Naskah Orasi Pengukuhan Guru Besar Filsafat Agama- 2006 [pdf. available]

Jika Tuhan Maha Baik, Dari Manakah Datangnya Kejahatan

Naskah lengkap Orasi Pengukuhan Gelar Guru Besar Prof. Fauzan Saleh, Ph.D. berjudul, “Jika Tuhan Maha Baik, Dari Manakah Datangnya Kejahata,” bisa diunduh di link http://saa.iainkediri.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Orasi-Pengukuhan-Guru-Besar-Fauzan-Saleh-Ph.D-2006-2.pdf

Prof. Fauzan Saleh, Ph.D., lahir di Ponorogo, 19 Januari 1953. Menamatkan pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam, Gontor Ponorogo, 1973. Sejak tamat dari KMI penulis mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Perguruan tersebut hingga 1979, sambil menyelesaikan pendidikan Sarjana Mudanya. Gelar Doktorandus (Drs.) diperoleh dari Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya, 1984. Pada tahun 1987 diangkat menjadi dosen tetap di Fakultas Ushuluddin IAIN Kediri. Selanjutnya, penulis mendapatkan beasiswa dari Canada International Development Agency (CIDA) untuk melanjutkan pendidikannya ke  jenjang Magister dan memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada, 1992. Gelar Ph.D. diperoleh dari universitas yang sama tahun 2000, dengan disertasi berjudul “The Development of Islamic Theological Discourse in Indonesia: A Critical Survey of Muslim Reformist Attempt to Sustain Orthodoxy in the Twentieth Century Indonesia.” Atas saran dan dukungan Prof. Howard M. Federspiel serta persetujuan Prof. Eric Ormsby, selaku promotor dan co-promotor, disertasi tersebut akhirnya diterbitkan oleh E.J. Brill, di Negeri Belanda dengan judul Modern Trends in Islamic Theological Discourse in Twentieth Century Indonesia: A Critical Survey (Leiden, Boston and Koln: Brill, 2001). Versi Indonesia terbit pertama kali dengan judul Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XII (Jakarta: Serambi, 2004). Dengan judul yang sama, setelah direvisi dan disempurnakan, buku tersebut kini bisa sampai di tangan pembaca berkat bantuan Penerbit Suara Muhammadiyah Yogyakarta, dengan tambahan bab “Epilog: Catatan Reflektif tentang Islam di Indonesia di Awal Abad Millennial.”

Penulis mendapatkan gelar professor di bidang Filsafat Agama dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Kediri, tahun 2006, dengan pidato pengukuhan berjudul “Jika Tuhan Mahabaik, Dari Manakah Datangnya Kejahatan: Theodicy dalam Khazanah Intelektual Islam Klasik.” Di dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan penulis aktif di berbagai organisasi keagamaan, antaraa lain di ICMI, KAHMI, MUI, dan terutama di Muhammadiyah. Saat ini penulis dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri.

Agama dan Solidaritas Melawan Covid-19

Ega Mahendra*

Sumber Gambar: https://www.kbc.co.ke


“….merebaknya pengajian daring juga menunjukkan bahwa komunitas keagamaan tidak selalu identik dengan label gaptek atau ketinggalan zaman. Kelompok yang selama ini diklaim tradisional, misalnya, ternyata tampil paling depan dalam memanfaatkan teknologi baru ini.”

Negeri kita tengah diusik dengan wabah virus yang penularannya terjadi dalam kurun waktu singkat, yaitu Koronavirus atau Covid-19. Virus ini telah mengganggu aktivitas kita, baik personal maupun sosial. Kerugian merambah pada semua aspek dari kehidupan negara, mulai dari pendidikan hingga ekonomi. Bahkan, diprediksi bangsa ini akan memasuki masa-masa sulit seiring anjloknya pertumbuhan ekonomi akibat hantaman koronavirus. 

Covid-19 ini bisa menular melalui interaksi antar manusia, misalnya kontak fisik dengan oranf positif corona, atau melalui benda-benda sekitar yang terpapar virus ini. Sekali virus ini masuk ke dalam tubuh, ia akan menyerang imunitas dan bisa berdampak mematikan apabila disertai sakit bawaan.  Maka dari itu, negara-negara di dunia melakukan langkah-langkah antisipatif untuk memutus mata rantai penyebaran virus, seperti lockdown, social and physical distancing, atau karantina wilayah.

Di sejumlah negara yang terpapar, Covid-19 sudah merenggut nyawa orang dalam jumlah yang tak sedikit. Melalui juru bicaranya Achmad Yurianto, ketua satgas pusat, pemerintah mengatakan bahwa di Indonesia pasien positif per 29 Maret 2020 sudah mencapai 1.285 orang. Pemerintah juga tanpa bosan memberi arahan agar masyarakat disiplin dalam melakukan jaga-jarak fisik, berdiam atau kerja di rumah, dan selalu menerapkan pola hidup sehat. Ada juga anjuran menggunakan masker, mencuci tangan menggunakan hand sanitizer atau sabun. Semua langkah ini adalah kunci dalam memutus mata rantai pandemi.  Untungya, masyarakat dari pelbagai lapisan bahu-membahu berpartisipasi dalam memerangi virus ini. Solidaritas sosial begitu tampak, sekalipun ada riak-riak yang mengganggu. 

Lalu, bagaimana peran agama terutama dalam membangun solidaritas sosial selama wabah Covid-19? Secara sederhana, seharusnya agama punya andil besar dalam menumbuhkan kebersamaan pada masyarakat Indonesia. Agama adalah aspek berharga bangsa ini; ia menjelma sebagai dasar negara, yakni Pancasila dalam sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sila pertama ini diikuti sila berikutnya yang menekankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Wabah ini kali menjadi ujian bagaimana kita sebagai bangsa bisa menerjemahkan kedua sila luhur ini dalam kehidupan nyata.

“Solidaritas sosial di kalangan umat beragama tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga dunia maya.”

Menurut Durkheim, agama bisa menguatkan solidaritas sosial. Alasannya, orang beragama cenderung terikat pada kepercayaan yang sama, sentimen yang sama, ibadah yang sama, ritual bersama; semua ini adalah faktor penting yang mengukuhkan kesatuan dan solidaritas. Agama juga punya peran penting sebagai kontrol sosial. Parsons mengatakan bahwa agama adalah agen terpenting dalam sosialisasi dan kontrol sosial. Agama bisa mengatur, mengarahkan, dan melembagakan kehidupan sosial. Maka dari itu, peran agama dalam solidaritas sosial untuk menghentikan lajut koronavirus ini sangat diperlukan dan labudda.

Di lapangan, berbagai organisasi dan lembaga agama di negeri ini bekerja sama dalam perang lawan virus ini melalui beragam cara dan metode. Di tengah keterbatasan akibat kebijakan jaga-jarak fisik dan sosial, penggunaan media baru (new media) berbasis teknologi menjadi pilihan. Dalam hal tertentu, merebaknya pengajian daring juga menunjukkan bahwa komunitas keagamaan tidak selalu identik dengan label gaptek atau ketinggalan zaman. Kelompok yang selama ini diklaim tradisional, misalnya, ternyata tampil paling depan dalam memanfaatkan teknologi baru ini. Solidaritas sosial di kalangan umat beragama tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga dunia maya.

Seruan ibadah di rumah juga digemakan oleh banyak organisasi keagamaan. Tentu saja, langkah ini diambil dengan berat hati, terutama bagi Muslim yang tengah menjalankan ibadah Ramadan. Imbauan datang, misalnya, dari Majelis Ulama Indoneisa (MUI) yang meminta jamaah agar melaksanakan ibadah di rumah masing-masing sesuai Fatwa MUI, No 14, Tahun 2020 karena Covid-19 di Indonesia telah meluas dan darurat. Ajakan serupa juga datang dari organisasi agama lain, di antaranya  Persatuan Gereja Indonesia (PGI) DKI Jakarta, Keuksupan Agung Jakarta, dan juga Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) DKI Jakarta.  Turut serta dalam barisan adalah Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang membatasi umat Hindu yang akan mengikuti prosesi Tawur Agung, dan juga mengimbau perayaan Nyepi tahun ini dilakukan dengan berdiam diri di rumah masing-masing ( https://tirto.id/).

Mengapa solidaritas sosial bisa sangat berguna bagi pencegahan Covid-19? Secara etimologi, solidaritas artinya adalah kesetiakawanan atau kekompakan; bahasa Arab-nya disebut tadhamun (ketetapan dalam hubungan) atau takaful (saling menyempurnakan atau melindungi). Dalam KBBI, solidaritas adalah sifat (perasaan) solider, sifat satu rasa (senasib), perasaan setia kawan pada suatu kelompok anggota wajib memilikinya. Sifat-sifat ini sangat diperlukan oleh masyarakat dalam membangun daya tahan sosial di tengah wabah. Sebagaimana ditekankan berulang-ulang oleh pemerintah, kunci keberhasilan perang lawan virus ini adalah masyarakat sendiri.

Durkheim mengemukakan hal senada.  Ia mengatakan bahwa solidaritas sosial ialah keadaan hubungan antar individu dan kelompok yang didasarkan perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengamalan emosional bersama. Semangat semacam ini niscaya harus dimiliki masyarakat dalam situasi saat ini. Tanpa bergantung pada pemerintah, masyarakat saling bantu menjaga daerahnya masing-masing atau melakukan disenfektan swadaya. Sejumlah organisasi juga membuka donasi untuk meringankan beban negara, baik dalam bentuk barang dan uang maupun barang-barang lain yang diperlukan.  

Dari pemaparan diatas, kiranya terang benderang bahwa agama punya perang penting dalam mengukuhkan solidaritas sosial dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini. Jika solidaritas sosial ini bisa bersinergi dengan solidaritas yang digalang pemerintah, kita optimis bahwa kita pasti bisa dan kuat melawan wabah ini.

*Ega Mahendra adalah Mahasiswa SAA IAIN Pontianak