Antara Cinta dan Kasta

Rikala hati tumben ngerasayang cinta//lege liang di hatine//sebet manis pait kerasayang rasa tulus tersnane pertama//Ngancan leket sayange ane rasayang//cara anak mekurenan ulian rage mebeda kasta//ajin adi takut nyingakin adi mecebur//beli sing menyet//kal pegatin tresnane//ngetelang yeh mata//ulian iraga nu pada tresna

——- Penggalan lagu “Mecebur” (Ari Kencana)

Penggalan kutipan di atas adalah sebuah lirik lagu berbahasa Bali dengan judul Mecebur yang dinyanyikan oleh Ari Kencana. Lagu ini mengisahkan sepasang kekasih, pastinya pemuda dan pemudi Bali, yang harus terpisah karena perbedaan kasta. Namun, hari ini saya tidak sedang membahas lagu berbahasa Bali, tetapi saya ingin menceritakan bagaimana sistem kasta di Bali. Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, bahkan bagi orang Bali sendiri, begitu mendengar kasta akan terbayang adanya perbedaan kelas sosial.

Banyak teman-teman dari luar Bali membuat anekdot bahwa cinta beda kasta lebih susah daripada cinta beda agama. Hal ini mungkin terjadi karena minimnya pengetahuan tentang sistem kasta di Bali.

Pada awalnya, masyarakat Hindu Bali hanya mengenal warna sesuai dengan ajaran Weda. Warna adalah sistem pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi yang ditekuni, bakat dan keahlian yang dikuasai. Kelompok brahmana merupakan kelompok masyarakat yang memiliki profesi yang bergerak di bidang religi. Kelompok ksatrya adalah kelompok masyarakat yang mempunyai posisi penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali. Mereka berprofesi sebagai abdi negara/kerajaan pada zaman dahulu. Kelompok ketiga adalah weysa. Kelompok ini biasanya adalah kelompok penggerak perekonomian, seperti pedagang maupun pengusaha. Kelompok yang keempat adalah sudra, kelompok ini menjadi kelompok mayoritas karena mereka adalah kelompok yang mengandalkan kekuatan fisik, seperti petani, dan lainnya.

Catur warna yang bagus ini, lambat laun mulai digeser penerapannya menjadi kasta yang substansinya sangat jauh berbeda dengan ajaran Weda. Jika warna dalam ajaran Weda adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi dan keahlian, kasta adalah pengelompokkan masyarakat berdasarkan garis keturunan. Artinya, mau berprofesi sebagai apa pun tak akan memengaruhi kastanya. Pergeseran ini menurut berbagai sumber dimulai saat datangnya penjajah ke Bali. Tentu tujuan pergeseran makna dari catur warna untuk memecah belah masyarakat Bali. Sayangnya, setelah kemerdekaan pun, pergeseran sistem warna menjadi kasta seolah dilanggengkan.

Baca juga:   Ketika Anak Banyak Bertanya

Menikah pada esensinya adalah pemertahanan eksistensi. Dengan menikah, masyarakat dapat melanggengkan keturunan atau trah dalam sebuah keluarga. Begitu juga dengan pernikahan umumnya masyarakat Bali. Keinginan untuk menjaga eksistensi kasta masih cukup besar. Orang tua biasanya berharap kelak anaknya mendapat jodoh dari kasta yang sama. Namun, seiring berkembangnya Bali, semakin luasnya pergaulan antarmasyarakat, lambat laun kepatuhan untuk menikah dengan pasangan dari kasta yang sama semakin terkikis. Banyak pemuda maupun pemudi Bali tidak terlalu gusar dengan perbedaan kasta. Namun, tak sedikit juga yang masih memertahankan kepatutan itu. Apa lagi di tengah arus sosial media yang semakin pesat, kasta bukanlah sesuatu yang diperdebatkan, tetapi bagi pemuda-pemudi bali dijadikan sebagai ajang pemerkuat adat yang kental dan budaya Bali.

Kembali ke topik percintaan, benarkah terlarang hukumnya jika menikah beda kasta? Apakah lebih sulit pacaran beda kasta daripada beda agama? Jawabannya Tidak. Tidak dalam artian bahwa tidak semua masyarakat sangat fanatik dengan perbedaan kasta. Masih banyak masayarakat Bali yang tidak mempermasalahkan perbedaan kasta itu. Bagi beberapa orang yang fanatik terhadap kasta, cinta antara dua insan akan terasa seperti berada di antara dua jurang. Sangat dalam dan sulit untuk diseberangi.

Masyarakat Bali sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang menganut sistem patriarki. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Jadi untuk lelaki yang memiliki kasta tinggi tidak akan terlalu bingung mencari  pacar atau istri.

Namun, akan terjadi sedikit perbedaan jika seorang perempuan dari kasta brahmana atau kasta tinggi lainnya. Keluarga biasanya akan berharap jika sang anak mendapatkan jodoh yang sama kastanya. Ini sangat penting agar sang anak tidak melakukan proses pernikahan nyerod ‘meluncur’. Nyerod dalam istilah masyarakat Bali artinya kondisi perempuan turun kasta dan menjadi sederajat dengan suaminya. Jadi jika awalnya memiliki kasta tinggi, maka sang istri harus mengikuti kasta suaminya.

Baca juga:   Pernikahan Beracun "Toxic Marriage"

Jadi tak ada yang seram. Semuanya wajar. Walau masih ada beberapa kelompok yang sangat memegang teguh sistem itu, tetapi tidak banyak yang sapai mengorbankan cinta anak-anak mereka. Apa lagi di tengah modernisasi dan perkembangan zaman. Masyarakat Bali sangat memegang teguh ajaran karma. Bahwa setiap anak memiliki karma masing-masing yang harus dijalani di dunia. Kalau cinta dan sudah jodoh, segala perbedaan pasti akan bisa dilewati. Jangankan hanya perbedaan kasta, perbedaan agama, suku, atau pun ras pasti akan terlewati. Saya melihat sendiri banyak teman yang menikah beda kasta dan mereka bahagia saja. Walau mungkin pada awalnya sedikit ada pertentangan, tetapi berkat kekuatan cinta, halangan itu bisa dihadapi.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *