Ambang

Ambang. Foto ketika saudara hanya bisa sampai pagar untuk silaturahmi saat lebaran

Dalam kesunyian kita bisa lebih memaknai kedirian dan kesendirian kita dengan keunikan masing-masing –yang untuk merasakan tercukupi tidak perlu membuat komparasi. Dalam kesendirian pula kita bisa mendekati yang transenden itu dengan rasa yang penuh misteri, kegentaran, sekaligus kekaguman, misterium tremendum fasinatum.

——-Yudhy Widdyantoro

Ambang adalah kunci; gerendel yang dapat membuka atau merapatkan pintu, pagar, portal kompleks perumahan, atau batas kota. Ambang adalah batas tipis antara keinginan melangkah keluar atau kembali ke ruang dalam. Walaupun batasnya tipis, di masa pandemi, jika langkah berlanjut maka akan datang efek kejut: bisa kena virus, dituduh pembawa, bahkan kepala bisa benjut. Ketika di luar masih lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, saatnya kembali ke dalam: kedirian.

Ambang adalah transisi. Di antara dua keinginan ada jeda sejenak sebelum keputusan ditentukan –memilih berlanjut, berdiam, atau berjalan mundur. Hanya dalam hitungan detik, sangat sering kita tidak ingin mengingatnya, namun sesungguhnya ia nyata ada antara terjaga dan tertidur. Di dalam posisi tidur, relaksasi total, di akhir sesi latihan yoga, kita sering diingatkan untuk mendapatkan momen ini; masa ketika energi yang telah terpakai selama latihan dikumpulkan kembali. Kehadiran kembali energi dan kesadaran diyakini akan memulihkan tenaga dan penyembuhan. Ambang ada di savasana, tidurnya orang yoga.

Ambang juga seperti pratyahara dalam filsafat yoga. Batas antara ruang dalam diri dan dunia luar. Momen ketika obyek di luar diri ditarik dan dibawa ke dalam ruang batin. Momen awal berhubungan dengan ‘yang mistik’. Saat organ persepsi –mata, telinga, kulit, hidung, dan organ pencecap—ialah pintu masuk obyek di luar untuk pertama kali berhubungan dengan diri sebelum dikelola oleh pikiran dan menimbulkan rasa. Titik permulaan mengarungi samudra esoteris adalah spiritualitas yoga. Ambang juga menjadi salah satu cara mengasah kepekaan spiritual dan menghaluskan rasa menuju pada sesuatu yang transenden, yang lebih besar dari kita, pada Yang Maha. Ia adalah ajakan untuk mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi.

Mungkin ini jalan sunyi. Dalam kesunyian kita bisa lebih memaknai kedirian dan kesendirian kita dengan keunikan masing-masing –yang untuk merasakan tercukupi tidak perlu membuat komparasi. Dalam kesendirian pula kita bisa mendekati yang transenden itu dengan rasa yang penuh misteri, kegentaran, sekaligus kekaguman, misterium tremendum fasinatum. Suatu rasa yang di situ diri tunduk mengakui ada yang tidak dikenali, the unknown, melenyapkan keinginan untuk merasa bisa dan tahu segalanya. Suatu jalan menuju Sanata Dharma, scientia sacra, pengetahuan yang sakral, kebenaran abadi, yang makrifat atau Isvara Pranidhana dalam istilah yoga.

Tiga bulan karantina diri menimbulkan aneka perasaan di batin: sedih, kecewa, senang, bosan silih berganti. Waktu membuat sesuatu yang baru. Setiap usaha untuk menghentikannya akan sia-sia, karena realitasnya setiap yang berkondisi selalu bergerak, berubah, panta rei kata Herakleitos. Di samping menuntun memasuki ruang batin di dalam diri, pratyahara menjadi teman dalam memaknai arti, atau hakikat hidup beryoga.

Jalan menuju ke dalam diri adalah jalan hati yang berarti jalan cinta. Jalan pratyahara adalah jalan cinta, jalan welas asih yang menautkan setiap sila dalam Pancasila Yoga: Ahimsa (kasih sayang), Satya (kejujuran), Asteya (integritas), Brahmacharya (konservasi energi diri), dan Aparigraha (kesederhanaan). Pratyahara sebagai jalan cinta juga menautkan unsur-unsur dalam Ashtanga System, delapan tangga yoga.

Saat pandemi, sebelum vaksin ditemukan, marilah kita mengeksporasi dengan mengamati sisi intangible, yang tak tampak selain tubuh, namun bisa kita rasakan: nafas, pikiran dan perasaan karena setiap keputusan yang kita buat, tentunya melibatkan semua unsur itu. Amati semua saat demi saat secara pasif, baik rasa bosan dan kemarahan, atau rasa menyenangkan. Karena semua rasa itu ada di diri kita, dari pikiran kita sendiri. Rasa tidak pernah bohong. Amati obyek sebagaimana apa adanya, seperti dikatakan Patanjali dalam Yogasutra I.2: “tada drastuh svarupe avastanam”, “si pengamat melihat obyek sebagaimana apa adanya”. Sva=sendiri, apa adanya; rupa=bentuk, obyek. New Normal, ‘Kenormalan Baru’, bagi praktisi yoga adalah menjalani hidup, setiap saat, detik demi detik dengan penuh kesadaran.

Maka yoga juga mengenal ‘Pancasila Yoga’ yang berisi butir-butir: (1). Ahimsa: tidak membunuh; tidak menyakiti; tidak dengki; tidak menyebar fitnah atau hoax; tidak ghibah. Jangan sampai diperiksa Komnas HAM;  jangan sampai masuk penjara kena pasal kriminal-pembunuhan dengan pemberatan. Sebaliknya mengembangkan compassion, kasih dan sayang; (2). Satya: tidak berbohong; tidak lebay; tidak mark-up CV; jangan sampai hidungnya memanjang seperti Pinokio dan diperiksa pakai lie detektor. Berkata jujur apa adanya. (3). Asteya: tidak mencuri, tidak menginginkan yang bukan haknya. Jangan sampai jadi buron KPK. Berintegritas; (4). Brahmacharya: tidak madon; tidak berzina – (kecuali suka-sama-suka ?);  tidak mengumbar nafsu syahwat; tidak over training; berlebihan olah fisik. Konservasi energi; dan (5). Aparigraha: tidak menumpuk di luar hak atau jatahnya; tidak meginginkan yang dimiliki orang lain; kesederhanaan.[MFR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *