Pak Shobir dalam Ingatan Saya

Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat.

—– Mubaidi Sulaiman

Pada 15 Februari 2021, tepat pukul 06.04 ada sebuah pesan masuk di WAG Alumni Perbandingan Agama (sekarang SAA–red.) STAIN Kediri angkatan saya. Pagi itu lebih cerah dibanding beberapa pagi sebelumnya. Tiba-tiba hari berubah kelabu gegara pesan tersebut. Seorang teman alumni memberikan kabar duka bahwa sekitar pukul 04.30 WIB, Bapak Drs. KH. Muhammad Shobiri Muslim, M.Ag telah meninggal dunia.

Pertemuan awal saya dengan beliau terjadi sewaktu saya menempuh S-1 di Prodi Perbandingan Agama pada 2009-2013. Beliau selalu tampil rapi, lengkap dengan setelan jas berangkat ke kampus untuk mengampu sejumlah mata kuliah, seperti Kristologi, Orientalisme, Oksidentalisme, dan Perkembangan Teologi Kristen Modern.

Ada kejadian lucu saat itu.  Di STAIN Kediri, khususnya di Prodi Perbandingan Agama, terdapat mata kuliah tentang agama lain dan biasanya diberikan oleh kalangan penganut agama tersebut. Ada Pak Totok, seorang Penyuluh Agama Buddha, yang mengajar mata kuliah Buddhisme, dan juga Pak Yuliana, seorang Pananditha, mengajar Hinduisme. Kami sempat mengira Pak Shobir seorang pastor yang hendak mengajar kami. Alasannya, beliau berpakaian rapi layaknya seorang pastur dan gaya bicara beliau bak seorang pastur yang berkhotbah. Apalagi, beliau sangat fasih dan hafal melantunkan ayat-ayat yang terdapat dalam injil beserta hapal nomor surat dan urutan ayat-ayatnya. Kami pun kaget dan tertawa saat beliau bernama Muhammad Shobiri Muslim dan mengaku berdakwah di beberapa masjid milik Pemerintah Kota Kediri.

Saya memang cukup dekat dengan beliau meski tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi beliau. Sampai saat ini saja, saya tidak tahu nama istri dan anak-anak beliau, meskipun hampir setiap bulan saya sempatkan untuk menemui beliau untuk “mencuri” ilmu yang tak sempat beliau sampaikan di kelas. Kebetulan juga rumah beliau yang berada di Dusun Grogol Kelurahan Singonegaran berada satu arah dengan perjalanan saya dari kampus menuju ke Pondok Salafiyah Bandar Kidul tempat saya bermukim bersama dengan teman-teman mahasiswa PA penerima beasiswa Kemenag waktu itu.

Mungkin beliau bukan satu-satunya dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Tetapi pintu rumah beliau selalu terbuka bagi mahasiswa yang ingin berkunjung dan berdiskusi. Hal ini mungkin sangat jarang kita temui pada dosen-dosen muda saat ini, termasuk saya. Di sela-sela kesibukan beliau berdakwah dan mengajar di beberapa kampus, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membuka ruang diskusi di rumah beliau dengan kami para mahasiswanya.

Saya memang bukan satu-satunya mahasiswa yang dekat dengan beliau, bahkan bisa dikatakan ada yang lebih dekat secara personal dengan beliau. Akan tetapi, saya bangga pernah menjadi mahasiswa beliau dan memiliki keterikatan secara emosional dengan beliau. Beliau juga yang mendorong saya dan beberapa orang teman untuk melajutkan studi S-2.

Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang selalu rapi dengan setelan jas saat mengajar, penyabar dan bersahaja, dan pergi meninggalkan kenangan yang mungkin sulit untuk dilupakan sebagai gambaran ideal seorang dosen sekaligus ulama. Beliau begitu dekat dengan para mahasiswanya; tak jarang beliau mengundang mahasiswa untuk berdiskusi di rumahnya. Koleksi buku di rumah beliau membuat saya iri, dan suasananya pun bahkan jauh lebih nyaman dibandingkan di perpustakaan kampus pada waktu itu.

Di dinding rumah beliau tersusun rapi berbagai macam buku yang saya tak tahu pasti berapa jumlahnya karena saking banyaknya. Satu ruangan tak cukup menampung koleksi buku yang beliau punya. Saya ingat ada dua ruang seukuran ruang tamu (bentuknya seperti rumah joglo kuno), berdinding penuh rak dan lemari buku. Satu ruang paling belakang biasanya dibuat untuk ruang pribadi beliau dan keluarga untuk bersantai dan membaca buku. Satu ruang lagi diperuntukkan untuk tempat diskusi dengan kami para mahasiswanya. Ruang diskusi itu pun dikelilingi buku-buku yang jumlahnya mengagumkan. Beliau yang saya kenal memang “gila buku”. Jika ada buku terbaru terkait ilmu perbandingan agama ataupun Kristologi, beliau selalu memberi tahu kami. Bahkan, beliau di kelas maupun di rumah sering menyarankan kami untuk membaca-baca buku ini dan itu.

Istri beliau pun juga gila buku. Sering kali saat datang ke rumah beliau, saya selalu disambut oleh istri beliau dengan menenteng sebuah buku di tangan. Tak jarang ketika saya bertamu ke rumah beliau, saya harus menunggu beliau beberapa saat di ruang diskusi yang penuh dengan buku karena jadwal beliau yang sangat padat dalam satu minggu. Beliau tidak hanya mengajar di STAIN Kediri saja waktu itu, tapi juga di beberapa kampus di luar kota. Belum lagi, beliau menjadi ketua FKUB Kabupaten Kediri dan Ketua MUI pada waktu itu. Pun demikian, beliau selalu menyediakan waktu untuk bertemu pada hari Sabtu sore sekitar pukul 15.00 sampai pukul 17.00.

Beliau dikenal sebagai sosok dosen senior yang teguh dengan prinsip. Pemikiran beliau khas kebanyakan alumni Pondok Modern Gontor yang dikenal getol membela pemikiran Islam vis-a-vis Barat yang begitu melekat dalam orientalisme periode awal. Ketika berdiskusi dengan beliau terkait orientalisme maupun tentang Kristologi, kita seolah juga sedang bertukar pikiran dengan KH. Zamarkasy Dhofier, Ahmad Deedat, Zakir Naik dan Adian Husaini. Beliau menawarkan lawan tanding bagi wacana liberalisme Islam yang tengah menggeliat di lingkungan kampus kala itu.

Pada waktu itu, saya memang lebih suka membaca buku-buku “kiri” dan karya-karya orientalis yang dengan mudah bisa saya dapatkan di perpustakaan kampus maupun saya beli sendiri. Saat itu bisa dikatakan saya dan beberapa teman tergila-gila atau gandrung dengan buku-buku karya pemikir Barat terkemuka, seperti Karl Marx, Theodor Adorno, Nietzche, Ludwigh Feuerbach, Jurgen Habermas, Montgomerry Watt, H.A.R Gibbs, Snouck Horgronje, Marshal Hudson, Mark Jurgen Mayer,  Charles Kuzman dan lain sebagainya. Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat yang saya tekuni.

Menjelang lulus S-1 di STAIN Kediri, intensitas saya untuk bertemu beliau menjadi sangat berkurang. Saya seperti hilang kontak dengan beliau karena sempat beberapa kali nomor HP beliau berganti. Kesibukan menulis skripsi dan menyiapkan studi S-2 pada waktu itu membuat saya jarang bertemu dengan beliau. Kalaupun bertemu, itu hanya terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri dan untuk tujuan silaturahim. Tentu saja, situasi dan perbincangan sangat berbeda.  

Karena kesibukan kerja dan penyelesaian S-2 di Surabaya, saya sudah hampir tidak pernah lagi mengunjungi beliau di rumah. Saat ingin sowan ke rumah beliau tahun lalu, pandemi datang dan saya pun mengurungkan niat saya.  Beberapa waktu lalu, saya masih sempat menanyakan kabar beliau meskipun lewat teman-teman yang masih sempat bertemu dengan beliau. Terakhir menjenguk beliau adalah saat beliau pulang dari opname di rumah sakit.

Saya sempat juga saya mencuri-curi dengar tentang kondisi beliau dari para jamahnya yang aktif mengikuti kajian rutin beliau di beberapa masjid. Sebuah penyesalan bagi saya belum sempat bertemu beliau untuk sekadar berterima kasih dan menyambung silaturahim sebelum akhirnya beliau kembali ke Sang Khalik. Saya dan teman-teman kini hanya bisa mendoakan beliau serta mengamalkan ilmu yang beliau ajarkan.

Terima kasih Bapak Shobir. Bapak adalah teladan bagi kami; “orang tua” yang akan selalu kami rindukan. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali. Aamiin.[MFR]

Pesantren Tanpa Nama

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

—–Mukhammad Zamzami

Desa Gedangsewu Pare barangkali kurang begitu popoler di mata para santri yang ingin menimba ilmu di pesantren. Di kalangan awam, wilayah ini memang cukup familiar sebagai desa yang di salah satu sudutnya pernah ada lokalisasi. Padahal tak jauh dari eks-lokalisasi tersebut ada pondok pesantren yang eksis hingga hari ini dan diasuh oleh sosok kiai karismatis bernama Kiai Baidlowi.

Pondok Pesantren tersebut berada di jalan Teuku Umar, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Tidak cukup jelas kapan berdiri secara formal dan bahkan dilegalnotariskan, karena sesungguhnya Kiai Dlowi—sapaan akrab Kiai Baidlowi—sudah menerima santri sudah puluhan tahun yang lalu. Bagi beliau, tidak perlu nama untuk sebuah lembaga. Jika ada yang berminat belajar, ya tinggal datang ke pesantren ini.

Setidaknya dalam catatan saya—yang pernah nyantri dan ngaji kilatan di sana sekira tahun 2010—ada tiga nama untuk menyebut pesantren ini, antara lain: pertama, al-Asasyah. Nama ini dulunya hanya digunakan untuk pengurusan wesel dan barangkali untuk memudahkan santri mendapatkan kiriman uang dari orang tua pada alamat tertentu; kedua, al-Ishlah. Nama ini sesungguhnya diberikan oleh Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid saat beliau menjabat presiden pada tahun 2000-an dan mengunjungi pesantren tersebut dua kali; dan ketiga, Alabama. Nama ini adalah akronim dari Alfiyah, Balaghah, dan Mantiq. Karena memang pesantren ini concern pada kajian tiga “ilmu alat” ini untuk memahami kesusastraan Arab. Untuk nama terakhir—sepanjang amatan penulis—dipopulerkan salah satu putra Kiai Dlowi, Agus Yazid. Akan tetapi dari ketiga nama itu tidak ada nama yang secara resmi dipakai dan diformalkan oleh Kiai Dlowi.

Figur Kiai Dlowi sangat khas dan unik. Beliau anti-mainstream dan anti-formalitas, hingga membuat pesantren tersebut tak bernama hingga kini. Barangkali beliau berpandangan “Apalah arti sebuah nama. Yang penting lembaga ini bisa memberi manfaat kepada santri yang ingin menuntut ilmu agama”.

Tempat ngaji di pesantren ini berbentuk rumah panggung yang bertembokkan udara segar—alias langsung berbaur dengan alam yang hijau di sekitar pondok. Suara deras sungai yang berada tepat di utara pondok kerapkali terdengar di sela-sela Kiai Dlowi memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Pesantren ini terbilang unik. Santrinya berkisar puluhan, yang kadang datang dan pergi setelah beberapa selesai putaran ngaji kilatan, walaupun tidak jarang ada beberapa santri yang sampai bertahun-tahun nyantri di sana. Tawaran ngajinya sangat cepat. Untuk belajar ketiga komponen penting memahami bahasa dan sastra Arab, baik Alfiyah Ibnu Mālik, Balaghah (Jawhar al-Maknūn), dan Mantiq hanya dibutuhkan waktu sekira 40 hari/satu putaran. Padahal di pesantren lain, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menekuni ketiga bidang tersebut. Ngaji di pesantren tersebut hanya difokuskan pada ketiga bidang tersebut, tidak ada materi lain. Para santri yang masih belum cukup mengikuti ngaji satu putaran akan mengulang hingga dua, tiga, atau banyak putaran untuk sekadar memaksimalkan pendalaman ketiga disiplin ilmu tersebut.

Pesantren ini memang masuk kategori pondok kilatan, sebab dalam sehari sang kiai bisa memberi materi (ngaji) hingga empat kali. Di pondok lain penyampaian materi untuk satu disiplin ilmu kadang hanya satu kali dalam sehari. Karena itu, dalam 40 hari materi ketiga disiplin ilmu bisa tuntas dipelajari. “Kalau sudah khatam, kita ulang lagi materi ketiganya itu. Dan terus berulang lagi”, ujar beliau. Tidak ada patokan waktu bagi para santri bisa lulus. Yang merasa belum maksimal penguasaan terhadap ilmu yang ditawarkan, santri biasanya akan terus mengulang lagi. Jika sudah merasa mantap dan bisa memahami, mereka akan pamit boyong.

Santri di sana rata-rata memang sudah cukup senior walaupun beberapa di antaranya juga ada yang tamatan Sekolah Dasar. Tidak ada ketentuan di pesantren tersebut bahwa santri yang mengaji harus mukim di sana, karena beberapa santri yang ikut mengaji, ada yang nyantri di pesantren lain atau mereka yang nyambi kursus bahasa Inggris di Tulungrejo Pare. Jarak Tulungrejo Pare dengan Gedangsewu Pare memang tidak jauh sekira 6 sampai 7 kilometer.

Kesederhanaan memang tampak pada figur Kiai Dlowi dan model pesantrennya. Kalau diamati sekilas, tidak ada fasilitas kamar mandi berdinding tembok yang dimanfaatkan oleh santri. Kiai Dlowi dan santri justru lebih sering menggunakan sungai dan kolam untuk aktivitas pemenuhan hajat di belakang. Walaupun di pesantren ada kamar mandi bertembok yang dibangun oleh salah satu wali santri tanpa sepengetahuan Kiai Dlowi saat beliau menunaikan ibadah haji, tetapi beliau–bersama santrinya–lebih memilih menyatu dengan alam bebas di sungai untuk memenuhi kebutuhan hajat, baik mandi ataupun yang lainnya. Sungguh, sebuah pemandangan unik yang “memutus” sekat relasi formal kiai-santri.

Di mata para santri, beliau dikenal sangat dekat dengan seluruh santrinya. Makan bersama dengan santri dalam satu nampan pun sering dilakukan. Beliau yang gemar memancing ini kalau mendapatkan ikan, hasil pancingannya pasti akan dimakan rame-rame. Makan di nampan besar bersama sangat sering terlihat oleh kami yang nyantri pada saat itu. Relasi hierarkis kiai-santri seolah-olah tidak ada sama sekali.

Tak jarang Kiai Dlowi dicurhati terkait segala ihwal problematika yang dihadapi santrinya. Apa yang dipikirkan santri bisa langsung dicurahkan kepada kiai, kapanpun. Kiai pun selalu antusias dan sering memberi pandangan-pandangan bijak pada santrinya. Seringkali ijazah doa diberikannya jika ada problem pelik yang dihadapi mereka. Pun dalam proses pembelajaran, jika ada isykāl pada satu pembahasan tertentu, pasti akan dibahas tuntas oleh beliau, baik pada saat momen pembelajaran atau di luar jam ngaji.

Jangan membayangkan bahwa ada aturan ketat yang mengikat santri yang mukim di pesantren tersebut, karena pesantren ini dibangun atas kesadaran dan kedewasaan santrinya. Saat mengaji, ya mengaji. Saat santai, ya santai. Santri akan malu jika tidak kelihatan mengaji atau memilih tidur, karena jumlah santri yang hanya puluhan saja. Kiai cukup mudah memantau apapun yang dilakukan para santrinya.

Salah satu yang khas di pesantren ini adalah kentongan. Setiap ada hal, mulai dari pengumuman hingga waktunya makan bersama maupun mengaji, kentongan selalu ditabuh. Tujuannya untuk memanggil para santri yang berada di rumah-rumah panggung/angkringan untuk turun atau berkumpul di aula panggung. Pun kalau ada santri atau tamu yang membawa makanan—atau haytsu dalam istilah santri Kedirian–kentongan pun langsung ditabuh. Maknanya, saatnya menikmati makanan bersama-sama.

Al-Fātihah untuk Kiai Baidlowi, semoga beliau selalu dianugerahi kesehatan agar dapat selalu membimbing para santrinya.

Catatan: esai ini terbit pertama kali di https://arrahim.id/mz/ulama-nusantara-kh-baidlowi-dari-gedangsewu-mendirikan-pesantren-tanpa-nama-dan-menghapus-sekat-relasi-kiai-santri/.

Pahlawan Berhijab

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

—- Hajime Yudistira

Beberapa waktu yang lalu dunia maya sempat diributkan tentang berhijab atau tidak Cut Nyak Dien dan Cut Meutia? Satu pihak benar-benar ‘ngotot’ dan berusaha membuktikan bahwa kedua tokoh nasional tersebut berhijab, apalagi dikatakan bahwa kedua tokoh tersebut berasal dari tanah Aceh, yang diklaim sebagai serambi Makkah. Di pihak lain, penganut paham dejilbabisasi berusaha mematahkan pendapat bahwa kedua tokoh tersebut berhijab, dengan mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan hijab.

Pada saat uang baru nominal Rp1.000 emisi 2016 dengan gambar Cut Meutia tidak berhijab juga sempat menjadi topik perbincangan cukup serius saat itu. Apa masalahnya gambar Cut Meutia digambarkan tidak berhijab? Lagi pula, pihak Bank Indonesia (BI) pastinya sudah mendiskusikan dengan seksama sebelum memunculkan seorang tokoh nasional dalam desain uang yang akan diterbitkan. Mereka pasti juga sudah berdiskusi dengan pihak keluarga atau ahli waris tokoh yang akan dipergunakan dalam desain uang tersebut.

Sedemikian pentingkah untuk membuktikan apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak? Dalam konteks kedua tokoh tadi sebagai pemimpin perang yang sangat prominen, saya tidak melihat adanya korelasi antara berhijab dengan perjuangan yang dilakukan tokoh tersebut di masanya.

Saya rasa jauh lebih bermanfaat jika pembahasan tentang Cut Nyak Dien dan Cut Meutia lebih kepada bagaimana tokoh tersebut berjuang di masa kolonial mengalahkan banyak pertempuran sehingga sosok Dien ini ditakuti banyak perwira Belanda. Strategi apa yang digunakan, bagaimana caranya memimpin pasukan di tengah keterbatasan yang ada, bagaimana cara bernegosiasi dengan pihak lawan dan masih banyak aspek yang bisa dipelajari dari sekedar membuktikan apakah mereka memakai hijab atau tidak.

Sebenarnya tidak terlalu sulit juga untuk mengetahui apakah kedua tokoh tersebut berhijab atau tidak, walaupun sebenarnya tidak ada manfaatnya juga mengetahui mereka menggunakan atau tidak menggunakan hijab. Dalam konteks sejarah dan kerangka keilmuan, tentu semuanya harus didasarkan bukti otentik dan bukti yang sahih.

Harus diakui bahwa saat Belanda bercokol di Indonesia, mereka memiliki pencatatan sejarah lebih baik dibandingkan pencatatan sejarah Indonesia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang saat itu negara mereka jauh lebih maju. Banyak sekali fakta sejarah Indonesia didasarkan kepada pencatatan yang mereka buat saat mereka berada Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Kita bisa mengetahui bahwa banyak sekali perwira Belanda menaruh hormat kepada Cut Nyak Dien itu dari catatan yang mereka buat. Mereka mencatat banyak pertempuran yang dipimpin oleh Dien ini memperoleh kemenangan atas Belanda. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh Dien ini membuat seorang jurnalis Belanda, C. vander Pol menjuluki Dien sebagai “[…] merkwaardigstevrouwen in Nederland-Indie” yang artinya “perempuan yang mengajaibkan Hindia-Belanda”.

Jurnalis tersebut juga menuliskan tentang Dien yang ‘bertakhta’ di hutan sebagai “[…] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana –[sesuatu] yang tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini […]” setelah kematian suaminya, Teuku Umar (1899).

Catatan-catatan sejarah seperti itu kita dapatkan dari catatan sejarah yang dibuat Belanda dan saat ini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Foto-foto Cut Nyak Dien juga ada tersimpan di sana dan tidak mengenakan hijab
(https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/…/7835…). Bagi saya tidak penting juga mengetahui apakah Cut Nyak Dien berhijab atau tidak? Jauh lebih penting mengetahui atau mempelajari esensi dari nilai perjuangan beliau.

Demikian juga dengan Cut Meutia, tidak perlu dipermasalahkan beliau berhijab atau tidak, tetapi kalaupun benar-benar ingin mengetahui, silakan ditelusuri dari jejak sejarahnya dengan bukti-bukti otentik tentunya. Jangan hanya tebak-tebak buah manggis. Jangan pula memastikan bahwa karena beliau dari Aceh, lantas sudah pasti mengenakan hijab, apa lagi dikaitkan dengan Aceh yang dikenal sebagai serambi Makkah dengan perda syariahnya (ingat zaman kolonial belum ada perda syariah).

Salah satu artikel yang saya baca, ahli waris atau keturunan Cut Meutia sudah mengkonfirmasikan bahwa tokoh nasional Cut Meutia tidak mengenakan hijab. Seorang anak keturunan dari keluarga Cut Meutia, bernama Teuku Ramli menjelaskan bahwa perempuan Aceh dulu tidak ada yang menggunakan hijab. Mereka hanya menggunakan semacam selendang yang diletakkan di kepala (Tirto.id, Desember 2016).

Saya tidak pro atau kontra terhadap kelompok, baik yang ingin membuktikan tokoh tersebut berhijab atau tidak, maupun kelompok yang ingin membuktikan apakah mereka tidak berhijab. Bagi saya, hal itu tidak seharusnya diperdebatkan. Saya menghargai orang yang memilih menggunakan hijab, seperti saya juga menghargai orang yang memutuskan tidak menggunakan hijab.

Nilai diri seseorang orang memang tidak seharusnya dinilai dari pakaiannya, dari agamanya, dari rasnya, atau dari apa pun identitas yang ada pada orang tersebut. Nilai diri seseorang seharusnya dilihat dari isi kepalanya, dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar dan dari kemaslahatan yang diciptakan dengan adanya orang tersebut. Dalam Islam dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Tidak pernah ada literatur yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah yang berhijab atau yang tidak berhijab, atau apa agamanya, apa rasnya dan sebagainya. Tidak ada literatur seperti itu, jadi buat apa diperdebatkan. Pikirkan bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. [MFR]

Hijab bukan Milik Islam Saja

Umat Islam tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”

—Mubaidi Sulaeman

Pada 2018, saya menulis sebuah artikel di jurnal ilmiah Spiritualis berjudul “Menjernihkan Posisi Hijab Sebagai Kritik Terhadap Ekspresi Keagamaan Fundamentalisme Islam”. Pada waktu itu, artikel ini sempat saya ikut sertakan dalam lomba karya tulis ilmiah di Pascasarjana IAIN Kediri dan mendapat penghargaan harapan ketiga.

Ada yang menarik komentar para juri ketika saya mempresentasikan karya ilmiah saya ini. Rata-rata para juri kurang setuju dengan beberapa pendapat yang saya ajukan dalam artikel ini. Entah, para juri telah membacanya dengan cara seksama atau mungkin memiliki padangan tersendiri terkait kewajiban berhijab bagi setiap muslim, yang pasti argumen para juri telah mengarah kepada kesimpulan bahwa saya tidak setuju dengan “kewajiban berhijab pada setiap Muslimah”—meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya demikian.

Memang  saya kurang setuju pemaksaan budaya berjilbab di kelompok masyarakat tertentu di luar institusi Lembaga Pendidikan Islam atau organisasi Islam yang tujuan mewajibkan hijab sebagai sarana pembelajaran bukan persekusi hak seorang muslimah. Sebab, hijab merupakan hak bagi seorang muslimah, bukan kewajiban yang dipaksakan atau dilembagakan untuk menilai keislaman seseorang, dengan alasan jilbab sebagai upaya menutup aurat muslimah. Artinya, ketika seorang muslimah menginginkan untuk berhijab, orang lain atau lembaga tertentu juga tidak boleh melarangnya.

Peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di sebuah kota yang mewajibkan para siswinya, baik muslimah ataupun nonmuslimah, untuk mengenakan hijab merupakan sebuah persekusi hak seorang siswi. Hal tersebut tidak dapat lagi dikatakan sebagai sarana pembelajaran budi pekerti di sekolah. Pemerintah daerah yang mewajibkan hijab sebagai pakaian resmi di sekolah telah bertindak represif terhadap kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Hijab yang akhir-akhir ini merepresentasikan golongan umat Islam pada hakikatnya tidak dapat secara semena-mena dipaksakan untuk diterima seluruh siswa yang bersekolah di kota tersebut, apalagi kepada para siswi yang nonmuslimah, karena sejak awal kita telah sepakat bahwa agama dan budaya yang ada di Indonesia bukan hanya agama Islam dan budaya agama Islam semata.

Kalaupun hijab dianggap sebagai ajaran agama Islam, pemerintah daerah tersebut seharusnya sadar dan melakukan kajian secara menyeluruh benarkah ada korelasi berhijab dengan ajaran agama Islam secara historis maupun teologis, untuk klaim kepemilikan hijab sebagai ajaran agama Islam dan muslimah wajib berhijab? Padahal masih terdapat “pertentangan” di kalangan ulama terkait kewajiban berhijab. Agar Perda yang dibuat tidak terkesan emosional dan terlihat rasional, bukankah sudah selayaknya sebuah perda dibuat berlandasakan riset yang kuat, bukan semata-mata dibuat berdasarkan “suka dan tidak suka” dari Pemerintah daerah tersebut. Realita menunjukkan bahwa banyak sekali perda dibuat oleh pemerintah tanpa riset sehingga terkesan demikian.    

Dalam riset yang saya jadikan artikel di jurnal ilmiah di atas, secara historis saya menemukan bahwa hijab bukanlah monopoli milik umat Islam semata. Tetapi, ia merupakan produk budaya dan bagian dari ekspresi kebudayaan masyarakat pra-Islam.  Hijab merupakan bentuk peradaban yang sudah dikenal beratus-ratus tahun sebelum datangnya Islam; ia memiliki bentuk yang sangat beragam. Hijab bagi masyarakat Yunani memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Romawi. Demikian pula halnya dengan hijab pada masyarakat Arab pra-Islam (Muhammad Farid Wajdi, 1991: 335). Ketiga masyarakat tersebut pernah mengalami masa keemasan dalam peradaban jauh sebelum datangnya Islam. Hal ini sekaligus mamatahkan anggapan yang menyatakan bahwa hijab hanya dikenal dalam tradisi Islam dan hanya dikenakan oleh wanita-wanita muslimah saja.

Jauh sebelum ketiga peradaban tersebut hijab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3000 SM) kemudian berlanjut dalam Code Hamurabi (2000 SM) dan Code Asyiria (1500 SM) (Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, 2003: 12). Saat terjadi perdebatan tentang hijab di Prancis tahun 1989, Maxime Radison, seorang ahli Islamologi terkemuka dari Prancis mengingatkan bahwa di Asyiria ada larangan berjilbab bagi wanita tuna susila. Dua abad sebelum masehi, Tertullen, seorang penulis Kristen apologetik, menyerukan agar semua wanita berjilbab atas nama kebenaran (Husein Muhammad, 2002: XIX). Dengan kata lain, kewajiban berhijab pada masa-masa tersebut merupakan upaya untuk membedakan strata sosial dari sebuah masyarakat dan bahkan menjadi budaya pada agama sebelum Islam hadir.

Pembedaan strata atau identitas sosial dengan menggunakan hijab pun terjadi di kalangan umat Islam pada masa awal Islam hadir. M. Quraisy Shihab menyatakan, bahwa wanita-wanita muslim pada awal Islam di Madinah memakai pakaian yang sama sebagaimana umumnya semua wanita, termasuk wanita tuna susila dan hamba sahaya. Mereka semua juga memakai kerudung, bahkan hijab, tapi leher dan dadanya mudah terlihat dan tak jarang juga mereka memakai kerudung tapi ujungnya dikebelakangkan hingga leher telinga dan dada mereka terus terbuka.

Keadaan inilah yang digunakan oleh orang-orang munafik untuk mengoda wanita muslimah. Ketika mereka diingatkan atas perlakuan yang mereka perbuat mereka mengatakan “kami kira mereka hamba sahaya”. Hal ini disebabkan oleh karena pada saat itu identitas wanita muslimah tidak terlihat dengan jelas, dan dalam keadaan inilah Allah SWT memerintahkan kepada wanita muslimah untuk mengenakan hijabnya sesuai dengan petunjuk Allah kepada Nabi SAW dalam QS. Al-Ahzab: 59 (Quraisy Syihab, 1998: 171-172.).

Hal ini mirip dengan hadis Nabi yang menganjurkan kaum muslimin untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot; sebuah hadis yang hampir disepakati kebanyakan ahli fikih sebagai anjuran yang bermaksud temporal (liqasdil waqtiy). Inilah ketika itu salah satu simbol pembeda antara orang muslim dengan orang nonmuslim, yang notabene mempunyai ciri sebaliknya; biasa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot.

Jadi, dari konteks ayat dan hadis tersebut, jelas terlihat maksud-maksud pembedaan dan identifikasi yang lebih jelas antara orang mukmin dengan yang nonmukmin, perempuan muslimah dengan perempuan nonmuslimah. Ini mengindikasikan bahwa hukum yang ditetapkan tersebut adalah  hukum yang bersifat temporal, selama masa dibutuhkannya pembedaan itu, bukan hukum yang kekal (hukm mu’abbad).

Dapat diambil kesimpulan bahwa memang benar menutup aurat adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah lewat firman-Nya atau lewat hadis Nabi Muhammad, akan tetapi cara menutup aurat tersebut sangatlah beragam. Adapun hijab bagi wanita muslim digunakan sebagai identitas keagamaannya memang mengalami pasang surut dalam penerapannya. Akan tetapi umat Islam, tidak berhak memonopoli bahwa hijab hanya milik umat Islam, dan tidak perlu memaksakan penggunaannya kepada umat agama yang lain dengan mengatasnamakan “pendidikan”, apalagi di Lembaga Pendidikan Pemerintah Daerah yang dengan jelas negara ini dibangun atas berbagai suku dan kemajemukan budaya keagamaan.[MFR]

Aroma Toleransi di Seporsi Nasi Lawar

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa.

—- Bethriq Kindy Arrazy

Pada awal 2019, saat berkunjung ke Pulau Bali, saya mengamati setiap sudut di Bali bertebaran warung nasi lawar yang cukup populer sebagai salah satu kuliner khas Bali. Seperti halnya warung nasi tempong di kampung halaman saya di Banyuwangi yang beragam penjual serta cita rasanya.

Rasa penasaran tersebut kujawab sendiri dengan mendatangi warung nasi lawar di kawasan Jalan Pulau Belitung. Setiap sore hari nyaris di waktu penghujung petang, warung tersebut sering ramai dikunjungi pembeli, mulai dari tukang ojek, kuli bangunan, karyawan kantor, sampai ibu-ibu yang kehabisan lauk pauk di rumahnya.

Seusai mengantri cukup lama, tiba giliranku untuk memesan menu. Pak Nengah dan Bu Kadek, pasangan suami istri sekaligus pemilik warung sudah bersiap dengan posisinya masing-masing. “Maaf Pak apakah nasi lawar ini mengandung olahan.” “Tidak menggunakan daging babi Mas. Halal!” kata Nengah dengan suara tegas memotong kalimatku yang tak sempat kutuntaskan.

Tanpa memperkenalkan diri, Nengah seketika mengenaliku sebagai seorang muslim. Mungkin karena diamelihat jenggotku tumbuh di dagu, juga plat nomor kendaraanku yang tertera huruf P di depannya. Huruf tersebut mengasosiasikanku berasal dari Jawa Timur, kawasan tapal kuda paling timur yang melingkupi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso yang dominan dengan warga muslim.

Mendengar pertanyaan itu, Nengah tak lantas tersinggung atau menunjukan ketidaksukaannya. Dia mengapresiasi keberanianku untuk bertanya sekaligus mengonfirmasikan keraguanku akan nasi lawar yang dijualnya. Baginya, hal tersebut wajar bila berhubungan langsung dengan keyakinan yang di dalamnya memuat doktrin perintah dan larangan.

“Selama ini dari sebagian saudara muslim, mohon maaf, kurang bergaul dan berinteraksi untuk memahami bahwa nasi lawar adalah makanan enak yang kaya bahan rempah,” katanya.

Nengah tidak menampik tudingan  tentang  nasi lawar dianggap makanan haram. Walau juga tidak menganggap sepenuhnya benar. Secara umum, penyajian lawar terbuat dari bahan baku utama daging cincang, sayur, parutan kelapa yang dicampur dengan sejumlah rempah-rempah. Tidak lupa sate lilit dan kuah ayam betutu sebagai pelengkap rasa nasi lawar.

Lawar juga memiliki dua jenis sajian berdasarkan warna. Pertama, lawar putih yang berisi bahan-bahan original yang sudah disebutkan sebelumnya. Kedua, yang menjadi kontroversial adalah lawar merah yang salah satu bahan bakunya menggunakan darah yang berasal dari daging hewan yang menjadi pelengkapnya—dengan cara mencampurnya bersama bahan original sehingga nampak berwarna merah.

Bagi keyakinan sebagian umat Hindu, lawar merah sebagai makanan dipercaya dapat memberikan tambahan tenaga hingga memberikan dampak positif untuk kesehatan. Darah yang digunakan juga bukan sembarang darah. Tidak bisa menggunakan darah ayam, bila daging cincang yang digunakan adalah daging babi, maka darah babilah yang digunakan sebagai campuran pelengkap.

Adapun penamaannya beragam, sesuai dengan jenis daging yang digunakan. Misalnya, sebutan lawar ayam berarti daging yang digunakan adalah daging ayam. Lawar kambing, maka daging yang digunakan adalah daging kambing, begitu seterusnya. Penamaan berdasarkan jenis daging seperti ini lebih populer digunakan di warung-warung nasi lawar pada umumnya, daripada berdasarkan jenis warna.

Selain diperjualbelikan, nasi lawar juga biasa dimanfaatkan sebagai hidangan keluarga. Tidak kalah penting nasi lawar juga dipergunakan untuk kegiatan adat, agama, dan hari raya. Bahkan, lawar juga dipercaya sebagai sarana atau medium untuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena bahannya yang sebagian besar berasal dari alam. “Sebagai wujud syukur karena sudah dicukupkan,” kata Kadek.

Selama ini sebagian dari muslim beranggapan nasi lawar adalah makanan haram. Walau sesungguhnya ungkapan tersebut sebaiknya tidak untuk digeneralisasi sebagai sebuah ketakutan pikiran. Kalangan muslim perlu melakukan pembuktian empiris untuk mengklarifikasinya. Mengingat hasil olahan nasi lawar terdapat banyak varian jenis, termasuk bahan daging yang digunakan.

Nasi lawar saat ini tidak tepat lagi bila diasosiasikan secara brutal. Perihal nasi lawar adalah buatan warga umat Hindu Bali semata yang secara langsung disematkan atau distempel terdapat campuran darah binatang tertentu, dalam  hal ini adalah babi. Beragam kalangan non-Hindu dan non-Bali kini sudah dapat membuat sendiri. Walau barangkali dari aspek rasa mungkin saja berbeda.

Namun rasanya tidak hanya nasi lawar yang mendapatkan kecurigaan serupa. Beragam respons label makanan berbahan baku daging babi dapat ditemui sebuah warung menggunakan jargon, “100% haram” sebagai penanda menu yang dijual tidak layak disajikan kepada kalangan muslim. Pun sebaliknya, jamak ditemui kalangan muslim berdagang makanan dengan menggelar lapak bernuansa etnosentris seperti penyematan nama daerah dan agama, misalnya: Warung Muslim Banyuwangi.

Hal demikian sah-sah saja untuk dilakukan sebagai penentu segmentasi pembeli makanan. Selain juga sebagai bentuk keterbukaan atau transparansi penjual kepada pembeli. Sekalipun soal rasa, otoritas pembelilah yang paling berkuasa. Walaupun beberapa momentum tertentu, kita (pembeli) pernah merasakan kekecewaan yang luar biasa karena ulah pedagang nakal yang juga seiman turut menjual makanan dengan bahan daging babi sampai tikus.

Sejatinya makanan tidak beragama. Termasuk makanan tidak ingin berharap dimakan oleh siapa dan beragama apa meski sejak awal makanan sudah dipersepsi sedemikian rupa. Hanya bahan makanan apa yang dibuat dan dalam kondisi (waktu) seperti apa makanan ‘tertentu’ layak dimakan bisa terbuka dalam perdebatan. Maka, lawar dapat dibuat sesuai selera penganut agama mana pun, termasuk muslim. Maka pilihan selera kuliner yang berbeda perlu dihormati tanpa perlu mencaci.

Bila waktu Anda sedikit longgar dan sedang berlibur di Bali, cobalah sesekali jalan-jalan di beberapa sudut di Bali. Barangkali dengan cara demikian, Anda dapat menemukan warung nasi lawar langganan yang cocok dengan selera Anda untuk menjawab segala keraguan yang mengendap di kepala. Seperti saya yang sudah terlanjur cocok dan sesekali masih menikmati nasi lawar sembari mendengarkan Nengah dan Kadek berkisah seperti kepada kerabatnya sendiri.[MFR]

Pindah Agama

Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.

—- Hajime Yudistira

Fenomena pindah agama terkadang disikapi masyarakat dengan berlebihan, terutama jika dilakukan oleh orang terkenal atau selebritas. Pindah agama seharusnya tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, apa lagi sampai menjadi kehebohan. Seperti halnya seseorang yang hari ini memilih mengenakan pakaian warna apa, atau ingin makan apa, tentunya itu adalah hak dari orang itu. Dia bebas memilih warna pakaian yang ingin dia kenakan atau bebas memilih jenis makanan seperti apa yang ingin dimakannya. Hal ini juga termasuk soal agama apa yang ingin dia anut.

Dalam konteks Islam, sudah jelas termaktub bahwa dalam hal beragama itu tidak boleh ada pemaksaan. Jadi soal keimanan itu adalah ranah pribadi dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampurinya. Pemaksaan di sini juga bukan hanya pemaksaan secara harfiah, tapi juga secara halus. Sering kali kita melihat jika ada yang pindah agama, pelakunya akan dirundung, diledek, bahkan dihujat tidak karuan. Keimanan seseorang itu adanya di dalam hati masing-masing persona, dan itu benar-benar urusannya dengan Tuhannya.

Perpindahan seseorang ke agama tertentu sama sekali tidak membuat perbedaan terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipilih. Misalnya, ada yang meninggalkan Islam dan masuk Hindu, apa Islam menjadi hancur karenanya? Atau Hindu jadi luar biasa? demikian juga sebaliknya, tentu tidak berpengaruh apa pun.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya prihatin melihat fenomena ini. Jika ada orang Islam yang berpindah agama, maka orang tersebut akan dihujat habis-habisan, dan sebaliknya, jika ada orang dari agama lain masuk Islam maka ia akan dielu-elukan sedemikian rupa. Bahkan pernah saya lihat perpindahan agama yang disiarkan oleh media.

Kalau mau jujur, perpindahan agama seseorang tidak berpengaruh apa pun terhadap agama itu sendiri. Pengaruhnya akan terasa oleh diri yang bersangkutan dan bukan juga terhadap orang lain. Apakah perpindahan agama menjadikannya persona yang lebih baik dari sebelumnya? Jika Iya, bisa dikatakan perpindahan agama tersebut membawa dampak baik bagi dirinya.

Demikian pula dengan fenomena ‘berhijrah’ yang belakangan ini juga marak terjadi, banyak sekali fenomena itu dipertontonkan dan yang banyak terjadi adalah dalam hal berpakaian. Saya tidak mengatakan hal tersebut salah, tapi esensi dari berhijrah itu tentu bukan dalam cara berpakaian. Berhijrah dalam konteks ini tentu lebih dalam hal akhlak, yaitu mengubah tingkah laku ke arah yang lebih baik. Percuma saja mengubah gaya berpakaian jika tidak diiringi dengan perubahan akhlak yang lebih baik.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa berhijrah pakaiannya dulu, kalau hati/akhlak nanti bisa menyusul, yang penting berhijab saja dulu, begitu katanya. Hal ini membuat siapa pun yang memutuskan berhijrah mengenakan jilbab, lalu dielu-elukan bak pahlawan. Menurut saya hal ini justru salah kaprah, justru yang perlu berhijrah justru hatinya dulu, setelah hatinya berhijrah, maka secara otomatis fisik akan mengikuti. Tidak bisa dibenarkan logika yang mengatakan fisik dulu, lalu nanti hati akan mengikuti. Itu adalah logika yang terbalik.

Berhijrahlah mulai dari hati dengan memperbaiki akhlak, memperindah tingkah laku, membenarkan pola berpikir dan sebagainya, setelah itu biarkan dirinya sendiri yang akan mengubah tampilan fisiknya sesuai dengan apa yang dipahaminya. Tidak ada satu orang pun yang berhak memvonis seseorang itu benar atau salah, masuk surga atau masuk neraka dan seterusnya, karena itu bukan urusan manusia. Saya sering sekali melihat seseorang berperan sebagai Tuhan yang bisa mengatakan si A akan masuk surga atau neraka.

Tugas manusia hanya berbuat baik sesuai dengan apa yang dia pahami tentang kebaikan itu sendiri, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang tahu seseorang akan masuk surga atau neraka, itu benar-benar hak prerogatif Tuhan. Seseorang yang di mata manusia selalu melakukan kesalahan atau ahli maksiat, belum tentu akan masuk neraka, begitu pula sebaliknya, seseorang yang selalu berbuat kebaikan atau ahli ibadah juga belum tentu masuk surga.

Saya ingat hadis Nabi yang menceritakan tentang seorang pelacur yang selama hidupnya melacur, tetapi pada akhirnya ternyata diangkat ke surga.Dalam cerita tersebut dikisahkan sang pelacur di akhir hidupnya pernah berbuat kebaikan, yaitu memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan terompahnya. Ada pula hadis Nabi yang menceritakan seorang ahli ibadah yang di akhir hidupnya berkata bahwa dia layak masuk surga karena selama hidupnya selalu beribadah (ada kesombongan di hatinya), Nabi mengatakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang bangkrut. Itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan selama hidupnya tidak berguna karena di akhir hidupnya dia berbuat kesalahan, yaitu berlaku sombong.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam agama Islam itu yang dilihat adalah kualitatifnya, bukan kuantitatif. Kembali kepada urusan perpindahan agama, jika ada seorang umat Islam yang berpindah agama, maka tidak lantas itu adalah kehancuran umat. Demikian juga sebaliknya, jika ada seorang yang masuk agama Islam, bukan berarti juga itu adalah kejayaan Islam. Sekali lagi, biasa saja dalam menyikapi fenomena perpindahan agama, baik dari Islam ke luar Islam atau dari luar Islam ke dalam Islam.

Banyaknya jumlah pemeluk suatu agama itu tidak serta merta menjadikan agama itu menjadi agama yang terbaik. Sekali lagi, lihat bagaimana kualitas pemeluk agama itu sendiri, karena itulah yang terpenting. Terkadang dengan banyaknya pemeluk suatu agama, itu justru membuat pemeluknya kehilangan kontrol terhadap dirinya karena merasa superior tadi. Seperti waktu kita kecil dulu, saat kita beramai-ramai, biasanya akan menjadi lebih berani menghadapi sesuatu hal. Hati-hati, semakin besar populasi suatu agama, maka semakin mudah tergelincir.

Permasalahan dalam keberagamaan kita di Indonesia yang mendasar adalah agama acap kali yang ditarik sedemikian rupa menjadi identitas, padahal agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas yang tidak adil, misalnya identitas kulit hitam pada zaman Nabi Muhammad yang biasa dijadikan budak di masa itu. Dengan kehadiran agama Islam, identitas warna kulit itu justru dihapus dengan menjadikan Bilal bin Rabbah –sahabat nabi yang berkulit hitam–menjadi muazin. Juga identitas perempuan yang tidak berharga –bayi perempuan dibunuh–di zaman jahiliah.

Jadi Agama itu hadir untuk menghabisi identitas-identitas tidak adil seperti itu. Salah kaprah keberagamaan kita saat ini justru agama dijadikan identitas yang justru memerangi identitas yang lain. Bahkan oleh sebagian kalangan, Islam yang dijadikan identitas ini memiliki fesyen tersendiri, seperti misalnya bergamis atau bercelana cingkrang, berjanggut bagi yang laki-laki atau bercadar bagi yang perempuan. Padahal Islam tidak mengenal fesyen yang seperti itu. Pakaian Islam itu adalah pakaian terhormat yang menutup aurat, hanya itu.Ingat, Islam itu bukan Arab. Menjadi Islam itu bukan berarti Anda harus menjadi Arab yang bergamis, lalu berjanggut atau identitas Arab lainnya.

Kalau pun Anda ingin menjadikan agama sebagai identitas, maka itu adalah identitas transenden, bukan identitas imanen. Artinya bukan identitas kita dengan manusia lain, melainkan identitas kita terhadap Tuhan. Contohnya, dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa untuk menyebut Nabi Muhammad, maka harus disertai dengan gelar keagungannya, yaitu nabi atau rasul. Allah sendiri dalam Alquran selalu menyertakan gelar keagungan tersebut untuk menyebut Nabi Muhammad. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, sering kali beliau disebut hanya namanya saja.

Tadi dikatakan bahwa Islam itu adalah identitas transenden dan bukan imanen, terlihat saat Nabi Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan para musyrikin di wilayah Hudaibiyah, Makkah. Dalam perjanjian itu ditulis nama Nabi Muhammad Rasulullah sebagai orang yang menandatangani perjanjian tersebut. Orang musyrikin mengatakan kenapa harus menggunakan kata “Rasulullah”, padahal mereka tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan meminta kata “Rasulullah” itu dihapus. Para sahabat sempat bingung atas permintaan kaum musyrikin itu, karena mereka berpendapat bahwa identitas Islam sedang diserang dengan permintaan tersebut.

Tanpa diduga, ternyata Nabi Muhammad sendiri yang mengatakan  kepada para sahabatnya bahwa kalau memang kaum musyrikin itu meminta kata “Rasulullah” itu dihapus, maka hapus saja. Tulis saja Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam ranah privat kita dengan Tuhan, maka kita begitu mengagungkan Nabi Muhammad sampai titik yang bersifat identitas, yaitu jangan menyebut tanpa gelar keagungannya, tapi di ranah publik dalam hubungan antar manusia, identitas itu tidak ada.

Jadi yang perlu digarisbawahi, bersikaplah biasa saja terhadap fenomena perpindahan agama. Perpindahan agama adalah hal biasa saja dan tidak berdampak apa pun terhadap agama yang ditinggalkan, maupun agama baru yang dipeluk. Agama tidak menjadi jaya dengan banyaknya jumlah pemeluk, tapi agama menjadi jaya karena kualitas pemeluknya.[MFR]

Jambang Ideologis: Menyingkap Fenomena Urbanisasi Radikalisme di Indonesia

stuttering cold and damp
steal the warm wind tired friend
times are gone for honest men
and sometimes far too long for snakes
in my shoes a walking sleep
and my youth I pray to keep
heaven sent hell away
no one sings like you anymore

—“Black Hole Sun” (Soudgarden)

Dua lelaki muda tengah berjalan santai menikmati aroma pegunungan. Sesekali mereka terlihat tertawa, entah bicara apa. Tapi ada yang lebih menggelitik saya: jenggot yang menghiasi dagu dan t-shirt yang bertuliskan, alamak, ungkapan-ungkapan yang barangkali mereka pun malas untuk menggalinya lebih dalam.

Bagaimana lelaki semuda itu bisa dengan pede-nya membiarkan dagunya berewokan? Untuk ukuran saya pada masa seusia itu jelas tak normal. Barangkali, mereka menggunakan ramuan khusus. Dan, astaga, ketika saya mantengin facebook tiba-tiba nongol sebuah iklan untuk merangsang pertumbuhan jenggot. Celakanya, t-shirt yang bertuliskan ungkapan-ungkapan yang terkadang mengutip hadis, mahfudhat, dan ungkapan-ungkapan yang secara logis jelas tak nyambung dan terkesan merendahkan menyembul pula sebagai sponsor di Facebook (“Kaos Islami Ahad”). Belum lagi sepotong iklan “Kaos Bersurban 3D” di mana seorang pemuda “gaul” berewokan selera emak-emak nongol dengan berkalung surban—seperti citra laskar mujahidin kontemporer.  

Tahukah mereka bahwa banyak ungkapan yang dipampangkan di berbagai t-shirt itu sebentuk kampanye Islam ala wahabi salafi dan wahabi jihadi? Ketika saya ulik satu persatu iklan di berbagai t-shrit itu ada yang secara gamblang terbaca: “Leave The Beard Just grow it”(sembari ditampilkan sebuah siluet putih menyerupai kepala tanpa wajah, hanya rambut dan jenggot yang menjuntai), “MY PROPHET’S SUNNAH (dengan siluet jenggot pula di bawahnya).” Atau pun yang terang menyajikan “teologi maut” ala ISIS: “Hijrah Adalah Meninggalkan Segala Yang Dilarang Agama,” “Hijrah Tanpa Nanti Sebab Mati Tanpa Tapi,” juga “Barrakallahu Syam Negeri Akhir Zaman/ Syiria, Palestina, Yordania & Lebanon.”

Sedemikian terlambatkah kita untuk menyikapi radikalisme keagamaan di kalangan generasi milenial? Ketika saya menulis “Hikayat Kebohongan I” pada 2017 (https://islami.co), saya hanya menyambangi beberapa muda-mudi dan berdiskusi bebas dengan mereka, dan memang saat itu saya simpulkan bahwa radikalisme Islam telah ngepop. Tapi yang saya tak habis pikir adalah secepat itu gerakan mereka dikooptasi oleh kapitalisme. Maka pada titik ini dapat digarisbawahi bahwa radikalisme keagamaan tak hanya berlangsung di kampus-kampus, perumahan-perumahan kelas menengah, tapi juga sudah merambah “dunia gaul” khas kalangan milenial: ngepub, fashion, mall, café, atau bahkan mapala (mahasiswa pecinta alam). Untuk popularisasi salafi wahabi dan salafi jihadi di dunia perempuan telah saya analisis dalam “Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab” (http://jalandamai.org). Logikanya sebenarnya sama pada titik ini, hanya yang membedakan adalah corak fashionnya, antara lelaki dan perempuan.

Bagaimana mereka mendapatkan radikalisasi paham keagamaan seperti itu seandainya di sekolah, kampus, dan perumahan-perumahan kelas menengah tak lagi selonggar dahulu? Mereka berkerumun, belajar sendiri, pusing sendiri. Ada yang memicunya dengan menghujani “lontaran-lontaran verbal” untuk kemudian merembug dan mencarinya bersama-sama. Latar belakang pendidikan keagamaan mereka pun umumnya minim. Mayoritas mereka tak tahu apa itu varian atau tipologi dalam Islam. Mereka memandang bahwa Islam itu hanya satu, tanpa renik, tanpa varian di dalamnya. Tanyailah mereka satu persatu, apa perbedaan NU, Muhammadiyah, sufisme, FPI, IM, HTI, misalnya. Mereka pasti bungkam.

Saya tak anti jenggot, tentu saja, apalagi produk-produk t-shirt yang berhiaskan tulisan-tulisan nyleneh. Tapi, yang tak habis saya pikir, kenapa mesti menggunakan alasan-alasan keagamaan di baliknya? Logikanya, apakah seandainya tak berewokan menandakan ketakpatuhan pada nabi?

Saya pribadi jemu sesungguhnya dengan perdebatan-perdebatan yang tak pakai akal sehat semacam ini. Kita menghadapi sebuah generasi yang nalar kritisnya sudah dibunuh terlebih dahulu, malas bertanya cepat menghakimi, generasi yang secara physically “gaul,” tapi secara nalar dan wawasan jumud. Kini mereka telah bertransformasi menjadi gerakan counter culture yang sebenarnya alasannya tetaplah klasik: dunia yang mereka pandang kian hari kian bobrok.

Persebarannya pun saya kira tak seperti di masa lalu, di zaman para senior-seniornya, tapi sudah serupa gerakan-gerakan counter culture: worldview, pola interaksi, fashion, dan bahkan musik yang khas. Halaqah di masa lalu kini sudah mereka transformasikan menjadi semacam gigs. Dan ingat, gerakan-gerakan counter culture berupaya “menguasai” ruang publik dengan menciptakan trendsetting, maka mereka pada dasarnya berkiblat atau mendudukkan figur-figur tertentu sebagai trendsetter untuk melangsungkan eksistensi dan agenda mereka. Persis gerakan grunge yang membutuhkan figur Kurt Cobain, Chriss Cornell, ataupun Eddie Vedder. Di tangan generasi ini sikap anti-kultus ternyata hanyalah gincu. Generasi inilah yang secara serius menggoreng figur-figur semacam Felix Siauw ataupun Hanan Attaki yang memenuhi standar mereka supaya tetap eksis. Bagaimana pun mereka tetap membutuhkan figur-figur tertentu untuk diikuti, mulai dari cara pandang hingga fashion. Terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa tauladan mereka adalah nabi. Sebab, untuk mengembalikan cara berpikir mereka, kombinasi jenggot, t-shirt dengan berhiaskan kutipan-kutipan hadis, dan ngepub, adalah sebentuk bid’ah. Dan celakanya, tak seperti cara berpikir nahdhliyyin, tak ada bid’ah hasanah dalam otak mereka. Dengan demikian, untuk membunuh seekor ular orang mesti menghancurkan kepalanya terlebih dahulu daripada ekornya—sebelum terlanjur “tua”. []

Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,”

—– Syekh Ali Jaber

Berita wafatnya Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber cukup mengagetkan saya pagi ini. Ulama muda berusia 44 tahun yang juga seorang hafiz Alquran dan sering diminta menjadi juri pada acara-acara lomba pembacaan Alquran berpulang begitu cepat. Beliau adalah orang dari Madinah, Saudi Arabia yang sudah berkewarganegaraan Indonesia dan mendedikasikan dirinya untuk umat muslim di Indonesia. Beliau adalah seorang dari sedikit ulama yang cukup menyejukkan umat. Indonesia kehilangan seorang ulama yang saya rasa bisa merekatkan kebinekaan yang sudah terkoyak selama ini.

Pluralitas, kemajemukan atau kebinekaan adalah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Perbedaan di  Indonesia ini cukup lengkap, mulai dari suku, agama, ras hingga antargolongan (SARA). Suku yang ada di Indonesia juga sangat beragam, mulai dari Batak, Jawa, Madura, Sumatera, Dayak, Bugis, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dll. Agama juga seperti itu; ada enam agama yang saat ini diakui oleh pemerintah. Agama mayoritas memang Islam, tapi pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu juga tidak sedikit.

Kemajemukan lain juga terlihat dalam keragaman lain, yaitu mulai dari masyarakat yang berpendidikan tinggi, hingga masyarakat yang tidak pernah merasakan pendidikan, mulai dari masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri, hingga masyarakat yang hidupnya nomaden, dari hutan ke hutan, mulai dari masyarakat berkulit putih Dayak, hingga masyarakat berkulit hitam Papua, dsb.

Begitulah kemajemukan yang ada di negara ini, sungguh lengkap dan memang bukan perkara mudah untuk bisa diikat dalam suatu negeri. Meski bangsa memiliki semboyan Bineka Tunggal Ika sejak lama, tetapi belakangan ini mulai terkoyak akibat ulah kelompok tertentu yang dengan sengaja ingin merusaknya dan mengganti ideologi negara dengan ideologi berdasarkan agama tertentu, ditambah lagi belakangan ini berkembang “politik identitas” yang memaksakan kesamaan (keseragaman) sikap antikemajemukan/intoleran.

Sumanto al Qurtubi, seorang cendekiawan muslim Indonesia pernah mengatakan bahwa bibit-bibit intoleran itu dibawa oleh kaum islamis. Harap dicatat kaum islamis ini berbeda dengan umat Islam secara umum. Kaum islamis ini adalah para praktisi (baik individu maupun kelompok) islamisme yang oleh Bassam Tibi, professor ahli Islam di Universityof Gottingen, Jerman, dalam  Islamism and Islam didefinisikan sebagai a political ideology based on a reinvented version of Islamic law”.

Dengan kata lain, dasar, basis atau fondasi yang digunakan oleh kelompok islamis untuk membangun “islamisme” atau “ideologi Islam politik” ini bukanlah hukum Islam atau syariat Islam itu sendiri, melainkan sebuah pemahaman kembali, tafsir ulang atau rekonstruksi atas sejumlah diktum dalam hukum Islam atau syariat tadi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan politik di mana kaum islamis itu berada. Itulah sebabnya kenapa visi, platform, agenda dan tujuan berbagai kelompok islamis di berbagai negara itu berlainan antara satu dan lainnya.

Meskipun berlainan, kaum Islamis ini memiliki ciri-ciri umum, yaitu mempropagandakan sekaligus memaksakan (pemahaman) keislaman versi mereka agar dipraktikkan di pemerintahan maupun masyarakat. Sebagian lagi gigih ingin mengganti sistem politik-pemerintahan yang ada dengan sistem politik-pemerintahan yang mereka idealkan dan imajinasikan, baik dalam bentuk khilafah atau “Negara Islam” dan lainnya. 

Ciri mendasar lain dari kaum islamis adalah tidak mau kompromi dengan pluralitas karena keragaman dianggap dapat menghambat cita-cita mewujudkan ideologi Islam politik yang mereka usung. Keberagaman dipandang menghalangi tujuan membumikan “Syariat Islam” yang orisinal menurut versi mereka. Kebinekaan dianggap sebagai momok yang bisa merintangi tujuan menegakkan “Islam kafah” (tentu saja menurut versi mereka).

Bagi kaum islamis ini, masyarakat harus dibuat singular alias homogen untuk memuluskan jalan bagi tegaknya Islam yang sesuai dengan amanat, mandat Alquran dan Sunah Nabi (lagi, tentu saja Alquran dan Sunah Nabi menurut versi dan tafsir mereka). Dengan demikian, bagi kelompok islamis, singularis (bukan pluralis) adalah kunci utama bagi suksesnya merealisasikan jenis keislaman yang mereka dambakan dan idealkan.

Oleh karena itu, karena wataknya yang antipluralis, di mana pun kelompok ini bercokol, mereka akan selalu mengampanyekan jenis, pemahaman, dan praktik keislaman yang seragam dan sama dengan bentuk, tafsir dan praktik keislaman yang mereka lakukan.

Jelas sekali gerakan ini sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia ini yang dulu dengan darah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa ini. Kita perlu tokoh-tokoh, baik tokoh pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya untuk bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa ini. Semoga terus bermunculan tokoh-tokoh pemersatu bangsa agar bisa menjaga dan merawat bangsa yang sedang terkoyak ini. Peran masyarakat atau penduduknya juga tentu diperlukan guna mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Salah satu yang saya rasa sanggup menjadi tokoh pemersatu adalah Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber sering menyampaikan dalam ceramah-ceramahnya agar Indonesia tidak menjadi seperti beberapa negara Islam mengalami konflik berkepanjangan. Menurutnya, konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, Iraq, Mesir dan negara Timur Tengah lainnya pada awalnya disebabkan oleh perbedaan politik. Negara di Timur Tengah sulit menerima perbedaan hingga pada suatu hari konflik pecah dan sampai sekarang tidak kunjung ada perdamaian.

Pernah saya mendengar pada suatu ketika, beliau berkata, “Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,” kata Ali Jaber.

Oleh karenanya, dia berpesan agar segenap masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga keamanan negara. Dia memuji kehidupan di Indonesia yang beragam baik dari segi suku, bahasa dan agama namun tetap bisa menghormati sehingga tidak ada konflik. Dia mencontohkan Afghanistan yang hanya mempunyai tujuh suku namun sampai sekarang masih dilanda konflik.

“Saya salut dengan Indonesia karena bisa menghormati perbedaan. Saya juga kemarin lihat banyak orang ramai mencoblos calon kepala Daerah namun tetap dalam kondisi aman. Mudah-mudahan yang seperti ini tetap dijaga,” pesannya.

Dalam ceramahnya, Syekh Ali Jaber selalu menyampaikan dengan santun dan mengayomi, beliau berusaha merangkul semua pihak agar tidak fokus kepada perbedaan yang ada, tetapi kepada persamaan yang bisa merekatkan. Tidak banyak ulama seperti ini di Indonesia, karena kebanyakan ulama yang sering muncul justru merasa apa yang diketahuinya adalah hal yang benar dan sering kali menyalahkan pendapat yang berbeda dengannya.

Ulama-ulama seperti itu justru berbahaya bagi negara Indonesia yang sangat majemuk ini. Mungkin mereka tidak paham bahwa di Indonesia hidup enam agama, 187 kelompok penghayat kepercayaan, 1331 suku, 652 bahasa daerah dan ada lebih dari 400.000 organisasi kemasyarakatan. Dengan kemajemukan seperti itu, kita memerlukan tokoh-tokoh agama yang tentunya bisa mengayomi dan merekatkan semua kemajemukan tadi.

Selamat jalan Syekh Ali Jaber, Indonesia sangat berduka dan merasa sangat kehilangan seorang tokoh agama yang secara ilmu mumpuni dan bisa mengayomi dan merekatkan bangsa [MFR].