Membaca India dan Euforia Keagamaan

Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

—– Bethriq Kindy Arrazy

Seandainya sejak awal negara India mampu menahan diri dari kegiatan yang bersifat massal di tengah upaya vaksinasi penduduknya, barangkali krisis gelombang kedua pandemi Covid-19 di negara tersebut tidak akan berakhir nahas seperti yang terjadi pada dua pekan terakhir ini.

Pemilihan umum, demonstrasi politik, dan kegiatan keagamaan Kumbh Mela diduga sebagai faktor terbesar lonjakan kasus Covid-19 di India. Kegiatan massal keagamaan yang menjadi sorotan adalah Kumbh Mela. Pemerintah India tidak mampu membendung dengan melahirkan kebijakan larangan untuk meniadakan sementara waktu kegiatan tersebut karena kuatnya tekanan agamawan setempat.

Lemahnya kepemimpinan tersebut menyebabkan Kumbh Mela tidak terbendung lagi untuk diselenggarakan. Kita bisa melihat euforia keagamaan berlangsung secara bebas; protokol kesehatan nampak tidak berlaku di sana. Warga India yang berjumlah ratusan ribu bahkan mencapai jutaan terlihat bersuka cita menjalani setiap prosesi Kumbh Mela.

Tentang Kumbh Mela

Kumbh Mela, sebagaimana dikisahkan dalam mitologi Hindu, mencitrakan Dewa Wisnu sebagai penjaga alam semesta yang melakukan pertempuran dengan setan-setan di atas kendi berisi amrit. Dalam pertarungan tersebut Dewa Wisnu keluar sebagai pemenang dengan membawa candi tersebut terbang bersama makluk besar menyerupai burung garuda. Saat terbang itulah, empat tetes nektar jatuh ke empat kota kuno yakni Prayagraj, Nashik, Haridwar, dan Ujjain.

Kumbh Mela pada bagian kata Mela dalam bahasa Hindi memiliki arti adil. Di keempat kota kuno itulah kemudian tradisi Kumbh Mela diadakan secara bergilir sebagai manifestasi keadilan dalam penyelenggaraan. Selama 12 tahun, Kumbh Mela diadakan sebanyak empat kali. Artinya, dalam penyelenggaraan dilakukan sebanyak 3 tahun sekali di masing-masing keempat kota tersebut.

Secara ritus keagamaan, Kumbh Mela sesungguhnya memerintahkan umat Hindu di India untuk membasuh beberapa bagian tubuh hingga mandi di perairan suci tempat Sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati bertemu. Ini yang diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di India dapat mencapai moksha atau penyelamatan dari siklus hidup dan mati.

Dalam sepanjang waktu terselenggaranya Kumbh Mela, terdapat tiga atau empat hari yang dianggap spesial seperti membawa keberuntungan dan membebaskan dosa masa lalu. Hari-hari yang dianggap spesial ini memiliki kesamaan dengan malam Lailatul Qodar, dalam keyakinan agama Islam yang turun pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan pada tanggal-tanggal ganjil.

Pada 2019, Kumbh Mela turut dihadiri sebanyak 120 juta penduduk India. Ini yang menyebabkan tradisi Kumbh Mela termasuk salah satu tradisi ziarah terbesar di dunia. Berdasarkan keunikannya itulah, UNESCO pada 2017 memasukannya sebagai daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Jadi kemudian dapat dipahami betapa sakral dan pentingnya tradisi Kumbh Mela bagi warga India. Sekalipun sesungguhnya memaksakan kegiatan keagamaan yang bersifat massal di tengah kondisi pandemi Covid-19 juga tidak tepat untuk dilakukan, terlebih bila tanpa standar protokol kesehatan yang ketat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan gelombang penyebaran Covid-19 di India semakin meluas dan memakan korban

Konteks Indonesia

India dikenal sebagai negara dengan penduduk beragama Hindu terbesar di dunia. Sama seperti Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kedua negara memiliki kesamaan sebagai negara dengan penduduk yang taat dengan agamanya masing-masing. Termasuk sekaligus mempercayai bahwa ajaran agama bisa menjadi solusi atas permasalahan di dunia, salah satunya pandemi Covid-19.

Berkaca pada hal tersebut, dalam beberapa hari terakhir ini kita juga dikejutkan dengan peristiwa pengusiran seorang jamaah oleh pengurus Masjid Al-Amanah di Medan Satria, Kota Bekasi, pada Selasa lalu, 3 Mei. Hal ini disebabkan karena jamaah tersebut salat dengan menggunakan masker. Meski kemudian pengusiran berlangsung secara keras dengan dalih adab dalam salat, sekaligus pembeda antara di masjid dan di pasar.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengingat bahwa sejak kasus Covid-19 masuk di Indonesia pada Maret 2020 —sebagian agamawan kita juga menyerukan agar lebih takut Tuhan daripada virus bernama Covid-19. Akibatnya, kasus Covid-19 klaster masjid bermunculan pada pertengahan 2020. Ketakutan sebagai bentuk manifestasi keimanan kepada Tuhan, rasanya tidaklah tepat bila disandingkan dengan keberadaan Covid-19.

Di sinilah kemudian sebaiknya nalar keagamaan juga perlu membaca realitas sosial dalam kacamata keduniawian secara progresif dan komprehensif. Bahwa yang tengah terjadi saat ini, dunia sedang tidak dalam kondisi baik yakni tengah terjadi pandemi Covid-19. Wabah ini menyebar secara sporadis di hampir seluruh sudut dunia. Ajaran agama, termasuk Islam harus memberikan kesadaran pentingnya menjaga jiwa dan raga umatnya.

Di tempat lain seperti di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, juga memberlakukan peraturan menggunakan masker saat salat berlangsung. Setahun lalu misalnya, banyak ulama ternama di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, Palestina, Lebanon, Yordania, yang memberikan fatwa tentang kelonggaran Salat Jumat digantikan Salat Zuhur dan Salat Idulfitri digantikan salat di tempat masing-masing.

Progresifitas nalar keagamaan di negara-negara Timur Tengah tersebut, tentu dilakukan berdasarkan pertimbangan yang mendalam berdasarkan aspek agama yang berkelindan dengan aspek sosial. Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

Kita bisa ambil contoh, sebagaimana kasus Covid-19 klaster Tarawih yang terjadi di Dusun Yudomulyo, Desa Ringintelo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Setidaknya sebanyak 53 orang dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah tersebut sebanyak tujuh orang dirawat secara intensif di rumah sakit, enam orang dinyatakan meninggal dunia —sedangkan sisanya sebagai orang tanpa gejala dianjurkan untuk isolasi mandiri dengan pengawasan yang ketat. Artinya, situasi gejolak pandemi yang terjadi saat ini, terutama dalam kegiatan keagamaan perlu untuk memperhatikan aspek kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Dalam kurang dari seminggu ke depan umat muslim akan menyambut Idulfitri umat muslim, hari raya Idulfitri merupakan momen kemenangan spiritual setelah sebulan penuh umat muslim melawan hawa nafsu di bulan Ramadan. Dalam kesempatan tersebut juga akan berpeluang terjadinya euforia keagamaan yang berpotensi menciptakan kerumunan massal atau transmisi lokal melalui aktivitas mudik ke kampung halaman.

Saya termasuk yang mendukung kebijakan pemerintah terkait larangan mudik yang di sepanjang tanggal 6 Mei hingga 17 Mei mendatang. Pasalnya, Presiden Jokowi menyebutkan berdasarkan pengalaman mudik Idulfitri pada Mei 2020, secara akumulasi terdapat peningkatan kasus Covid-19 sebesar 93 persen.

Angka tersebut tidaklah kecil mengingat kenaikan nyaris menyentuh 100 persen. Kenaikan kasus Covid-19 tersebut dapat diketahui pada dua pekan setelah puncak libur panjang hari raya Idulfitri. Terlebih saat ini Covid-19 mengalami beragam mutasi yang tengah terjadi di Inggris, India, Brazil, dan Afrika Selatan.

Rasanya dengan pengalaman Idulfitri tahun lalu dan tsunami Covid-19 yang menerjang India bisa menjadi pelajaran dan pertimbangan kita bagaimana memaknai euforia keagamaan dalam hal ini Idulfitri di Indonesia. Tidak mudik bukan berarti akan mereduksi makna hari kemenangan kita. Setidaknya spirit bulan Ramadan, ihwal menahan diri dan menahan hawa nafsu tetap bertahan hidup dalam diri kita masing-masing. Selain menjaga diri, kita juga wajib menjaga keluarga kita di kampung halaman. Pilihan kembali kepada Anda. Dan, pilihan terbaik adalah berdasarkan perenungan yang mendalam.[MFR]

Dosen SAA IAIN Kediri Mengikuti Rakor Penguatan Moderasi Beragama di Jawa Timur

Surabaya; Rapat Kordinasi Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Penguatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Kordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK bekerjasama dengan FKUB Jawa Timur dilaksanakan di Mercure Hotel Surabaya pada 14 April 2021 dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

Hadir dalam acara tersebut peserta dari berbagai elemen tokoh agama dan masyarakat, serta pegiat kerukunan beragama di Jawa Timur, seperti Pengurus FKUB Jawa Timur, Wanita Lintas Iman, FORKUGAMA Jawa Timur, dan Ketua Majelis Tinggi Agama agama di Jawa Timur.

Hadir narasumber pada kegiatan tersebut Asisten Deputi Moderasi Beragama Kemenko PMK Bapak Thomas Ardian Siregar, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Republik Indonesia Bapak Dr. H. Nifasri, M.Pd, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur Bapak Hamid Syarif.

Dalam kesempatan tersebut Asdep Moderasi Beragama Bapak Thomas Ardian Siregar menyampaikan bahwa Moderasi Beragama bermuara pada kehidupan beragama yang harmonis dan toleran.

“Ada 3 hal yang kita harus perkuat dalam moderasi beragama ini, pertama penguatan wacana yakni penguatan dialektika Moderasi Beragama di ruang publik sehingga moderasi beragama dapat dipahami secaa seimbanh, kedua penguatan regulasi, yakni penguatan pada konsep moderasi beragama yang adil dan non diskriminatif, ketiga penguatan layanan publik yakni tercapainya kepuasan publik terhdap layanan keagamaan oleh pemerintah” ungkap Thomas Ardian Siregar.

Peserta kegiatan sangat antusias mendengarkan apa yang disampaikan oleh narasumber kegiatan, Thoriqul Huda, Ketua Forkugama Jawa Timur menyampaikan bahwa “kita mendapat banyak informasi penting dalam kegiatan ini, terutama berkaitan dengan moderasi beragama, kita mendorong agar moderasi beragama ini juga dapat dipahami dengan mudah oleh pemuda milenial, agar dapat terimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari” ujar Thoriq yang juga Dosen SAA IAIN Kediri. [Adm]

Paralelisme: Paradigma Alternatif dalam Studi Agama-Agama

Paralelisme merujuk pada penekanan akan pentingnya mengeksplorasi kemiripan-kemiripan doktrin dalam tradisi agama yang berbeda, daripada mencari potensi penyatuan antara doktrin-doktrin tersebut.

—-Ali Ilham Almujaddidy

Di Indonesia, jurusan Studi Agama-Agama (SAA) adalah salah satu jurusan yang fokus mempelajari agama di dunia akademik, baik di PTS maupun PTN. Terlepas dari “polemik” akan penamaan jurusan—baik teologi, studi agama-agama, atau perbandingan agama[1]—paradigma yang dipakai umumnya cenderung mengikuti paradigma agama-agama dunia, yang derivasinya diturunkan dari pendekatan agama Kristen terhadap agama-agama lain. Sebagaimana dibahas oleh Masuzawa (2005),[2] paradigma ini cukup bermasalah setidaknya karena tiga hal; pertama, bias Kristianitas dan kolonialisme; kedua, pembacaan biner dan asimetris antara Barat dan Timur (baik secara geografis, maupun relasi beradab-belum beradab, dan bahkan klasifikasi bahasa yang begitu rasis) dan; ketiga, pembagian antara agama yang berdasarkan wahyu (semitik-samawi) dan agama berdasarkan kebijaksanaan (nonsemitik-wisdom).

Di antara paradigma yang sering dipakai sebagai pendekatan dalam melihat agama-agama lain adalah teologi Tripolar, atau dikenal juga dengan istilah theologia religionum yang dipopulerkan oleh Alan Race, seorang teolog Gereja Anglikan dan Uskup Leicester di Inggris. Teologi ini menjadi the grammar of faith atau standar umat Kristen dalam melihat agama-agama lain. Race membagi respon teologis Kristen terhadap keragaman agama-agama ke dalam tiga tipologi, yakni; eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.[3] Tulisan ini ingin melihat bagaimana pendekatan teologi agama-agama tersebut, meskipun cukup berguna, perlu untuk dipikirkan ulang, terutama jika melihat konteks keragaman agama di Indonesia secara khusus, dan Asia Tenggara secara umum. Tulisan ini akan melihat apa saja batas-batas kelemahan dari teologi Tripolar ini dan kemudian mengajukan pendekatan Paralelisme sebagai alternatif dan pelampauan terhadap teologi tripolar tersebut.     

Teologi Agama-Agama Tripolar

Konsep dasar dari teologi tripolar ini adalah doktrin keselamatan (salvation) atau soteriologi. Adakah keselamatan bagi pemeluk agama non-Kristen? Eksklusivisme memandang bahwa tidak ada keselamatan di luar agama Kristen, sebagaimana dogma extra ecclesiam nulla sallus. Dalam bahasa yang sederhana, seseorang yang eksklusivis meyakini bahwa “tidak ada kebenaran dan keselamatan di luar agama saya.” Sementara itu, inklusivisme adalah paham yang memandang bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus. Jadi, batas dari keselamatan tidak lagi eksklusif pada agama Kristen atau Gereja saja, melainkan berfokus pada Kristus sebagai penyalur keselamatan. Seseorang yang inklusivis akan meyakini bahwa “ada kebenaran dan keselamatan di luar agama saya, tetapi berkat rahmat dari agama saya.”

Berbeda dengan dua paradigma teologi sebelumnya, pluralisme berkembang cukup belakangan sebagai respons terhadap semakin terbukanya akses untuk berjumpa dengan keragaman yang lebih luas. Pluralisme adalah paham yang membatasi keselamatan pada Allah saja, atau Tuhan Sang Pencipta, atau “Yang Ultim,” “Yang Nyata” (the Real), Wujud an sich, suatu realitas yang melampaui konsep dan pemahaman manusia. Ia bersifat tak terbatas, yang dialami secara beragam oleh manusia di berbagai tempat, budaya, dan pengalaman keagamaan. Hal ini berarti bahwa setiap sistem keagamaan memiliki konsepsi yang berbeda akan realitas “Yang Ultim” tersebut, dan kesemuanya sama-sama valid. Maka, seorang pluralis akan meyakini bahwa “kebenaran dan keselamatan hanya ada pada Tuhan sang pencipta, terserah bagaimana anda menyebut namaNya.”[4]  

Problem Teologi Agama-Agama

Semua paham atau pendekatan teologi ini, yang juga diadaptasi oleh sebagian sarjana Muslim dan sarjana studi agama-agama secara umum, masih memosisikan Tuhan sebagai batas dari keselamatan dan kebenaran (god-centered). Asumsi dasar ini akan mengeksklusi agama-agama nonteologis, seperti agama Buddha dan banyak ragam agama lokal. Faktanya, sebagaimana dibahas oleh Masuzawa dan W.C. Smith—untuk menyebut beberapa—yang terjadi selama ini dalam kesarjanaan studi agama-agama adalah adanya upaya penyeragaman konsep-konsep dan doktrin keagamaan ini. Selain itu, pendekatannya yang cenderung menekankan “doctrinal bridges” juga dapat berimplikasi berbeda pada tataran praksis. Misalnya, seseorang bisa sangat pluralis dalam pandangan, tetapi menjadi eksklusivis dalam tindakan.

Teologi agama-agama secara implisit juga mengandaikan banyak jalan pada satu tujuan yang sama sebagai “kebenaran final.” Hal ini tentu saja akan mengeksklusi beberapa ajaran agama yang tidak meyakini atau memiliki konsep eskatologi, sehingga pendekatan studi agama-agama seharusnya bisa melampaui pendekatan yang bersifat teologis dan eskatologis. Selain itu, konsep “kebenaran final” juga akan problematis ketika dihadapkan pada perbedaan tafsir dan klaim kebenaran dari dalam satu tradisi agama tertentu. Artinya, dalam satu tradisi agama saja terdapat banyak ragam kebenaran yang tidak bisa secara tegas diseragamkan.

Barangkali, penekanan terhadap ragam pengalaman keagamaan (religious diversity) lebih diutamakan daripada pendekatan yang berbasis teologi (theology of religions). Untuk itu, penting kiranya mempertimbangkan pendekatan baru dalam studi agama-agama sebagai alternatif pendekatan tanpa harus terjebak pada diskursus teologi dan eskatologi. Dalam hal ini, tulisan ini akan melihat Paralelisme sebagai pendekatan alternatif dalam melihat keragaman agama-agama.

Pendekatan Paralelisme

Paralelisme adalah pendekatan yang berfokus pada pemahaman akan kemiripan (similarities) konsep dan doktrin utama dalam tradisi agama-agama.[5] Pendekatan ini tidak membatasi diskusi pada konsep ketuhanan atau jalan yang bermuara pada satu tujuan yang sama sebagai “kebenaran final.” Selain itu, paralelisme juga menghindari pemaksaan pandangan akan satu kebenaran tunggal baik pada tradisi agama yang berbeda maupun pada satu tradisi agama yang sama. Dengan kata lain, pendekatan ini tidak berusaha menyesuaikan semua konsep dan doktrin agama-agama dalam satu pandangan dunia tertentu. Sebaliknya, seorang paralelis menyerahkan perspektif agama seseorang sesuai dengan yang dihayati oleh para pelakunya. Sehingga, hal ini menghindari potensi misinterpretasi akan doktrin-doktrin agama lain.

Salah satu pionir dari pendekatan paralelisme adalah Imtiyaz Yusuf, yang meneliti dialog antara Islam dan Buddhisme di Asia Tenggara.[6] Ia menjelaskan bahwa, kata paralelisme merujuk pada penekanan akan pentingnya mengeksplorasi kemiripan-kemiripan doktrin dalam tradisi agama yang berbeda, daripada mencari potensi penyatuan antara doktrin-doktrin tersebut. Sebagai studi kasus, ia telah mengeksplorasi konsep-konsep yang paralel antara Islam dan Buddha. Misalnya, untuk menyebut beberapa, Buddha/Arahant – Nabi/Rasul, Bodhisattva – al-Insan al-Kamil, Tathagatagarbha – Nur Muhammadi, Dharma – al-Haqq, Nirvana – Wahyu, Sunyata – Fana, Metta-Karuna – Rahma, Majjhima Pattipada – Ummatan Wasathan, Dukkha/Samsara – Kufr/Shirk, Mara – Syaitan.

Dari penelitiannya tersebut, Yusuf menyimpulkan bahwa selama ini Muslim berpikir kalau Allah adalah persona (person) sebagai reaksi terhadap Kristen yang mempersonifikasi Tuhan. Ini akibat dari perang antara kerajaan Kristen dengan Islam yang berlangsung cukup lama dan meninggalkan banyak luka. Konsep Allah yang person ini yang membuat Muslim cukup sulit untuk berdialog dengan agama Budha yang tidak memiliki konsep Tuhan. Padahal, mereka merupakan populasi mayoritas di Asia Tenggara dengan prosentase sebanyak 40/40 persen. Yusuf juga mengungkapkan bahwa, Muslim bisa berhasil hidup berdampingan dengan Budha di Jawa berkat similaritas antara Tauhid dan Sunyata, alih-alih jihad dan perang. Di dalam Tauhid, Allah tidak memiliki bentuk, begitu juga dengan Sunyata. Jika Budha meyakini bahwa ada sesuatu yang tidak terlahir dan abadi, yakni Dharma, hal ini sepadan dengan keyakinan Muslim bahwa Allah juga tidak terlahir dan abadi.[7]

Seorang paralelis lainnya, Alexander Berzin, yang oleh Yusuf disebut sebagai sarjana yang meneliti relasi antara Budha dan Islam paling detail sejauh ini, menyebut bahwa konsep adi buddha dalam masyarakat Buddhis di Indonesia—terlepas dari aspek politis dan ideologis yang mendorong lahirnya konsep tersebut—adalah padanan langsung dari konsep Tuhan yang diyakini oleh Muslim. Demikianlah, paralelisme menekankan kemiripan, dan bukan kesamaan, antara konsep dan doktrin keagamaan sebagai pendekatan dalam berdialog maupun membangun relasi antar umat beragama. Pendekatan ini tentu saja, bagi penulis, lebih sesuai dengan fakta sosiologis keragaman agama masyarakat Indonesia. Kecenderungannya dalam menghindari diskusi tentang konsep ketuhanan tentu seharusnya membuat Muslim lebih terbuka untuk berdialog dengan agama non-teologis atau agama-agama lokal di Indonesia yang begitu beragam. Oleh karena itu, penting kiranya untuk memperkenalkan pendekatan ini sebagai salah satu bahan studi dalam jurusan Studi Agama-Agama. Terlebih, belum banyak sarjana yang melakukan penelitian teoritis maupun empiris dengan menggunakan pendekatan paralelisme ini.

Catatan Penutup

Meskipun Paralelisme cukup potensial untuk dijadikan pendekatan dalam melihat agama lain, bukan berarti pendekatan ini tidak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan yang mungkin penulis ajukan sebagai kritik awal adalah belum mampunya para Paralelis melihat relasi kuasa, baik ekonomi-politik maupun wacana-ideologi, yang sangat mungkin menjadi prakondisi dari kesadaran atau pembentukan keagamaan seseorang atau masyarakat tertentu, seperti konsep adi buddha yang dibahas oleh Alexander Berzin. Di sisi lain, penting juga untuk mempertimbangkan kritik-kritik yang diajukan oleh para sarjana teologi pascakolonial mengenai hilangnya “perbedaan” (difference) dan “hibriditas” (hybrid) identitas seseorang, seperti fenomena Arabisasi Islam atau Baratisasi Kristen yang dapat kita temui dalam kehidupan keseharian. Ini mengasumsikan bahwa seseorang tidak bisa jadi Muslim dan menjadi Jawa sekaligus, misalnya. Dengan kata lain, ada simplifikasi kompleksitas identitas manusia.

Di samping itu, perlu juga kiranya bagi kita untuk tidak terjebak pada politik identitas saja, atau membahas perbedaan pada aspek identitas saja, misal, antara Muslim-Kristen, Jawa-Sumatra, pribumi-nonpribumi dan seterusnya. Selain fokus ini berpotensi untuk meliyankan (othering) identitas seseorang, penting juga untuk tidak mengabaikan analisis ketimpangan kelas sosial yang pada saat yang sama turut membentuk perbedaan identitas tersebut. [MFR]


[1] Lihat misalnya, Suhadi, “Dari Perbandingan Agama ke Studi Agama yang Terlibat,” dalam Studi Agama di Indonesia; Refleksi dan Pengalaman, Yogyakarta: CRCS, 2016, 1-14. Atau, Wijsen, F. J. S. “Theology as Religious Studies: A Plea for Methodological Conversion.” Mugambi, JNK (ed.), Endless Quest. The Vocation of an African Christian Theologian, 2014, 290-302.

[2] Masuzawa, Tomoko. The Invention of World Religions: Or, How European Universalism was Preserved in The Language of Pluralism. University of Chicago Press, 2005.

[3] Lihat Race, Alan. Christians and Religious Pluralism: Patterns in the Christian Theology of Religions. London: SCM Press, 1983. Dalam diskursus teologi agama-agama belakangan, ada beberapa alternatif pendekatan yang mencoba untuk keluar dari teologi tripolar ini, misalnya mutualisme dan partikularisme. Paul Knitter, seorang teolog Kristen kontemporer, juga telah meninggalkan teologi tripolar ini, dan memilih untuk memakai konsep baru yang ia bagi menjadi empat model; replacement, fullfilment, mutuality, dan acceptance. Lihat dalam bukunya; Knitter, Paul F. Introducing Theologies of Religion. Orbis Books, 2014. Lihat juga diskusi menarik tentang teologi tripolar ini oleh beberapa sarjana Kristen dalam Theovlogy #156: Pluralisme, Inklusivisme, Eksklusivisme, Relevankah?

[4] Konsep inklusivisme dan pluralisme sendiri cukup beragam, meski titik berangkatnya juga dimulai dari teologi ini.

[5] Untuk pembahasan paralelisme sebagai pendekatan secara khusus, baca: Obuse, Kieko. “Finding God in Buddhism: A New Trend in Contemporary Buddhist Approaches to Islam.” Numen 62.4 (2015): 408-430; dan Obuse, Kieko. “Theology of Religions in the Context of Buddhist-Muslims Relations,” dalam Yusuf. Imtiyaz (ed.), Asean Religious Pluralism: The Challenges of Building Socio-Cultural Community. Konrad-Adenaur-Stiftung-Thailand Office, 72-85.

[6] Penulis sempat berdiskusi dan membahas konsep paralelisme bersama Imtiyaz Yusuf selama mengikuti kuliah Advanced Study of Buddhism di CRCS, 2017 lalu. Untuk melihat salah satu tulisan beliau yang membahas paralelisme Islam dan Budha, baca di Yusuf, Imtiyaz. “Islam and Buddhism,” dalam Cornille, C. (ed). The Wiley-Blackwell Companion to Inter-Religious Dialogue, 2013, 360-375.

[7] Lihat juga wawancara Imtiyaz Yusuf dengan CRCS di https://crcs.ugm.ac.id/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-1/

Berpikir Komputasi dalam Beragama

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama.

—- Lucky Eno Marchelin

Permasalahan yang dihadapi manusia di era globalisasi dan digitalisasi saat ini semakin kompleks sehingga mengharuskan setiap orang meningkatkan kemampuan dirinya. Menurut Dede (2010), kemampuan tersebut meliputi pemecahan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, dan lain sebagainya. TOKI (2017) menambahkan bahwa seseorang harus menguasai keterampilan berpikir, content knowledge, dan kompetensi sosial dan emosional dalam menghadapi Abad ke-21.

Masalahnya adalah apakah manusia Indonesia mampu mengarungi Abad ke-21? PISA (Program for International Student Assessment) pada 2018 melaporkan bahwa siswa usia 15 tahun (setara SMP) di Indonesia menduduki peringkat ke 72 dari 77 negara dalam kemampuan membaca dan peringkat 72 dari 78 negara dalam kemampuan sains dan matematik. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih tergolong rendah padahal tuntutan atas memecahkan masalah semakin tinggi. Salah satu teknik pemecahan masalah yang luas penerapannya adalah berpikir komputasi atau computational thinking (CT).

Berpikir komputasi (CT) menurut Malik, dkk (20218) bukan berarti berpikir seperti komputer, tetapi berpikir untuk merumuskan masalah dalam bentuk masalah komputasi, menyusun langkah penyelesauan yang baik (algoritma) atau menjelaskan alasan apabila tidak ditemukan solusi yang sesuai. TOKI (2018) merangkum indikator kemampuan berpikir komputasi meliputi dekomposisi, abstraksi, algoritma, dan pola.

Dekomposisi diartikan sebagai kemampuan memecah masalah yang kompleks menjadi masalah yang lebih kecil dan rinci. Misalnya, “kopi susu” yang dipecah berdasarkan komponennya yaitu kopi, gula, susu, dan air panas. Abstraksi adalah kemampuan untuk menyeleksi informasi mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah yang serupa. Algoritma adalah kemampuan menyusun langkah-langkah yang terstruktur dalan efisien dalam penyelesaian masalah. Pola adalah kemampuan untuk mengenali permasalahan yang sama pada kasus yang berbeda.

Permasalahan komputasi yang cukup terkenal diilustrasikan dalam kisah petani, sayuran, kambing, dan srigala: Pada suatu hari, terdapat seorang petani yang memiliki seekor kambing dan srigala. Pada saat itu, ia baru saja memanen sayurannya. Petani tersebut hendak menjual sayuran, kambing, dan srigala ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus menyeberangi sungai menggunakan perahu. Permasalahannya adalah, perahu yang tersedia hanya satu yang dapat memuat paling banyak dua penumpang (petani dan salah satu dari sayuran, kambing, dan srigala). Apabila sayuran, kambing, dan srigala ditinggal oleh petani, maka kambing akan memakan sayuran, dan serigala akan memakan kambing. Bagaimana cara supaya petani, sayuran, kambing, dan srigala dapat menyebrangi sungai dengan selamat?

Berpikir komputasi menuntut seseorang untuk berpikir kritis, logis, dan efektif. Nugraha dkk. (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan sikap toleransi beragama. Melimpahnya informasi di media sosial, khususnya informasi yang berkaitan dengan agama dan beragama mengharuskan seseorang untuk menerapkan CT. Kemampuan berpikir inilah yang akan menentukan sikap dan perilaku seseorang dalam beragama.

CT sendiri bukan merupakan hal baru, diperkenalkan pertama kali pada 1996 oleh Seymour Papert dan dipopulerkan oleh Jeanette Wing pada 2006 (Dagiene dan Setance, 2016). Di Indonesia, berpikir komputasi dipopulerkan oleh Prof. Inggriana Liem. Penerapan CT sangat luas lingkupnya, termasuk dalam beragama. Contoh sederhana penerapan CT dalam beragama, misalnya, bagaimana  membuat bak mandi sesuai kaidah supaya air tetap suci di lahan yang terbatas. Atau bagaimana cara membagi zakat supaya tepat sasaran di lingkungan yang hampir semua warganya menengah ke atas, atau bagaimana bank syariah menjalankan usahanya supaya mendapat keuntungan maksimal.[MFR]

Bincang Santai tentang Yahudi di Indonesia

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama besar di dunia yang memiliki garis geneologis yang sama, yaitu Nabi Ibrahim. Makanya, ketika agama ini seringkali disebut sebagai agama Ibrahimik. Ketiga agama besar ini memiliki landasan teologis yang sama, yaitu monoteisme sekalipun memiliki kekhasan pada aspek penerapan. Sekalipun bersaudara, sejarah mencatat bahwa hubungan ketiga agama ini penuh dengan dinamika, mulai dari dialog hingga konflik. Bahkan, sejumlah konflik yang melibatkan tiga agama ini berujung pada hilangnya ribuan nyawa manusia baik karena klaim kebenaran masing-masing ataupun karena faktor eksternal semisal politik.

Di Indonesia, hubungan Yahudi dan Islam juga mengalami pasang surut. Sekalipun Yahudi di Indonesia termasuk minoritas dan dianut oleh sejumlah kecil orang Indonesia, isu Yahudi kerap menyeruak dalam setiap kontestasi yang melibatkan agama. Istilah-istilah seperti ‘konspirasi Yahudi’ dan ‘Yahudi Musuh Islam’, misalnya, kerap menghiasi wacana di Indonesia baik di dunia nyata maupun dunia maya. Selain isu-isu teologis, konflik Palestina-Israel juga seolah-seolah semakin melanggengkan narasi besar bahwa orang Yahudi dan Muslim itu sulit akur dan selalu saling curiga. Tidak heran jika di Indonesia jarang sekali dialog atau kerjasama lintas agama yang melibatkan dua agama ini.

Acara stadium generale ini dilaksanakan dengan tajuk “Yahudi di Indonesia”, dengan pembicara Rabbi Yakuv Baruch, berlangsung pada Selasa (15/12/2020) secara daring melalui Google Meeting.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri maupun luar dan masyarakat umum.

Rabbi Yakuv Baruch memulai presentasi dengan memaparkan sejarah kedatangan Yahudi di Indonesia, sebelum, selama, pascakemerdekaan RI. Setelah itu, dia menjelaskan pengetahuan umum tentang Yahudi, mulai dari doktrin keagamaan hingga ritual, khususnya di Indonesia.

Sesi tanya-jawab berlangsung intens antara peserta dan nara sumber. Isu-isu tentang Israel, hubungan Yahudi dengan Islam dan Kristen mengemuka. Antusiasme peserta membuat acara ini berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan karena banyak pertanyaan yang muncul. Acara serupa dianjurkan untuk dilakukan di masa-masa yang akan datang.

Kuliah Tamu: Semesta Simbol Yoga

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam dunia saat ini, Yoga tidak hanya menjadi media untuk menumbuhkan spiritualitas tapi juga sarat dengan kepentingan ekonomi. Suburnya pusat-pusat meditasi dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan dengan melakukan komodifakasi terhadap simbol-simbol Yoga yang bertebaran di media sosial maupun iklan-iklan. Kuliah tamu ini dimaksudkan untuk mengenalkan mahasiswa terhadap simbol-simbol utama dalam Yoga dan bagaimana ia beririsan dengan kepentingan ekonomi.

Acara kuliah tamu ini dilaksanakan dengan tajuk Semesta Simbol dalam Yoga: Spiritualitas dan Konsumerisme” dengan pembicara Yuddhi Widdyantoro dan berlangsung secara online pada Senin (07/12/2020).

Yudhi Widyantoro menjelaskan simbol-simbol utama dalam Yoga melalui slide presentasi. Simbol-simbol Yoga dilihat dari perspektif teori analisis wacana Roland Barthens. Setelah itu, nara sumber memaparkan bentuk-bentuk komodifikasi simbol Yoga oleh sejumlah pusat meditasi Yoga di perkotaan. Acara ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri dan umum, terutama mahasiswa.

SAA IAIN Kediri Jadi Mitra Festival Kebinekaan Virtual ke-4

Salam Bhineka !

SAA IAIN Kediri dengan bangga berpartisipasi sebagai mitra dalam perhelatan Festival Kebhinekaan ke-4 tahun ini.

Festival Kebhinekaan kembali hadir lagi, dan merespon kondisi pandemik saat ini maka  semua rangkaian acara tahun ini hadir dalam format Virtual di Zoom Meeting dan Live Streaming via Youtube. 

Festival Kebhinekaan bertujuan untuk Memperkuat Toleransi Lintas Iman dan Merayakan Kebhinekaan Indonesia, dengan target spesifik kepada generasi muda dan Millenial, dengan diisi ragam acara yang dikemas secara kreatif dan rileks. 

Seperti tahun tahun sebelumnya, Festival Kebhinekaan kali ini akan tetap diisi dengan Inspiring Talks, Millenial Talks tentang Agama Agama dari sudut pandang Anak Muda, Pemutaran Film dan Diskusi, Wisata Bhineka / Tur Virtual Rumah Ibadah Lintas Agama, Tur Virtual Untuk Anak dan Disabilitas , Pameran Foto, Yoga dan Meditasi, yang kesemuanya kini dikemas dalam konsep Virtual.

Yang baru di tahun ini, akan diadakan juga Virtual Show Wayang Potehi dan Virtual Sale Pasar Rakyat Lasem. Di sesi pembukaan, akan ada Spesial Talk oleh Agustinus Wibowo (Memaknai Tanah Air) , seorang Penulis Best Seller Nasional yang juga banyak diundang di forum internasional. 

Semua rangkaian acara terbuka untuk umum dan GRATIS, silahkan register langsung di link  mampir.in/fesbin4 . Untuk kehadiran di sesi zoom tersedia fasilitas E-sertifikat, namun kehadiran di sesi zoom dibatasi maksimal 100 orang per sesinya.  Jadi silahkan datang tepat waktu di tiap sesi, atau semua sesi juga bisa disaksikan live streaming via Youtube Festival Kebhinekaan. 

Informasi lebih lanjut, sila kunjungi http://www.festivalkebhinekaan.com/2021/02/rundown-festival-kebhinekaan-4-virtual.html?m=1

Kesaksian Sahabat

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

—- Dr. Sardjuningsih, M.Ag.

Kepergian Pak Shobir untuk selama-lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam tidak hanya buat keluarga, tapi juga rekan maupun mahasiswa beliau. Berikut adalah kesaksian Dr. Sardjuningsih, sahabat sewaktu mahasiswa sekaligus kolega beliau di IAIN Kediri.  

Sejak awal menjadi mahasiswa Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya  pada 1979, Pak Shobir sudah  menunjukkan  kualitas yang luar biasa, melebihi  kompetensi seangkatannya.  Awal menjadi mahasiswa, beliau sudah  diangkat menjadi dosen honorer di Laboratorium Bahasa  IAIN untuk mengajar bahasa Arab. Kemampuan bahasa asing beliau  (Arab dan Inggris ) memang mengagumkan. Semua tahu beliau adalah santri dari Pondok Modern Gontor.  Sebagai mahasiswa baru, beliau sudah dibebaskan atau tidak dibebani untuk mengikuti mata kuliah wajib bahasa Arab dan Inggris.  Sebagai informasi, semua mahasiswa wajib lulus kuliah bahasa asing di IAIN, mulai dari tingkat elementary hingga  intermediate. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Muda.

Keterampilan Pak Shobir sewaktu menjadi mahasiswa dituangkan dalam Buletin Mingguan Mahasiswa Ushuluddin bernama Empirisma (kebetulan saja sama dengan nama Jurnal Prodi SAA ) yang kehadirannya selalu ditunggu -tunggu mahasiswa setiap minggu ke-2 dan ke-4. Beliau aktif mencari penulis yang mau mem-publish tulisannya. Beliau membeli mesin ketik dari uang sendiri untuk kepentingan organisasi intrakampus dan menyalin tulisan tangan dari si penulis.  Saat itu, fakultas tidak menyediakan mesin ketik khusus bagi organisasi intrakampus karena dampak larangan politik masuk kampus yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Saat itu, kegiatan kemahasiswaan banyak yang diamputasi.  Zaman itu juga belum banyak mahasiswa yang mampu membeli mesin ketik sehingga karya ilmiah seperti Risalah maupun skripsi selalu diketikkan kepada seorang juru ketik.  

Kualitas akademik Pak Shobir  juga luar biasa. Beliau lulus Sarjana Muda (BA)  dan Sarjana Lengkap (Drs.) paling  cepat. Beliau mendapat beasiswa karena nilai akademiknya di atas rata-rata. Semua dosen di Fakultas Ushuluddin  mengakui  kelebihan yang beliau miliki, sehingga dosen pun segan pada beliau.  Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para dosen saya yang lain di Ushuluddin, bisa dibilang kecerdasan beliau melebihi rata-rata dosen beliau . Secara pemikiran, beliau berprinsip bahwa kebenaran agama berada di atas kebenaran ilmu pengetahuan karena bagi beliau manusia tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran hakiki. 

Di samping dalam bidang bahasa dan akademik, Pak Shobir juga  memimiliki leadership yang sangat bagus.  Kemampuan orasi beliau memukau dan selalu mampu membuat terpana audiens. Sebagai aktifis organisasi intra dan ekstrakampus, beliau sangat disegani.  Tak heran, berkat kemampuan kepemimpinannya, beliau didaulat untuk mengetuai sejumlah organisasi di Kabupaten dan  Kota Madya Kediri, dan membuat beliau sangat dikenal oleh masyarakat hingga akhir hayat. 

Sebagai seorang pemimpin, beliau adalah sosok yang sangat mengayomi, sabar, ikhlas, rendah hati, dan amanah.  Beliau juga pandai merangkul  kelompok yang berbeda, sehingga beliau berterima di semua kalangan. Beliau juga sangat baik dalam menjaga lisannya. Selama  menjadi temannya, saya belum pernah mendengar ada orang yang  tersakiti  dengan kata–kata maupun tindakan beliau. Beliau sangat menghargai orang lain tanpa memandang usia.  Kami menghormati beliau  bukan hanya sebagai senior, tetapi juga sebagai  seorang intelektual, ulama, kiai, ustaz, dan dosen yang patut diteladani.

Selama berkuliah di Surabaya, beliau tinggal di PP. Darul Arqam, sebuah pondok kecil di belakang kampus, yang sering kebanjiran. Beliau  menjadi pengurus sekaligus ustaz di  pondok tersebut.  Bisa dibilang  adalah sosok berkharisma di lingkungannya.   Beliau menjadi panutan teman-teman beliau baik di pondok maupun di kampus. Dalam setiap riset kelompok, beliau biasanya diminta untuk menentukan lokasi, merumuskan topik,  dan selalu menjadi tumpuan dalam merumuskan hasil riset. Teman-teman beliau banyak sekali   karena beliau pribadi yang sangat ramah, terbuka, dan senang bersilaturahim.

Sejak mahasiswa, beliau sudah hobi membaca dan  mengoleksi buku–buku agama, terutama tentang Perbandingan Agama  dan Filsafat. Beliau mengidolakan seorang dosen filsafat, Drs. Lantip, insya Allah sampai sekarang masih sugeng. Beliau tidak hanya mengagumi pemikiran dosen beliau tersebut, tetapi juga keserhanaan hidup dan kerendahan hatinya. Mungkin inilah salah satu yang turut membentuk pribadi Pak Shobir.  Koleksi buku beliau sering menjadi jujukan teman-teman mahasiswa tatkala membutuhkan buku  untuk referensi  untuk menulis.

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

Allaahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Syurga Allah buatmu guru!