The Intellectual Seducer dan Pelecehan Seksual di Kampus

Para civitas akademika tak boleh berpangku tangan dan membiarkan kasus pelecehan seksual menjadi kanker yang mengubah kampus menjadi tempat angker. Bantu dan dampingi para korban, lebih dengarkan suara mereka ketimbang para intelektual yang lebih terlatih untuk membual.

—-Khoirul Anam

Hingga saat ini, pelecehan seksual di lingkungan kampus masih menjadi tema yang kurang mendapat perhatian serius. Para pelaku pelecehan masih kerap mendapat perlindungan dari sejumlah pihak yang terus menyangkal dan lebih mementingkan nama baik ketimbang nasib korban yang tercabik. Kampus semestinya memang menjadi tempat aman yang mampu membebaskan mahasiswa dari kekhawatiran akan masa depan, tetapi sayangnya, tempat yang sakral ini justru tidak benar-benar bisa lepas dari kasus pelecehan seksual.

LBH Yogyakarta dalam “Kekerasan Seksual dalam Institusi Pendidikan” menyebut pelecehan seksual di lingkungan kampus sebagai “rahasia umum yang sengaja dilupakan oleh sebagian besar pihak di dalamnya.” Salah satu sebabnya, pelecehan seksual di lingkungan kampus melibatkan faktor yang lebih dari sekadar pelampiasan birahi, tetapi juga –dan ini yang sangat menyebalkan—relasi kuasa antara pelaku dan korban pelecehan. Para pelaku kerap menggunakan posisinya yang lebih tinggi (seperti dosen) untuk membungkam suara korban (terutama mahasiswi). Karenanya tak heran, banyak kasus pelecehan yang tak terlaporkan. Di beberapa kasus, teror kerap dialami oleh korban ataupun pendamping agar kasus tak diungkapkan. Hal ini tentu menambah panjang catatan suram penanganan kekerasan seksual di dunia pendidikan.

The Intellectual Seducer

Dzeich dan Weiner (1990) menjelaskan ada banyak jenis kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, salah satunya –dan ini yang khas pada kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan—adalah the intellectual seducer, yakni penyalahgunaan kemampuan intelektual untuk mengelabuhi calon korban sebelum akhirnya dilecehkan. Modus yang umum digunakan adalah, para pelaku pelecehan menggunakan daya tarik intelektualnya untuk menjebak para korban. Mereka membangun jebakan dalam bentuk relasi kuasa yang tak akan mudah dihindari oleh para korban, akhirnya, setelah pelecehan terjadi, korban tetap lebih sering tak bisa lepas dari jeratan ini.

Pihak kampus juga cenderung memberi perlindungan dengan lebih memihak kepada aktor intelektual mereka; suara para intelektual ini lebih didengar kampus ketimbang jeritan para korban pelecehan. Hal ini tampak misalnya dalam penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus yang dilakukan oleh IM ketika dirinya masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus keagamaan di Yogyakarta. Salah satu penyintas, sebagaimana dilaporkan Tirto dalam “Dugaan Kasus Kekerasan Seksual: Di Balik Citra Baik”, menyatakan, “Waktu kejadian, saya cuma mikir, pasti orang-orang lebih percaya dia walaupun dia cuma sekali bilang ‘tidak’ dan saya menceritakan kasus itu berkali-kali. Pikiran itu ada di kepala saya lama sekali,” ujarnya.

Laporan yang dikumpulkan oleh LBH Yogyakarta menyebut beberapa korban pelecehan adalah mantan fans pelaku karena yang bersangkutan sangat populer di kampus. Ia dikenal cukup berprestasi dan tampak saleh. Saat kasus ini diusut pun, IM masih kerap memamerkan aktivitas intelektualnya; ia diundang untuk mengisi berbagai kajian keagamaan dan sudah bergelar ustaz.

Maka pantas saja para korban merasa ragu untuk melaporkan kasus yang menimpanya; suara mereka tak akan didengar, mereka pun tak akan mendapat perlindungan. Bahkan bukan tak mungkin, para korban justru dirundung serangan balik dan stigma. “Halah, fitnah aja itu. Astgahfirullah” atau “Paling memang kamu yang menggoda, iya, kan?”

Payung Hukum

Catatan-catatan penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus menyebut banyak korban yang enggan melaporkan kasus yang menimpa mereka lantaran tak yakin kasus mereka mendapat penanganan yang semestinya. Hal ini diperparah dengan fakta banyaknya kampus yang tak memiliki aturan khusus mengenai penanganan pelecehan seksual. Kalaupun ada, aturan itu hanya sebatas panduan etik civitas akademik, bukan penanganan kasus yang pelik.

Jika kasus pelecehan seksual ini menimpa perempuan, aturan yang kerap digunakan adalah Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014 yang merupakan perubahan atas UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002, tetapi –sebagaimana namanya—undang-undang ini hanya ditujukan untuk perlindungan anak, yakni mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun, karenanya jika korban pelecehan seksual adalah mahasiswi yang berusia 18 tahun ke atas, mereka tak memiliki perlindungan hukum yang jelas.

Mendikbudristek Nadiem Makarim yang sejak tahun lalu menyebut pelecehan seksual sebagai satu dari tiga dosa besar di dunia pendidikan –dua lainnya adalah intoleransi dan perundungan—, nyatanya belum juga menelurkan regulasi resmi yang mengatur soal pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di perguruan tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hanya memberi keterangan bahwa pihaknya telah selesai melakukan harmonisasi beberapa peraturan yang nantinya akan diundangkan, salah satunya tentang pencegahan kekerasan seksual.

Sambil menunggu peraturan di atas diundang-undangkan, para civitas akademika tentu tak boleh berpangku tangan dan membiarkan kasus pelecehan seksual menjadi kanker yang mengubah kampus menjadi tempat angker. Bantu dan dampingi para korban, lebih dengarkan suara mereka ketimbang para intelektual yang lebih terlatih untuk membual. Kita semua tentu tak ingin kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi hanya berakhir di meja mediasi, tanpa ada sanksi yang berarti. Jika terus dibiarkan, pelaku pelecehan akan terus berkeliaran sementara korban harus menanggung trauma dan kehancuran, entah sampai kapan.[MFR]

HAM dalam Bingkai Fikih yang Berkeadilan, Humanis, dan Advokatif

A. Deskripsi

Dalam konteks pluralisme hukum di Indonesia, fikih menjadi salah satu rujukan bagi penyelesaian berbagai persoalan sosial-keagamaan di kalangan Muslim. Para perantara hukum (legal brokers)—mulai dari hakim di PA, penghulu dan penyuluh di KUA hingga tokoh agama di masjid dan musala—menjadikan fikih sebagai salah satu pijakan dalam memberikan putusan, fatwa, atau nasihat hukum. Di tengah realitas sosial-keagamaan yang bergerak dinamis dan memunculkan persoalan-persoalan hukum baru, para perantara hukum ini kerap dihadapkan pada hubungan ‘tak mesra’ antara fikih dan realitas kontemporer. Hukum-hukum fikih tradisional dianggap tak lagi bisa memberi jawaban yang memuaskan bagi problem keumatan kontemporer, termasuk dalam isu HAM.   

Perdebatan mengenai kompatibilitas antara HAM dan Islam (fikih) mewarnai diskursus baik di kalangan elit maupun awam. Kontestasi antara universalitas vs relativitas HAM memicu beragam respons, dari yang ‘konservatif’, ‘liberal’, hingga ‘pragmatis atau moderat’. Kubu pertama menolak HAM karena dianggap tidak sejalan dengan Islam, bahkan bagian dari ‘agenda’ Barat untuk menundukkan Islam. Kubu kedua menilai HAM sebagai upaya manusia modern untuk mengatasi persoalan kekinian; dengan demikian, konsep-konsep tradisional fikih sudah tidak memadai lagi sehingga perlu direkonstruksi ulang. Kubu ketiga mencari ‘jalan tengah’ dengan menerima HAM tanpa meninggalkan fikih; kubu ini memilih setia pada fikih tapi melakukan perubahan signifikan agar lebih selaras dengan HAM (Hudaeri, 2007).

Dari tiga respons di atas, corak ketiga lebih berterima di kalangan mayoritas Muslim Indonesia. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari berbagai pembaharuan hukum Islam yang digelorakan oleh sejumlah ahli fikih Indonesia, misalnya Hasby Ash-Shiddy, Hazairin, Sahal Mahfudz, atau Ali Yafie. Peraturan perundang-undangan (KHI, misalnya) terkait muslim di Indonesia, seperti pembatasan poligami, pelarangan hak ijbar wali, penetapan batas usia nikah, juga mencerminkan corak respons ini. Meskipun tidak seratus persen mengadopsi ketentuan HAM internasional, upaya ini setidaknya memberikan ‘angin segar’ bagi pemberlakuan hukum-hukum fikih yang semakin dekat pada prinsip-prinsip universal HAM, terlepas dengan segala pro dan kontra yang ada.   

‘Harmonisasi’ antara fikih dan prinsip-prinsip HAM tidak dilihat dari sudut pandang mana yang lebih autoritatif, mana yang harus tunduk, apalagi sebagai upaya membenturkan keduanya. Sebaliknya, inisiatif ini diletakkan dalam konteks penegakan hak-hak asasi manusia melalui pembaharuan yang tetap bertumpu pada konsep-konsep fikih konvensional (indoctrinal reform) yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan kebanyakan muslim di Indonesia. Melalui upaya ini, diharapkan hak-hak asasi manusia bisa lebih berterima melalui bahasa-bahasa yang sudah diakrabi dan dipahami oleh masyarakat awam. Bagaimanapun, seperti kata Jasser Auda, yang terpenting dari wacana kompatibilitas HAM dan fikih adalah kesejahteraan atau terpenuhinya hajat hidup masyarakat, bukan soal apakah keduanya selaras atau tidak.

Program ini merupakan bagian dari kerja sama SPs. UIN Sunan Kalijaga – Norwegian Center for Human Rigths (UNHCR), Oslo Coalition, Norwegia yang sudah berlangsung sejak 2013. Program ini berfokus pada adukasi publik, khususnya penghulu/penyuluh KUA, tentang pentingnya pembelaan dan penegakan hak-hak masyarakat rentan dalam isu-isu seperti hak-hak minoritas, keberagamaan, gender, dan isu-isu keluarga. Inisiatif ini berawal dari desakan akan pentingnya para penghulu/penyuluh di KUA maupun hakim PA memiliki bacaan praktis tentang nilai-nilai HAM yang digali dari khazanah fikih klasik. Diharapkan bacaan ini bisa memperkuat peran mereka dalam memberikan solusi hukum yang lebih berkeadilan, humanis, dan advokatif.  

B. Subtema Tulisan

Kami mengundang akademisi, praktisi, dan publik secara luas untuk turut berkontribusi pada buku dengan mengirimkan tulisan-tulisan terbaik tentang isu-isu HAM dan fikih yang terkait langsung dengan problem sosial-keagamaan di tengah masyarakat, khususnya dalam lingkup KUA. Topik tulisan mencakup:

  1. Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB);
  2. Hak-hak kaum minoritas
  3. Hak-hak perempuan dan penghapusan kekerasan seksual;
  4. Penegakan dan perlindungan hak anak;
  5. Pernikahan dan perceraian;
  6. Moderasi beragama dan radikalisme agama
  7. Topik-topik lain yang terkait.

C. Ketentuan Tulisan

  1. Hasil penelitian lapangan; studi literatur; studi dokumen atau yurisprudensi putusan hakim PA.
  2. Belum pernah diterbitkan baik dalam bentuk artikel jurnal atau buku;
  3. Memiliki kesesuaian dengan isu-isu spesifik dan praktis sesuai tema yang ditentukan;
  4. Mencerminkan perspektif HAM dan fikih klasik;
  5. Memiliki kesesuaian dengan sasaran pembaca: penyuluh/penghulu KUA, hakim di PA, dan publik umum;
  6. Dikemas dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, lugas, mudah dipahami, argumentatif, sesuai dengan tema yang ditentukan, dan bebas dari unsur plagiarisme;
  7. Berkisar 7.000-10.000 kata; Time-New Roman 12pt; spasi 1,5; disertai catatan kaki dan daftar pustaka.

D. Jadwal dan Seleksi

  1. Pengiriman abstrak: 01 sd. 15 September 2021
  2. Seleksi dan penentuan abstrak terpilih: 16-20 September 2021
  3. Penulisan dan penyerahan naskah utuh:  30 Oktober 2021

E. Hak dan Kewajiban Penulis

  1. Mendapatkan honorarium baik sebagai penulis maupun keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan program;
  2. Mendapatkan buku terbitan ber-ISBN baik dalam bentuk hardcopy (10 ekslempar) dan softcopy;
  3. Bersedia mengikuti FGD terkait penulisan dan terlibat dalam rangkaian kegiatan program baik sebagai peserta maupun nara sumber;
  4. Bersedia merevisi naskah tulisan sesuai masukan dari tim editor.

F. Pengiriman Abstrak

Abstrak dikirim melalui alamat email: melalui maufur@iainkediri.ac.id dengan cc: nina.noor@uin-suka.ac.id.

G. Nara Hubung

  1. Maufur                 WA: 0857-1579-4385
  2. Nina M. Noor       WA: 0813-2576-5410

Laskar Pengung

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut

—Heru Harjo Utomo

Dalam khazanah budaya Jawa, orang radikal cukup disebut sebagai “pengung.” Setidaknya, hal itu terekam dalam Serat Wedhatama yang mengawali kupasan sufistiknya dengan pemblejetan karakteristik radikalisme yang saat serat itu ditulis sudah mewabah di Jawa. Secara harfiah, “pengung” bermakna “goblok.” Orang dikategorikan sebagai “goblok” adalah ketika otaknya memang tak pernah dipakai. Jadi, radikalisme, dalam hal ini, memang identik dengan satwa yang bertindak semata karena menuruti insting (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut (Agama Sipil dan Sesat Pikir “NKRI Bersyariah”, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.id). Yang terkini, “laskar pengung” tersebut kembali memamerkan kegoblokan akutnya dengan tudung isu Palestina yang menurut mereka dapat diselesaikan dengan jihad dan khilafah. Siapa pun pasti terkekeh dan barangkali cukup berucap sinis seperti Kyai Semar ke Bathari Durga dan para bajingannya, “Wis wani wirang?”

Sebagaimana yang kita tahu, khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang menolak nasionalisme dan demokrasi. Sedangkan permasalahan mendasar Palestina adalah keinginan untuk mutlak diakui sebagai sebuah negara dan bangsa dengan batas-batasnya yang jelas. Karena itu, jelas isu-isu seperti ini memang permainan dari “laskar pengung” yang di Indonesia memang sudah berunjuk gigi dalam hal kegoblokan sejak 2014 (Politik Penyingkapan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Sebagaimana pula yang sudah banyak terjadi sejak 2014, “laskar pengung” semacam ini hanya akan menjelma opera sabun belaka. Mau bertingkah seperti apapun, mulai dari isu-isu yang berbingkai agama maupun politik praktis, pilkada dan pilpres, hasilnya tetap tak berubah karena struktur dan pola pergerakannya juga tak berubah: kegoblokan yang akut. Kita tak pernah tahu keseharian orang-orang seperti itu kecuali di media-media sosial. Di balik kesalehannya yang berapi-api, kehidupan mereka sebenarnya sangat bertolak-belakang (Hikayat Binatang Beragama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.net). Ketika tak punya kawan atau tetangga, apa yang biasanya dilakukan orang untuk mengisi kesepiannya? Omong-besar yang tak masuk akal alias umuk dan mencari musuh.

Si pengung nora nglegewa
Sang sayarda denira cacariwis
Ngandhar-andhar angendhukur
Kandhane nora kaprah
Saya elok alangka longkanipun
Si wasis waskitha ngalah
Ngalingi marang si pinging

[Si goblok yang tak sadar
Semakin berkobar dalam berkoar
Sungguh liar kesasar
Segala ujarnya ambyar
Semakin menonjol ketololannya
Si pintar yang jeli mengalah
Menutupi kegoblokan si goblok]

Gerakan-gerakan radikal yang massif dalam hal umuk dan bikin kekisruhan sejak 2014 semacam ini sebenarnya sudah kandheg di Indonesia. Ibarat bajingan yang sudah dalam posisi terdodong, mereka tinggal menanti kesungguhan komitmen kita pada kebhinekaan, Pancasila, dan UUD 1945, dibiarkan bermasturbasi ria membikin kekisruhan atau dieksekusi. Demi kehidupan produktif para anak-cucu di masa mendatang, rasanya opsi terakhir memang sudah semestinya ditempuh. [MFR]

Corona dan Hantu Ta’un dalam Imajinasi Kultural Madura

Konon, hantu ta’un menghampiri rumah-rumah; mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama korbannya di malam buta. Orang-orang tua menasehati agar jangan sekali-kali menyahuti panggilan itu jika besoknya tak mau mati.

—- Achmad Bahrur Rozi

Saya tidak tahu persis kapan kisah ta’un ini bermula, sehingga sangat menakutkan bagi orang Madura. Yang jelas sejak berhembus isu tentang ta’un masyarakat di desa saya mulai resah. Sejak pengumuman kematian melalui toa di masjid-masjid semakin sering, ibu-ibu di desa saya mulai sibuk membuat ketupat dan serabi sejumlah anggota keluarganya.

Konon, ta’un menghampiri rumah mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama korbannya di malam buta. Orang-orang tua menasehati agar jangan sekali-kali menyahuti panggilan itu jika besoknya tak mau mati. Begitu konon cara kerja ta’un. Ini cerita yang berkembang di kampung dan desa saya. Mungkin saja di daerah lain ceritanya berbeda.

Ta’un (tha’un) sesungguhnya bahasa agama. Setidak-tidaknya termenologi tersebut telah diabadikan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dala kitab Badzlul Maun Fi Fadhlil Thaun. Kitab ini membahas tentang wabah penyakit, termasuk wabah ta’un di dalamnya.

Pembahasan Ibnu Hajar perihal wabah dan ta’un sesungguhnya dalam konteks yang sangat saintifik. Dia mendasarkan analisisnya pada pendapat para ulama ahli bahasa maupun kedokteran, semisal al-Khalil (pengarang kitab An-Nihayah), Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Abul Walid al-Baji, al-Mutawalli, al-Ghazali, dan Ibnu Sina.

Menurutnya, ta’un itu lebih khusus ketimbang wabah. Ta’un adalah pandemi karena bisa menimpa dan menulari begitu banyak orang. Tak pandang jenis kelamin, usia, kebangsaan, atau agama dalam suatu wilayah atau bahkan meluas ke banyak wilayah. Sementara wabah merujuk pada penyakit menular itu sendiri. Intinya, setiap ta’un adalah wabah, tapi tidak sebaliknya.

Tetapi ta’un yang berkembang dalam imajinasi kultural orang Madura memiliki narasi yang, khas, unik, dan bernuansa magis. Dalam imajinasi saya, berdasarkan cerita-cerita orang tua yang diwariskan turun-temurun, ta’un tak ubahnya seperti mahluk pencabut nyawa yang bergentayangan di malam hari. Si korban lalu mati pagi harinya tanpa sebab dan penjelasan apapun, kecuali dimangsa ta’un itu sendiri.

Betapa melekatnya kisah ta’un versi lokal ini dalam benak dan imajinasi orang Madura; mereka bahkan tidak percaya jika angka kematian yang meningkat tidak wajar akhir-kahir ini adalah akibat tertular Cobid-19. Mereka hanya percaya ta’un, lebih-lebih ketika kabar tentang ta’un itu disampaikan oleh ulama dan kiai berpengaruh.

Ini menjadi satu indikasi bahwa dalam masyarakat Madura kesenjangan antara bahasa agama dan bahasa sains masih sangat tinggi; tidak hanya di kalangan awam tetapi juga berlaku di kalangan elit, kaum kiai dan agamawan. Kegagalan menerjemahkan bahasa agama ke dalam bahasa sains sedikit banyak berdampak pada kegagalan upaya pembatasan yang diprogramkan pemerintah sejak pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini.

Meskipun tidak menafikan faktor lain seperti ketidaksukaan terhadap penguasa/pemerintah, luka politik yang begitu mendalam pascapilpres yang lalu bisa juga berperan. Residu politik pilpres tersebut mengemuka dalam bentuk perdebatan panas antara kelompok pendukung kebijakan pemerintah dan kelompok anti-Covid di media sosial dan WAG.

Yang jelas, hingga detik ini masyarakat terbelah; mereka yang mendukung dan mau mematuhi prokes dan mereka yang menolak dengan penuh kecurigaan plus tuduhan-tuduhan yang bernuansa konspiratif. Kesulitan pemerintah, khususnya di Madura, untuk meyakinkan masyarakat, bukan tidak mungkin karena keberadaan kelompok yang kedua ini tidak sedikit atau bahkan mungkin lebih banyak dari kelompok pertama.

Ironisnya, kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali oleh masyarakat Madura lebih dimaknai sebagai agenda pembatasan akses ekonomi dan pemiskinan daripada ikhtiyar membatasi penularan virus Covid-19. Padahal tidak sedikit kiai dan ulama yang menjadi panutan mereka yang menjadi korban keganasan covid.

Tingginya intensitas kiai-kiai di Madura dalam berinteraksi dengan masyarakat luas memungkinkan kiai dan pimpinan pondok pesantren menjadi mangsa empuk Covid-19. Sayangnya, kiai-kiai di Madura sampai detik ini belum satu suara, beberapa bahkan ada yang menjadi kompor dan provokator agar masyarakat anti virus corona.

Masyarakat menjadi bingung karena kiai dan ulama sebagai tokoh panutan dan sangat dihormati satu sama lain tidak memiliki kesepahaman. Saya yakin, haqqul yakin, masyarakat Madura akan manut andai saja para kiai dan ulama bersinergi dengan pemerintah menggunakan bahasa yang sama tentang bahaya penularan virus corona ini sehingga persoalan penanganan wabah covid 19 tidak berlarut-larut seperti yang kita lihat saat ini.

Bahasa agama sebagai domain kiai dan ulama seharusnya bergandeng tangan dengan bahasa sain yang menjadi domain pemerintah. Tetapi jalan ke arah itu nampaknya masih jauh panggang dari api. Sekarang tidak hanya kiai dan ulama yang gagal dalam proses kontekstualisasi bahasa agama dalam konteks kekinian, sebaliknya justru pemerintah malah offside, terjebak dalam pola permainan bahasa agama.

Seolah hendak mengambil peran kiai dan ulama, pemerintah terjebak ke dalam penggunaan bahasa agama melalui edaran-edaran yang intinya menghimbau masyarakat dalam situasi gawat darurat ini untuk menyelenggarakan solawat tibbil qulub, solawat burdah dan doa lainnya secara berjamaah.

Memang tidak ada yang salah. Sekali lagi, instruksi untuk berdoa dan membaca solawat adalah hal yang baik, sangat baik. Tetapi, apakah tidak sebaiknya pemerintah fokus terhadap edukasi dan penanganan dampak penularan virus corona?

Sementara itu, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat, ulama, dan kiai terkait pandemi ini. Serahkan fungsi himbauan-himbauan religius itu kepada ulama dan kiai. Tetapi sebelum itu perlu kesamaan persepsi bahwa ta’un yang dimaksud itu adalah virus corona itu sendiri; masing-masing dengan bahasa yang berbeda tetapi tetap bersinergi.

Mari kita berdoa dan mematuhi protokol kesehatan. Semoga dengan demikian badai corona segera berlalu, amin! [MFR]

Studi Lintas Agama#2 di Vihara Jayasaccako Kediri

Minggu 27 Juni 2021 di Vihara Jayasaccako Kediri, HMPS Studi Agama-Agama mengadakan Studi Lintas Agama ke-2 dengan tema “Ajaran Budha Tentang Kehidupan”. Kegiatan ini dikemas secara menarik dan diisi oleh Biksu Daniel Istanto dan dimoderatori oleh Intan Shofiatul, mahasiswi SAA semester 4 Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 orang dari mahasiswa SAA IAIN Kediri, dan beberapa dari prodi lain atau perguruan tinggi sekitar di Kota Kediri.

Di dalam diskusi kali ini, Bapak Daniel menceritakan apakah itu agama Buddha, mulai ajaran hingga kebenaran mulia. Menurutnya, ada empat kebenaran yang sang Buddha ajarkan; pertama, duka, yaitu ketidakpuasan dari apa yang kita inginkan. Kedua, sebab duka; ketiga akhir dari duka dan terakhir jalan mengakhiri duka itu sendiri.

Kebenaran mulia ini juga mengajarkan tentang ehepasipo, yang berarti datang, lihat, dan buktikan. Mengapa demikian? kepada orang yang belum mengerti dan tidak mempercayainya maka Sang Buddha mengajarkan datanglah dulu dan lihat setelah itu buktikan sendiri apa itu benar apa salah.

Sang Buddha juga mengajarkan tumibal, ‘lahir’ atau rebirth. Artinya, konsep ini berbeda dengan reinkarnasi yang masih membawa kesadaran akan alam kehidupan dari alam sebelumnya. Tumibal adalah proses kelahiran kembali jasmani dan batin yang telah lama mengalami pelapukan, kehancuran dan kemudian muncul jasmani dan batin baru yang timbul akibat adanya kekuatan kamma (perbuatan). Jadi, di sini jasmani dan batin atau jiwa tidaklah kekal.

Buddha juga bicara soal surga dan neraka. Banyak tahapan yang harus dilalui jika ingin masuk ke surga. Sang Buddha juga banyak mengajarkan tentang kebajikan; jika kebajikan tidak dilakukan maka ada hukum karma yang berlaku karena apa yang anda tanam itu yang akan anda dapatkan itulah ajaran hukum karma yang berlaku di ajaran buddha ini.

Buddha mengajarkan agar kita jangan kendor dan patah semangat untuk melakukan suatu kebajikan. Latihan spiritual diperlukan untuk mendekatkan diri Sang Buddha. Salah satu latihan spiritual adalah latihan pembebasan batin yang meliputi sila, samadi (meditasi), dan kebijaksanaan [Intan].

Petualangan Ganesha: Reinterpretasi Keseimbangan Kosmik

Petualangan Ganesha bercerita tentang lima pelajar yang melakukan ekspedisi ke Gunung Wilis untuk mengisi liburan semester. Alih-alih mendapatkan pengalaman menikmati alam, mereka justru terlibat dalam pertentangan dua kelompok pada dimensi lain Gunung Wilis

—- Moh. Irmawan Jauhari

Antroposentrisme di satu sisi mampu mengantarkan manusia menjadi lebih baik dan memahami eksistensinya dalam kehendak bebas yang sistematis dan rasional. Akan tetapi, ketika perjalanan menjadi semakin jauh, hubungan manusia dengan alam cenderung eksploitatif dan tanpa kontrol karena semesta ada diperuntukkan buat manusia. Pengerukan SDA tanpa batas, pencemaran lingkungan, industrialisasi, adalah sebagian permasalahan yang bermula dari antroposentrisme. Ditambah globalisasi yang ingin melakukan percepatan putaran kapital sampai pelosok Negara Selatan menjadikan keadaan semakin rumit dan tidak semudah Shiva merubah keadaan dengan sepeda ajaibnya.

Petualangan Ganesha yang terbit pada Mei 2021 secara filosofis mencoba mengajak para pembaca untuk memahami hubungan alam dan manusia dengan lebih jernih. Buku ini mengambil latar Gunung Wilis dengan beberapa potensi wisata maupun folklore yang pernah penulis dapatkan ketika berkunjung ke Kawasan Lingkar Wilis. Semuanya disusun menjadi satu dalam bentuk dialektika fiksi sekaligus memberikan interpretasi akan makna antroposentris yang memperhatikan keseimbangan kosmik. Atau dalam mata kuliah Aliran Kepercayaan, keseimbangan manusia sebagai jagad alit dan semesta sebagai jagad ageng.

Tidak dapat dipungkiri hari ini atas nama keegoisan manusia, di Wilis sudah tidak terdapat hutan dalam arti kata yang sebenarnya. Sebabnya adalah banyaknya pembalakan liar beberapa tahun lalu, alih fungsi hutan menjadi lahan ekonomi, serta kurang pedulinya kita semua akan keberadaan gunung sebagai paku dari dunia. Bagaimana jika beberapa paku dalam meja kita ambil dan rusak? Jawabannya pasti meja tersebut turut rusak.

Petualangan Ganesha singkatnya bercerita tentang lima pelajar yang melakukan ekspedisi ke Gunung Wilis untuk mengisi liburan semester. Alih-alih mendapatkan pengalaman menikmati alam, mereka justru terlibat dalam pertentangan dua kelompok pada dimensi lain Gunung Wilis. Alkisah, Ki Barda ingin mencabut segel gunung sehingga menjadikan Wilis sebagai salah satu gunung berapi. Kelima pelajar tersebut pada akhirnya terlibat dalam upaya menyadarkan Ki Barda agar tidak meneruskan perbuatannya karena membawa dampak yang merugikan bagi manusia dan penghuni Wilis lain.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah manusia dengan segenap perbuatannya berpotensi merusak alam sekaligus bisa memperbaikinya. Kerusakan di Kawasan Gunung Wilis tidak semata kerusakan fisik, namun juga budaya, ekonomi, dan ruang sosial masyarakatnya. Melalui Petualangan Ganesha, kerusakan-kerusakan tersebut disamarkan dalam bentuk cerita agar menarik untuk dibaca dan dipahami oleh anak-anak dan para remaja.

Sebagai sebuah karya fiksi, tentu langkah yang diambil bukan taktis menangani bencana atau pelestarian lingkungan. Akan tetapi ini adalah langkah strategis yang bisa jadi buahnya setelah sepuluh dan dua puluh tahun lagi, terdapat kesadaran kolektif untuk memelihara lingkungan khususnya masyarakat Wilis. Diperlukan benang merah Gerakan-gerakan taktis serta strategis untuk menanamkan spirit kepedulian lingkungan. Dalam pandangan penulis, fiksi berbalut ilmiah adalah salah satunya. Sehingga pada akhirnya terdapat sinergi gerak antara akademisi, pegiat lingkungan, dan para stakeholder lain dalam memberikan edukasi terkait merawat lingkungan untuk generasi mendatang.

Rencananya, seri Petualangan Ganesha akan berlanjut di beberapa gunung lain serta mengangkat mitos maupun potensi lain yang ada. Dengan harapan muncul kecintaan pada lingkungan, kepedulian pada basis sejarah dan budaya, serta menguatnya budaya literasi. Dan untuk mendukung Gerakan kepedulian lingkungan, penulis menyarankan jika ingin membeli buku ini bisa di google books sehingga tidak perlu versi cetak. Mengingat dengan membeli di portal online, Sebagian keuntungan akan didonasikan untuk kegiatan literasi dan pelestarian alam. [MFR]

Dema SAA Adakan Direct Research Perayaan Waisak 2565 BE/2021 di Vihara Jayasacco Kediri

Sebagai bagian dari agenda tahunan, Dema Prodi SAA melakukan direct research perayaan Waisak Tahun 2021 di Vihara Jayasacco Kediri. Berikut laporannya:

Tepat 26 Mei 2021 telah digelar perayaan hari raya Waisak 2021 yang berlokasi di Vihara Jayasacco Kediri, Jawa Timur. Untuk susunan Puja Bakti dalam rangka peringatan Tri Suci Waisak 2565 BE/2021 dimulai pukul 17.00 – 17.45 yaitu ; 1).Menyalakan lilin dupa didepan altar, 2).Namakhara patha, 3). Veshakapunami puja gatha, 4). Pradaksina membawa amisapuja.Yang beberapa dilakukan secara mandiri oleh umat sebelum puja bakti dimulai. Yang selanjutnya yaitu Puja Bakti menyambut detik – detik Waisak dimulai pukul17.45 – Selesai yaitu, 5). Namakara tanpa membaca gatha, 6). Vandana, 7). Tisarana, 8). Pancasila, 9). Buddha, Dhamma, Sanghanussati, 10). Bhrama vihara, 11). Meditasi detik-detik waisak 18.13.30 detik, 12). Pesan dhamma dari Sanghanayaka (Dibaca Romo Pandita), 13). Patidana, 14). Namakhara patha, 15). Ramah tamah menjadi penutup.

Karena dalam kondisi saat ini yang masih menghadapi pandemi Covid 19 untuk perayaan waisak pun tidak di izinkan untuk terlalu banyak orang yang hadir, jadi saat ini cuma perwakilan 3 mahasiwa untuk bisa datang Direct Research hari raya waisak berlokasi di Vihara Jayasacco Kediri Jawa Timur. Ada juga dari umat Buddha yang melaksanakan ibadah diantaranya orang tua, remaja, dan anak-anak. Total keseluruhan hari raya waisak dihadiri -+ 50 orang. Vihara Jayasaccako Kediri juga dihadiri beberapa aparat kepolisian untuk penjagaan ketat saat upacara berlangsung.

Hari Tri Suci Waisak mengingatkan kita pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun yang berbeda, yaitu hari purnama raya, pada bulan Waisak. Kelahiran calon Buddha tahun 623 SM, di taman Lumbini, Kapilavasthu, Nepal. Pencerahan Sempurna tahun 588 SM, di bawah Pohon Bodhi, Bodhgaya, India. Dan kemangkatan Buddha Gotama tahun 543 SM pada usia 80 tahun, di Kusniara, India. Hari Tri suci Waisak 2565 tahun ini jatuh pada tanggal 26 Mei 2021. Umat Buddha di seluruh dunia merayakan hari Trisuci Waisak, dengan penuh keyakinan unuk menghayati ajaran kebenaran Dhamma sebagai pedoman hidup yang luhur.

Shangha Theravada Indonesia mengangkat tema Trisuci Waisak 2565/2021 : “ Cinta Kasih Membangun Keluhuran Bangsa “, dengan maksud untuk mengingatkan akan pentingnya keluhuran bangsa dengan dasar cinta kasih sebagai pedoman hidup bermasyarakat yang memiliki budi pekerti luhur. Dengan mengembangkan cinta kasih agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat serta berbudi pekerti luhur. Wujudkan cinta kasih dalam bentuk tindakan nyata, dimuali dari diri sendiri dengan berperilaku baik serta saling bantu membantu dalam mengahadapi berbagai permasalahan bangsa. Cinta kasih kita butuhkan untuk membangun keluhuran bangsa di tengah-tengah permasalahan dan kondisi saat ini.

Di akhir Trisuci Waisakmenyempatkan untuk berdiskusi dansharing sebentar dengan Pak Daniel selaku yang mewakili majelis di Vihara. Beberapa pertanyaan yang terlontar ialah terkait Waisak yang mana di rayakan pada malam itu dan pun sangat menggugah banyak pertanyaan sebenarnya, cuma dengan waktu singkat dan malam yang semakin larut membuat diskusi melingkar perlu di akhiri karna umat di  lingkungan Vihara sudah pada undur diri. Lagi pula tidak cukup hari Waisak saja diskusinya terlebih bisa di agendakan diskusi melingkar lagi untuk menambah wawasan mahasiswa Studi Agama Agama, jadi harapan selebihnya bersama berbagi cinta kasih dengan cara menaati protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi agar pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga kondisi perekonomian dan sosial dapat berangsur pulih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

Tangkal Hoax dengan Kebenaran

Pesan Paus, “Datang dan Lihatlah”, mengajak kepada seluruh pembuat berita untuk menyampaikan kabar kebenaran.

— Rosita Sukadana

Pada Idulfitri kali ini, media sosial diramaikan dengan hoax lonjakan kasus Covid-19 di beberapa kabupaten/kota di Jatim. Hal ini mengingatkan pada hoax yang juga terjadi semasa Idulfitri tahun lalu. Informasi yang tidak benar tentang lima anak  yatim piatu dan miskin. Ayah mereka meninggal dunia karena Covid-19. Foto jenazah dan anak-anak tersebut melengkapi hoax yang tersebar melalui sejumlah media sosial.

Pada kenyataannya, kakak beradik yang diberitakan adalah anak-anak dari sepasang suami istri yang mendapat pendampingan dari tim Relawan Paliatif dan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) paroki Kristus Raja Surabaya. Pendampingan sudah dilakukan beberapa tahun lalu dan semakin aktif pada saat hubungan suami istri ini sedang bermasalah. Persoalan mereka berawal dari lumpuhnya kedua kaki kepala rumah tangga akibat Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Tidak berfungsinya anggota badan menjadi penyebab si istri pergi meninggalkan rumah sehingga mengharuskan si suami mengurus kelima anak mereka.

Situasi ini membuat si suami bertekad untuk dapat berjalan kembali. Keinginan untuk sembuh direalisasikan dengan menjalani operasi tulang belakang. Pada masa pemulihan pascaoperasi, terjadi infeksi yang akhirnya menjalar ke otak. Keadaan yang menyebabkannya menghembuskan nafas terakhir. Kondisi ini membuat tim melakukan pendampingan intensif pada kelima anaknya. Proses pendampingan meliputi pegurusan jenazah, pencarian ibunya dan juga  kerabat, sampai penyediaan tempat untuk bermalam; tempat tinggal sementara selama masa berkabung.

Pada hari kedua setelah kematian ayah mereka, ibunya ditemukan di Jogja. Sesudah proses negosiasi yang alot, akhirnya ibu mereka menyetujui permintaan tim dengan bersedia kembali ke Surabaya untuk mengasuh kelima anaknya. Keadaan yang sangat berbeda dengan hoax yang beredar.

Hoax tentang anak-anak ini, menyebabkan pastor kepala paroki Kristus Raja, RP. Dodik Ristanto, CM., terdorong untuk melakukan klarifikasi. Penjelasan secara tertulis mengenai kondisi yang sebenarnya, berdasarkan kronologi pendampingan. Tulisan dibuat menurut peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, berupa pengalaman tim pendamping selama bersama dengan sumber berita. Surat klarifikasi ini kemudian disebarkan secara resmi di media sosial.

Beredarnya  surat klarifikasi menangkal hoax seputar peristiwa itu. Penangkalan yang meredakan peredaran dan akhirnya berhenti dengan sendiri.  Berhentinya hoax tersebut karena surat klarifikasi mempunyai kekuatan dari kebenaran informasi. Apalagi, kebenaran tersebut mendapat dukungan dari instansi resmi.

Kebenaran informasi menjadi perhatian Paus; pemimpin umat katolik sedunia. Terlihat pada pesannya dalam rangka hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55, tahun ini. Pesan Paus, “Datang dan Lihatlah”, mengajak kepada seluruh pembuat berita untuk menyampaikan kabar kebenaran. Kebenaran diperoleh dengan cara mendatangi dan melihat langsung di tempat peristiwa sebagai riset dan observasi, serta mewawancarai sumber berita sebagai verifikasi. 

Pada masa pandemi, kaidah tersebut tetap wajib dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan. Di samping itu, ia juga dapat dijalankan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan memberi dampak positif—asal tidak membuat terlena, yang kemudian mengabaikan cara untuk mendapat informasi yang benar.

Kebenaran informasi layak menjadi prioritas. Hal ini berlaku tidak hanya  bagi jurnalis. Pembuat berita di media sosial, termasuk penyebar dan penerima, layak mengutamakan kebenaran sebagai bentuk tanggung jawab moral. Semua yang terkait, perlu berubah, mengganti kebiasaannya dengan menjalankan riset, observasi, dan verifikasi untuk menulis ulang apa yang terjadi sesungguhnya.

Memperoleh informasi peristiwa yang sesungguhnya terjadi memang perlu waktu. Kecepatan menyampaikan sebuah berita bukanlah yang utama, meskipun menjadi tuntutan konsumen. Konsumen juga perlu mendapat edukasi dalam hal ini.

Dampak negatif dari hoax sudah banyak, bahkan ada yang menyangkut nyawa. Menghentikan hoax dengan mengabarkan berita yang benar adalah tugas bersama; tugas yang mulia.[MFR]