Transformasi Berkat

Jamuan makan yang diberikan oleh orang yang punya hajat sudah dianggap sebagai penghormatan yang baik. Namun dengan diberikan tambahan buah tangan inilah yang disebut dengan berkat karena bertambah kebaikan dari orang yang punya hajat (slametan).

—– Abdur Rohman

Kata berkat  sebenarnya berasal dari bahasa Arab barokah  yang memiliki arti ‘semakin bertambah kebaikannya’. Kata ini kemudian memiliki arti secara khusus bagi orang Jawa, yaitu penghormatan yang lebih. Biasanya orang yang sedang diundang slametan  sudah diberi jamuan pada saat mereka hadir di rumah orang yang punya hajat. Namun penghormatannya tidak sampai disitu, pada saat pulang, mereka masih dibawakan buah tangan yang disebut dengan berkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua upacara slametan  diberi jamuan makan di rumah yang sedang punya hajat. Namun yang dapat dipastikan adalah mereka akan dibawakan oleh-oleh saat pulang. Jamuan makan yang diberikan oleh orang yang punya hajat ini sudah dianggap sebagai penghormatan yang baik. Namun dengan diberikan tambahan buah tangan inilah yang disebut dengan berkat karena bertambah kebaikan dari orang yang punya hajat (slametan).

Dari waktu kewaktu penulis mengamati ada beberapa modifikasi dan trasnsformasi berkat. Misalnya, pada saat penulis masih usia kanak-kanak, penulis masih menjumpai berkat  dengan nasi jagung (ampog). Namun lama kelamaan nasi jagung ini menghilang dan digantikan dengan nasi campuran, yaitu campuran antara nasi jagung dengan nasi beras. Campuran ini menyebabkan warna dari berkat  yang dijadikan slametan  menarik. Sebab, warnanya kuning-putih.

Nasi kuning-putih inipun lambat laun menghilang juga dan digantikan dengan yang sama dengan berkat  sekarang yaitu nasi beras. Perubahan ini dalam pendangan penulis sangat beralasan. Sebab, orang-orang Jawa pada masa lalu belum banyak mengalami kemajuan dari segi ekonomi, mereka umumnya masih mengandalkan hasil pertanian. Jadi wajar apabila berkat  yang mereka gunakan untuk slametan  juga dihemat.

Dalam pandangan penulis berkat mengalami transformasi dari waktu kewaktu. Mulai dari berkat nasi jagung, campuran jagung, beras, aneka sembako mentah dan sangat mungkin dikemudian hari akan digantikan dengan ‘amplop’.

Transformasi berkat  dari waktu kewaktu ini bukan tanpa alasan. Orang Jawa merubah berkat  dari jagung ke beras karena alasan ekonomi. Mereka sudah mampu beli beras meskipun orang biasa. Kemudian berganti – meskipun hanya sebagaian – kepada bahan makanan pokok yang masih mentah seperti minyak goreng, gula, mie instan yang masih mentah, beras dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh orang Jawa karena beberapa pertimbangan.

Pertama, orang Jawa pada zaman dulu ketika mengadakan slametan  menyajikan makanan yang levelnya di atas makanan sehari-hari. Misalnya, orang dulu makan sehari-hari dengan nasi ketela  (thiwul) dengan lauk pauk seadanya, bisa sambal atau ikan asin. Namun pada saat mereka slametan,  mereka menghidangkan menu dalam berkat  berupa nasi jagung  yang levelnya lebih tinggi daripada nasi thiwul. Oleh sebab itu, menu ini adalah menu unggulan pada masa itu dan sangat wajar apabila dinanti-nanti oleh keluarga yang ada di rumah. Sebab, mereka akan membawa menu makanan yang ‘lebih enak’ dibandingkan menu makanan umumnya yang dikonsumsi.

Kedua, makanan sehari-hari dengan menu yang ada dalam berkat  levelnya sudah sama. Artinya, menu makanan sehari-hari dengan apa yang ada dalam berkat tersebut tidak berbeda. Jika sehari-hari orang sudah makan nasi dengan lauk yang bervariasi, di dalam berkat juga demikian. Tiada perbedaan jauh antara  berkat  dengan menu sehari-hari; inilah yang menyebabkan berkat sudah tidak lagi istimewa seperti dulu. Akibatnya, tidak sedikit dari berkat  tersebut yang tidak dikonsumsi.

Ketiga, jatah makan setiap keluarga sudah diperkirakan oleh orang yang masak. Dalam satu keluarga, misalnya dalam waktu sehari semalam menghabiskan beras sebanyak 0,5 kg. maka sebanyak itulah pada pagi harinya keluarga tersebut masak nasi. Begitu pula dengan sayur dan lauknya. Jadi, jika ada berkat  yang datang belakangan, maka dapat dipastikan ada yang kalah salah satu. Tidak mungkin semuanya dihabiskan. Jika yang dimakan adalah berkat-nya, maka nasi yang sudah dimasak tersebut nganggur. Jika yang dimakan adalah nasinya, maka berkat  yang datang belakangan tersebut juga akan nganggur.  

Keempat, menghindari mubazir. Banyak orang modern yang berfikir tentang hal ini. Misalnya, pada saat orang-orang Jawa mengadakan slametan  bersama seperti menjelang puasa – istilahnya megengan – atau pada saat malam-malam ganjil tanggal 20 ke atas pada bulan Ramadhan – istilahnya maleman –  tidak sedikit berkat yang nganggur. Andaikata dalam lingkungan kenduri itu berjumlah 30 rumah, maka hampir dapat dipastikan akan kembali dengan jumlah yang sama. Oleh sebab itu, tidak mungkin semua berkat dengan jumlah yang sedemikian banyak bisa dihabiskan dalam waktu sehari. Untuk meminimalisasi jumlah berkat yang tidak termakan, para penduduk kemudian memiliki inisiatif untuk mengganti dengan sembako.

Biasanya, sembako yang dijadikan untuk oleh-oleh adalah gula, mie instan, minyak goreng kemasan dan terkadang ada roti tambahan. Pemilihan sembako ini tentu saja melalui berbagai pertimbangan yang matang. Sebab, bagi orang Jawa modern, yang penting dalam slametan  bukan terletak pada uborampe  yang dihadirkan. Namun do’a yang dipanjatkan kepada Tuhan.

Kelima,  mempertimbangkan manfaat. Seperti analisa di atas, jika jumlah berkat  begitu banyak dalam waktu sehari, maka dapat dipastikan tidak habis dimakan. Oleh sebab itu pemilihan sembako sebagai ganti berkat  adalah pilihan yang bijak. Jika dipertimbangkan dari aspek manfaatnya, sembako jauh lebih awet dibandingkan dengan makanan matang. Sewaktu-waktu orang tersebut membutuhkan, maka dengan mudah ia bisa memanfaatkan sembako tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu, penggunaan sembako sebagai ganti berkat juga menghemat tenaga. Jika seseorang membuat  berkat  dengan jumlah yang cukup banyak – membuat 30 misalnya – maka ia membutuhkan waktu yang panjang dan tenaga yang banyak. Sejak sehari atau dua hari sebelumnya ia pasti sudah bersiap-siap untuk membeli bahan mentah dan kemudian dimasak sehari penuh untuk mempersiapkan berkat  tersebut siap disajikan pada saat kenduri. Dengan adanya sembako ini, dapat dipastikan bahwa orang-orang yang sibuk bekerja, mereka tidak disibukkan dengan memasak ataupun mempersiapkan aneka macam keperluan lainnya. Mereka cukup membeli bahan mentah dan kemudian dimasukkan dalam satu wadah plastik untuk dibungkus sesuai dengan jumlah undangan yang ada.

Keenam,  diganti dengan amplop. Panulis memprediksi bahwa dikemudian hari, berkat  yang awalnya adalah berupa makanan siap saji, lalu digantikan dengan sembako, peralihan ini lama-kelamaan akan menjadi ‘amplop’. Mengingat mobilitas orang-orang modern yang semakin padat, pekerjaan semakin dipermudah dengan adanya berbagai macam alat ataupun tenaga lain untuk menggantikan tenaga manusia, maka sangat mungkin dikemudian hari akan berganti dengan ‘amplop’.

Hal ini penulis perkirakan karena orang-orang modern semakin sibuk. Dengan digantikan amplop, mereka tidak akan terganggu sama sekali kerjaannya. Selain itu, orang yang diundang diperkirakan akan lebih kompak untuk menghadiri undangan. Sebab, uang dalam pandangan orang kampung ataupun kota, jauh lebih berharga dibandingkan dengan berkat. Bisa jadi, jika dalam satu hari ada 3 undangan, sementara 1 undangan ada amplopnya 20.000, maka sangat mungkin akan timbul pertanyaan ‘Jika setiap hari kayak gini, di lock down setahun pun juga gak masalah.’[MFR]

Menyapa Arwah dengan Sandingan

Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

—Abdur Rohman

Kata  sandingan  mungkin masih asing didengar oleh masyarakat Jawa, apalagi Indonesia. Padahal sandingan  adalah salah satu ritual masyarakat Jawa yang turun-temurun. Sandingan  adalah ritual Jawa yang dilakukan pada malam Jumat dan hari-hari tertentu dengan menyajikan beberapa  uborampe di kamar tengah yang dipersembahkan kepada para leluhur. Sayangnya, budaya ini sudah sulit ditemui. Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

Tulisan singkat akan akan mengulas budaya yang hampir punah ini. Penulis adalah penduduk asli kecamatan Mojo kabupaten Kediri yang mencoba menelusuri budaya tersebut. Sejauh yang penulis amati, di kecamatan Mojo hanya terdapat dua orang yang masih melestarikan budaya tersebut, yaitu di Desa Jugo dan Maesan.

Untuk masalah waktu, tradisi ini dibagi menjadi dua. Pertama, setiap, malam Jumat seperti dilakukan oleh Markonah (nama samara), seorang warga Desa Jugo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Karena tradisi ini dilakukan rutin setiap malam Jumat, maka uborampe  yang dijadikan sandingan juga sederhana. Biasanya meliputi hal-hal yang disukai oleh almarhum keluarga sewaktu masih hidup, yaitu rokok dan kopi. Uborampe  tersebut diletakkan di kamar tengah sejak sore hari hingga pagi dengan penerangan dari lampu tradisional, ublik. Setelah pagi hari rokok dan kopi tersebut baru boleh dikonsumsi oleh keluarga yang masih hidup.

Kedua, setiap menjelang Idulfitri dan bulan Ramadan. Romelah (nama samaran), seorang warga Desa Maesan Mojo Kediri, melaksanakan upacara sandingan pada dua momentum, yaitu pada saat megengan  dan  maleman. Megengan adalah upacara kenduri menjelang bulan Ramadan. Umumnya kenduri bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dengan mengundang para kerabat di wilayahnya masing-masing. Sedangkan maleman adalah tradisi kenduri menjelang datangnya Idulfitri.

Tradisi sandingan yang dilakukan hanya dua kali dalam satu tahun ini tentu berbeda dengan pelaksanaannya setiap malam Jumat. Perbedaan yang mencolok berada pada banyaknya uborampe  yang digunakan. Warga desa Maesan ini menggunakan uborampe yang cukup banyak, yaitu nasi putih, lauk-pauk, jenang, rokok, kopi, air putih, ublik, marang  dan lain sebagainya.

Nasi putih yang digunakan untuk sandingan ini diletakkan di dalam suatu wadah yang disebut dengan marang.  Marang  adalah wadah nasi yang umumnya dipakai untuk kenduri dan terbuat dari dari plastik. Jumlah marang  yang diisi nasi putih ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang telah meninggal di rumah tersebut. Kebetulan di rumah Romelah tersebut jumlahnya ada tujuh. Jadi, jumlah marang  yang digunakan juga ada tujuh. Sementara untuk bentuknya, nasi putih yang ada di dalam marang  tersebut dibentuk menggunung atau bagian tenganya sedikit lancip dan diberi entong  (alat mengambil nasi) di sampingnya. Sedangkan jumlah tujuh ini juga menjadi barometer jumlah  uborampe yang lain. Kesan yang ditimbulkan dari persediaan nasi putih beserta enthong di marang ini adalah mirip dengan fungsi orang yang akan makan, yaitu tersedia makanan pokok sekaligus peralatan yang digunakan untuk mengambil nasi tersebut.

Adanya nasi putih kurang lengkap tanpa ada lauk-pauk yang menemani. Lauk-pauk yang ada di dalam acara ini adalah srondeng (parutan kelapa yang sangrai dengan diberi campuran gula), sambal goreng (biasanya terbuat dari kentang goreng yang dibumbui dengan rasa pedas), daging ayam atau daging sapi yang sudah diiris berdasarkan ukuran yang telah ditentukan. Semua lauk-pauk tersebut diletakkan di dalam piring yang disandingkan dengan nasi putih tersebut. Disamping lauk-pauk tersebut masih masih ada jenang, yaitu nasi putih yang diletakkan di dalam lepek (piring mini) sedangkan bagian tengahnya diberi nasi merah (campuran antara nasi dengan gula merah) sedikit. Kesan warna yang ditimbulkan oleh jenang ini adalah warna putih dengan sedikit merah atau coklat tua pada bagian tengahnya.

Selain lauk-pauk di atas, masih ada lagi tambahan yang lain, yaitu ungkusan jeroan yang jumlahnya ada dua.  Ungkusan  adalah bahan-bahan makanan yang di bungkus dengan daun pisang dan dikunci dengan lidi. Bentuk  ungkusan  ini pipih pada bagian atas dan sedikit melebar pada bagian bawahnya agar bisa ‘duduk’ dan tidak tumpah saat disajikan. Bahan-bahan yang dijadikan isi dari  ungkusan  biasanya adalah daging dan sayur-sayuran. Namun dalam konteks ini yang digunakan adalah jeroan ayam. Orang umum mungkin lebih familiar menyebutnya dengan istilah bothok.  Ungkusan  tersebut di taruh salam satu wadah lepek  dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Uborampe  selanjutnya adalah rokok. Definisi rokok yang digunakan dalam Sandingan adalah rokok tradisional, yaitu rokok yang masih belum dibungkus. Artinya rokok tersebut masih terpisah antara bahan satu dengan bahan yang lain. Bahan rokok yang terpisah tersebut adalah mbako  (tembakao), cengkeh, dan sek.  Sek  adalah lembaran kertas putih tipis yang berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih selebar kartu ATM. Kertas ini digunakan untuk nglinting  (menggulung) tembakau dan cengkah sebagai bahan utama rokok racikan tersebut. Uborampe  ini merupakan ilustrasi sebuah tradisi kaum laki-laki Jawa kuno yang merokok dengan cara tradisinonal tersebut. Semua bahan-bahan rokok tersebut dijadikan dalam satu wadah yang dapat menampung bahan tersebut, yaitu piring. Kesan yang ditimbulkan dalam uborampe  ini adalah sebagai ilustrasi orang yang ingin bersantai dan bersenda gurau dengan keluarga yang lain sambil ditemani rokok kesayangan almarhum, linting.

Uborampe  selanjutnya yang wajib ada adalah kopi dan air putih. Kopi yang disediakan untuk sandingan di dalam hal ini adalah kopi tradisional yang belum dicampur susu. Biasanya yang digunakan adalah kopi hitam dengan campuran gula, tanpa susu atau campuran yang lainnya. Jumlah kopi tersebut disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki yang telah meninggal. Di dalam keluagra Romlah desa Maesan ini jumlahnya leluhurnya ada tujuh dengan rincian lima laki-laki dan dua perempuan. Untuk kopi disediakan sebanyak lima gelas yang disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki. Sementara untuk leluhur perempuan disediakan air putih, yaitu dua gelas berdasarkan jumlah leluhur tersebut. Ilustrasi sederhana dari uborampe ini adalah sebagai menu wajib hidangan yaitu tersedianya air minum yang digunakan sebelum atau sesudah makan. 

Selain uborampe  di atas, masih ada lagi yang wajib ada dalam sandingan dan kenduri yang lain dalam peringatan slametan  untuk mengenang dan mendoakan leluhur. Uborampe  wajib tersebut adalah apem. Kata apem  konon diambil dari bahawa Arab ‘afwun  yang memiliki arti ‘ampunan’. Nilai filosofis nama apem  tersebut dapat bermakna harapan dan doa yang dipanjatkan oleh keluarga agar para leluhur mendapatkan ampunan dari Yang Maha Kuasa. Jumlah  apem  di dalam hal ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang ada, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga ini jumlah apem  yang disediakan ada tujuh dengan ditaruh pada satu piring dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Salah satu tradisi Jawa kuno yang sekarang sudah jarang dilakukan atau bahkan punah adalah  nginang. Nginang  adalah proses perawatan gigi dengan bahan-bahan tradisional seperti  enjet (gamping/kapur basah), daun sirih, gambir, tembakau dan buah pinang. Bahan-bahan tersebut jika akan dibuat nginang  ditaruh di dalam satu wadah yang berbentuk mirip dengan lesung (tumbukan padi tradisional) yang berukuran mini. Alat ini digunakan untuk numbuk  (menghancurkan) bahan-bahan hingga halus, lalu dicampur dengan tembakau sehingga tembakau tersebut basah dan berwarna kemerah-merahan. Tembakau yang sudah bercampur aneka rempah tersebut dimasukkan ke dalam sela-sela gigi sehingga warna gigi bisa berubah menjadi kemerah-merahan. Dalam sandingan ini sebagian bahan-bahan nginang  tersebut juga disajikan, seperti  enjet, gambir dan suruh (daun sirih).

Uborampe  tambahan yang lain dalam acara ini adalah ublik.  Ublik  adalah lampu tradisional Jawa yang terbuat dari kaleng bekas atau botol kaca bekas yang diberi sumbu dan di dalamnya ada bahan bakar minyak tanah. Ublik  tersebut ditaruh di  senthong tengah  (kamar tengah) dan dinyalakan sebelum acara kenduri. Jika kenduri dilakukan jam 17.00, maka  ublik  tersebut sudah dinyalakan jam 16.30 atau bahkan sebelumnya dan dimatikan pada pagi hari keesokan harinya. Fungsi ublik adalah untuk menerangi kamar tengah yang digunakan untuk menaruh aneka bahan makanan tersebut. Kamar tengah dalam pandangan orang Jawa menempati posisi yang istimewa. Jika ada tamu orang terhormat dalam suatu acara, biasanya duduknya disediakan di depan kamar tengah. Begitu juga dengan upacara sandingan ini, seluruh menu tersebut diletakkan di kamar tengah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Seluruh uborampe  tersebut menggambarkan sisi spiritual Jawa yang meyakini bahwa pada malam Jumat atau pada hari-hari tertentu para leluhur akan pulang untuk menjenguk keluarganya yang masih hidup. Oleh sebab itu, sebisa mungkin keluarga yang masih hidup juga harus menyediakan aneka makanan dan minuman sesuai dengan kesukaan leluhur sewaktu masih hidup di dunia. Mereka seoalah-olah seperti reuni dengan aneka macam makanan favorit. Lampu tidak diperkenankan menggunakan listrik, tetapi ublik  adalah untuk mengenang masa lalu orang yang sudah meninggal. Bahan-bahan nginang  yang telah ditinggalkan juga dihadirkan kembali sebagai bentuk penghormatan. Aneka makanan favorit, rokok tradisional dan minuman kesukaan dihadirkan dalam rangka penghormatan kepada leluhur agar damai dan bahagia di alam sana.[MFR]