat yang hidupnya nomaden, dari hutan ke hutan, mulai dari masyarakat berkulit putih Dayak, hingga masyarakat berkulit hitam Papua, dsb.

Begitulah kemajemukan yang ada di negara ini, sungguh lengkap dan memang bukan perkara mudah untuk bisa diikat dalam suatu negeri. Meski bangsa memiliki semboyan Bineka Tunggal Ika sejak lama, tetapi belakangan ini mulai terkoyak akibat ulah kelompok tertentu yang dengan sengaja ingin merusaknya dan mengganti ideologi negara dengan ideologi berdasarkan agama tertentu, ditambah lagi belakangan ini berkembang “politik identitas” yang memaksakan kesamaan (keseragaman) sikap antikemajemukan/intoleran.

Sumanto al Qurtubi, seorang cendekiawan muslim Indonesia pernah mengatakan bahwa bibit-bibit intoleran itu dibawa oleh kaum islamis. Harap dicatat kaum islamis ini berbeda dengan umat Islam secara umum. Kaum islamis ini adalah para praktisi (baik individu maupun kelompok) islamisme yang oleh Bassam Tibi, professor ahli Islam di Universityof Gottingen, Jerman, dalam  Islamism and Islam didefinisikan sebagai a political ideology based on a reinvented version of Islamic law”.

Dengan kata lain, dasar, basis atau fondasi yang digunakan oleh kelompok islamis untuk membangun “islamisme” atau “ideologi Islam politik” ini bukanlah hukum Islam atau syariat Islam itu sendiri, melainkan sebuah pemahaman kembali, tafsir ulang atau rekonstruksi atas sejumlah diktum dalam hukum Islam atau syariat tadi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan politik di mana kaum islamis itu berada. Itulah sebabnya kenapa visi, platform, agenda dan tujuan berbagai kelompok islamis di berbagai negara itu berlainan antara satu dan lainnya.

Meskipun berlainan, kaum Islamis ini memiliki ciri-ciri umum, yaitu mempropagandakan sekaligus memaksakan (pemahaman) keislaman versi mereka agar dipraktikkan di pemerintahan maupun masyarakat. Sebagian lagi gigih ingin mengganti sistem politik-pemerintahan yang ada dengan sistem politik-pemerintahan yang mereka idealkan dan imajinasikan, baik dalam bentuk khilafah atau “Negara Islam” dan lainnya. 

Ciri mendasar lain dari kaum islamis adalah tidak mau kompromi dengan pluralitas karena keragaman dianggap dapat menghambat cita-cita mewujudkan ideologi Islam politik yang mereka usung. Keberagaman dipandang menghalangi tujuan membumikan “Syariat Islam” yang orisinal menurut versi mereka. Kebinekaan dianggap sebagai momok yang bisa merintangi tujuan menegakkan “Islam kafah” (tentu saja menurut versi mereka).

Bagi kaum islamis ini, masyarakat harus dibuat singular alias homogen untuk memuluskan jalan bagi tegaknya Islam yang sesuai dengan amanat, mandat Alquran dan Sunah Nabi (lagi, tentu saja Alquran dan Sunah Nabi menurut versi dan tafsir mereka). Dengan demikian, bagi kelompok islamis, singularis (bukan pluralis) adalah kunci utama bagi suksesnya merealisasikan jenis keislaman yang mereka dambakan dan idealkan.

Oleh karena itu, karena wataknya yang antipluralis, di mana pun kelompok ini bercokol, mereka akan selalu mengampanyekan jenis, pemahaman, dan praktik keislaman yang seragam dan sama dengan bentuk, tafsir dan praktik keislaman yang mereka lakukan.

Jelas sekali gerakan ini sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia ini yang dulu dengan darah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa ini. Kita perlu tokoh-tokoh, baik tokoh pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya untuk bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa ini. Semoga terus bermunculan tokoh-tokoh pemersatu bangsa agar bisa menjaga dan merawat bangsa yang sedang terkoyak ini. Peran masyarakat atau penduduknya juga tentu diperlukan guna mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Salah satu yang saya rasa sanggup menjadi tokoh pemersatu adalah Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber sering menyampaikan dalam ceramah-ceramahnya agar Indonesia tidak menjadi seperti beberapa negara Islam mengalami konflik berkepanjangan. Menurutnya, konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, Iraq, Mesir dan negara Timur Tengah lainnya pada awalnya disebabkan oleh perbedaan politik. Negara di Timur Tengah sulit menerima perbedaan hingga pada suatu hari konflik pecah dan sampai sekarang tidak kunjung ada perdamaian.

Pernah saya mendengar pada suatu ketika, beliau berkata, “Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,” kata Ali Jaber.

Oleh karenanya, dia berpesan agar segenap masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga keamanan negara. Dia memuji kehidupan di Indonesia yang beragam baik dari segi suku, bahasa dan agama namun tetap bisa menghormati sehingga tidak ada konflik. Dia mencontohkan Afghanistan yang hanya mempunyai tujuh suku namun sampai sekarang masih dilanda konflik.

“Saya salut dengan Indonesia karena bisa menghormati perbedaan. Saya juga kemarin lihat banyak orang ramai mencoblos calon kepala Daerah namun tetap dalam kondisi aman. Mudah-mudahan yang seperti ini tetap dijaga,” pesannya.

Dalam ceramahnya, Syekh Ali Jaber selalu menyampaikan dengan santun dan mengayomi, beliau berusaha merangkul semua pihak agar tidak fokus kepada perbedaan yang ada, tetapi kepada persamaan yang bisa merekatkan. Tidak banyak ulama seperti ini di Indonesia, karena kebanyakan ulama yang sering muncul justru merasa apa yang diketahuinya adalah hal yang benar dan sering kali menyalahkan pendapat yang berbeda dengannya.

Ulama-ulama seperti itu justru berbahaya bagi negara Indonesia yang sangat majemuk ini. Mungkin mereka tidak paham bahwa di Indonesia hidup enam agama, 187 kelompok penghayat kepercayaan, 1331 suku, 652 bahasa daerah dan ada lebih dari 400.000 organisasi kemasyarakatan. Dengan kemajemukan seperti itu, kita memerlukan tokoh-tokoh agama yang tentunya bisa mengayomi dan merekatkan semua kemajemukan tadi.

Selamat jalan Syekh Ali Jaber, Indonesia sangat berduka dan merasa sangat kehilangan seorang tokoh agama yang secara ilmu mumpuni dan bisa mengayomi dan merekatkan bangsa [MFR].

Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan.

—–Hajime Yudistira

Akhir-akhir ini ramai warganet membahas permainan ular tangga yang dimodifikasi menjadi Ular Tangga Anak Saleh sebagai metode untuk anak menghapal surat-surat pendek, doa-doa pendek dan hadis. Ada sebagian warganet yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang baik dan kreatif, karena metode permainan ini membuat anak-anak senang bisa belajar sambil bermain. Akan tetapi, tidak sedikit pula warganet yang kontra dan mengatakan hal tersebut sangat tidak kreatif, karena bukan membuat metode baru, tapi meniru atau menjiplak permainan yang sudah ada.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan permainan ular tangga, karena permainan itu bersifat umum. Permainan ini menjadi masalah dan banyak dibahas karena oleh sebagian warganet dikatakan menjiplak. Permainan ini memang hasil modifikasi sebagai metode yang dipakai agar anak lebih mudah menghapal dalam konteks pengajaran dalam agama Islam. Menjadi masalah, karena yang menanggapi hal tersebut bukan dari kalangan muslim dengan mengatakan permainan itu menjiplak, meniru, plagiat atau apalah sebutannya. Inti masalah sebenarnya adalah pendapat tersebut ke-bablas-an, atau off side dalam istilah sepak bola.

Saya jadi berpikir, kalau dikatakan menjiplak, berarti tentu ada pemilik karyanya. Karena kalau tidak ada pemiliknya tentu tidak bisa dikatakan menjiplak. Lagipula sesuatu itu bisa dikatakan menjiplak kalau diakui sebagai karyanya. Ini kan hanya memodifikasi permainan menjadi metode pembelajaran yang membantu banyak pihak.

Saya jadi penasaran, permainan ular tangga yang waktu kecil juga sering saya mainkan ini sebenarnya siapa yang menciptakan? Saya berusaha mencari sumber-sumber informasi dan hasilnya saya tidak bisa menemukan sebuah nama sebagai orang yang menciptakan permainan ini. Hasil yang saya temukan hanya mengatakan bahwa permainan ular tangga ini sudah dimainkan di India sejak abad ke-2 SM (dilansir dari brilio.net).

Permainan ini dikenal dengan sebutan Mokshapat, Moksha Patamu, Vaikuntapaali, atau Paramapada Sopanam yang memiliki makna “mendalam”. Sebenarnya, permainan ini mengajarkan tentang karma dan pentingnya melakukan perbuatan baik di atas perbuatan jahat. Tangga mewakili kebaikan dalam ajaran Hindu, seperti kemurahan hati, iman dan kerendahan hati. Sedangkan ular mewakili sifat-sifat buruk manusia, seperti nafsu, amarah, dan perbuatan-perbuatan tidak baik lainnya.

Permainan ular tangga yang dulu ada di India berupa papan yang menyimpan simbol-simbol keTuhanan seperti dewa dan malaikat. Selain itu, juga muncul simbol tanaman, hewan dan juga manusia. Pesan dari permainan ini adalah untuk mencapai nirwana atau surga, perlu melakukan perbuatan baik setahap demi setahap. Selama melakukan perbuatan baik, maka akan bertemu dengan ular-ular yang menggambarkan godaan untuk berbuat tidak baik yang akan mengantarkan kepada tingkatan kehidupan yang lebih rendah, bahkan kematian. Setiap kotak dalam papan permainan tersebut yang mewakili kehidupan dapat hancur karena hal-hal kecil sekalipun.

Permainan dari India ini dibawa ke Inggris sekitar akhir abad ke-18 dan diubah sesuai nilai-nilai Victoria saat itu. Dari Inggrislah permainan ini menyebar ke seluruh dunia dengan segala modifikasi sesuai kebutuhan yang membuatnya. Demikian pula yang terjadi di Indonesia, permainan ini dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh yang memodifikasinya. Demikian kiranya sejarah singkat dari permainan ular tangga tersebut.

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan. Dalam Islam memang surat-surat pendek dan doa sehari-hari wajib dihapalkan untuk dipergunakan dalam salat dan beraktifitas sehari-hari.

Bagi si anak juga merupakan hal yang menyenangkan bisa menghapal sambil bermain. Saya pun berpendapat bahwa hal ini sangat baik, dalam arti ada sebuah metode untuk membantu anak dalam urusan menghapal ini. Apakah ini menjiplak? Saya tidak melihat ada yang salah dari hal ini. Memodifikasi sebuah permainan yang notabene juga tidak ada patennya untuk membuat hal baik dan berguna bagi orang lain. Kalau kita menjadi penjiplak karya orang lain yang memiliki paten, dan diakui sebagai karyanya, mungkin itu bisa dikatakan sebagai plagiator.

Bagaimana kalau saya membuat atau memodifikasi permainan, sebutlah misalnya permainan gasing –mainan terbuat dari kayu yang diberi pasak bagian bawahnya dan diputar dengan media tali—yang saya modifikasi dengan tujuan baik tertentu. Lalu hasil modifikasinya diikuti banyak orang karena dianggap berguna, apakah itu hal yang buruk atau saya dianggap penjiplak atau plagiat? Memangnya permainan gasing ada yang punya? Sudah tidak mungkin juga untuk melacaknya untuk mengetahui siapa penciptanya.

Lagi pula tidak ada relevansinya juga mengritik seperti itu, lihat sisi baiknya bahwa metode permainan Ular Tangga Anak Saleh yang “menjiplak” tersebut memberikan manfaat bagi banyak orang. Banyak orang tua terbantu, karena sekarang pelajaran menghapal bagi anaknya menjadi mudah dan menyenangkan.

Berpendapat itu boleh, tapi kalau dalam konteks keagamaan di ranah publik, berhati-hatilah dan jangan salah “masuk kamar” orang. Mari kita jaga keutuhan toleransi keberagamaan kita, salah satunya dengan apa yang disampaikan tadi, yaitu jangan ke-bablas-an dalam berpendapat yang bukan di ranahnya. Salam damai selalu…[MFR]

Pernikahan Beracun “Toxic Marriage”

Berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Jumlah ini meningkat dari tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus.

——-Unair News, 26/12/2019

Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah komunitas yang sangat eksklusif di Facebook, LIKE Indonesia –Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif. Komunitas ini digawangi oleh Michael Yamin, Ric Erica, dan Nana Padmosaputro serta beberapa orang yang peduli terhadap isu pendidikan, terutama pendidikan bagi anak-anak, yang merupakan generasi penerus berdirinya bangsa ini di masa yang akan datang. Cukup ketat screening yang dilakukan para admin di komunitas ini untuk bisa “mendarat” dan diterima dalam komunitas tersebut. Intinya, orang yang open minded dan mau belajarlah yang akan diterima di komunitas tersebut.

Saya masuk dalam komunitas ini melalui salah satu program yang mereka buat, yaitu CCC (Chit Chat & Chew), yaitu program edukasi berbasis daring melalui aplikasi Zoom. Topik yang diangkat pada acara CCC saat itu adalah toxic marriage (pernikahan beracun). Di sana saya mendengar beberapa narasumber yang menceritakan pengalaman hidupnya yang mengalami toxic marriage dengan pasangannya atau anak yang besar dari pasangan toxic marriage tersebut. Masalah-masalah yang diangkat tersebutlalu dibahas oleh pakar, yang pada acara tersebut adalah Ratih Ibrahim, seorang psikolog profesional.

Sebenarnya masalah toxic marriage ini adalah masalah yang banyak terjadi di sekitar kita. Hanya saja, soal ini biasanya tidak muncul ke permukaan, seperti fenomena gunung es. Hal ini terjadi karena orang yang mengalaminya malu, belum lagi jika dibenturkan dengan aspek agama atau budaya, sehingga kebanyakan orang memilih untuk berdamai dengan racun di biduk rumah tangga ini.

Hal ini sebenarnya akan meracuni atau memberikan dampak negatif terhadap siapapun yang mengalami toxic relationship. Racun tersebut bisa berupa perkataan, sikap, perlakuan kasar atau apapun juga. Dampak racun ini bisa membuat orang tidak produktif dan tidak bahagia dengan hidupnya, padahal setiap orang berhak untuk bahagia. Indikatornya untuk mengetahui apakah seseorang sedang berada dalam hubungan yang beracun atau tidak sebenarnya mudah saja; apakah Anda tidak merasa aman dan nyaman di dekat pasangan? apakah Anda merasa tertekan saat berinteraksi? apakah Anda merasa pasangan sangat keterlaluan dan terakhir, apakah Anda merasa pasangan itu menambah masalah dalam hidup?

Jika jawaban dari keempat pertanyaan tersebut semuanya iya, maka mungkin memang Anda sedang berada dalam hubungan yang beracun dengan pasangan Anda. Tapi pertanyaan tersebut harus Anda jawab dalam kondisi yang stabil dan tidak sedang emosional. Jadi harus dilihat secara komprehensif dalam jangka waktu yang cukup lama. Demikian dijelaskan oleh Ratih Ibrahim, seorang psikolog klinis yang merupakan CEO dari Personal Growth Indonesia –Organisasi yang menyediakan layanan psikologis profesional dengan spesialisasi dalam bidang konseling dan pengembangan sumber daya manusia, didirikan tahun 2003.

Kalau mau jujur, di Indonesia sebenarnya banyak sekali kasus toxic marriage yang berlanjut dengan toxic relationship, hasilnya membuat pasangan tidak bahagia dan tidak produktif. Berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Jumlah ini meningkat dari tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus, dikutip dari “Waspada Toxic Relationship Semakin Meningkat Setiap Tahunnya” (Unair News, 26/12/2019.

Korban dari toxic relationship ini biasanya adalah wanita dan anak-anak. Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut hubungan ini paling berbahaya bila terjadi pada kalangan remaja atau pasangan yang menjadi orang tua dari anak-anaknya. Hal ini karena toxic relationship memiliki dampak yang bermacam-macam. Sebagian besar mungkin diawali dari dampak yang bersifat psikologis. Orang yang menjadi pihak yang dirugikan dalam toxic relationship dapat menjadi rendah diri dan pesimis.“Bahkan bisa saja ia membenci dirinya sendiri akibat perlakuan ataupun perkataan negatif yang diberikan teman atau pasangannya tentang dirinya,” ungkapnya.

Tidak banyak orang yang berani mengambil keputusan untuk mengakhiri toxic relationship. Kebanyakan malah menjadikan agama sebagai dasar untuk tidak mengakhiri hubungan yang beracun ini. Seperti dogma bahwa seorang istri harus mengabdi kepada suami atau bahwa segala yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia, terkadang justru membuat kondisi korban semakin bertambah depresi. Tuhan menganugerahkan akal sehat kepada setiap manusia untuk dipergunakan dengan bijaksana.

Aspek budaya juga terkadang memberikan andil yang cukup besar untuk membuat seseorang tidak mengakhiri toxic relationship. Status janda masih dianggap sangat negatif dalam budaya umum kita di Indonesia. Padahal apa bedanya dengan duda? Itu hanya status saja. Tidak ada yang salah dengan janda ataupun duda. Kalau hubungan yang beracun itu memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, maka menyandang status janda jauh lebih baik ketimbang terus bertahan di toxic relationship. Yang harus dipikirkan untuk mengakhiri hubungan yang beracun ini bukan aspek agama atau budaya, tapi lebih pada kemandirian finansial. Itu yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak.

Jadi apa sebenarnya yang harus dilakukan kalau kita berada dalam hubungan yang beracun? Tentu sebagai langkah awal adalah mencoba untuk memperbaikinya dengan konseling pada pakar, tentunya. Kalau berhasil, bersyukurlah bahwa masih diberikan kesempatan untuk hidup bahagia. Lalu apa yang harus dilakukan kalau ternyata setelah melakukan serangkaian konseling ternyata hubungannya tidak bisa dilanjutkan lagi? Tentu di sini akal sehat yang dianugerahkan Tuhanlah yang harus dipergunakan. Jangan terjebak dalam doktrin agama ataupun doktrin budaya. Setiap orang berhak untuk hidup bahagia… maka berbahagialah…[MFR].

 

.

Syariah Tidak Sama dengan Murah

Riba tidak sama dengan kelebihan. Kelebihan itu tidak ada masalah jika didapatkan dengan cara sesuai syariat Islam. Sama halnya dalam urusan perniagaan, tentu dibenarkan mengambil kelebihan sebagai keuntungan perniagaan.

—- Hajime Yudistira

Pada suatu Sabtu telpon saya berdering, dan seprti biasa saya mengangkatnya dengan sigap. Terdengar suara disana “Assalamualaikum”, saya menjawabnya “Waalaikum salam”. “Saya membaca iklannya di Kaskus pak, katanya bisa terima gadai ya pak?” dia bertanya. “Benar pak, ada yang bisa kami bantu?” demikian saya menjawab pertanyaannya. “begini pak, kebetulan saya mau menggadai laptop, saya perlu uang Rp1.750.000. Saya bisa minta tolong dikirim alamat jelasnya pak, agar saya bisa datang” demikian dia melanjutkan pembicaraannya. Akhirnya saya memberikan alamat lengkap dan dia mengatakan akan datang saat itu juga.

Sekitar satu jam kemudian terlihat ada mobil datang ke tempat saya, mobil mewah keluaran terbaru. Saya agak kaget dan berpikir, “masa sih orang ini perlu uang Rp1.750.000”, padahal dia datang dengan kendaraan mewah yang saya perkirakan harganya tidak kurang dari Rp1 milyar. Seorang pria dengan pakaian rapi dan necis saya lihat turun dari kendaraan tersebut dan akhirnya masuk ke kantor saya yang sederhana.

Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya dia menjelaskan tujuannya datang, yaitu untuk bisa memperoleh dana sebesar Rp1.750.000. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia punya uang cukup di bank, hanya masalahnya kartu ATMnya baru saja hilang sehingga dia tidak bisa mengakses uangnya di bank dan hari itu bank tutup. Padahal di hari itu dia sudah berjanji untuk melakukan pembayaran kepada seseorang dan tidak mungkin dia tidak membayarkannya, karena itu menyangkut reputasinya sebagai seorang pengusaha. Menurut dia, beberapa orang kawan sudah dihubungi untuk dimintai pertolongan, tapi tidak seorang pun yang bisa membantunya, sampai akhirnya dia menemukan iklan “Rumah Gadai Yudistira” di Kaskus –salah satu satu market place yang cukup terkenal saat ini.

Seperti biasa saya menjalankan prosedur standar yang biasa saya jalankan dalam konsep gadai syariah selama ini. Pertama adalah melakukan pengecekan terhadap jaminan komputer jinjing yang dibawanya. Semua dalam kondisi baik dan tidak kurang satu apapun dan sangat mencukupi untuk nilai gadai seperti yang disampaikan. Berikutnya saya bertanya mengenai jatuh tempo yang dikehendaki, “Ini jatuh temponya mau dibuat sampai kapan Pak?” Saya membuka percakapan dengannya. Spontan dia menjawab “sampai Senin saja pak”, dan itu artinya hanya dua hari saja. Berikutnya saya bertanya lagi “Kalau Bapak dapat dana Rp1.750.000 yang jatuh temponya sampai hari senin, Bapak ikhlasnya mengembalikan dengan jumlah berapa?” demikian saya bertanya. Tidak lama kemudian dia menjawab “Rp.2.500.000 boleh pak?”. Saya berpikir itu bukan jumlah yang sedikit. Lalu saya tegaskan kembali, “itu bukan jumlah sedikit lho pak, itu cukup besar”. Dia menjawab “boleh ngga?”, dengan agak gugup saya menjawab kembali, “boleh saja pak, masalahnya Bapak ikhlas ngga?”. Dia melanjutkan jawabannya, “Tentu saya ikhlas. Saya sudah berjanji akan memberikan sejumlah ini kepada siapa saja yang bisa membantu saya” begitu dia menjawab.

Akhirnya kami sepakat dengan kesepakatan tersebut. Kalau dihitung dengan kacamata kepantasan, jumlahnya sangat besar, secara persentase jumlahnya 42,5%. Jumlah yang tidak lazim dalam konteks pinjaman. Apakah itu sesuai dengan konsep Syariah? Dalam kacamata saya, itulah syariah, karena syariah itu tidak ada hubungannya dengan murah atau mahal, tidak ada hubungannya juga dengan besar atau kecil. Syariah adalah konsep yang mengedepankan musyawarah dan tentunya hasil musyawarahnya harus diikuti dengan ikhlas.

Kadang ada yang berpendapat bahwa pinjaman dalam kacamata syariah, tidak boleh ada kelebihan saat pengembaliannya, karena itu adalah riba, demikian banyak orang berpendapat. Saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut. Dalam hal seseorang mendapatkan pinjaman, maka tentunya orang yang mendapatkan pinjaman tersebut mendapatkan manfaat dari pinjaman tersebut. Dan sudah sangat wajar jika saat peminjam mengembalikan pinjamannya, maka si peminjam juga harus memberikan manfaat balik kepada pemberi pinjaman, tapi cara mendapatkan manfaat balik tersebut, caranya harus sesuai dengan syariat Islam, yaitu bermusyawarah. Saya meyakini bahwa hukum Islam adalah hukum yang adil, jadi aplikasi hukum Islam juga harus merepresantasikan keadilan tersebut.

Harus bisa dibedakan mana yang riba dan mana yang syariah. Misalnya ada dua orang, sebutlah namanya Si A dan Si B, kedua orang tersebut meminjam uang Rp500 ribu kepada saya. Berikut contohnya,

Pertama, kepada Si A saya mengatakan seperti ini “ini A, saya pinjamkan Rp500 ribu, bulan depan kembalikan Rp550rb ya kepada saya”. Karena si A sedang ada kebutuhan mendesak, maka akhirnya dia mengatakan “baik Pak, saya akan kembalikan Rp550 ribu sesuai permintaan Bapak”.

Kedua, kepada Si B saya mengatakan seperti ini “ini B, saya pinjamkan Rp500 ribu, kira-kira kamu ikhlasnya mengembalikan dengan jumlah berapa di bulan depan?”. Lalu B menjawab “Pak, boleh enggak saya lebihkan Rp25 ribu, jadi pengembaliannya Rp525 ribu”. Saya menjawab kembali “wah B, jangan Rp25 ribu dong, sekarang enggak dapat apa-apa uang Rp25 ribu, tambahin lah sedikit”. Lalu B melanjutkan jawabannya, “oh begitu ya Pak? Bagaimana kalau saya lebihkan Rp50 ribu pak?”. Saya jawab kembali “kamu ikhlas ngga kalau Rp50 ribu”. Dia menjawab kembali “ikhlas Pak, sumpah! Dibantu Bapak saja saya sudah banyak terima kasih, saya ikhlas pak, lillahi ta’ala” Demikian B menjawab pertanyaan terakhir saya. Akhirnya saya katakana “oke deh saya sepakat”, lalu diakhiri dengan bersalaman tanda kesepakatan atau akad sudah terjadi.

Kalau diperhatikan dua contoh di atas, keduanya sama persis dari jumlah yang dipinjamkan dan jumlah yang dikembalikan. Menurut saya, contoh pertama itu adalah praktik riba, dan contoh kedua itu adalah praktik syariah. Kebanyakan kita hanya memahami bahwa riba adalah haram, tanpa tahu mengapa riba diharamkan.

Menurut saya riba diharamkan karena dua hal. Dalam contoh diatas, yang pertama Si A belum tentu ikhlas, dan yang kedua, bisa jadi Rp50 ribu yang saya minta akan memberatkan Si A. Dua hal tersebut yang membuat Islam mengharamkan riba menurut saya. Apakan dua hal tersebut terjadi kepada si B? Apakah Si B ikhlas? Bisa dilihat lagi percakapan pada contoh di atas. Si B ikhlas karena sudah dibantu kesulitannya. Lalu apakah Rp50 ribunya memberatkan Si B?, tentu tidak, karena disepakati berdasarkan musyawarah. Kalau Si B keberatan, tentunya dia tidak akan menyepakatinya.

Menurut saya itulah yang membedakan antara riba dan syariah dalam konsep gadai yang saya jalankan selama ini. Riba tidak sama dengan kelebihan. Kelebihan itu tidak ada masalah jika didapatkan dengan cara sesuai syariat Islam. Sama halnya dalam urusan perniagaan, tentu dibenarkan mengambil kelebihan sebagai keuntungan perniagaan. Wallahualam bissawab.[MFR]

Ibadah Nonritual Tidak Kalah Penting

Banyak orang lupa bahwa yang diajarkan Islam itu tidak melulu ibadah ritual, tapi juga akhlak Islami yang harus kita pelihara dalam berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga harus dilakukan dengan sesama mahluk Tuhan yang lain.

——Hajime Yudhistira

Ramadan baru saja berlalu, belum sebulan rasanya. Di mimbar-mimbar ceramah, kita melihat banyak sekali ulama menjelaskan Ramadan sebagai bulan yang disediakan Tuhan untuk menjadi bulan latihan bagi kita, umat muslim, agar menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka mengatakan seharusnya kita memiliki resolusi baru selepas bulan Ramadan. Seperti yang saya lihat di Youtube, ada video dialog antara Habib Jindan dengan Habib Ja’far al Hadar.

Dalam video tersebut, Habib Jindan berperan sebagai narasumber dan Habib Ja’far sebagai host-nya. Sebagai host, Habib Ja’far bertanya kepada Habib Jindan, bagaimana ber-Islam dan berdakwah di kalangan anak muda? Di samping menjelaskan mengenai posisi anak muda dalam berdakwah pada masa Rasullullah, Habib Jindan juga menjelaskan bahwa seharusnya selepas bulan Ramadan, setiap muslim sebaiknya memiliki resolusi baru, seperti misalnya tidak mau meninggalkan salat Witir 3 rakaat, selalu salat Duha atau Tahajud setiap hari, melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau tadarus Alquran dan lain-lain.

Contoh-contoh yang diambil semuanya adalah ibadah ritual; dan seolah-olah itu adalah hal yang terpenting. Saya bukan mengatakan ibadah ritual seperti itu tidak penting, tetapi melakukan kebaikan nonibadah ritual seperti itu juga tidak kalah penting. Kenapa resolusinya tidak ditambahkan? misalnya melakukan perbuatan baik yang sederhana kepada sesama manusia, seperti tersenyum kepada siapapun yang kita jumpai, atau membantu siapapun yang kita lihat memerlukan bantuan kecil, bisa juga berjanji untuk selalu berkata jujur mengenai hal apapun dan sebagainya.

Saya khawatir jika semua ulama selalu mengatakan bahwa sebagai muslim kita harus melakukan ibadah ritual saja, maka bukan tidak mungkin generasi ke depan akan menjadi generasi buta hati yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka berpikir dan percaya bahwa sebagai muslim, kewajibannya adalah melakukan ibadah-ibadah ritual saja, karena itu yang mereka dengar dari mimbar-mimbar keagamaan yang ada.

Kalau mau jujur, fenomena ini sudah mulai terlihat saat ini. Banyak orang yang salatnya tidak pernah ketinggalan, tapi berbohongnya juga jalan terus. Dr. Hj. Helmiati, M.Ag, wakil rektor I bidang akademik/dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, pernah mengatakan dalam salah satu artikelnya di website www.uin-suska.ac.id, bahwa saat ini banyak sekali umat muslim yang membedakan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Orang yang mementingkan kesalehan individual cenderung lebih mementingkan ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, zikir, dan seterusnya. Disebut kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama, mereka tidak memiliki kepekaan sosial dan kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat.  Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba formal.

Di samping itu, ada kesalehan lainnya, yaitu kesalehan sosial yang menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah umat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan oleh rukuk dan sujud, puasa, haji, melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.

Banyak orang lupa bahwa yang diajarkan Islam itu tidak melulu ibadah ritual, tapi juga akhlak Islami yang harus kita pelihara dalam berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga harus dilakukan dengan sesama mahluk Tuhan yang lain.

Mungkin QS Al Maun [107]: 4-5 yang artinya “maka celakalah orang yang salat” dan “(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya” bisa menjadi contoh yang baik untuk hal ini. Dulu saya bingung memahami maksud dari surat tersebut. Bagaimana bisa orang-orang yang melakukan salat, tapi melalaikan salatnya, dan celaka pula.

Sampai akhirnya pemahaman saya menjadi seperti ini, salat sebagai ibadah ritual juga mengajarkan kepada kita nilai-nilai luhur seperti kejujuran, disiplin, tertib, mengikuti pemimpin dan lain-lain. Bagaimana salat mengajarkan kejujuran? dalam salat kita sudah berlaku jujur, yaitu salat Subuh 2 rakaat, salat Magrib 3 rakaat. Saya rasa kita tidak pernah berbohong dengan melakukan salat Magrib menjadi 2 rakaat atau Subuh menjadi 1 rakaat. Itu artinya kita sudah jujur dalam salat, apakah kita sudah menjadi pribadi yang jujur di luar salat?

Salat juga mengajarkan kedisiplinan, kita selalu melaksanakan salat sesuai waktunya. Salat Subuh kita lakukan di waktu Subuh, salat Magrib kita lakukan di waktu Magrib dan seterusnya. Itu artinya kita sudah berdisiplin dalam salat. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang berdisiplin di luar salat?

Contoh di atas menjelaskan bahwa ada nilai yang diajarkan dalam ibadah ritual salat (kesalehan individu), yaitu contohnya tadi adalah jujur dan disiplin yang harus diaplikasikan di luar salat (kesalehan sosial)

Jadi di samping kita melakukan ritual ibadah salat tersebut, apakah kita juga menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam salat itu? Kalau ternyata kita hanya menjalankan ibadah ritual saja, dan tidak menerapkan nilai-nilai yang diajarkan, maka itulah makna dari pemahaman ayat tersebut, yaitu “celakalah orang-orang yang salat, tapi melalaikan salatnya”.

Hal tersebut juga berlaku untuk ibadah ritual lainnya seperti yang sudah dijelaskan dalam rukun Islam yang lima. Mulai dari membaca syahadat, salat, puasa, zakat dan ibadah haji. Semua itu hanyalah ibadah ritual saja. Ada nilai yang terkandung di dalam semua ibadah ritual yang harus diimplementasikan dalam kehidupan keseharian seorang muslim.

Saya berharap semakin banyak ulama berdakwah tidak hanya menyerukan agar kita meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah ritual saja, tapi juga mengajak umat untuk menjalankan ibadah nonritual yang memiliki nilai-nilai Islami. Semoga ke depan kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bisa bersaing dengan keindahan akhlak dalam berinteraksi dengan sesama mahluk Tuhan dan menjadi pribadi tangguh yang juga menjalankan ibadah ritual dengan baik. Wallâhualam bissawâb. [MFR]

Bukan Imam Pilihan

Kini, Idul hanya bisa berharap agar sang ibu mengerti, anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidup mereka sendiri, serta untuk menjunjung nilai-nilai dalam kehidupan keluarga mereka masing-masing. Tak apa jika Idul tak jadi Imam pilihan, Tuhan tahu, Idul tak seburuk tuduhan ibu.

——Idul (suami Fitri)

Pagi itu, tepatnya 24 Mei 2020, adalah lebaran 1 Syawal 1441 H. Idul, pria paruh baya, sudah siap sejak pagi; sejak selepas subuh ia sudah bergilir mengumandangkan takbir. Dia dan keluarga kecilnya juga sudah tampak bersiap berangkat menunaikan ibadah salat Idulfitri di lapangan perumahan tempat mereka tinggal. Salat ini diikuti tak lebih dari 20 orang saja, dengan tetap menjaga jarak.

Warga di komplek sini tidak berani ke masjid untuk salat dalam jamaah yang lebih besar, mereka memilih ikuti anjuran pemerintah untuk salat di komplek rumah saja, tentu karena korona.

Selepas salat, seperti biasa, tradisi di keluarga kecil Idul adalah makan ketupat dan opor ayam beserta teman-temannya, dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dalam keluarga kecil yang sudah dia bina selama 25 tahun. Bagian dari tradisi itu adalah ritual istri mencium tangan suami, disusul dengan empat anaknya yang melakukan hal sama; meminta maaf kepada orang tua, juga sebaliknya.

Perayaan tahun ini agak berbeda, korona memaksa keluarga kecil ini merayakan lebaran dengan cara yang sedikit garing; harus silaturahmi secara daring. Tak ada kunjungan ke rumah-rumah sanak saudara dan tetangga; semuanya dilakukan di sebalik layar kaca.

Usai makan dan bermaaf-maafan, Idul merasa letih. Dia lihat istrinya juga sudah mendahului berbaring di kasur. Malam hari sebelumnya dia memang kurang tidur karena menyiapkan hidangan lebaran buat Idul dan anak-anak. Perlahan Idul pun naik ke tempat tidur dan merebahkan badan di samping istrinya.

“Kamu nggak telpon ibu? Telpon, gih,” kata Idul sambil memejamkan mata.

Sekilas dia dengar jawab “Iya, ntar” dari istrinya. Dari nada suaranya, terdengar getar keengganan, seperti tak mau walau kata yang terucap adalah “iya”. Namun Idul tak pikir panjang, kantuk sudah keburu menyerang.

Hari pun berlalu. Idul masih tak tahu apakah istrinya sudah menelpon ibunya atau belum. Yang ia tahu, beberapa hari kemudian, sepulang kerja, Idul diberondong cerita dari istrinya yang marah besar terhadap ibu. Idul duduk di sebelah perempuan yang telah menemaninya puluhan tahun itu sambil berusaha menjadi pendengar yang baik. Ternyata istri Idul baru saja “berkelahi” dengan ibunya melalui WA.

Ceritanya cukup panjang, dan cerita ini bukan dimulai dari istrinya yang ternyata tidak menelpon ibu di saat Idulfitri, tapi jauh sebelumnya. Istri Idul menilai sang ibu terlalu mencampuri urusan rumah tangganya. Sang Ibu bahkan menilai Idul, selaku imam di keluarganya, tidak cukup pantas mendampingi anaknya.

Ternyata Idul menjadi salah satu topik pertengkaran mereka.

Ya Tuhan…. ternyata begitu cara sang ibu mertua menilai Idul. Sang ibu mencerca Idul dari banyak sudut, mulai dari pekerjaannya yang dinilai tidak cukup layak, sampai anggapan bahwa dia dan keluarganya tidak cukup memiliki adab terhadap orang tua. Idul dan keluarganya yang bertumbuh selama 25 tahun ini memang sepakat untuk lebih mengedepankan logika dan rasionalitas dalam bersikap terhadap apapun, mungkin ini yang dinilai sang ibu sebagai sikap kurang beradab.

Seperti contohnya, banyak orang yang sepakat dengan pernyataan “surga berada di telapak kaki ibu”. Idul bukannya menolak pernyataan itu, dia hanya ingin menekankan ibu seperti apa dulu yang di telapak kakinya ada surga. Tentu tidak semuanya. Kalau pernyataan itu diterima mentah-mentah, itu merendahkan intelektualitas. Tidak masuk akal dan sangat tidak rasional kalau di setiap telapak kaki ibu terdapat surga.

Orang tua tidak selalu benar; usia tua tidak sama dengan selalu benar. Orang tua bisa saja salah, karena salah bisa terjadi kepada siapa saja. Fakta ini yang kadang sulit diterima kebanyakan orang tua. Mereka berpikir orang tua selalu benar dan harus selalu dituruti kata-katanya. Bukan begitu cara Idul membangun rumah tangga. Idul tak mendidik keempat anaknya dengan nilai-nilai tersebut.

Meski pedih dan sakit hati, Idul memilih diam daripada harus berseteru dengan mertua. Apakah sakit hati? Sebagai manusia yang dikaruniai perasaan, tentu Idul tersinggung, teringat kembali kejadian-kejadian terdahulu, di saat fitnah-fitnah keji juga pernah dialamatkan kepada menantunya itu, yang kebetulan dulu pernah menolong dan membiayai seorang pelacur yang melahirkan anak tanpa pasangannya karena sama sekali tidak memiliki biaya untuk bersalin.

Saat itu dia dan istri membantu benar-benar didasarkan pada rasa kemanusiaan saja, tidak lebih. Mungkin saat itu istrinya bercerita kepada ibunya. Lalu beliau mengatakan kepada anaknya bahwa sangat mungkin suaminya punya “saham” terhadap pelacur itu, makanya mau membantu persalinannya. Wow, bisa dibayangkan betapa tersinggungnya Idul dengan tuduhan itu. Sangat menyakitkan dan merendahkan harga diri. Toh, Idul tetap diam, biarlah Tuhan yang tahu.

Kalau saat ini belahan jiwanya memilih jalan untuk tetap berseteru dengan ibunya dalam rangka memberi pembelajaran terhadap orang yang berpendapat “orang tua selalu benar”, itu adalah pilihannya, Idul tidak akan melarang ataupun mendukung. Karena dalam kasus ini, lagi-lagi, Idul memilih untuk kembali diam.

Mungkin ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi yang membaca tulisan ini, bahwa suami istri sangat boleh berbeda pilihan dalam menyikapi suatu hal. Intinya jangan memaksakan pendapat satu dengan lainnya. Kalau memang berbeda, ya berjalanlah bersama dalam perbedaan. Kuncinya saling menghargai dan bertoleransi. Ini mungkin salah satu sebab usia perkawinan bisa mencapai 25 tahun atau bahkan lebih, di samping cinta kasih tentunya.

Kini, Idul hanya bisa berharap agar sang ibu mengerti, anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidup mereka sendiri, serta untuk menjunjung nilai-nilai dalam kehidupan keluarga mereka masing-masing. Tak apa jika Idul tak jadi Imam pilihan, Tuhan tahu, Idul tak seburuk tuduhan ibu.[MFR]