Arti Kemerdekaan bagi Penghayat

Pancasila yang ditahbiskan sebagai pegangan dasar negara, ruhnya mulai memudar dan tinggal nama; “Ketuhanan yang Maha Esa” hanya nyaring dimulut tapi bringas di lapangan. Ruhnya telah tercuri oleh fanatisme buta yang berujung pada intoleransi bahkan kekerasan atas nama Tuhan. Maka, apa sebenarnya arti kemerdekaan buat kaum penghayat?

—- Badrus Solikhin

Aliran kepercayaan merupakan salah komunitas masyarakat yang mempunyai cara pandang tersendiri dalam menghayati sifat-sifat Tuhan menurut kepercayaan mereka. Dalam beberapa dekade ini, dunia maya ramai oleh berita mengenai aliran kepercayaan yang menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara, meski kadang perjuangan mereka tak selalu membuahkan hasil.

Salah satu contohnya adalah salah satu aliran kepercayaan yang ada di Kuningan, Jawa Barat. Hari-hari mereka dihiasi diskriminasi oleh masyarakat setempat. Mirisnya lagi, kegiatan mereka dilarang, ditolak dan diperkusi bahkan oleh aparatur negara. Mereka terus berjuang untuk mempertahankan kepercayaan yang telah lama mereka anut.

Banyak orang belum kenal Sunda Wiwitan, termasuk peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air Indonesia. Bagi pemeluk Sunda Wiwitan, ajaran leluhur sunda menuntun kesadaran spiritual mereka pada kekuatan energi semesta di luar diri mereka. “Ajaran ini membuat mereka sadar pada hukum kepastian-Nya, teguh pada janji menjaga cara ciri manusia dan karakter ciri bangsa,” ungkap Pangeran Djati Kusuma, salah seorang tokoh Sunda Wiwitan.

Di Indonesia sendiri, keadilan seperti barang langka, apalagi bagi kaum minoritas yang tak punya kuasa untuk menikmati hak-hak sipil mereka. Toleransi, rasa aman, dan kesejahteraan bak barang mewah bagi mereka.

Sunda Wiwitan, aliran yang telah lama berkembang di Kuningan, Jawa Barat ini, merasakan bagaimana gerak-gerik mereka dipersulit oleh sesama warga, betapapun mereka berusaha hidup berdampingan dengan agama lain.

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) merupakan salah satu prosedur yang harus diikuti sesuai kebijakan pemerintah. Persoalan ini sering memicu tindakan diskriminatif. Contohnya pensegelan yang dilakukan oleh Pemda setempat terhadap tempat ibadah Sunda Wiwitan tidak ber-IMB.

Sebagai warga negara yang baik, kaum Sunda Wiwitan pun mengikuti prosedur yang harus dijalankan sesui dengan keinginan aparat. Tak selang lama dari surat teguran yang diterima pada 29 Juni 2020, Sunda Wiwitan mengurus pengajuan IMB kepada dinas PMPTSP pada 1 Juli 2020.

Yang mencengangkan bagi saya adalah bangunan yang merupakan tempat keramat hendak dibongkar hanya karena tak memiliki IMB. Padahal, berapa banyak tempat ibadah agama lain di negeri ini yang tidak atau belum punya izin serupa, tapi tetap kokoh berdiri hanya karena mereka miliki kaum mayoritas; tak ada pensegelan apalagi ancaman pembongkaran. Sunda Wiwitan, sebagai kelompok minoritas, memang tak punya kuasa untuk membendung pensegelan itu.  

Meski mereka mengikuti kemauan aparat untuk segera mengajukan IMB kepada pemerintah setempat, diskriminasi tidak serta merta berhenti. Alih-alih mendapat kabar baik untuk melanjutkan kegiatan sembahyang dengan aman dan lancar, mereka kembali mendapatkan teguran terkait bangunan mereka dirikan.

Diskriminasi yang dialami masyarakat akur Sunda Wiwitan tidak hanya soal IMB saja. Anak-anak mereka pun juga mengalami nasib serupa. Anak yang masih berusia lima tahun kerap mendapat hinaan dan kucilan dari teman-temannya. Bahkan, gurunya sendiri—sosok yang seharusnya mengayomi dan melindungi—tanpa ragu menghardiknya sebagai ‘kafir’ karena tak menganut agama yang sama seperti teman-temanya yang lain. Si anak penghayat itupun terpaksa mengikuti pelajaran agama meski tak sesuai dengan hati nuraninya.

Perjuangan para penganut aliran kepercayaan tidak sampai sini. Mereka juga mencari keadilan agar identitas mereka dapat dicantumkan di KTP mereka kolom agama. Untunglah, setelah bertahun-tahun membentur tembok tebal kegagalan, perjuangan mereka—dan juga kelompok penghayat yang lain—menemukan secercah harapan bersama dikabulkannya judicial review oleh MK mengenai pencantuman identitas penghayat di kolom KTP. Meski belum jelas betul bagaimana pelaksanaannya di lapangan, putusan ini tentu saja bak oase di gurun pasir bagi kaum penghayat.  

Meski harus menghadapi segudang diskriminasi dari kelompok mayoritas, masyarakat Sunda wiwitan berusaha tetap memegang teguh ajaran leluhur mereka: hidup toleran dengan agama lain. Mereka berusaha menghindari perseteruan dengan kaum mayoritas meskipun diskriminasi terus mengintai keseharian hidup mereka.

Memang, menegakkan keadilan di negara ini tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi lagi-lagi kaum minoritas selalu menjadi korban. Toleransi agama merupakan suatu hal yang harus dijaga. Keberagaman agama yang ada di Indonesia harus selalu diletakkan dalam konteks keadilan sebagaimana mestinya.  Sebagai warga negara yang berkedudukan di satu tempat bernama Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI), kaum penghayat juga berhak mendapatkan jaminan  kesejahteraan dan ketentraman dalam menjalankan kehidupan mereka, terlebih lagi kepercayaan yang mereka anut sebagai hak paling dasar mereka sebagai manusia. Setiap agama ataupun aliran kepercayaan seyogianya mengedepankan adab dan akhlak yang pasti menjadi bagian tak terpisahkan dalam ajaran mereka masing-masing.

Fanatisme berlebihan digadang-gadang sebagai salah satu tunggangan yang membuat kaum minioritas ini merasakan diskriminasi, apalagi sudah ada campur tangan kekuasaan; gerak semakin dipersulit seperti halnya yang dirasakan oleh penganut Sunda wiwitan.

Pancasila yang ditahbiskan sebagai pegangan dasar negara, ruhnya mulai memudar dan tinggal nama; “Ketuhanan yang Maha Esa” hanya nyaring dimulut tapi bringas di lapangan. Ruhnya telah tercuri oleh fanatisme buta yang berujung pada intoleransi bahkan kekerasan atas nama Tuhan. Maka, apa sebenarnya arti kemerdekaan buat kaum penghayat?  [MFR]

Koronavirus dari Lensa Batin Penghayat

Kita tidak dapat mengetahui kebenaran secara pasti. Manusia hanyalah wayang sedangkan Tuhan adalah Sang Dalang. Manusia tidak akan pernah sampai pada pengetahuan yang hakiki karena itu hanyalah milik Tuhan semata.

Banyak perspektif bermunculan dalam melihat virus yang tengah melanda bumi kita ini. Kita tinggal milih sudut pandang mana yang ingin kita pakai; mediskah, agamakah, ataukah konspirasi elit global ala JerinxSID. Apapun sudut pandang yang kita pilih, keselamatan individual dan masyarakat harus ada di nomor satu.            

Virus ini konon bermula dari Kota Wuhan di Cina; kota ini merupakan salah satu kota yang terkenal dengan pasar hasil dari laut. Ternyata, pasar ini bukan hanya menjual hasil laut saja, tapi juga santapan berupa hewan ekstrim, seperti katak, ular, kelelawar, dan banyak lagi, yang memang digandrungi oleh orang Cina. Ditilik dari kacamata kesehatan, mengonsumsi daging ini, apalagi mentah, memang berpotensi memicu penyakit. Analisis lain menganggap koronavirus adalah bagian dari perang dingin Amerika-Cina; sebagian lain menganggapnya sebagai permainan elit global untuk menguasai dunia, terutama melalui vaksin virus ini.

Tulisan ini hendak meramaikan diskusi soal pandemi ini dari sudut pandang lain yang mungkin jarang kita dengar. Perspektif ini berasal dari kaum penghayat -kadang disebut ahli kebatinan, atau penganut aliran kepercayaan—yang sepanjang sejarah bangsa ini kerap jadi korban diskriminasi dan persekusi atas nama hukum maupun mayoritas. Syukurlah, situasinya sedikit membaik sejak pemerintah mengubah beberapa kebijakannya.    

Beberapa pekan terakhir sebelum koronavirus mewabah di Indonesia, saya berkesempatan berbincang dengan seorang tokoh hebat bernama Bapak Sukamto. Beliau adalah seseorang penganut aliran kebatinan Kejawen; meski tidak dianggap sebagai agama oleh pemerintah, aliran ini juga menganut kepercayaan terhadap Tuhan YME melalui pendekatan adat istiadat Jawa. “Tuhan adalah Pangeran Gusti Kang Kinoyo Jagat,” kata beliau.

Pembicaraan kami sampai juga akhirnya pada isu koronavirus; virus yang meluluhlantakkan banyak sendi kehidupan dunia. Analisis mengenai asal muasal virus ini banyak menghiasi pemberitaan nasional, termasuk bagaimana pemerintah seharusnya merespons virus yang kemudian memicu pandemi ini. Uniknya, Bapak Sukamto punya cara pandang sendiri soal ini. Beliau mengaku pernah mendapat isyarat dari Tuhan mengenai koronavirus ini. Saat itu ada sinar jatuh dari langit, lalu sebelum sampai jatuh ke bumi, sinar tersebut memisahkan diri menjadi empat belas sinar; salah satu sinar tersebut inilah yang menjadi penyakit yang menghebohkan dunia saat ini.

Bapak Feri adalah juga seorang penghayat; dia bahkan menjabat sebagai salah seorang komisioner di “Sanggar Penghayat Tuhan yang Maha Esa se-Indonesia”. Sanggar ini adalah salah satu aliran kepercayaan yang berusaha menangkap kuasa dari gelaja alam sekitar. Setiap hari pada jam dua pagi buta, beliau selalu berdoa di luar rumah; orang Jawa mengenalnya dengan istilah ngembun. “Berdoa di bawah langit langsung berbeda dengan berdoa di dalam rumah karena membuat kita merasakan kuasa Tuhan yang luar biasa; menyerap energi langit yang membentang dari ujung wetan kang kawitan sampai ujung kulon,” ujar beliau.  

Berbeda dengan rekannya, Bapak Feri menganggap virus misterius ini sengaja dibuat manusia. Beliau masih bertanya-tanya siapakah yang membuat virus ini, dan untuk tujuan apa. Bapak Feri menganggap beda pandangan soal koronavirus sah-sah saja asal tidak menimbulkan perpecahan. Yang paling bijak saat ini adalah menaati anjuran pemerintah.

Begitulah, sesama penghayat, yang katanya minoritas, tidak selalu satu suara dalam segala hal; apalagi di kalangan mayoritas.  Keberagaman adalah sunnatullah; dengannya dunia ini menjadi lebih berwarna-warni dan indah. Kita boleh beda pendapat dalam banyak hal, tapi jangan sampai perbedaan itu menghalangi kita untuk menyeduh kopi sambil tertawa bersama. Batin setiap manusia memang tidak sama; semuanya bergantung pada diri manusianya sendiri. Jika manusia mengasah batin dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, maka dia akan mampu melihat dengan mata batinnya.

Kita sebagai umat Islam boleh saja tidak sependapat dengan Bapak Sukamto dan Bapak Feri. Tetapi perlu diingat bahwa agama kita juga mengenal yang namanya firasat. Bahkan, banyak dari kita mengambil keputusan dari tafsir kita terhadap mimpi. Keabsahan mimpi sebagai sumber pengetahuan juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Gus Faris dalam kajiannya terhadap Kitâb Al-Mukhtârul al-Hadîs anNabawiyyah: “Sebagian  wahyu itu didapat dari mimpi, begitu pula pada Nabi juga mendapatkan wahyu dari mimpi, seorang mukmin mendapat petunjuk juga berasal dari mimpi tetapi komposisi nilainya berbeda dari Nabi.”

Kita tidak dapat mengetahui kebenaran secara pasti. Manusia hanyalah wayang sedangkan Tuhan adalah Sang Dalang. Manusia tidak akan pernah sampai pada pengetahuan yang hakiki karena itu hanyalah milik Tuhan semata. Wallahu’alam.[MFR]